
Hembusan angin di pagi hari, cukup menusuk kedalam tubuh. Pohon dan tanaman lain, masih terlihat meneteskan air sisa hujan semalam.
Di bawah selimut putih dan tebal, Valerie masih tertidur pulas dalam dekapan Gerald yang terasa begitu hangat.
Gerald yang sudah terbangun sejak tadi, terus menatap wajah Valerie yang cantik dan imut. Sudut bibir Gerald mengembang, ia membelai rambut Valerie penuh kasih sayang.
"Tuan, hari i–," Rendi langsung diam mematung saat melihat bosnya sedang tertidur bersama seorang wanita.
Rendi menundukan kepalanya saat Gerald mengalihkan pandangan padanya. "M-maafkan saya Tuan," ucap Rendi karena sudah masuk ke kamar bosnya tanpa mengetuk pintu.
Gerald mengibaskan tangannya pelan, meminta Rendi untuk keluar dari kamarnya. Sekretaris itu keluar dari kamar bosnya dengan perasaan tidak enak. Baru kali ini dirinya melihat sang bos mau satu ranjang dengan wanita lain, biasanya Gerald paling anti jika ada orang lain yang menyentuh ranjangnya.
20 menit kemudian. Valerie mulai mengerjapkan kedua matanya, mendongakan kepala dan melihat pada sosok pria yang ada di hadapannya.
Dengan mata setengah terbuka. Valerie melontarkan senyum manisnya, dan berkata. " Mas." Valerie kembali menutup kedua matanya dan di detik berikutnya, dia kembali membuka mata dan terhenyak saat sadar jika pria itu adalah Gerald.
"Kamu … dasar cabul!" Valerie mendorong dada Gerald agar menjauh darinya. " Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Gerald mengubah posisi tidurnya jadi duduk, meregangkan otot-ototnya dengan santai. Melihat Gerald bersikap santai, Valerie menatap Gerald dengan kening yang berkerut.
"Semalam banyak petir," jawab Gerald, pria itu turun dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi.
"Petir?" Valerie terdiam dan mengingat kejadian tadi malam.
🌼🌼🌼🌼
Flashback on.
Duar! Suara guntur menggelegar di atas langit yang hitam.
"Aaa …. Mama, aku mau pulang!" teriak Valerie menutup kedua telinganya. Jantung Valerie berdebar hebat, tubuhnya bergetar dan keringat dingin memenuhi dahi Valerie.
Kilat menyambar, suara Guntur kembali terdengar. Valerie membaringkan tubuhnya dan bersembunyi di bawah selimut.
"Ya Tuhan, aku mohon jangan kirim lagi petir … Mama Veli takut," lirih Valerie ketakutan.
Gemuruh petir kembali terdengar, Valerie yang sudah benar-benar ketakutan memilih untuk bersembunyi di dalam lemari.
Di dalam lemari, Valerie memeluk lututnya sambil menangis. Tiada siapapun disana yang dapat membantunya menghilangkan rasa takut pada suara petir.
Terjebak di kota orang lain, kehilangan benda berharga dan kini menghadapi rasa takut sendirian. Ini adalah pengalaman berlibur paling buruk sepanjang hidup Valerie.
Suasana mulai terasa tenang, ia juga mendengar hujan telah reda. Valeri menghentikan tangisannya. Ia berniat keluar dari lemari dan turun ke lantai bawah, mungkin dengan berpindah gedung suara petir tidak akan terdengar sekeras di gedung atas.
Namun, baru tangannya menyentuh pintu lemari. Petir kembali menyambar sangat keras membuatnya lemas dan kembali terisak.
Kali ini dirinya benar-benar di Landa rasa takut yang teramat sangat. Saat dirinya putus asa dan berpikir akan mati, pintu lemari terbuka dengan sendirinya.
Ia melihat Gerald menatapnya dan memeluknya erat.
"Tuan, a-aku takut." Valerie memegang kemeja Gerald kencang.
"Tenanglah, aku disini jangan takut lagi."
"Aku mau pulang, aku takut." Valerie membenamkan wajahnya di dada Gerald.
"Ikutlah denganku." Gerald membawa Valerie ke kamarnya. Kamar hotel yang terletak di sebelah ruang kamar Valerie. Ruangan Gerald dilapisi dengan tembok kedap suara dan anti petir, sehingga sekencang apapun gemuruh guntur tidak akan terdengar oleh si penghuninya.
Gerald membawa Valerie keranjangnya, menyuruhnya untuk beristirahat di sana.
"Kau bisa tidur dikamarku, petir tidak akan terdengar disini," ucap Gerald hendak pergi.
"Tuan," lirih Valerie.
Gerald menahan langkahnya dan menatap Valerie datar.
"Jangan pergi, aku takut," ujar Valerie mengiba.
"Tidurlah, aku akan menamimu disini." Gerald duduk di tepi ranjang dan menyentuh tangan Valerie.
Valerie menatap Gerald sendu, ia merasakan sebuah kenyamanan saat berada di samping pria yang dulu selalu mengganggunya.
Karena matanya sudah mulai mengantuk, ia pun tertidur sambil menggemgam tangan Gerald.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Gerald yang sejak dari tadi menemani Valerie terlihat menguap berulang kali. Matanya terasa begitu lengket mau pergi tapi, Valerie terus bergumam dalam tidurnya agar dirinya tidak pergi.
Dan akhirnya Gerald pun, menjatuhkan dirinya di samping Valerie dan tertidur.
Flashback end.
"Cepatlah keluar dari kamarku, aku mau berganti pakaian," usir Gerald yang baru keluar dari kamar mandi.
Valerie menoleh ke sumber suara, matanya membulat sempurna. Ketika melihat Gerald keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang di lilitkan di pinggangnya saja.
Otot lengan yang kekar, dada bidang dan deretan roti sobek membuat Valerie menelan salivanya kasar. Gerald menghampiri Valerie, yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
Ia menjentikkan jarinya tepat didepan wajah Valerie, membuat wanita itu kembali tersadar.
"Argh, apa yang sedang kau lakukan? Dasar tidak tahu malu," umpat Valerie menutupi wajahnya dengan tangan.
"Cih, tadi kau menuduhku cabul, sekarang kau menatap tubuhku dengan haus. Sekarang siapa diantara kita yang cabul," cibir Gerald pada Valerie.
"Siapa yang menatapmu dengan haus? Kepedean sekali, heuh." Valerie mendengus.
Gerald mendekatkan wajahnya pada Valerie. " Singkirkan tanganmu."
Valerie menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"
"Aku bilang, singkirkan tanganmu!" Gerald menaikan nada suaranya satu oktaf..
Valerie menurunkan tangan dari wajahnya tapi, kedua matanya masih terpejam. Gerald menarik napasnya dalam, saat melihat Valerie menutup kedua matanya.
"Buka matamu," pinta Gerald datar.
Valerie kembali menggelengkan kepala.
"Buka matamu." Gerald mengulangi ucapannya.
"Aku tidak mau! Kenapa kau terus memaksa," teriak Valerie tanpa sadar ia membuka matanya, dan beradu tatap dengan Gerald.
Kedua manik mata itu saling menatap satu sama lain, tatapan penuh arti dan mendalam.
Angin sejuk menembus hati Gerald, perasaan berdebar saat pertama kali melihat Valerie kembali dirasakan olehnya. Mungkin, sedikit berbeda kali ini jantungnya terasa benar-benar berdebar seolah ada kembang api yang meletup dalam jantung Gerald.
Benih-benih cinta yang sebelumnya sempat layu, kini terasa mulai tumbuh kembali dalam diri Gerald. Dan hasrat ingin memiliki Valerie, kini semakin besar.
"Kau adalah milikku, dan akan selalu menjadi milikku selamanya, Dandelion," kata hati Gerald.
Fiuh, Gerald meniup mata Valerie yang masih menatapnya dalam.
"Siapkan pakaian ku," titah Gerald. Ia mundur beberapa langkah dari Valerie.
"Apa!"
"Aku yakin kau tidak tuli, sehingga aku tidak perlu mengulangi perkataanku."
"Tapi, a–," Valerie menghentikan ucapannya setelah mendapat tatapan tajam dari Gerald.
"Cepatlah, aku sudah terlambat," desak Gerald pada Valerie yang masih berada di atas kasur.
"Ck," Valerie berdecak kesal, dan turun dari ranjang. "Dimana pakaianmu?" tanya Valerie.
"Di kulkas," jawab Gerald ketus.
"Apa! Kau gila, masa menyimpan baju di kulkas harusnya kan di lemari," gerutu Valerie sambil mengumpat.
"Kau tahu, kenapa bertanya."
"Dasar menyebalkan." Valerie mengetatkan gigi dan menghentakan kakinya sebal.
Ia mulai membuka lemari pakaian yang terbuat dari kayu mahal, dengan ukiran burung Phoenix berukuran besar di setiap pintunya.
Valerie mengambil kemeja putih dan stelan jas berwarna grey dengan motif kotak-kotak, serta dasi hitam dengan titik putih kecil dari lemari tersebut.
Dengan penuh kesabaran dan jantung yang berdebar, ia mulai memakaikan baju tersebut pada Gerald.
Pria itu sedikit tersenyum, saat Valerie melayaninya. Ia jadi teringat masa lalu, dimana dirinya sampai rela menumpahkan ampas kopi pada bajunya demi bertemu dengan valerie, wanita yang telah mencuri ci*uman pertamanya..
.
.
.
.
Bersambung…
j-hope as Gerald Alexander Dhanuendra.