
"Tuan, aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang anda katakan?"
Gerald menarik napasnya kesal. "Baiklah, lupakan saja. Sekarang aku bertanya siapa yang paling tampan aku atau raja bulan?" Gerald merapikan jasnya dan memasang wajah angkuh dan percaya diri.
Valerie menahan senyumnya, ingin rasanya ia tertawa kencang tapi, ia tidak berani. Gerald memang tampan dan berkharisma namun, jika dibandingkan dengan raja bulan yang saat ini memenuhi hatinya tentu saja Valerie menjawab raja bulan lah yang tampan.
Namun, demi kedamaian dan keselamatan dirinya. Ia harus menjawab jika Gerald yang paling tampan seantero jagat raya, tidak hanya menyebut tampan saja. Tapi, Valerie juga mengatakan jika Gerald adalah pria baik hati, ramah dermawan dan juga murah hati.
Gerald tersenyum dan tersipu malu, saat Valerie mengatakan itu padanya. Ia sampai meminta pada Rendi untuk mengingat-ingat pujian yang baru dilontarkan oleh Valerie padanya.
"Aku tahu, aku tampan. Baik hati, dan dermawan. Tapi, kau harus ingat sebelum kau mengirimku ke planet mars. Aku yang akan lebih dulu melemparmu ke planet Pluto bersama raja bulanmu itu!" Gerald mengetatkan giginya pada Valerie.
Valerie membulatkan matanya, dan menelan ludahnya susah payah. "Kenapa dia tahu, tentang raja bulan?" ucap Valerie dalam hati.
"Berikan tanganmu."
"Untuk apa?"
Gerald menarik paksa tangan Valerie, lalu memakaikan cincin yang tempo hari mereka beli ke jari manis Valerie. "Tidak bisakah, sekali saja jika aku memintamu jangan selalu bertanya," lirih Gerald, melepaskan tangan Valerie.
Valerie menatap cincin tersebut, tanpa mengatakan apapun. Ia jadi merasa bersalah, Gerald begitu serius menanggapi soal pernikahannya sementara dirinya hanya memanfaatkan Gerald, agar membawanya kembali ke kota asalnya dengan selamat dan setelah itu ia harus mengakui jika dirinya tidak benar-benar ingin menikah dengannya.
"Kau tidak suka?" tanya Gerald, saat melihat ekspresi Valerie yang seolah kecewa.
Valerie menggelengkan kepalanya. "Aku suka." Valerie sedikit tersenyum pada Gerald.
"Akhirnya aku bisa melihatnya, tersenyum," lirih batin Gerald senang.
"Tuan, bisa bicara sebentar," ucap Rendi dengan wajah serius.
Gerald mengangguk.
"Tuan Devano, ada di bawah dan dia memaksa ingin bertemu dengan Nona Valerie," bisik Rendi di telinga Gerald.
"Biarkan dia masuk."
"Anda yakin, Tuan?"
"Kau meragukan perintahku?"
Rendi menggelengkan kepalanya. Melihat kedua pria sedang berbisik, Valerie mencoba menguping tapi sayang ia tak dapat mendengar apapun.
"Keluarlah, tinggalkan kami," titah Gerald yang tiba-tiba menyeringai pada Valerie.
Selepas kepergian Rendi, dengan perlahan Gerald menghampiri Valerie. Wanita itu mundur beberapa langkah, karena merasa curiga pada Gerald yang menatapnya dengan tatapan menakutkan.
"T-tuan, a-apa yang akan anda lakukan?" Valerie berbicara terbata sembari berjalan mundur.
Gerald tidak menjawab pertanyaan Valerie, dan tanpa mengatakan apapun dalam sekali gerakan Gerald mengubah posisi Valerie yang asalnya membelakangi kini jadi menghadap pintu.
Valerie terhenyak dengan gerakan Gerald yang begitu cepat. "T-tuan."
"Sssstt, diam dan jangan banyak bicara," bisik Gerald di telinga Valerie.
Bulu kuduk Valerie langsung meremang, saat hembusan napas panas menerpa lehernya. Dan tangan Gerald kini mulai menyentuh pinggang rampingnya, pria itu merapatkan tubuhnya pada Valerie.
Manik mata Valerie bergetar, ia merasa begitu tidak nyaman dengan posisinya yang saat ini. Ingin mendorong tapi, Gerald menyuruhnya untuk diam. Dan di detik berikutnya, begitu pintu kamar terbuka Gerald langsung menc*ium bibir Valerie.
Manik mata Valerie membulat sempurna, jantungnya berdegup kencang. Wajahnya berubah menjadi hangat dan memerah.
Tautan itu semakin lama semakin dalam, bibir Valerie yang awalnya mengatup kini terbuka karena lidah Gerald yang terus memaksanya untuk membuka mulut. Padahal niat awalnya hanya ingin membuat seseorang yang ada di ambang pintu merasa panas tapi, godaan setan lebih kuat. Sehingga Gerald menjadi kebablasan termakan nafsu yang sulit dikendalikan, begitu juga dengan Valerie ia tampak menikmati Lum*Atan bibir Gerald yang panas membuatnya lupa jika dirinya harus menjaga jarak dari Gerald.
Ketika kedua orang tengah beradu mulut, di ambang pintu ada seorang pria yang menatap keduanya dengan tatapan penuh amarah. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal erat. Sorot matanya terlihat berapi-api, wajahnya memerah karena menahan emosi. Dada Devano bergemuruh, saat melihat pria berpostur tubuh tinggi itu mulai menggerayangi tubuh mantan istrinya.
Karena sudah tidak tahan lagi melihat adegan itu, Devano menyerobot masuk dan menarik jas Gerald. Ia meninju pipi Gerald sampai pria itu tersungkur.
Valerie begitu terkejut, saat melihat Devano yang tiba-tiba muncul dan menyerang Gerald.
"Bangun! Aku tau kau tidak lemah, sini lawan aku!" sergah Devano, menantang Gerald yang masih tertunduk merasakan nyeri di bagian pipinya.
"Mas! Kamu apa-apaan sih," teriak Valerie. Ia menghampiri Gerald dan mengecek keadaannya.
"Val, kamu itu udah di jebak oleh dia. Dia itu penjahat dan dia nggak selemah yang kamu lihat," ujar Devano yang berharap Valerie akan terkejut dengan informasinya.
"Aku udah tahu semuanya, kok," jawab Valerie santai.
"Apa?"
"Mas, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, sebaiknya kamu pergi dari sini," usir Valerie tanpa menoleh Devano.
"Val, aku mau bicara sama kamu."
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi mas."
"Val, aku masih sayang sama kamu."
"Cukup, Mas! Aku nggak mau denger kata-kata kamu lagi. Aku dan mas Gerald akan segera menikah, jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi," kata Valerie dengan manik mata berkaca-kaca.
Gerald tersenyum, saat mendengar penuturan dari Valerie yang mengatakan akan menikah dengan dirinya.
"Val, kamu nggak boleh nikah sama dia … di–,"
"Kenapa aku tidak boleh menikah dengannya, sementara kamu hari ini akan menikah dengan Helena!"
"Aku terpaksa melakukan ini Val, percaya padaku dihati ku cuman ada kamu Val … aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Cih, simpan semua omong kosong itu mas. Sebaiknya kamu pergi dari sini, calon istrimu pasti sedang mencarimu."
Devano menggelengkan kepalanya. "Aku nggak akan pergi, kalau kamu nggak ikut sama aku."
Valerie tersenyum kecut. "Jangan konyol kamu, Mas. Sekali lagi aku tegaskan aku tidak mau bertemu lagi denganmu! Dan silahkan kamu pergi dari sini sekarang juga."
"Oke, kalau kamu nggak bisa di ajak dengan cara halus, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan." Devano hendak menghampiri Valerie untuk membawanya pergi tapi, Gerald dengan sigap menghalangi Devano.
"Berani kau menyentuhnya, akan aku pastikan semua aset yang kau miliki akan hancur dalam sekejap mata," tutur Gerald mengancam.
"Aku tidak peduli, yang aku butuhkan saat ini adalah Valerie. Sebaiknya kau menyingkir!"
"Dia milikku, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya. Sebaiknya anda pergi sekarang, sebelum aku habis kesabaran dan mematahkan tulang-tulangmu."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu!" Dengus Devano. Ia mengepalkan tangannya dan bersiap untuk melayangkan tinjuan ke dua pada Gerald.
.
.
.
.
Bersambung.