My Dandelion'S

My Dandelion'S
mengurung diri



Setelah mengetahui kebenaran mengapa Maheswari membunuh kedua orang tuanya, Gerald dan Rendi langsung pergi ke pulau kecil. 


Suara tembakan di masa lalu, terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Marah dan benci kini menyatu dalam diri Gerald, ia tak dapat membayangkan betapa sakit hatinya sang ibu kala mendapatkan perlakuan buruk Maheswari.


Melecehkankannya hingga hamil kemudian dibunuh, Maheswari benar-benar tidak pantas untuk disebut manusia. Sepanjang perjalanan, Gerald menggenggam erat pistolnya. Dia sudah tidak sabar untuk mengembalikan peluru yang pernah Maheswari tembakan pada mendiang ayahnya. 


.


Pulau kecil, gunung Batu. 


Begitu helikopter mendarat, salah seorang anak buahnya menghampiri Gerald dengan wajah panik. Ia memberitahukan jika Maheswari tewas gantung diri di dalam penjara.


Mendengar pernyataan anak buahnya, mata Gerald langsung melotot dan ia pun bergegas untuk masuk ke dalam penjara. 


Begitu Gerald masuk, ia melihat Maheswari sedang menggantung pada sebuah kain dengan lidah yang menjulur. Sementara sang ajudan terlihat berlutut sambil menangis di hadapan jenazah Maheswari.


Gerald mematung, tangannya mengepal dengan kuat. Rahangnya mengeras, dan wajahnya tampak merah karena menahan amarah. 


"Bagaimana bisa, dia melakukan ini?" Gerald mengetatkan giginya. 


Semua orang bergeming tak ada yang berani menjawab. 


"Kenapa dia bisa mati!" teriak Gerald, suaranya begitu menggema di dalam Gunung. "Bukankah aku sudah menyuruh kalian, untuk mengawasinya! Kenapa dia bisa mati!" 


"Ma-maafkan kami, Tuan. Ka–" pria yang akan menjelaskan itu akhirnya jadi sasaran tembak Gerald karena tidak bisa mengawasi Maheswari dengan benar.


Gerald berjalan beberapa langkah menuju jeruji besi, ia menatap getir Maheswari yang masih menggantung. Sebuah senyum kekecewaan muncul di wajahnya. "Kenapa kau melakukan ini? Kau tidak boleh mati, jika bukan aku yang membunuhmu. Hidup dan matimu seharusnya aku yang menentukan! Ini tidak adil, kau membunuh kedua orang tuaku dengan begitu kejam, sementara kau mati ditanganmu sendiri … ini tidak adil. Ini tidak adil!" Gerald kembali berteriak sambil memukul-mukulkan tangannya pada pagar besi yang mengelilingi sepetak tanah.


Bulir bening pun mulai membanjiri wajah Gerald, tubuhnya kini ambruk ke tanah. Rendi menghampiri Gerald dan menyentuh bahu bosnya untuk menenangkan, tapi Gerald menepisnya.  


"Bertahun-tahun, aku menunggu untuk membalaskan dendam kedua orang tuaku. Dan saat kau ada dalam genggamanku kau malah mati seperti ini … bukankah ini terlalu indah bagi seorang pembunuh dan penghianat sepertimu. Seharusnya kau mati dengan cara yang sama seperti apa yang kau lakukan pada kedua orang tuaku," ucap Gerald dengan bibir yang bergetar. 


"Tuan Gerald, sebelum tuan Maheswari meninggal. Dia sempat berpesan pada saya jika dia ingin anda menjaga nona Helen," kata ajudan. 


Gerald tersenyum kecut. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah Sudi melindungi wanita itu meskipun, dia lahir dari rahim ibuku. Bagiku dia adalah pembawa petaka persis seperti ayahnya." 


"Tapi Tuan, Nona Helena tidak tahu apapun mengenai hal ini." 


"Aku tidak peduli! Bagiku dia dan ayahnya sama saja. Sama-sama perebut kebahagiaan orang lain. Kalian benar-benar tidak tahu malu! sudah menghancurkan keluargaku, bukannya menyesal malah menitipkan anak yang tidak pernah ibuku harapkan," timpal Gerald muak.


"Tu–" terpotong oleh Gerald.


"Hentikan! Aku tidak mau mendengar kau bicara lagi … kau juga ikut andil dalam pembunuhan ayahku. Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja!" Gerald mengambil pistolnya dari balik celana dan menembak ajudan itu dengan beberapa peluru. 


****


Maheswari telah meninggal, begitu juga dengan ajudannya. Meskipun begitu, tidak ada rasa puas dalam diri Gerald sebab ia tidak berhasil membalaskan dendam kedua orang tuanya pada Maheswari.


Setelah jenazah Maheswari dievakuasi, Gerald menyuruh untuk mengirim peti mati itu ke rumah anaknya. Sementara jenazah ajudan dia jadikan sebagai pakan ikan hiu di laut. 


Dia pun bergegas kembali ke Edelweiss, untuk membongkar makam mendiang ayahnya yang berada di belakang gedung kosong jalan Kamboja. 


Valerie menggenggam erat tangan suaminya, memberi dukungan agar Gerald bisa lebih kuat menerima semuanya. 


Pemindahan dan pemakaman, telah usai. Gerald menempatkan makam ayahnya di samping pusara sang ibu. 


Di depan pusara kedua orangtuanya, Gerald membungkukkan tubuhnya. Ia kembali menangis dan meminta maaf jika dirinya tidak bisa menjadi anak yang berbakti. 


Namun, disisi lain ia juga merasa bahagia. Karena akhirnya kedua orang tuanya bisa bersama lagi setelah sekian tahun terpisahkan. Disela-sela kesedihannya, ia juga mengenalkan istrinya pada mendiang kedua orang tuanya. 


Setelah merasa puas berbincang di atas pusara kedua orangtuanya. Gerald dan Valerie pun memutuskan untuk kembali ke rumah. 


"Shǎguā, aku dengar ayahnya Helena sudah ditemukan dalam keadaan meninggal. Apa kau mau ikut melayat?" tanya Valerie yang tak melepaskan genggamannya dari Gerald.


"Tidak ada yang boleh pergi kesana," ujar Gerald tegas.


Valerie menatap suaminya sendu.


"Nyonya, Tuan perlu istirahat sebaiknya anda menemaninya di rumah," seru Rendi yang khawatir jika Valerie akan memaksa bosnya untuk pergi melayat.


"Baiklah," jawab Valerie. Ia mengusap pundak suaminya sambil tersenyum tipis. 


Sementara itu di kediaman Maheswari. 


Helena sedang menangis sejadi-jadinya, ketika peti mati sang ayah memasuki kediamannya. 


Bahkan wanita itu sempat pingsan beberapa kali, saat mendengar kabar jika ayahnya telah meninggal gantung diri di sel tahanannya yang ada di bali. 


Devano dan Alisa, terus berusaha menenangkan Helena yang menangis begitu histeris.  


Helena tak menyangka, selama dua bulan dirinya mencari-cari sang ayah dan kini ayahnya telah kembali dalam keadaan tak bernyawa. 


Tangisan Helena kian menjadi, saat peti mati ayahnya diangkat untuk diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Karena takut terjadi sesuatu pada kandungan Helena, Devano tak mengizinkan istrinya untuk ikut ke pemakaman. 


Pasca kejadian Maheswari meninggal, hari-hari Gerald dan Helena seakan menjadi gelap dan tak bersemangat untuk hidup. 


Helena yang terus terpuruk karena ayahnya meninggal, di larikan ke rumah sakit sebab mengalami kontraksi pada perutnya. 


Sementara Gerald yang tak dapat menerima jika Helena adik satu ibunya, terus mengurung diri di ruang kerjanya. 


Valerie sampai khawatir pada kondisi suaminya itu, sudah satu Minggu Gerald terus mengurung diri. Dia menolak untuk makan dan menolak untuk ditemui oleh siapapun. 


Bahkan Rendi saja tak berhasil untuk membujuk bosnya agar mau keluar dari ruang kerjanya itu. 


.


.


Bersambung.