
Nadia yang berada di dalam kamar mengerutkan dahinya, setelah mendapatkan panggilan telepon dari sekretaris Rendi yang mengatakan jika dirinya sudah berada diluar rumah.
Karena takut Rendi bertemu dengan ibunya, ia pun bergegas keluar untuk menemui pria jangkung tersebut.
Nadia menyebarkan pandangan ke sekeliling rumahnya, untuk mencari keberadaan Rendi. Ia pun berjalan menuju halaman dan masih tidak menemukan.
"His, dasar pembohong … katanya di depan rumah tapi, tidak ada," umpat Nadia yang memutuskan untuk kembali ke dalam.
Dan seperti biasa setiap Nadia berbalik, Rendi akan muncul mengejutkannya.
"Argh," teriak Nadia. "Sekretaris Rendi! Kau mau mengirimku ke rumah sakit karena jantungan!" sentaknya sambil mengelus dada yang berdebar.
"Maaf, kupingku juga hampir rusak gara-gara ibumu," dengus Rendi dengan wajah datar.
"Ibu? Kau bertemu ibuku?" Nadia terlihat begitu kaget.
"Kau ada di rumahkan? Apa kau tidak mendengar suara ibumu yang begitu menggelegar saat memarahiku?"
Nadia menggelengkan kepalanya, sebab jika ada di rumah dirinya selalu memakai earphone.
Rendi menarik napasnya dalam, ia berpikir entah terbuat dari apa telinga gadis itu sampai-sampai suara ibunya yang seperti kaleng rombeng tak terdengar.
"Oh ya, kenapa kau mencari ku?" Nadia penasaran.
Rendi menunjukan kunci motor, di depan wajah Nadia.
Nadia mengerutkan dahinya, dan menatap Rendi sekilas.
"Tuan Gerald, membelikannya untukmu," cetus Rendi yang melemparkan kunci itu pada Nadia.
Nadia menangkapnya gelagapan, matanya langsung berbinar dikala menatap kunci motor itu sudah ada ditangannya.
Seperti mimpi, tuan Gerald benar-benar menepati janjinya. Begitu motor baru sudah berada di depan mata, ia langsung memeluk motor tersebut. Sebuah motor limited edition, edisi Justin Bieber yang berwarna putih.
"Astaga, cantik sekali," puji Nadia yang terus mencium motor yang masih terbungkus itu.
Rendi ikut tersenyum dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Nadia saat ini.
Selesai bercengkrama dengan motor baru, Nadia mendekati Rendi. Gadis itu spontan memeluk Rendi, dan mengucapkan terimakasih karena sudah mengantarkan motornya ke rumah.
Gadis itu mengajak Rendi masuk, dan minum teh. Tapi, Rendi menolak karena harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh bosnya.
"Baiklah, kalau tidak mau mampir. Tapi, lain kali kau harus mampir ke gubuk jelekku, oke."
Rendi mengangguk. "Oh iya, katakan pada ibumu aku bukan pegawai bank," celoteh Rendi sembari pergi.
"Apa! Jadi sekretaris Rendi sudah ketemu ibu? Hais bisa-bisanya aku tidak tahu. Eh ngomong-ngomong … dia tahu rumahku dari mana ya? Astaga gara-gara motor aku jadi lupa bertanya," cerocos Nadia yang berdialog sendiri.
Dari depan teras salah satu rumah, wanita berdaster hijau memperhatikan Nadia yang sedang sibuk berbicara sendiri seperti orang yang tidak waras.
"Eleuh-euleuh, itu teh si Nadia kunaon? Ngomong sendiri gitu jiga nu gelo … karunya pisan gara-gara loba hutang otaknya sampai ke betrik, mana masih ngora lagi," tutur wanita berdaster hijau yang merupakan tetangga Nadia.
Sadar sedang di perhatikan, Nadia langsung diam. Dia mendorong motor barunya menuju rumah.
"Nadia!" teriaknya.
"Apa?" jawab Nadia.
"Itu teh motor kamu?"
"Iya dong, motor baru. Limited edition, samaan bareng Justin Bieber," ujar Nadia pamer.
"Eleuh-euleuh, emang hutang kamu teh udah pada lunas? Bisa beli motor mahal gitu segala," timpal Rohimah, yang merasa hatinya panas sebab Nadia punya barang baru.
Rohimah dan Nadia memiliki perbandingan usia yang cukup jauh. Dimana Rohimah lebih tua lima tahun dari Nadia akan tetapi, keduanya tidak pernah akur. Rohimah selalu julid dan mengejek Nadia, dia juga tidak mau tersaingi oleh tetangganya itu. Sementara Nadia si tukang pamer yang tidak mau kalah dalam berbicara.
"Sebentar lagi hutang saya bakal lunas. Kalau hutang-hutang saya lunas saya mau beli mobil mewah biar situ kebakaran jenggot," sahut Nadia mengangkat sebelah bibirnya.
"Saya teh henteu percaya, hutang kamu teh banyak dimana-mana. Gaji kamu juga tidak seberapa, mana bisa ngelunasin hutang yang jumlahnya banyak … motor juga itu teh paling-paling hasil jual diri sama om-om, iyakan ngaku aja kamu teh." Rohimah terus mencecar Nadia dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Kamu kalau ngomong dijaga ya, jangan mentang-mentang kamu lebih tua dari saya. Jangan pikir saya takut sama kamu, sok sini kalau berani kita gelut," tantang Nadia yang tidak terima karena dituduh menjual diri.
Rohimah turun dari terasnya dan menghampiri Nadia yang sudah ada di depan pagar rumahnya. Keduanya kembali beradu mulut saling mengejek satu sama lain.
"Dasar janda bodong!" hardik Nadia pada Rohimah.
"Mending saya atuh janda bodong, daripada situ simpanan om-om ih geleuh." Rohimah bergidik geli.
"Emangnya kamu punya bukti, kalau saya simpanan om-om hah!"
"Ya itu motor teh buktinya atuh, kalau bukan dari om-om dari mana lagi ... hente mungkin kamu beli sorangankan."
Nadia terdiam, kalau dipikir-pikir emang benar juga sih motor itu dari tuan Gerald. Umur mereka saja jauh berbeda, jika dibandingkan, mereka seperti keponakan dan om. Nadia langsung menepis pikiran itu jauh-jauh, tuan Gerald memberikan motor itu padanya karena Valerie yang mengusulkan sebagai hadiah pemenang challenge bukan hal lain.
"Tuhkan kamu diam, berarti saya benarkan." Rohimah tertawa merasa senang karena dugaannya benar.
Nadia yang sudah tidak tahan terus diledek, langsung menjambak rambut Rohimah yang panjangnya nyaris menyentuh bokong.
Rohimah berteriak kesakitan dan ikut menjambak rambut Nadia yang memiliki panjang sebahu.
Keduanya pun saling menjambak dan melontarkan kata-kata yang tidak patut didengar. Para tetangga lain yang mendengar Nadia dan Rohimah berkelahi tak menghiraukan mereka, sebab bagi mereka pemandangan itu bukan hal aneh lagi.
Mendengar suara anaknya yang sedang berteriak, Ely keluar sambil memegang gagang sapu ijuk, ia sudah mengira jika putri sulungnya pasti sedang bertengkar lagi dengan tetangganya.
Ely berdehem, mengecek suaranya yang merdu. Sebelum ia mengeluarkannya untuk memanggil putri tercintanya itu.
Ekhem … cek sound .. cek-cek satu dua a a a ekhem.
"Nadia!!" teriak Ely memanggil putrinya yang masih sibuk menjambak Rohimah.
Suara Ely begitu menggelegar seperti petir, sampai-sampai menggetarkan kaca jendela milik tetangga lainnya. Untung saja jendela itu tidak pecah, jika pecah repot sudah, dan hutang akan semakin bertambah.
Kedua wanita yang sedang melakukan aksi perjambakan itu langsung mematung, saat wanita bertubuh gemuk itu mendekati mereka dengan gagang sapu di tangan.
Rohimah melepaskan rambut Nadia dan begitu juga dengan Nadia. Tidak ingin dimarahi Ely, Rohimah langsung mengambil langkah seribu dan masuk kedalam rumahnya.
Berbeda dengan nasib Nadia, dia tidak sempat lari karena kupingnya yang langsung ditarik oleh Ely. Wanita gemuk itu menyeret putrinya sampai rumah.
"Adududuh, sakit Bu," rengek Nadia menyentuh kupingnya yang sakit dan panas.
"Itu pelajaran buat kamu, ibu udah sering bilang jangan hiraukan si Rohimah. Ibu udah pusing setiap hari liat kamu berantem sama dia."
"Dia yang duluan, masa anak ibu yang Sholehah ini dibilangin simpenan om-om gara-gara punya motor baru."
Ely terhenyak dengan ucapan putrinya. "motor baru?"
Nadia mengangguk.
Ely langsung kembali keluar, dan melihat motor yang di maksud oleh putrinya. Bukannya senang, Ely malah kembali berteriak dan memarahi Nadia yang dianggapnya boros. Dengan banyaknya hutang yang harus ditanggung, Nadia malah membeli motor mewah.
"Ibu, ibu tenang dulu. Aku nggak beli motor ini tapi, di kasih." Nadia mencoba menjelaskan pada ibunya.
Ely menatap tajam putrinya, dan berpikir. Jangan-jangan yang dituduhkan Rohimah itu benar, jika putrinya adalah simpanan om-om?.
Nadia kembali menjelaskan pada ibunya perlahan, jika motor itu pembelian suami bosnya. Dan lagi, Nadia belum menyelesaikan ucapannya sang ibu sudah menyambar dan menuduhnya memiliki hubungan spesial dengan suami baru bosnya tersebut.
Demi membuktikan kebenaran, Nadia menelpon Valerie dan membiarkan ibunya yang mengobrol dan mempertanyakan perihal motor yang diberikan oleh Valerie pada putrinya.
Masalah pun telah usai. Ely, yang merasa malu karena telah menuduh putrinya yang tidak-tidak memeluk Nadia dan meminta maaf. Suasana yang tadinya tegang, kini berubah menjadi haru.
.
.
.
Bersambung.