My Dandelion'S

My Dandelion'S
Rawat dengan baik



Dua puluh menit telah berlalu, Nadia tersenyum senang karena telah memenangkan perlombaan dalam melawan Rendi. 


Sementara di kubu sebelah, Valerie sedang menekuk wajahnya sebab siapa sangka Gerald yang ia anggap remeh malah mengalahkannya dalam waktu sepuluh menit. 


"Baiklah, untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Tuan Gerald dan Nadia, harus kembali berlomba karena kita hanya perlu satu pemenang saja dalam challenge ini," ujar Anna yang mengambil tugas sebagai wasit.


"Tidak perlu," sambar Gerald yang tidak ingin bertanding dengan Nadia. "Aku sudah menang melawan istriku, dan Nadia sudah menang melawan Rendi. Jadi Rendi harus mengabulkan tiga permintaannya … begitu juga dengan istri tercintaku kau harus menepati janjimu." Gerald menyeringai penuh kemenangan. 


"Baiklah, aku setuju dengan Tuan Gerald," seru Nadia senang.


Valerie memelototi asistennya tapi, Nadia malah meledeknya. Sementara Rendi hanya bisa pasrah sembari menahan rasa pedas yang membakar mulutnya.


Acara makan-makan telah selesai, semua orang kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. 


"Maaf, Tuan. Saya ijin ke toilet dulu," pamit Rendi tergesa, bahkan sebelum pergi ia sempat mengeluarkan gas beracun di hadapan kedua bosnya dan Nadia. 


Valerie, Gerald dan Nadia serempak menutup hidungnya karena mencium aroma tidak sedap yang ditinggalkan oleh Rendi. Lalu, kedua wanita itu terkekeh menertawakan sikap rendi yang tidak sopan. 


Mereka bisa menebak, jika Rendi pasti sedang merasakan sakit perut efek dari ceker pedas tadi. 


****


Kamar mandi. 


Entah sudah keberapa kalinya, Rendi keluar masuk toilet. Wajah pria gagah itu berubah menjadi pucat, tubuhnya menjadi lesu karena dia banyak mengeluarkan cairan. 


"Ini, minum. Tidak bisa makan pedas kenapa sok-sokan ikut challenge," cibir Nadia yang menyerahkan segelas teh pahit panas pada Rendi.


Rendi mengambil gelas tersebut. "Aku tidak mau terlihat lemah di matamu," jawabnya ambigu.


Nadia menatap Rendi, tak mengerti. "Maksudnya?" 


"A- …. pegang ini perutku mules." Rendi menyerahkan gelas itu pada Nadia dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


****


Di ruang depan, Valerie sedang mengecek keseluruhan gaunnya yang sudah selesai. Dia juga sudah mengirimkan gambar gaun tersebut pada clientnya, hanya tinggal menunggu konfirmasi lalu packing dan gaun itu siap meluncur menuju Bali. 


Drtt.. 


Drtt ..


Ponsel Valerie berdering, sebuah panggilan dari Anita. 


Valerie mengangkat panggilan tersebut, wajahnya terlihat berseri-seri ketika mendengar jika Anita sangat suka dengan model dan detail gaunnya. Sesuai sekali dengan apa yang dibayangkan oleh Anita, dia pun meminta pada Valerie untuk segera mengirimnya. 


Panggilan pun terputus, dengan penuh kehati-hatian Valerie dan Anna mulai mempacking gaun tersebut kedalam kotak khusus yang bisa menjaga keamanan gaun selama dalam perjalanan. 


Semuanya sudah selesai, ia hanya perlu mengirimnya ke tempat ekspedisi. 


"Aku mau ke tempat ekspedisi sebentar," ucap Valerie yang menyambar kunci mobilnya yang tergantung di tempat kunci. 


"Tidak perlu, aku sudah menelpon anak buahku untuk mengirimkannya langsung pada klien mu," ujar Gerald.


Valerie sedikit terhenyak. 


"Apa tidak merepotkan?" 


"Mereka bekerja denganku, dan aku membayarnya apa yang merepotkan bagi mereka," timpal Gerald enteng. 


"Oh, baiklah … terimakasih," balas Valerie ada rasa senang juga dalam dirinya. Sebab ia tidak perlu mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk pengiriman. 


"Kemarilah, kau sudah bekerja keras kau perlu istirahat." Gerald menepuk sofa yang ada di sampingnya, meminta sang istri untuk duduk.


Valerie menatap sofa itu ragu. Saat Valerie hendak melangkah, Nadia datang dengan keadaan panik dan memberitahukan jika Rendi pingsan di dalam kamar mandi. 


Gerald dan Valerie terkejut, mendengar keadaan Rendi yang pingsan. Dengan bantuan karyawan pria, mereka buru-buru membawa Rendi menuju rumah sakit. 


               🌸🌸🌸🌸


Rumah sakit.


Di depan ruang UGD. Nadia terlihat begitu khawatir pada kondisi Rendi, ia tak hentinya terus menyalahkan dirinya sendiri atas pingsannya Rendi yang mengalami diare setelah memakan ceker pedas tadi siang.


"Ini salahku, andai saja aku tidak mengusulkan ide itu mungkin sekretaris Rendi tidak akan seperti ini," lirih Nadia menyesal.


"Sudahlah, Nad. Jangan menyalahkan dirimu, tidak ada yang tahu kalau bakal terjadi hal seperti ini," ujar Valerie mengelus punggung Nadia. 


Dan tak berselang lama, seorang dokter yang menangani Rendi keluar dari ruangan tersebut.


"Dia tidak apa-apa hanya kehilangan sebagian cairannya, anda tidak usah khawatir aku sudah meng infusnya," jawab dokter yang merupakan teman Gerald dan Rendi. Ia menoleh pada kedua wanita yang sedang duduk di kursi lalu, tersenyum ramah. "Aku dengar kau sudah menikah, kenapa kau tidak memberitahuku?" bisiknya pada Gerald.


"Untuk apa aku memberitahumu? Tidak penting!" dengus Gerald mendelik. 


"Ey, kau ini. Apa kau tidak ingat kita sudah berteman sejak kita kecil kau masih saja tidak menganggapku," protesnya sebal.


"Jika sudah selesai sebaiknya, kau pergi. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu," usir Gerald pada dokter itu.


Sang dokter berdecak kesal, sambil menggerutu ia pun pergi meninggalkan Gerald yang masih berada di depan ruang UGD. 


Setelah Rendi dipindahkan ke ruangan rawat, Valerie dan Gerald serta Nadia melihat keadaan Rendi yang sudah kembali tersadar dari pingsannya. 


"Syukurlah jika kau sudah sadar, cuti lah selama beberapa hari sampai kau benar-benar sembuh," ucap Gerald yang sedari tadi merangkul bahu istrinya.


"Terima Kasih Tuan, maaf karena tidak bisa menemani anda bekerja beberapa hari kedepan." 


"Jangan dipikirkan, kau fokus saja pada kondisimu. Nadia akan merawatmu selama di rumah sakit," cetus Gerald.


"Aku?" pekik Nadia yang menoleh pada Valerie.


"Tentu saja, kau kan yang sudah membuatnya sakit jadi kau yang harus bertanggung jawab," timpal Gerald tanpa menoleh.


Nadia menghela napasnya, jika sudah Tuan Gerald yang memintanya ia tidak bisa protes apapun lagi.  


"Baiklah, ini sudah hampir sore aku dan istriku pamit pulang dulu." 


"Baik Tuan, hati-hati di jalan." 


"Sekretaris Rendi, semoga anda cepat sembuh … Nadia jaga dia dengan baik," titah Valerie sedikit menggoda asistennya. 


Nadia menjulurkan lidahnya sebagai balasan karena Valerie meledeknya. Sepasang suami istri itu pun meninggalkan ruangan rawat Rendi dan bergegas untuk pulang. 


Saat di lobi rumah sakit, Gerald meminta Valerie untuk menunggunya di depan pintu masuk karena ia harus menyelesaikan biaya administrasi rawat inap sekretarisnya. 


Entah sebuah kebetulan atau sengaja. Devano tiba-tiba berdiri di hadapan Valerie yang sedang memainkan ponselnya.


"Val," sapa Vano seraya tersenyum pada mantan istrinya itu. 


"Mas Vano." Valerie mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia takut jika suaminya melihat akan terjadi keributan.


"Kamu, ngapain disini?" tanya Vano kepo.


"A-aku–," terpotong oleh Devano yang langsung memeluknya.


"Aku kangen sama kamu, Val." 


"Lepasin aku, Mas!" Valerie mendorong tubuh Devano. 


"Kenapa? Aku sangat merindukanmu, Val biarkan aku memelukmu sebentar." Vano maju beberapa langkah sedangkan Valerie mundur untuk menghindar. 


Gerald yang melihat istrinya diganggu oleh Devano, langsung memasang badan di depan Valerie. Dengan wajahnya yang datar dan tatapan tajam ia menoleh ke arah Devano yang tampak terkejut dengan kehadirannya. 


"Kau lagi!" Devano mengetatkan giginya pada Gerald. Ia heran kenapa dia selalu berada di samping Valerie.


"Bukankah, aku sudah mengatakan untuk tidak mengganggu istriku lagi," ucap Gerald datar.


"Istri? Cih … aku tidak mengira jika pria terhormat sepertimu suka membual," hardik Devano tersenyum kecut. 


"Dia tidak membual, kami memang sudah menikah," sela Valerie membela suaminya.


"Aku tidak percaya, apa buktinya jika kalian sudah menikah? Aku tahu betul siapa kamu, Val. Kamu tidak akan semudah itu membuka hati untuk pria lain,"  imbuh Devano.


Valerie mengacungkan jarinya pada Devano yang dihiasi cincin pernikahan. "Jika kamu, masih belum percaya juga aku membawa bukti lain agar kau percaya." Valerie mengeluarkan buku nikahnya dari dalam tas.


"Nggak mungkin, ini pasti palsukan!" sentak Devano tak terima jika mantan istrinya telah menjadi milik orang lain.


"Ini asli, jadi aku peringatkan sekali lagi berhenti mengganggu istriku. Kau paham!" tutur Gerald menatap Devano dengan tatapan membunuh. 


Kemudian ia menarik tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil. 


.


.


.


Bersambung.