My Dandelion'S

My Dandelion'S
Duduk dengan tenang.



Semua orang telah pergi meninggalkan ruang sidang, yang tersisa kini hanya Valerie, Devano, Helena juga Gerald.


Helena yang melihat Devano masih memeluk Valerie, langsung memisahkan keduanya sampai membuat Valerie hampir terjatuh karena hilang keseimbangan.


Dan lagi-lagi Valerie beruntung, sebelum dirinya benar-benar jatuh Gerald sudah menangkapnya. Valerie dan Gerald saling bertatapan untuk sesaat lalu, Gerald membantu Valerie untuk kembali berdiri.


"Bukankah, aku sudah bilang jangan pernah menyentuh wanitaku." Gerald mengetatkan giginya pada Helena.


"Aku tidak akan menyentuh wanitamu, jika dia tidak menyentuh calon suamiku juga," timpal Helen tak mau kalah.


"Siapa yang menyentuh calon suamimu? Apa kau buta! Sudah jelas dia yang lebih dulu memeluk wanitaku!" bentak Gerald pada Helena.


"Berani sekali kau membentak Helena, Tuan," ucap Devano membela calon istrinya.


Valerie menatap Devano, ia merasa waktu begitu cepat sekali berubah. Dulu Vano membelanya di hadapan Helena dan kini dia membela Helena karena dibentak oleh Gerald dihadapannya.


Ketegangan pun terjadi diantara Devano dan Gerald yang membela pasangannya masing-masing. Karena tidak ingin terjadi keributan, Valerie memilih mengalah dan mengajak Gerald untuk segera pergi dari sana.


"Tuan," Valerie menggelengkan kepalanya pelan.


Gerald menatap Devano dan Helena tajam. " Sekali lagi kalian berani menyentuh dia, aku tidak segan untuk memberi perhitungan pada kalian!" Gerald memberi ancaman pada Helena dan juga Devano. Lalu, membawa Valerie pergi. 


Helen terlihat begitu kesal, jika saja Gerald tak ada sisi Valerie ia pasti sudah berhasil membuatnya tersungkur.


"Apa yang terjadi antara kau dan pria itu, Helen?" tanya Vano penuh selidik 


"Maksudnya?" 


"Jangan pura-pura tidak mengerti, pria itu tidak mungkin marah seperti itu jika kau tidak melakukan apapun sebelumnya." 


"Apa sih, Mas? Dianya aja yang lebay, udah ah aku mau pulang." Helen meninggalkan Vano untuk menghindari pertanyaan yang dilontarkan oleh Devano.


.


.


.


🌼🌼🌼


"Tuan, sebaiknya anda pulang lebih dulu. Aku bisa naik taksi," ucap Valerie yang tak ingin pulang bersama Gerald.


"Baiklah," jawab Gerald, yang langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa menoleh.


Valerie mengangkat kedua alisnya ke atas. "Tumben sekali dia tidak memaksaku?" Valerie menaikan kedua bahunya tidak peduli, dan dia pun menyetopkan sebuah taksi yang kebetulan lewat.


"Butik Dandelion's, jalan Lily ya pak."


"Baik, non." 


Mobil pun melaju, meninggalkan pekarangan gedung pengadilan agama kota Edelweis.


Valerie menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap pemandangan kota Edelweis yang terlihat dibalik kaca taksi. Hati Valerie kini sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya. Dengan statusnya yang baru kini ia harus lebih fokus pada kehidupan juga butiknya tersebut.


Mobil telah sampai di depan butik Dandelion's, Nadia terlihat sudah berdiri didepan butik untuk membantu Valerie turun dari taksi.


"Hati-hati, mbak … mbak kenapa nggak nelpon aku aja buat jemput kesana."


"Aku tidak mau merepotkan kamu, Nad." Valerie duduk di sofa ruangannya.


"Merepotkan apanya, aku malah senang bisa jemput mbak kesana … oh iya mbak apa sidangnya lancar?"


Valerie menganggukkan kepalanya.


"Mas Vano Dateng?" 


Valerie kembali mengangguk.


"Mbak capek ya, sini aku pijitin." Nadia hendak menyentuh bahu Valerie tapi, Valerie menolaknya.


"Tidak usah, Nad aku cuma mau sendiri."


"Oh, baiklah. Kalau mbak perlu sesuatu panggil saja aku," ucap Nadia, ia terlihat menekuk wajahnya karena melihat bosnya yang begitu lesu tak bersemangat. 


.


.


.


🌼🌼🌼🌼


"Tuan, kenapa anda membiarkan Nona Valerie naik taksi?" tanya Rendi, penasaran. 


"Aku tidak mau membuang tenagaku, hanya untuk berdebat dengannya," jawab Gerald sembari menyesap kopi panasnya.


Rendi menganggukkan kepalanya perlahan. "Tuan, ada undangan dari menteri Maheswari." Rendi menyerahkan undangan berwarna biru cerah itu ketangan Gerald.


"Helena dan Devano?" 


"Benar Tuan, saya baru tahu jika putri Tuan Maheswari itu adalah Helena yang telah merebut suami nona Valerie, dan saya juga baru tahu jika orang yang melepaskan Devano itu juga suruhan Tuan Maheswari," jelas Rendi pada Gerald.


"Pantas saja, pria bajingan itu bisa lolos dengan mudah … ini menarik kita harus menghadiri pesta itu." Gerald menyunggingkan sudut bibirnya, menyimpan rencana yang tidak diketahui siapapun.


🌼🌼🌼🌼


Dua hari telah berlalu, kaki Valerie sudah sembuh seperti semula begitu juga dengan suasana hatinya kini dia terlihat lebih cerah dan bersemangat dari sebelumnya. 


Rencananya hari ini Valerie akan pergi ke Bali, untuk menemui salah satu client yang meminta dirinya untuk merancang gaun pernikahan.


Karena client yang sibuk tidak dapat datang ke butik, jadi client itu meminta pada Valerie agar dirinya yang datang kesana. Valerie pun menyetujui permintaan sang client, karena sudah lama juga dirinya tidak berlibur, jadi ia berpikir untuk sekalian merefresh otaknya yang mulai usang. 


Sebenarnya Valerie pergi bersama Nadia juga Ana, hanya saja kedua pegawainya punya urusan yang mendadak sehingga mereka baru bisa menyusul Valerie di hari berikutnya.


"Mbak, maafkan kami karena tidak bisa pergi bersama," ucap Nadia sedih.


"Tidak masalah, kalian selesaikan saja dulu urusan kalian ... Jika semuanya sudah beres. Segeralah menyusulku," jawab Valerie menepuk bahu Nadia.


"Baik, mbak." 


"Baiklah, aku pergi dulu." 


"Hati-hati di jalan, hubungi kami kalau mbak sudah sampai ya," ujar Ana dan Nadia.


Valerie mengangguk, sambil menarik kopernya ia melambaikan tangannya pada Nadia dan Ana yang telah mengantarnya sampai bandara. 


Valerie kini sudah berada di dalam pesawat, kebetulan sekali dirinya bisa duduk didekat jendela sehingga ia bisa melihat pemandangan negara Edelweis dari atas. 


"Akhirnya, aku bisa pergi berlibur juga. Aku jadi tidak sabar ingin segera sampai dan melihat pemandangan indah yang ada di bali." bisik batin Valerie, sudut bibirnya kembali mengembang ia jadi membayangkan saat dirinya berjalan  di pesisir pantai dengan cahaya matahari yang akan terbenam. 


"Ah, itu sangat indah." Valerie kembali bergumam dan memejamkan kedua matanya sampai dirinya tertidur pulas.


Empat jam telah berlalu, Valerie masih memejamkan kedua matanya. Jika dilihat dari sudut bibir yang terus membentuk simpul bulan sabit, saat ini Valerie tengah berada dalam dunia mimpi indahnya. 


Kelopak mata Valerie mulai bergerak-gerak, dengan perlahan ia membuka kedua matanya. Dan di detik berikutnya Valerie terdengar berteriak, saat melihat seorang pria sedang menatapnya dengan tatapan dingin. 


Karena takut mengganggu kenyamanan penumpang lain, dengan cepat pria itu langsung membekap mulut Valerie menggunakan tangannya.


"Lepaskan." Valerie menarik tangan pria tersebut agar segera menjauh dari mulutnya. "Kamu!" pekik Valerie memicingkan matanya.


"Kenapa kau terkejut? Apa ini pertama kalinya kau melihat orang tampan sepertiku," ujar Gerald datar.


Valerie mengerutkan keningnya. "E-ekhem, apa yang sedang anda lakukan di sini? Jangan bilang kalau anda mengikuti ku," tuduh Valerie pada Gerald.


"Heuh, mengikutimu? Untuk apa aku mengikutimu? apa kau pikir aku pria yang tidak punya pekerjaan yang akan mengikuti wanita seperti mu," dengus Gerald memalingkan wajahnya. 


"Jika tidak mengikutiku lalu, apa yang sedang anda lakukan disini?" 


"Nona, apa kau pikir pesawat ini milik pribadi mu … semua orang juga bisa menaikinya."


"Memang benar, ini fasilitas umum. Tapi … bukankah dia orang kaya kenapa dia tidak menggunakan jet pribadi saja," bisik batin Valerie heran.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" 


Valerie menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada."


"Duduklah dengan tenang, perjalanan kita masih jauh … dan ingat jangan banyak bicara."


"Heuh, memangnya siapa yang akan banyak bicara denganmu … aku lebih baik kembali tidur dan melanjutkan mimpi indahku," gumam Valerie yang kembali menutup kedua matanya.


.


.


.


Bersambung.