My Dandelion'S

My Dandelion'S
surat pengakuan bagian 2



Setelah lima tahun tidak bertemu, akhirnya saya dan Dhanuendra kembali dipertemukan di istana presiden saat pelantikan menteri kabinet. 


Saat itu saya naik jabatan menjadi menteri perdagangan. Setelah acara pelantikan selesai, presiden memanggil saya ke ruangannya dan memperkenalkan seorang pria bertubuh tegap untuk menjadi ajudan saya. 


Saya terkejut, ketika pria itu berbalik dan menatap saya dengan sorot mata yang begitu tenang. Tidak ada rasa dendam dan marah dari raut wajahnya, dia malah menyapa saya dengan ramah seolah tidak pernah terjadi apapun dimasa lalu. 


Karena suasana telah berubah, saya pun menyapanya dan menerimanya sebagai ajudan pribadi saya. Awalnya kami tidak banyak berkomunikasi, saya hanya bertanya jika ada keperluan mengenai pekerjaan begitu juga sebaliknya. Tidak ada pembahasan mengenai masa lalu, saat kami duduk di bangku kuliah. Semuanya berjalan begitu saja sesuai dengan prosedur kerja. 


Tahun Ketahun telah berlalu, hubungan diantara kami masih sama seperti awal. Hubungan antara menteri dan ajudan, tidak ada canda tawa diantara kami. Bahkan Dhanuendra terlihat segan untuk sekedar bertatap wajah dengan saya.


Saat itu posisi saya sudah menikah dengan wanita lain, sama halnya juga dengan Dhanuendra. Tapi saya tidak begitu peduli dengan kehidupan pribadinya, kini saya hanya terfokus pada pekerjaan saya yang menjabat sebagai menteri perdagangan. 


Hingga suatu hari, saya melihat seorang wanita dengan stelan dress bunga-bunga berwarna biru datang ke kantor saya sambil membawa sebuah rantang nasi ditangannya. Sosok wanita itu seperti tidak asing bagi saya, wajah dan senyumnya mengingatkan saya pada sosok Rania yang pernah membuat hati saya hancur karena penolakannya. 


Saya pikir, wanita itu hanya memiliki kemiripan saja dengan wanita yang pernah saya cintai. Sehingga saya tidak terlalu begitu mempedulikannya, tapi saat saya mau membalikan badan. Saya melihat Dhanuendra merangkul wanita itu dengan hangat, saya pun berpikir itu mungkin istrinya. Sebab jika dilihat keduanya terlihat begitu akrab dan mesra. 


Karena saya penasaran pada istri Dhanuendra, saya pun memanggil salah seorang yang cukup dekat dengan Dhanuendra untuk bertanya perihal istrinya. Dan dia pun menjawab jika istri Dhanuendra bernama Rania putri, dia juga mengatakan kalau mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia lima tahun. 


Mendengar jika Dhanuendra menikah dengan Rania, rasa sakit hati saya yang dulu mengering kini kembali terasa basah kembali. Marah, kecewa, kesal kini menyatu dalam diri saya. 


Saya mengepalkan tangan dengan kuat, dan melampiaskan amarah saya pada barang-barang yang ada di hadapan saya hingga hancur. Ingin menghajar Dhanuendra, tapi ini bukan masa muda lagi. Sekarang saya lebih mementingkan popularitas karena tidak ingin sampai awak media tahu kalau saya menyiksa ajudan tanpa alasan yang jelas. Dan akhirnya saya lebih memilih untuk memendam rasa amarah saya dalam hati.


Beberapa bulan kemudian, saya di tawari rekan kerja untuk ikut andil dalam pembangunan sebuah proyek besar. Dia juga menawarkan keuntungan banyak jika saya mau bergabung dengannya, tergiur dengan keuntungan besar saya pun setuju untuk bergabung. Tapi Dhanuendra melarang saya untuk ikut andil, dia bilang jika itu sama saja dengan korupsi. 


Saya tidak mendengarkan Dhanuendra, karena saya masih merasa kesal padanya. Dia telah mengkhianati saya dengan menikahi wanita yang dulu saya cintai. 


Permasalahan tak berhenti disitu saja, karena reputasi saya yang semakin meningkat dan di pandang bagus oleh masyarakat dan pemerintahan. Saya pun membuat usaha sampingan yang tidak diketahui oleh siapapun, saya hanya menyimpan pion untuk mempromosikan usaha itu secara diam-diam. 


Dhanuendra yang pada dasarnya adalah ajudan pribadi saya, tentu saja dia mengetahui apapun yang saya lakukan. Dan dia selalu menentang apapun keputusan saya yang menurutnya melanggar kode etik dan hukum. 


Saya sering terlibat percekcokan dengannya, karena merasa tidak ada kecocokan lagi dengannya saya menurunkan jabatan Dhanuendra. Sebenarnya saya ingin memecatnya, tapi Dhanuendra terlalu banyak tahu tentang rahasia yang saya miliki. 


Haus akan kejayaan yang sedang melejit, membuat saya semakin gelap mata. Meskipun, Dhanuendra sudah saya turunkan jabatannya dia masih sering merecokan usaha saya. Dan terpikirlah sebuah ide untuk menghabisinya, agar tidak ada lagi orang yang menganggu usaha gelap saya dan selain itu juga saya bisa mendapatkan kembali cinta pertama saya yang telah dia rebut.


Satu Minggu kemudian, saya mengirim Dhanuendra untuk pergi ke luar kota selama satu bulan. Dan selama satu bulan itu juga saya rutin mengunjungi rumah Dhanuendra, untuk membujuk Rania agar mau meninggalkan suaminya. 


Satu bulan kemudian, Dhanuendra telah kembali dari luar kota. Niat saya untuk membunuhnya, saya urungkan sebab saya mengingat jasa-jasanya saat kuliah dulu yang sering membantu saya dalam kesulitan. 


Beberapa bulan telah berlalu, saya mendengar dari bawahan saya jika Rania kini sedang mengandung. Karena saya yakin jika itu adalah anak saya, saya pun mengutus Dhanuendra untuk ke luar kota lagi. 


Selama itu pula saya mengunjungi Rania dan melakukan hal sama seperti tempo lalu, agar dia mau mengaku jika anak yang sedang dikandungnya adalah anak saya. Saya juga meminta agar dia meninggalkan Dhanuendra dan menikah dengan saya. 


Namun, lagi-lagi penolakan yang dia berikan pada saya. 8 bulan kemudian, saat saya sedang duduk di ruangan kerja tiba-tiba Dhanuendra datang dengan wajah yang begitu marah. Saya sudah bisa menebak jika Rania pasti sudah mengadu padanya, saya menghampiri Dhanuendra dan berbicara secara baik-baik agar dia mau menceraikan Rania dan memberikannya pada saya. Tapi dia menolak, dan memaki saya dengan kata-kata kasar. 


Karena kesabaran saya telah habis, dan rasa sakit hati yang dulu saya simpan dalam dada sudah tak dapat terbendung lagi. Saya pun menembak Dhanuendra sebanyak 6 kali di bagian kepala dan dada, hingga pria yang dulu merupakan sahabat saya itu tewas.


Demi menutupi kejahatan saya, saya menyuruh anak buah saya untuk menguburkan Dhanuendra di belakang gedung kosong yang terletak di jalan Kamboja. Saya juga meminta pada mereka untuk menghancurkan semua cctv yang ada di rumah dinas dan membunuh anak laki-laki Dhanuendra yang di kabarkan saat itu berada di tempat penembakan. 


Satu Minggu dari kepergian Dhanuendra, saya menyambangi rumah Rania. Bermaksud untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Dan seperti yang sudah-sudah, dia terus menolak dan mengusir saya. Saya sudah berulang kali diperlakukan tidak baik olehnya dan saya masih sabar tapi, kali ini. Saya sudah merasa sangat muak hingga pada akhirnya saya gelap mata dan tanpa sadar membunuh Rania dengan sangat keji. Saya memotong leher Rania layaknya hewan, karena saya mendengar ada orang datang saya pun pergi meninggalkan kediaman Dhanuendra.


Sejak kejadian itu, saya pun mulai menutup diri dan menceraikan istri pertama saya tanpa alasan yang jelas. Hidup saya jadi berantakan, karir sebagai menteri pun saya lepaskan begitu saja, rasa penyesalan atas perbuatan saya yang begitu kejam terhadap sahabat dan istrinya terus menghantui hidup saya. 


Sampai ajudan baru saya datang memberi kabar, jika Rania kini berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Saya menanyakan bayi dalam kandungannya, dia menjawab jika bayinya sudah di keluarkan dan selamat. 


Mendengar bayi itu selamat, saya memerintahkan pada ajudan untuk mengambil anak itu tanpa sepengetahuan siapapun. Setelah menjalani tes DNA, benar saja jika bayi itu adalah darah daging saya. Dengan hadirnya anak itu saya kembali menata kehidupan dan menjabat sebagai menteri selama bertahun-tahun dan membesarkan putri saya sendirian karena saya dengar jika Rania meninggal tak lama setelah pengangkatan bayi dalam rahimnya. 


Tuan Gerald yang terhormat, saya tahu anda adalah putra dari Dhanuendra. Dengan penuh penyesalan saya ucapkan beribu maaf pada anda meskipun, saya tahu kata maaf tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Jika saja waktu dapat di putar saya juga tidak ingin melakukan hal seperti ini, mungkin saya akan memilih untuk mengalah dan mengikhlaskan Rania untuk ayah anda. 


Namun, Harus anda ketahui Tuan. Jika Helena adalah adik satu ibu anda. Sebagai permintaan terakhir saya, saya minta agar anda melindungi Helen selayaknya adik kandung. Meskipun, berbeda ayah tapi dia berasal dari rahim yang sama seperti anda. Dia tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini, sayalah yang bersalah. Helena hanya korban dari kejahatan saya terhadap ibu anda, sekali lagi saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada anda.


Yang bertanda tangan dibawah ini.


               Maheswari. 


..


.


Bersambung.