My Dandelion'S

My Dandelion'S
pelakor teriak pelakor



"Apa, mas? Kamu mau ninggalin aku!" sambar Helen, yang tiba-tiba berada di ambang pintu.


Valerie dan Devano kompak menoleh ke arah sumber suara. 


"Helen," gumam Vano. Pria itu membelalakkan kedua matanya ketika melihat selingkuhannya datang dan menghampiri.


Valerie tersenyum kecut, ketika melihat Vano yang terkejut dengan kedatangan Helen.


"Mas, kamu nggak bisa ya ninggalin aku kayak gitu aja," dengus Helen tak terima.


"Maafkan aku Helen, aku masih mencintai istriku dan aku mau mengakhiri semuanya dengan mu," cetus Vano yang lebih memilih Valerie dibanding Helen.


"Nggak bisa, mas! Kamu nggak bisa campakin aku seenaknya kayak gini." Manik mata Helen tampak berkaca-kaca.


"Kenapa? Aku sama kamu itu cuman main-main aja, nggak lebih," ujar Vano tanpa ada rasa bersalah.


"Cuman main-main! Setelah apa yang kamu lakukan ke aku, kamu bilang cuman main-main … kamu keterlaluan, Mas." ucap Helen, menggelengkan kepalanya perlahan.


"Semua ini pasti gara-gara kamu kan!" tuduh Helen, pada Valerie yang sedang menyaksikan pertengkaran suami dan wanita selingkuhannya. 


"Gara-gara aku? Apa aku nggak salah denger? Kamu yang udah rusak rumah tangga aku, dan sekarang kamu nuduh aku karena mas Vano lebih milih aku dibanding kamu?" Valerie terkekeh, saat mendengar ucapan Helen yang dirasa begitu lucu baginya. 


"Helen-helen. Kamu itu masih aja belum sadar, disini yang orang ketiga itu kamu bukan aku … dan seharusnya yang nuduh mas Vano berubah itu aku bukan malah sebaliknya, pelakor kok teriak pelakor," cibir Valerie, sembari mendelikan manik matanya.


"Kau! Berani sekali menyebutku pelakor." Helen mengangkat tangannya dan hendak menampar Valerie akan tetapi, tangan itu malah menggantung di udara. 


Sebelum mengenai wajahnya yang mulus, Valerie yang bergerak cepat langsung menahan tangan Helen. Lalu, menghempaskannya dengan kasar.


"Jika bukan pelakor? Lalu, sebutan apa yang pantas untuk wanita yang telah merebut suami orang? Wanita j*lang? Itukah yang kau inginkan?" cetus Valerie, ucapannya yang barusan telah berhasil memancing emosi Helen.


Helen mengepalkan kedua tangannya erat, ia begitu merasa tersinggung dengan hinaan Valerie yang menyebutnya sebagai wanita *******. 


"Baiklah, karena kau diam. Aku rasa itu memang cocok untukmu, wanita ******* dan pria paltit, cih menjijikan," hardik Valerie pada Helen dan Devano.


"Kau!" Helen terlihat habis kesabaran, emosinya yang sudah memuncak pada akhirnya wanita yang tengah hamil itu mendorong tubuh Valerie sekuat tenaga membuat Valerie nyaris terjungkal.


Namun, beruntung sebelum Valerie terjatuh Gerald yang cekatan langsung menangkap tubuh Valerie. Sehingga wanita itu jatuh dalam dekapan Gerald, dan adegan saling menatap pun tak dapat dihindarkan oleh keduanya. 


"Astaga, mas sekarang kamu tahukan. Kenapa istri kamu ngebet banget minta cerai dari kamu," pekik Helen, menyadarkan Gerald dan Valerie yang sedang beradu tatap.


"Diam kau, Helen!" sentak Devano, yang ikut terbakar emosi ketika melihat istrinya disentuh oleh orang yang telah memukulnya.


"Sedang apa kau disini! Bukankah aku sudah mengatakan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan istriku!" sergah Devano, pada Gerald. 


"Santailah, Bro. Marah-marah dalam keadaan sakit itu tidak bagus, bisa mendekatkanmu kepada Sang Pencipta," celoteh Gerald, sambil tersenyum.


"Pergi kau dari sini, gara-gara kau aku jadi seperti ini!" ucap Vano, membuat Valerie dan Helen tersentak.


Valerie menatap Gerald, seolah menunggu penjelasan dari pria yang ada di sampingnya.


"Apa? Bukankah Papa yang telah memukuli mas Devan sampai seperti ini," gumam batin Helen. 


"Baby, a–," 


"Baby tapi, kau berhutang makan malam bersama ku," oceh Gerald, pria itu dengan sengaja ingin memperkeruh suasana.


"Sudah aku bilang, berhenti memanggilku dengan sebutan itu … dan satu hal lagi, aku tidak mengenalmu dan aku mohon pergilah dari sini jangan memperkeruh keadaan," pinta Valerie memelas. 


"Halah, di depan mas Devan bilangnya nggak kenal … padahal di belakang, pasti sudah berbuat yang tidak-tidak. Dasar munafik," cibir Helena.


"Jaga mulutmu itu, jangan pernah kau bandingkan aku dengan mu … karena aku dan kamu itu berbeda," timpal Valerie geram. 


"Tapi, memang benar yang anda katakan Nona. Kami berdua sudah melangkah jauh, bahkan setiap malam kita selalu melakukan hal itu dan saya yang menyuruh Valerie untuk menceraikan suaminya," tutur Gerald meraih bahu Valerie.


Valerie menepis tangan Gerald kasar. "Anda jangan bicara sembarangan ya!" tampik Valerie, geram.


"Aku tidak bicara sembarangan, aku hanya menyuarakan fakta … oh iya apa kau ingat ketika di apartemen Cempaka? Bukankah itu menjadi bukti bahwa aku dan istrimu sudah lama menjalin hubungan," terang Gerald pada Devano.


Devano mengepalkan kedua tangannya, jika saja dirinya tidak sakit. Devano ingin sekali memberi tinju pada mulut pria, yang telah membuatnya terbaring di rumah sakit.


"Cukup! Berhenti untuk bicara omong kosong, dan aku minta padamu untuk pergi sekarang juga!" sentak Valerie, kemarahannya tak dapat lagi ia tahan. Ia tidak tahu apa tujuan Gerald, dengan berbicara seperti itu yang pasti saat ini dirinya benar-benar tidak ingin melihat wajah Gerald ada di hadapannya lagi.


"Baiklah, aku akan pergi … tapi, ingat baby aku akan kembali untuk menagih hutang makan malam yang tertunda ini." Gerald mengedipkan sebelah matanya pada Valerie lalu, pergi meninggalkan ruangan tersebut dan saat di ambang pintu Gerald mengeluarkan seringai menakutkan dari sudut bibirnya. 


Valerie terlihat begitu geram dan kesal, ia tidak menyangka jika hari ini dirinya akan mendapatkan tuduhan yang tidak pernah ia lakukan dari kedua orang yang telah mengganggu kehidupannya. 


"Ck,ck. Hebat banget ya kamu, pantas saja waktu memergoki aku dan mas Devan kamu terlihat begitu santai … ternyata ini alasannya," ujar Helen mencemooh Valerie.


"Cukup, Helena! Aku tidak mau dengar kamu bicara lagi," tegur Devano yang masih tersulut emosi.


"Mas, kok kamu malah marah sama aku. Lebih baik kamu cepet tanda tangani surat perpisahan itu, dan menikah denganku. Kamu nggak mau kan, punya istri yang munafik dan nggak setia kayak dia," ujar Helen mendelik pada Valerie.


"Tidak Helen, aku tidak akan menceraikan istriku. Aku yakin, Valerie tidak akan melakukan hal sekotor itu," ucap Devano membela sang istri. " Dan untuk menikahi mu, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya, aku ingin kembali bersama istriku," sambung Devano menatap Valerie dengan sorot mata yang bersungguh-sungguh.


"Mas, kamu kenapa sih mempertahankan dia. Sudah jelas dia yang meminta pisah lebih dulu." 


"Karena aku mencintainya, Helen." sahut Devano, menaikan nada bicaranya.


"Cinta? Lalu, bagaimana denganku? Bukankah kau juga mengatakan kalau kamu mencintaiku juga," ucap Helen penuh emosi.


"Cinta diantara kita berdua itu sebuah kesalahan yang aku perbuat, jadi aku mohon maafkan aku Helena kita harus mengakhiri semuanya sampai di sini." 


"Nggak bisa, mas … kita tidak bisa mengakhiri semuanya," tolak Helen.


"Kenapa kita tidak bisa mengakhiri semuanya? Helena."


"K-karena aku sedang hamil anak kamu,Mas," cetus Helena, sambil mengeluarkan air matanya.


.


.


Bersambung.