
Alunan dari musik gamelan, terdengar begitu beralun-alun di telinga para turis yang hadir untuk menonton pertunjukan seni khas pulau Dewata Bali.
Para penari yang memakai baju adat Bali, terlihat cantik dan gemulai saat berlenggak lenggok menggoyangkan tubuhnya sesuai irama yang dimainkan oleh para musisi Bali.
Suara riuh dari tepuk tangan pengunjung, yang menonton acara yang menampilkan tarian dan memadukan akrobatik itu mampu menyihir semua pasang mata yang ada di ruang teater tersebut.
Sedikit potongan cerita dari Devdan Show yang sedang ditonton oleh Valerie dan Gerald ini adalah tentang dua anak muda yang melakukan tour ke Bali bersama rombongan.
Namun, kedua pemuda tersebut memisahkan diri dari rombongan karena merasa jenuh dengan kegiatan wisata tersebut. Mereka berdua punya ide untuk melakukan pendakian tebing dan tanpa sengaja menemukan harta karun, yang mana harta karun dalam Devdan Show tersebut merupakan kekayaan alam dan budaya Indonesia.
"Shǎguā, lihat ... itu Fero." Valerie menunjuk pada salah seorang pria dengan kostum uniknya.
Pria itu melambaikan tangannya ke arah Valerie dan juga Gerald.
"Bocah itu, aku menyuruhnya untuk bekerja keras sempat-sempatnya ikut andil dalam drama seperti ini," gerutu Gerald, sorot matanya menatap tajam Fero yang sedang tersenyum gugup kearahnya.
Valerie menyenggol siku suaminya, agar lebih menikmati pertunjukan.
Sepanjang pertunjukan teater, Gerald terus menatap wajah istrinya yang menyejukkan. Aura hamilnya membuat wanita itu semakin terlihat cantik.
Teater telah usai. Ketiga orang itu melanjutkan kegiatannya dengan acara barbeque di belakang taman hotel tempat Valerie dan Gerald menginap.
"Ey kakak ipar, kau sedang apa? Sebaiknya kakak duduk saja jaga calon keponakan ku biar aku yang membakar ini semua." Fero menuntun kakak iparnya menuju meja.
Valerie melontarkan sebuah senyuman, pada Fero. Jika sikapnya seperti ini Fero jadi sedikit mirip dengan suaminya, semoga saja dia tidak meniru semua sikap Gerald yang berlebihan. Jika sampai meniru bisa-bisa dia sulit mendapatkan jodoh.
"Baby, kau harus beristirahat." Gerald mengecup pipi istrinya dan duduk disamping sang istri.
"Aku akan istirahat setelah makan. Oh iya Shǎguā, sepertinya aku ingin membuat produk skincare."
"Skincare?"
"Iya, aku sudah membuat desainnya." Valerie memperlihatkan desain botol berbentuk unik dengan gambar bunga dandelion dan merk yang sama di tabletnya.
Gerald menganggukan kepalanya pelan.
"Bagaimana? Kau setuju?"
"Boleh, aku akan membantu tapi setelah kau melahirkan."
"Kenapa?" Valerie menautkan kedua alisnya.
"Baby, kau tidak boleh terlalu lelah. Untuk meluncurkan sebuah produk itu butuh waktu yang cukup menguras tenaga, kau harus mengecek hasil produk. Mengecek ini dan itu, belum lagi acara peluncuran produk ke publik. Aku tidak mau kau dan jagoanku kenapa-napa."
"Shǎguā, dia perempuan kenapa kau selalu menyebutnya jagoan."
"Tidak, feeling seorang ayah mengatakan jika bayi kita laki-laki."
"Aku ibunya, jadi aku lebih tau kalau dia perempuan."
"Tapi aku yang menanamnya."
"Aku yang mengandungnya."
"Ey, laki-laki atau perempuan itu sama saja bukan. Kenapa kalian meributkannya," sela Fero yang membawa daging steak di tangannya.
"Ya kau benar, Fero. Laki-laki atau perempuan yang penting kalian berdua sehat, tapi aku yakin ini jagoan." Gerald mengelus perut Valerie hangat.
"Shǎguā!" Valerie mendelik pada suaminya.
Gerald terkekeh, memeluk dan mencium istrinya mesra di depan Fero.
"Ayolah, kalian mengajakku kesini bukan untuk menyuruhku menonton kemesraan kalian bukan," dengus Fero yang merasa kehadirannya tidak dianggap.
"Kalau begitu, pulang saja. Aku mau menengok bayiku."
Valerie mencubit kecil suaminya, karena malu dihadapan Fero.
🌸🌸🌸
Valerie menatap dirinya dalam pantulan kaca raksasa yang ada dikamar hotelnya, ia melihat dirinya dari berbagai samping. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk melihat perutnya membesar dan merasakan kaki mungil menendang perutnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Baby." Gerald melingkarkan kedua tangan kokohnya di pinggang ramping Valerie, mengecup tengkuk lehernya sampai sebuah ******* lembut lolos dari bibir Valerie.
Wanita itu membalikan tubuhnya ke arah Gerald, dan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Aku mencintaimu, Tuan Gerald," ucap Valerie dengan tatapan sendunya.
"Aku juga mencintaimu, Nona Valerie." Gerald menjatuhkan bibirnya, diatas bibir Valerie yang selalu berhasil menggodanya.
Ia melum*at bibir atas dan bawah Valerie secara bergantian, meremas kedua bahunya dan perlahan hisapan lembut itu berubah menjadi liar.
Gairah Gerald yang mulai membara, seakan tak bisa mengendalikan dirinya. Ia mengangkat tubuh mungil Valerie dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur perlahan.
Ia melucuti satu persatu pakaian yang di kenakan Valerie, melemparnya ke sembarang arah bersamaan dengan pakaiannya.
Pria itu mulai menindih sang istri, menikmati setiap lekuk tubuh polos Valerie menyentuhnya lembut dan mulai merasukinya dan lagi-lagi lenguhan kenikmatan lolos dari bibir Valerie memenuhi ruang kamar hotel yang megah dan luas.
"Oh, Baby. Aku benar-benar mencintaimu," bisik Gerald yang kembali mel*umat bibir ranum itu secara liar.
"Hmm, a–aku juga," Valerie mendesah tertahankan, ketika Gerald menaikan kecepatan permainannya.
Dan hingga pada akhirnya keduanya, melenguh secara bersamaan setelah mendapatkan pelepasan yang teramat sangat nikmat.
Gerald ambruk di samping Valerie, napasnya yang panas masih terdengar mengguruh. Ia meraih pinggang ramping Valerie, menghadapkan tubuh polos itu kehadapannya.
Dia mencium kening Valerie, kedua mata, pipi dan berakhir di bibir ranum Valerie yang merah.
"I love you, Baby."
"I love you too," sahut Valerie yang kemudian menyelusupkan wajahnya ke dada bidang Gerald dan mulai meraih mimpinya setelah lelah beradu peluh bersama pria yang dia cintai.
🌸🌸🌸
Sudah dua Minggu Valerie dan Gerald berada di Bali, tuntutan pekerjaan Gerald yang menumpuk setelah di tinggal cuti mengharuskan keduanya untuk segera pulang.
"Kau sudah siap, Baby?"
"Hem." Valerie bangkit dari duduknya dan meraih tasnya yang ada di atas nakas.
Seperti biasa, keduanya saling menggenggam tangan erat seakan-akan kedua tangan itu telah di lapisi oleh perekat, lengket dan tidak mau lepas.
"Kakak ipar, jaga keponakanku dengan baik. Kabari aku jika bayi itu mirip denganku," kekeh Fero menggoda Gerald yang wajahnya terlihat masam jika bertemu dengannya.
"Fero, kau mau aku membakar rumahmu," dengus Gerald sebal.
Fero hanya terkikik geli melihat wajah kakak angkatnya yang marah.
"Jaga dirimu baik-baik, kami akan menunggu kehadiran mu di edelweis. Lain kali tinggalah lebih lama," ujar Valerie menepuk bahu Fero.
Fero mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah Gerald dan Valerie yang sudah melangkah jauh darinya. "Hati-hati di jalan!" teriak Fero sambil mengulas senyum bahagia di wajahnya.
Melihat keadaan Valerie yang bahagia bersama Gerald, membuatnya benar-benar telah mengikhlaskan kepergian wanita yang sempat mencuri hatinya itu.
.
.
.
Bersambung.