
Dua mobil secara bersamaan masuk ke pelataran rumah mewah. Para penjaga rumah yang melihat kedua majikannya baru pulang, langsung menghampiri mobil-mobil itu dan membukakan pintu kendaraan beroda empat tersebut.
Sebelum turun. Valerie meminta tolong pada orang yang membukakan pintu mobilnya, untuk membawa semua belanjaannya ke dalam rumah.
Pria dengan seragam hitam itu mengangguk dan mulai mengangkut hasil berkeliling Valerie selama di mall.
"Baby, tumben sekali kau belanja sebanyak ini?" tanya Gerald yang kemudian mengecup kening istrinya.
"Entahlah, padahal niatnya cuman lihat-lihat malah keterusan jadi belanja," jawab Valerie yang saat ini berjalan beriringan ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa, jika itu membuatmu bahagia. Belanja saja sepuasmu jika perlu, aku akan membelikan mall itu untuk mu," celoteh Gerald mengusap kepala istrinya.
Sebelum mereka berjalan ke kamar. Rendi memanggil Gerald untuk berpamitan pulang.
"Tuan, saya ijin pulang dulu ada hal yang harus saya kerjakan," pamit Rendi.
Gerald hanya mengangguk sambil melonggarkan dasinya.
"Eh, sekretaris Rendi tunggu. Aku punya sesuatu untukmu." Valerie mengambil salah satu paperbag dari tangan penjaga rumah dan memberikannya pada Rendi.
"Apa ini? Nyonya."
"Hanya kemeja biasa."
"Nyonya, ini terlalu merepotkan. Saya tidak pantas menerimanya." Rendi hendak mengembalikan paperbag itu.
"Tidak merepotkan, ambil saja. Aku akan sedih jika anda tidak mengambilnya."
Rendi menoleh pada Gerald. Setelah melihat Gerald mengangguk, Rendi pun mengambil tas tersebut.
"Terima kasih, nyonya. Kalau begitu, saya permisi." Pamit Rendi pada kedua bosnya.
Gerald dan Valerie bergegas ke kamar, untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat.
"Baby, kau membelikan Rendi kemeja apa kau juga membelikan aku sesuatu?" tanya Gerald yang juga ingin mendapatkan hadiah dari istrinya.
"Aku mau mandi dulu, tunggulah sebentar." Valerie buru-buru masuk ke bathroom, sebelum suaminya mengejar.
Beberapa saat kemudian.
Valerie telah selesai membersihkan tubuhnya, masih mengenakan bathrobenya ia masuk ke ruangan wardrobe untuk mengganti baju.
"Baby!" teriak Gerald memanggil istrinya.
"Tunggu sebentar," jawab Valerie yang sedang mengancingkan piyamanya.
Setelah selesai, ia pun keluar dan menghampiri Gerald yang sedang meng unboxing semua belanjaannya.
"Apa?"
"Untuk apa kau membeli perlengkapan bayi sebanyak ini? Siapa yang melahirkan?"
"Oh, itu untuk Desi. Sebentar lagi dia cuti hamil, jadi sebagai kenangan aku mau memberikannya ini," tutur Valerie. Ia meraih beberapa paperbag dan menunjukkannya pada Gerald.
"Aku juga membelikan mu ini." Valerie membuka bungkusan yang berisi kemeja dan menempelkannya pada tubuh Gerald.
Pria tinggi itu tak menghiraukan Valerie, matanya terus tertuju pada pakaian bayi yang begitu menggemaskan.
Valerie yang sadar jika suaminya terus menatap pakaian bayi, menurunkan tangannya dan melipat kembali kemeja tersebut. Ia pun duduk di sofa dengan perasaan sedih.
"Bajunya lucu ya," celoteh Valerie. Membuat Gerald tersadar.
Melihat istrinya murung, Gerald langsung memeluk sang istri hangat.
"Tidak, menurutku lebih lucu lagi saat kau memakai lingerie," goda Gerald berusaha menghibur istrinya.
"Haha, lucu sekali Tuan," cetus Valerie mendelik.
Gerald terkekeh dan menghujani leher Valerie dengan kecupan.
"Shǎguā, tadi Helena menemuiku di butik."
Gerald menghentikan kegiatannya, dan menatap serius istrinya.
"Dia tidak membuat keributan kan disana?" tanya Gerald khawatir.
Valerie menggelengkan kepalanya. "Dia hanya mengajakku, minum kopi."
"Dia datang sendiri? Atau dengan bajingan itu?" dengus Gerald yang enggan menyebutkan nama mantan suami dari istrinya.
"Aku tidak peduli pada keadaannya." Gerald kembali mengendus aroma tubuh istrinya yang harum.
Valerie menggeser duduknya agak menjauh dari Gerald yang tidak mau diam.
"Shǎguā, apa kau tahu dimana keberadaan ayah Helena sekarang?" tanya Valerie penasaran.
Mendengar pertanyaan dari istrinya Gerald langsung terdiam, dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
Valerie menatap suaminya yang tiba-tiba membisu. "Shǎguā."
"Aku tidak tahu, kenapa menanyakan hal itu?"
"Helen yang memintaku untuk bertanya padamu, katanya kamu yang terakhir menemui ayahnya dipenjara."
"Aku tidak tahu apapun, jangan bertanya hal itu lagi. Aku mau mandi dulu." Gerald mengecup pipi Valerie dan beranjak menuju bathroom untuk menghindari pertanyaan Valerie yang lainnya.
"Shǎguā, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan!" teriak Valerie, yang merasakan Gerald sedang berbohong.
Gerald tak menjawab, mungkin karena suara percikan air dari shower yang membuat Gerald tak bisa mendengar suara istrinya yang ada dikamar.
Melihat tingkah suaminya yang langsung pergi. Valerie jadi curiga, jika suaminya mengetahui sesuatu mengenai ayahnya Helena. Ia pun memutuskan untuk bertanya lagi setelah suaminya keluar dari kamar mandi.
Hampir setengah jam berlalu, Valerie menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Ia sampai mengantuk karena suaminya tak kunjung keluar.
Valerie mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan suaminya baik-baik saja. Setelah Gerald menyahut, dan menyuruhnya menunggu. Valerie pun beranjak menuju ranjang, hingga akhirnya ia tertidur karena lelah setelah berkeliling di mall.
Gerald menatap wajah istrinya yang tengah tertidur. Ia mengusap kepalanya dan mengecup keningnya. "Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu permasalahan ini," gumam Gerald pelan. Ia pun pergi menuju ruang kerjanya.
Keesokan paginya.
Seperti biasa Valerie sedang memasangkan dasi pada suaminya, karena masih penasaran dengan jawaban Gerald semalam. Ia pun kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
"Shǎguā, apa kau yakin tidak tahu keberadaan ayahnya Helena?"
Gerald menyentuh kedua bahu Valerie, sambil tersenyum. "Baby, bukankah minggu lalu aku mendapatkan hadiah 3 permintaan yang belum aku gunakan?"
Valerie mengangguk.
"Bisakah aku memakainya sekarang?"
Valerie kembali mengangguk dengan raut wajah heran.
"Aku minta, jangan pernah menanyakan hal ini lagi padaku."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak tahu apapun, aku memang bertemu dengan tuan Maheswari. Tapi, apa Helena yakin jika aku orang terakhir yang menemui ayahnya?"
"Aku tidak tahu, aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Helena saja."
Gerald memeluk istrinya, yang terlihat bingung.
"Kau adalah istriku, dan sebagai seorang istri harus patuh pada suami. Jangan berani menanyakan hal yang tidak kau mengerti seperti ini lagi, fokuslah pada pekerjaanmu dan jangan ikut campur pada permasalahan orang lain apa kau paham, Baby." tutur Gerald. Ia mendekap istrinya cukup kuat, membuat Valerie sesak.
Gerald memang berbicara dengan nada rendah namun, dari caranya mendekap. Gerald seolah sedang mengancamnya. Valerie jadi semakin curiga, jika hilangnya ayah Helen dan rusaknya acara resepsi itu berkaitan dengan Gerald.
Gerald melepaskan pelukannya sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Valerie meremang, bukan meremang karena nafsu melainkan karena hawa menakutkan yang diciptakan oleh Gerald.
"Pergilah ke rumah sakit, untuk terapi." cetus Gerald menyentuh kepala Valerie.
Valerie menatap Gerald penuh tanya.
"Aku tidak menuntutmu, untuk memiliki anak tapi, aku ingin melihatmu sehat dan tidak merasakan sakit lagi disetiap datang bulan. Ini adalah permintaan keduaku, aku harap kamu tidak keberatan untuk melakukannya," tutur Gerald. Ia pun pamit pada istrinya dan pergi menuju kantor.
Mendengar penuturan Gerald yang terakhir. Valerie diam mematung, sembari menatap punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu.
.
.
.
Bersambung.