
Pagi hari, Rendi sudah berdiri di depan kamar Valerie. Ia bersiap untuk mengetuk pintu, berniat membangunkan si penghuni kamar untuk membantu bosnya. Tapi, Valerie ternyata sudah bangun dan membuka pintu sebelum di ketuk.
Tangan Rendi mengambang di udara, ia kaget saat melihat penampilan Valerie yang mengenakan pakaian sedikit terbuka juga topi besar yang ada di kepalanya.
"N-nona, mau kemana?" tanya Rendi gugup.
"Sekolah," jawab Valerie tersenyum paksa.
"Hah?"
"Sekretaris Rendi, aku pikir kau orang yang pintar ternyata kebalikannya," cibir Valerie sebal.
"Maksud Nona?" Rendi mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Ck, lupakan saja … ada apa pagi-pagi sudah di depan kamarku?" ucap Valerie malas.
"Tuan, meminta anda untuk menyiapkan segala keperluannya," jelas Rendi.
"Sekretaris Rendi, tolong katakan pada Tuan mu itu … AKU TIDAK MAU menolongnya!" ucap Valerie berbicara dengan sangat jelas.
"Tapi Nona–,"
"Sekretaris Rendi, aku datang ke sini untuk bertemu client dan berlibur. Bukan menjadi pelayan Tuan mu," ungkap Valerie kesal.
"Saya mengerti Nona tapi–." Rendi menghentikan ucapannya.
"Pokoknya aku tidak mau, minggir aku mau lewat." Valerie pergi dan melewati Rendi begitu saja.
"Berhenti!" Suara Gerald berhasil menghentikan langkah Valerie.
Wanita itu memutar badannya, melihat ke arah Gerald yang sedang melipat kedua tangannya di dada dengan wajah datar.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi."
"Aku tidak butuh izin dari mu," timpal Valerie.
"Aku calon suamimu, maka kau harus menurut padaku."
"Baru calonkan, belum jadi suami."
"Pokoknya aku tidak mengizinkanmu, pergi kemanapun."
"Aku tidak peduli." Valerie kembali memutar tubuhnya dan hendak pergi.
"Satu langkah saja kau pergi dari sini, aku pastikan butikmu akan menjadi abu!"
Valerie terdiam tak berani berkutik. Tangannya mengepal dengan kuat, rasanya ia sudah muak dengan ancaman yang selalu diberikan oleh Gerald. Ingin melawan tapi, Gerald tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika sampai butiknya hancur tidak ada lagi sumber kehidupan baginya juga karyawannya.
"Ikut denganku," titah Gerald pada Valerie.
Valerie masih diam mematung.
"Ekhem." Gerald berdehem menyadarkan Valerie yang masih terdiam.
Valerie menutup kedua matanya, menghembuskan napas kasar dan mengikuti Gerald ke kamarnya. Sementara itu, Gerald hanya menyunggingkan senyum. Merentangkan kedua tangannya menunggu Valerie memasangkan pakaian padanya.
"Sebenarnya aku ini calon istrinya atau pelayannya sih, kenapa aku harus selalu menyiapkan segala keperluannya. Benar-benar menyebalkan," gerutu Valerie dalam hati. Sambil mengenakan pakaian pada Gerald, ia terus mengerucutkan bibirnya.
Padahal ia sudah membayangkan, berjemur dan bersantai di tepi pantai. Merasakan hembusan angin laut pagi hari, yang menyegarkan. Tapi, kenyataan dia malah menjadi pelayan pribadi Tuan tidak berperasaan yang selalu mengancamnya.
Gerald memperhatikan Valerie yang terus menekuk wajahnya, tangannya terangkat. Kedua jarinya menyentuh kedua sudut bibir Valerie. Lalu, jari itu mengangkat sudut bibir ranum tersebut dan membuat simbol tersenyum.
"Aku suka melihatmu tersenyum, mulai sekarang jika di depanku kau tidak boleh cemberut," ujar Gerald menatap Valerie dalam.
Valerie mengabaikan ucapan Gerald, ia kembali fokus pada pekerjaannya memasang dasi.
"Sudah selesai." Valerie mundur beberapa langkah.
"Baiklah, ganti bajumu kita turun dan sarapan."
Gerald menatap Valerie dingin, membuat wanita yang masih mengenakan topi besar itu akhirnya menurut.
Tiga puluh menit kemudian, Valerie dan Gerald kini sudah berada di depan meja makan restoran hotel. Menikmati santapan pagi yang telah disediakan oleh pihak hotel.
Tidak ada yang berbicara di antara ketiganya, mereka hanya fokus mengunyah dan menelan makanannya masing-masing.
"Baby, hari ini kita pergi ke toko perhiasan … kau bisa memilih apapun yang kau mau," ucap Gerald memecah keheningan. " Satu lagi, aku tidak mau mendengar kata penolakan," sambung Gerald yang sudah tahu Valerie pasti akan menolaknya.
"Hancur sudah rencana liburanku," lirih hati Valerie kecewa.
🌼🌼🌼🌼
Toko perhiasan.
"Selamat datang Tuan, dan nyonya. Apa yang anda inginkan semuanya ada disini," sapa seorang pramuniaga wanita berusia 35 tahunan.
"Keluarkan perhiasan terbaik kalian," pinta Gerald pada pelayan tersebut.
"Baik Tuan, tunggu sebentar." Pramuniaga itu pergi untuk mengambil permintaan Gerald.
Valerie yang sejak dari tadi diam, terlihat begitu gusar. Ia tidak mengira jika Gerald akan secepat ini, melamarnya. Jujur saja hatinya masih belum siap, untuk menjalin kembali bahtera rumah tangga. Apalagi Gerald adalah orang yang baru ia kenal.
Ia takut jika kejadian di masa lalu, akan kembali terulang. Apalagi Gerald adalah orang yang berlimpah harta, dan banyak dikagumi oleh kaum hawa. Meskipun, dia kasar dan jahat tetap saja banyak wanita yang mengejarnya. Dan jika suatu hari Gerald bosan dengan dirinya, dia pasti akan mencampakkannya dan melakukan hal yang sama seperti mantan suaminya. Dengan uang, Gerald pasti akan mendapatkan wanita seperti apapun yang diinginkan.
Valerie hanya seorang janda tanpa anak, tidak akan pantas bagi Gerald yang masih memiliki status bujangan. Jika ia tetap menerima lamaran ini, akan ada banyak orang yang menggunjing dan mencibirnya.
Selain perbedaan status. Rasa cinta terhadap Gerald pun, ia tidak punya. Selama ini Valerie selalu menganggap jika Gerald adalah pria keras kepala yang gila, dan selalu mengganggunya.
Jangankan rasa cinta, membayangkan untuk hidup bersama saja Valerie sangat enggan. Ia tidak tahu, kenapa Gerald bisa menyukainya. Padahal pertemuan mereka saja diawali dengan kesalahpahaman konyol yang dibuat oleh Valerie, berniat membalas dendam malah dirinya yang kena batunya. Valerie merasa semuanya sangat tidak adil, ia yang tersakiti malah terjebak dalam perangkap Gerald. Sedangkan Devano yang menyakitinya hingga trauma malah hidup bahagia bersama wanita barunya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Gerald, menyadarkan Valerie yang tengah melamun.
"Ah, t-tidak ada," jawab Valerie menunduk.
"Kau tidak senang, aku membawamu kemari?"
"Iya, aku tidak senang. Aku tertekan. Aku ingin berlibur dengan tenang, bukan berbelanja perhiasan seperti ini," cerocos Valerie dalam hati.
"T-tidak, aku senang sangat senang sekali, Tuan," jawab Valerie berbohong.
"Syukurlah." Gerald tersenyum dan mengelus kepala Valerie lembut.
Setelah beberapa lama menunggu, pramuniaga itu kembali membawa sekotak penuh cincin berhias berlian mahal dan langka.
"Maaf Tuan, membuat anda menunggu lama … ini barang yang ada minta." Pramuniaga itu menyimpan kotak tersebut di hadapan Valerie.
"Pilihlah, mana yang kau suka."
Valerie menatap cincin-cincin itu dengan mata yang berbinar. Wanita mana yang tak akan tergoda dengan perhiasan bertabur berlian, apalagi itu di sodorkan tepat dihadapannya. Valerie masih normal, yang juga akan tergoda dengan perhiasan mahal yang akan di berikan secara percuma.
Ia mencoba satu persatu cincin tersebut tapi, ia merasa tidak ada yang cocok satupun. Gerald membantu memilihkannya untuk Valerie, dan cincin pun jatuh pada sebuah cincin simpel dengan berlian cukup besar di atasnya.
Valerie tidak menyukai pilihan Gerald namun, jika ia menolak Gerald pasti akan terus memaksanya untuk menerima pilihannya itu.
Sembari menunggu Gerald membayar, Valerie mengedarkan pandangannya ke seluruh etalase yang ada di toko tersebut. Manik matanya langsung terpana, saat melihat sebuah cincin dengan hiasan bulan sabit di atasnya.
.
.
.
Bersambung….