My Dandelion'S

My Dandelion'S
menghancurkan perusahaan



Pagi hari di kediaman Gerald  yang megah dan mewah para pelayan terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Ada yang sibuk memasak, mencuci. Menyapu, mengepel. Memotong rumput dan ada juga yang sedang sibuk membantu Gerald memilih baju yang tepat untuk digunakannya ketika bertemu calon mertua nanti. 


Padahal acaranya nanti malam tapi, Gerald sudah mempersiapkan semuanya sekarang. Tak hanya pakaian, sang pengusaha juga sudah menyiapkan hadiah mewah untuk calon ibu mertua juga calon istrinya. 


Sudah tiga  jam lebih Gerald berdiri didepan cermin, mencoba satu persatu setelan jas mahal dan bermerek yang diberikan oleh kedua pelayan wanitanya. Akan tetapi, Gerald masih belum menemukan pakaian yang pas untuk dikenakannya.


Entah sudah lemari keberapa yang dikeluarkan oleh pelayan, Gerald selalu saja mengatakan tidak cocok, kekecilan, kebesaran dan norak. Untung saja gaji yang diberikan oleh Gerald besar sehingga kedua pelayan itu mau melayaninya dengan sabar.


Selain karena gaji yang jauh lebih besar dari tempat lain, mereka juga selalu menjadikan pekerjaannya sebagai kesempatan untuk melihat deretan roti sobek Gerald yang belum pernah dilihat oleh wanita manapun. 


Tapi, sepertinya kedua pelayan itu tidak tahu jika ada satu wanita  yang sudah melihatnya. Hanya saja wanita itu tidak sadar saat melihat roti sobek lezat ada dihadapannya tak hanya melihat roti, wanita itu bahkan telah mencicipi manisnya bibir Gerald yang selalu mereka idam-idamkan. 


Karena masih belum menemukan pakaian yang tepat, Gerald mengusir kedua pelayan tersebut dan meminta mereka untuk memanggil seorang desainer ternama kerumahnya. 


Kedua pelayan itu mengangguk sambil tertunduk, karena tak berani menatap wajah Gerald yang selalu terlihat dingin dan datar. Sudah bertahun-tahun mereka bekerja disini, dan sampai sekarang mereka belum pernah melihat majikannya menyunggingkan bibirnya meskipun hanya sedikit. 


Walaupun Gerald tak pernah tersenyum tapi, tak mengurangi ketampanan yang dimiliki olehnya. Malah semakin dingin Gerald, ia akan terlihat semakin tampan dan rupawan. 


Maka tidak heran jika banyak wanita yang tergila-gila padanya. Selain karena ketampanannya Gerald juga memiliki kekayaan yang tidak akan habis selama 7 turunan 7 tanjakan dan 7 belokan yang membuat kaum hawa semakin tergila-gila dan ingin menjadi nyonya Dhanuendra. 


Gerald yang masih menatap dirinya didepan kaca, terus memperhatikan wajahnya. Alis tebal, hidung mancung, mata sipit ala orang Korea dan rahang yang tegas membuatnya nyaris terlihat sempurna.


"Aku tampan dan kaya tapi, kenapa Valerie tidak suka padaku? Disaat wanita lain berlomba-lomba ingin kusentuh dia malah sok jual mahal," gumam Gerald sambil mengusap dagunya. 


"Permisi Tuan, hari ini ada meeting penting dengan client," ucap Rendi yang baru saja datang.


"Baiklah, tunggu 10 menit."


"Baik, Tuan." 


Karena melihat tuannya tidak memakai baju, sebelum keluar dia menyiapkan setelan jas berwarna abu-abu dan kemeja hitam lengkap dengan dasi tanpa motif senada dengan jas juga celana kainnya.


Rendi juga tak lupa, menyiapkan sepatu berbahan kulit cicak hitam mengkilap serta jam tangan mewah bermerek balenciano untuk dikenakan tuannya hari ini.


Sepuluh menit kemudian, Gerald sudah siap dengan tampilannya yang keren dan menawan. Rendi menghampiri Gerald dan bertanya sarapan apa yang diinginkan olehnya tapi, Gerald menolak dengan alasan tidak lapar. 


Rendi terlihat khawatir pada kesehatan bosnya, sebab sudah beberapa hari dirinya tidak melihat Gerald makan makanan yang cukup. 


Ia hanya melihat jika Gerald hanya makan beberapa camilan dan buah-buahan segar saja. 


"Tuan, apa anda sakit?" 


"Tidak."


"Lalu, kenapa anda tidak mau makan?" 


"Ren, apa kau tidak pernah merasakan jatuh cinta?" 


Rendi menggelengkan kepalanya, boro-boro mau jatuh cinta selama ini yang ada dalam pikiran Rendi adalah kebahagiaan Gerald dan juga pekerjaan yang semakin menumpuk. 


"Kau harus cari tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta," titah Gerald yang melenggang pergi menuju mobil mewahnya.


Rendi mengerutkan dahinya, dan mulai mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Dia memerintahkan pada anak buahnya untuk mencari tahu apa yang dikatakan oleh bosnya tadi. 


Selepas mengirim pesan, ia sesegera mungkin menyusul Gerald yang sudah berada di dalam mobil sedang membaca berkas-berkas penting di tangannya.


Pria bermata sipit itu, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melintasi jalanan kota Edelweis yang padat dengan kendaraan. 


.


.


.


Kantor Uri Sunshine group.


Gerald dan Rendi berjalan dengan gagah menuju ruangannya, para karyawan yang melihat kedatangan bos besar langsung membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat mereka pada atasan. 


Salah seorang office girls masuk ke ruangan Gerald sembari membawa nampan yang berisi 2 gelas kopi latte. 


Tidak tahu sengaja atau bagaimana, office girl itu mengenakan rok pendek di atas lutut dan kemeja yang begitu ketat membuat lekukan tubuhnya yang ramping tercetak seperti lontong.


Office girl itu berjalan sambil berlenggak lenggok dihadapan Gerald dan juga Rendi. Niat hati ingin menggoda bos besar tapi, yang di dapat malah rasa malu.


Pasalnya setelah dia menyimpan kopi diatas meja Gerald, tanpa sengaja kakinya terkilir membuat wanita itu jatuh terjerembab tepat dihadapan Gerald yang sedang fokus pada laporan kerja karyawannya.


Wanita itu meringis kesakitan, berharap di tolong yang ada kedua pria itu malah sibuk pada pekerjaannya masing-masing dan menganggap seolah tidak terjadi apa-apa.


Wajah wanita itu memerah menahan malu dan sakit, tak ingin malu lebih lama lagi office girl berparas pas-pasan itu bangkit dan buru-buru keluar dari ruangan tersebut dengan keadaan terpincang-pincang.


Rendi melihat situasi ruangan tersebut, untuk memastikan jika wanita tadi sudah benar-benar pergi. Dan setelah yakin pegawainya pergi Rendi menatap Gerald yang sedang menahan tawanya di balik berkas hijau yang sengaja menutupi wajahnya. 


Melihat bosnya tertawa, Rendi pun ikut tertawa cukup keras. Jujur saja sebenarnya ia kasihan pada office girl tadi, hanya saja ia tetap mempertahankan karakternya yang sama dengan bosnya jadi Rendi pura-pura tak melihat dan menahan tawa yang sudah berada diujung hidung. 


Karena suara tawa Rendi yang terlalu keras, Gerald langsung terdiam dan menatap sekertarisnya dengan tatapan tajam. Sadar bosnya sedang memperhatikan Rendi langsung menutup mulutnya sampai terbatuk-batuk. 


"Ekhem maaf, Tuan," ujar Rendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh, iya Tuan. Mr, Shama sudah datang," sambung Rendi.


"Oke, siapkan semua berkasnya," titah Gerald, ia meraih jasnya yang tergantung di sandaran kursi memakainya dan beranjak menuju ruang rapat. 


"Ogenki desuka, Mr, Shama?" sambut Gerald pada clientnya yang berasal dari Jepang.


"Hai, gengki desu." Mr, Shama membungkuk pada Gerald begitu juga dengan Gerald yang memberikan hormat pada clientnya tersebut.


Gerald mempersilahkan client beserta staffnya untuk memasuki ruang rapat yang sengaja di rancang senyaman mungkin. 


Kedatangan Mr Shama ke kantor sunshine yaitu untuk membicarakan kerja sama yang pernah mereka bicarakan sebelumnya, karena dulu mereka mengobrol di waktu yang tidak tepat jadi obrolan itu tertunda.


Dan hari ini kebetulan Mr Shama sedang mengunjungi salah satu anak perusahaannya di kota sebelah, jadi ia menyempatkan diri mampir ke perusahaan Gerald untuk membicarakan kerja sama yang sempat tertunda.


Rapat telah di mulai, salah seorang staff yang di bawa oleh Mr Shama sedang berdiri didepan menjelaskan apa dan berapa keuntungan yang akan di dapat oleh perusahaan Gerald jika mau bekerja sama dengan perusahaannya.


Gerald memperhatikan setiap kata yang di ucapkan oleh staff tersebut, karena merasa ada sesuatu yang janggal. Diakhir rapat Gerald menyampaikan permohonan maafnya sebab ia belum bisa bekerja sama dengan perusahaan Mr Shama. 


Meskipun dengan perasaan kecewa, Mr Shama mencoba untuk menerima keputusan Gerald. Karena tidak ada hal lain untuk di bicarakan, Mr Shama dan para staffnya undur pamit kepada Gerald juga Rendi.


Ketika sudah didalam mobil, Mr Shama mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat, wajahnya terlihat merah karena amarah.


"Dasar sombong! Lihat saja nanti aku akan menghancurkan perusahaan mu, Tuan Gerald!" Gumam Mr Shama.


.


.


.


Bersambung.


please komen guys😭, kalo mau kritik pedas juga nggak apa-apa kolom komentar masih luas