
"Maafkan aku, ini sangat memalukan tidak seharusnya aku menangis seperti ini." Gerald mengusap wajahnya. Keadaannya kini mulai membaik dan lebih tenang dari sebelumnya.
"Tidak masalah, pria juga manusia biasa yang dapat menangis. Bahkan dewa bulanku saja pernah menangis," jawab Valerie yang memberikan segelas air putih pada Gerald.
"Kenapa kau selalu memuji dewa bulan? Apa bagusnya dia," dengus Gerald cemburu. Ia memberikan gelas kosong pada Valerie dan berjalan menuju ranjang.
"Bantu aku melepaskan pakaian, aku mau tidur," titahnya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Maksudnya, anda mau tidur disini?"
"Menurutmu, aku harus tidur dimana? Kau yang membuat kamarku berantakan. Jadi aku harus tidur disini untuk sementara, lagi pula ranjangnya besar kita bisa berbagi." Gerald tersenyum penuh arti.
"Tidak bisa! Wanita dan pria tanpa ikatan tidak boleh berada dalam satu kamar, apalagi satu ranjang."
"Tanpa ikatan? Kau sudah lupa stempel kepemilikan itu, kau adalah milikku."
Valerie memegang lehernya. "Bukan begitu maksudku, pokoknya kau tidak boleh tidur disini."
"Sepertinya aku mengerti maksudmu, apa perlu aku membawa penghulu untuk menikahkan kita sekarang?"
"Astaga, kenapa setiap kali dia berbicara selalu saja terdengar mudah," kata hati Valerie memijat pelipis matanya.
"Baiklah, aku akan meminta Rendi untuk memanggilkan penghulu kemari," ucap Gerald bersemangat.
"Eh, t-tidak. Kau boleh tidur sini, biar aku tidur di sofa," sela Valerie pasrah.
"Kenapa di sofa, ranjangnya luas. Badanmu bisa sakit jika tidur disana."
"Badanku akan lebih sakit lagi, jika tidur bersamamu," cibir Valerie. Ia mendekati Gerald dan membantunya melepaskan pakaiannya lalu, mengambil bantal dan selimut.
🌼🌼🌼🌼
Le Grande Hotel.
Helen sudah sadar dari pingsannya, wajahnya pucat dan penuh kekhawatiran. "Mas, apa yang terjadi?"
"Hanya orang-orang mabuk … Alisa, bantu Helen berganti pakaian. Kita harus kembali ke edelweiss sekarang juga," titah Devano pada asisten Helena.
"Kenapa begitu mendadak? Bagaimana dengan acaranya?"
"Ada hal penting yang tidak bisa aku jelaskan sekarang, cepatlah kita tidak punya waktu banyak."
"Bagaimana dengan Papa? Apa dia baik-baik saja?"
Devano menghampiri Helena dan memegang bahu istrinya. " Papa baik-baik saja, dia sudah pergi ke Australia karena ada pekerjaan mendadak."
"Kenapa dia tidak memberitahuku dulu?" Helen menatap nanar suaminya.
Devano menghela napasnya. "Sayang, percayalah padaku papa baik-baik saja. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, cepatlah ganti pakaianmu jika tidak kita akan ketinggalan pesawat," ucapnya lembut.
Helen mengangguk, dengan bantuan asistennya ia pun bergegas mengganti pakaiannya dengan baju casual yang lebih nyaman.
"Tuan, mobil telah siap," sahut seorang sopir.
Devano mengangguk, dan membawa istrinya menuju mobil. Di dalam mobil Helena menyandarkan kepalanya pada Devano, tatapannya kosong hatinya merasa gelisah karena memikirkan keadaan ayahnya yang kini entah ada dimana.
Tiba-tiba saja, Helena teringat kembali pada rekaman cctv yang tadi ia lihat. Rasanya dia tidak percaya jika orang itu adalah ayahnya tapi, jika dilihat secara teliti lagi orang itu sangat mirip dengan ayahnya ketika usia muda.
Helena jadi curiga, perginya sang ayah yang mendadak bukanlah karena bisnis melain tertangkap oleh pihak kepolisian.
"Pak, puter balik mobilnya," sahut Helen memberi perintah tiba-tiba.
"Kenapa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Devano.
"Aku tahu kamu bohong, papa pasti ada di kantor polisikan." Helena menatap Devano sendu.
Devano menelan ludahnya kasar, ia tidak tahu apa yang mesti dia katakan pada Helena. Devano hanya menatap istrinya dengan tatapan iba.
"Kenapa kamu diam? Jangan bilang kalau dugaanku benar," sambung Helena dengan suara bergetar.
"Pak, percepat laju mobilnya." titah Vano yang tak menghiraukan istrinya.
"Aku nggak mau kembali tanpa Papa. Mas," tolak Helena, yang ingin tahu tentang ayahnya .
"Helen, ini perintah papa kamu. Kita harus kembali kesana, demi kebaikan kita semua."
"Jangan dengarkan dia, teruskan saja ke arah bandara," sela Vano dengan wajahnya yang serius.
Helena menatap kecewa suaminya. "Mas!"
"Helena, please nurut sama aku … setelah kita disana aku akan pikirkan caranya untuk mengeluarkan papa dari penjara."
Helena berdecak kesal, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Butiran bening kini membasahi kedua pipinya, ia tidak menyangka di hari yang seharusnya bahagia ia malah harus menelan pil pahit sebab ayahnya harus terkurung di balik jeruji tanpa alasan yang jelas.
Devano memeluk istrinya, mencoba menenangkan dan memberikan semangat pada Helena agar wanita itu berlapang dada atas kejadian hari ini yang menimpanya.
🌼🌼🌼🌼
Grand Paradise Hotel.
Malam telah berganti, cahaya matahari yang masuk ke sela-sela jendela menerpa wajah Valerie membuat wanita itu mengerjapkan matanya ia merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya.
Ia pikir dirinya masih tertidur dan tertindih makhluk halus, karena seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan bahkan kedua matanya terasa berat untuk dibuka.
Setelah memaksa kedua matanya terbuka, ia kaget karena rupanya yang menindih tubuhnya itu tangan dan kaki kekar milik Gerald. Tak hanya terkejut dengan tangan yang melingkar di tubuhnya, Valerie juga berteriak dikala melihat Gerald yang tertidur dalam keadaan telanjang dada dan mengenakan celana boxer saja.
Mendengar teriakkan Valerie, Gerald melenguh dan melepaskan pelukannya.
"Emp, baby … kenapa kau berteriak? Bukankah ini kali keduanya kau tidur bersamaku," ujar Gerald dengan mata setengah tertutup.
"Kau! … bagaimana bisa aku tidur di sini, perasaan semalam aku tidur di sofa," gumam Valerie dalam batin. Ia ingat betul jika dirinya semalam berbaring di sofa sembari menonton drama kesukaannya sebelum dirinya benar-benar tertidur pulas. ia pun menoleh kearah Gerald. "Pasti dia yang sudah memindahkan ku."
Gerald kembali menjatuhkan Valerie dan memeluknya.
"Astaga, Tuan. Minggir aku mau ke kamar mandi." Valerie mendorong tangan Gerald. Bukannya menyingkir pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Nanti saja, aku masih mau memelukmu," gumam Gerald yang tak mau melepaskan pelukannya.
"His, pria ini," decak Valerie sebal.
Tok … tok … tok.
Suara ketukan pintu, dari luar.
"Tuan, lepaskan ada yang mengetuk pintu." Valerie kembali mendorong tangan Gerald.
"Biarkan saja, paling cleaning service," jawab Gerald yang tak membuka matanya.
Valerie menarik napasnya kesal, dan melirik pada ponsel Gerald yang tak berhenti bergetar.
"Tuan, ponselmu berdering."
"Biarkan saja, aku tidak mau diganggu," balas Gerald.
"Bagaimana jika itu penting?"
"Tidak ada yang lebih penting selain menghabiskan waktu denganmu, my Dandelion's."
Valerie mengernyitkan dahinya, menanggapi ucapan Gerald yang memanggilnya Dandelion.
"Tuan, aku mohon menyingkir aku harus ke kamar mandi sekarang," rengek Valerie yang sudah merasakan ada sesuatu yang keluar dari bawah sana.
"Baiklah-baiklah, jangan lama." Gerald melepaskan Valerie dan membiarkannya pergi ke toilet.
Karena ponselnya terus bergetar dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengangkat panggilan tersebut dan membukakan pintu untuk sekretarisnya itu.
"Tuan, anda–." Rendi menghentikan ucapannya dan menyebarkan pandangannya ke seluruh kamar milik Valerie.
Pikirannya jadi traveling, karena melihat Gerald yang hanya mengenakan jubah tidur tipis juga ranjang yang sangat berantakan. Senyum jahil pun tercipta dari sudut bibir Rendi, ia menatap tuannya dengan tatapan meledek.
.
.
.
Bersambung.