My Dandelion'S

My Dandelion'S
Jiwa jomblo



Di salah satu kantor polisi, ajudan setia Maheswari tengah memberikan info pada majikannya yang saat ini berada di balik jeruji besi dengan baju orange khas tahanan.


"Maaf, Tuan. Saya sudah menyelidiki semuanya tapi, tidak ada jejak apapun mengenai si pemutar rekaman." 


Maheswari menyipitkan matanya, kemarahan tampak dari raut wajahnya yang mulai berkerut. 


"Siapa orang itu? Apakah orang itu masih ada sangkut pautnya dengan keluarga Dhanuendra? Tapi, siapa … yang aku tahu Dhanuendra tidak memiliki keluarga lagi selain anak dan istrinya dan itu pun sudah aku habisi, lalu siapa yang ingin balas dendam padaku?" Maheswari larut dalam pikirannya sendiri.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Ajudan membuyarkan lamunan Maheswari.


"Cari tahu tentang kematian, anak Dhanuendra … jika bisa bongkar kembali kuburannya suruh orang lain untuk mengetes DNA nya." 


"Tuan, sepertinya itu sulit … kematian anak dari Dhanuendra sudah sangat lama aku tidak yakin jika masih ada tulang-tulangnya yang tersisa." ungkap ajudan.


"Kau benar, untuk sementara kesampingkan itu dulu … kau harus cari cara agar aku bisa keluar dari sini secepatnya." 


"Baik Tuan, saya akan memikirkan caranya dan secepat mungkin menemukan bukti jika anda tidak bersalah," jelas ajudan yang kemudian pergi meninggalkan sang majikan. 


                     🌼🌼🌼🌼


Grand paradise hotel.


Gerald duduk di tepi ranjang, mengusap kening Valerie yang mengeluarkan banyak keringat. Wajah Valerie terlihat gelisah, karena nyeri yang tak tertahankan. 


"Apa setiap wanita yang mengalami menstruasi, akan seperti ini juga?" tanya Gerald pada pegawai hotel yang tadi ia panggil.


"Pada umumnya begitu, Tuan. Tapi, ada sebagian juga yang tidak merasakan sakit … tapi, jika dilihat dari keadaan nyonya Valerie, sepertinya beliau mengalami rasa sakit yang tidak biasa," jelas Ella.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" 


"Sebaiknya, anda membawa nyonya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Kita tidak bisa menganggap enteng rasa sakit ketika datang bulan." Ella memberikan saran.


Gerald menatap Valerie, wajahnya yang pucat membuatnya tidak tega jika Valerie harus merasakan kesakitan seperti ini. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung membawa Valerie ke rumah sakit.


                   🌼🌼🌼🌼


Rumah sakit MTTB, Bali. 


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter meminta Gerald untuk mengikuti dirinya ke ruangan. Untuk menjelaskan kondisi Valerie saat ini. 


"Apa yang terjadi pada istri saya, dokter?" tanya Gerald cemas.


"Istri anda mengalami, endometriosis," jawab seorang dokter wanita.


"Apa itu? Dokter."


"Endometriosis adalah suatu kondisi yang menyebabkan jaringan yang biasanya melapisi rahim, tumbuh di bagian lain tubuh di luar rahim. Nyeri panggul adalah gejala yang paling umum dari masalah menstruasi ini. Gejala lainnya, antara lain:


Periode menstruasi yang berlangsung lebih lama dari tujuh hari.


Periode menstruasi yang lebih berat.


Pendarahan diantara periode menstruasi. Nyeri gastrointestinal. Rasa sakit saat berhubungan intim.


Rasa sakit saat buang air besar dan kesulitan untuk hamil." Dokter itu menjelaskan secara detail.


"Apa! Sulit hamil?" Gerald tersentak dengan penjelasan dokter yang menyebutkan jika Valerie akan mengalami sulit memiliki keturunan.


"Benar, Tuan." 


"Apa itu bisa disembuhkan?" 


"Ada tiga cara untuk menyembuhkannya, yaitu memberikan obat pereda nyeri, terapi hormon dan operasi. Jika dilihat dari kondisi nyonya Valerie, Endometriosisnya sudah terbilang cukup parah sehingga tidak bisa dilakukan dengan pemberian obat dan terapi. Bahkan operasi saja belum tentu menyembuhkannya. Jadi endometriosis diobati bisa, disembuhkan belum bisa. Selalu ada kemungkinan untuk kambuh. Angka kekambuhannya juga tinggi," pungkas dokter. 


Gerald menutup kedua matanya, ia mencoba untuk menerima kenyataan jika keadaan Valerie yang memungkinkan tidak akan bisa memberinya anak. 


"Anda jangan patah semangat, Tuan. Kita serahkan saja pada Sang Pencipta, karena Tuhan yang maha segalanya. Jika Tuhan menurunkan penyakit, maka Tuhan juga yang akan menyembuhkannya. Kita hanya perlu berdoa, berusaha dan berikhtiar." Dokter itu menepuk bahu Gerald, dan memberikannya semangat. 


Di ruang rawat, Gerald menghampiri Valerie yang tengah terbaring di atas brankar dengan jarum infus yang menempel di tangannya.


Gerald meraih tangan Valerie dan tersenyum. "Mau bagaimanapun kondisimu, aku akan tetap mencintai dan menikahi mu … meskipun kelak kita tidak bisa memiliki anak, cintaku tak akan pernah berubah. Aku akan selalu menyayangimu seperti saat ini." Gerald mencium tangan Valerie, tanpa terasa bulir beningnya jatuh saat memikirkan keadaan Valerie yang selama ini pasti tersiksa karena rasa sakitnya. 


Ia jadi teringat pada Devano, selama mereka menikah apakah Vano mengetahui jika Valerie sakit? Atau jangan-jangan Devano tidak tahu sama sekali tentang penyakit mantan istrinya dan membiarkannya begitu saja sampai penyakitnya separah ini?.


                          🌼🌼🌼🌼


    Matahari sudah berada tepat diatas kepala, cuaca hari ini terasa begitu menyengat kulit. Rendi beserta beberapa temannya terlihat, sedang bermain bola voli di tepi pantai. Tanpa menghiraukan sengatan matahari, ia tampak begitu menikmati hari liburnya sambil tertawa terbahak-bahak. 


Seorang pria dengan setelan kaos oblong serta celana pendek dan sendal jepit berdiri di kejauhan, ia memantau Rendi yang sedang bersenang-senang. 


"Heuh, bisa-bisanya dia bermain di saat genting seperti ini," gumamnya yang kemudian menghampiri Rendi.


"Hei, botak!" teriak Fero pada Rendi.


Rendi mendelik, dan menghampiri Fero.


"Ada apa?" dengus Rendi sebal.


"Enak sekali kau bisa bermain disini, aku laporkan pada Tuan Gerald. Dia pasti akan memecatmu," ucap Fero iri.


Rendi tersenyum kecut. "Laporkan saja, aku tidak takut."


"Hais, dasar menyebalkan," umpat Fero.


"Kenapa kau kemari? Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Rendi sembari berjalan ke salah satu kursi.


Fero menggelengkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi sedih. "Aku tidak tahu, harus mencari info kemana lagi … gara-gara kalian yang membunuh Hendra aku jadi tidak bisa mendapatkan petunjuk," gerutu Fero, ia mengambil minuman Rendi dan meminumnya dalam sekali tenggak.


"Kau hanya beralasan, bilang saja kau malas," cibir Rendi.


Fero menatap Rendi. "Hei, botak cepat katakan jika kau menjadi aku. Apa yang akan kau lakukan untuk memecahkan masalah ini?" 


"Jika aku jadi kau, aku akan terjun ke jurang karena malu … jadi direktur tapi, tidak bisa melakukan apapun."


Pletak.


Fero memukul kepala Rendi.


"Yak, apa yang kau lakukan?" Rendi menaikan suaranya dan memegang kepalanya.


"He he he, ada nyamuk di kepalamu," dalih Fero. Nyalinya langsung menciut karena melihat Rendi marah.


"Aku bertanya serius, menurutmu kemana lagi aku harus mencari petunjuk tentang orang yang menyuruh Hendra." Fero menatap lautan sendu.


Rendi menarik napasnya dalam, ia tidak mengerti kenapa bosnya bisa menjadikan pria bodoh seperti Fero pemimpin perusahaan. Jika ia melihat, banyak orang dengan potensi yang jauh lebih bagus dari Fero yang dapat dijadikan pemimpin perusahaan dan mungkin masalah seperti ini tidak akan terjadi. 


"Sepertinya aku mulai paham, kenapa orang itu membocorkan data perusahaan yang ada disini … Fero satu-satunya pemimpin perusahaan yang kurang kompeten, sehingga dengan mudah untuk di kecoh. Tapi, kenapa Hendra menuduh Fero? Bukankah mereka berteman baik? Aku harus ikut menyelidikinya." gumam Rendi dalam hati. 


"Hei botak! Kau dengar aku tidak?" teriak Fero yang merasa dikacangi oleh Rendi.


"Berhenti memanggilku botak, maka aku akan membantumu."


"Kau serius?" 


"Apa wajahku terlihat sedang bermain-main?" timpal Rendi.


Fero menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Eh, iya kau tahu. Akhir-akhir ini, aku tidak bisa tidur gara-gara wanita yang pernah aku temui beberapa hari yang lalu." tutur Fero curhat.


"Jangan memikirkan wanita, jika kau belum bisa menemukan siapa dalang dari pembocoran data." 


"Hais kau ini, terlalu banyak bergaul dengan Tuan Gerald membuatmu tidak asik … sudahlah aku mau pergi! Berlama-lama duduk denganmu bisa-bisa aku ketularan jiwa jomblo kalian," cibir Fero sembari pergi. 


Rendi menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Fero yang seperti anak-anak. 


.


.


.


.


Bersambung.