My Dandelion'S

My Dandelion'S
Air jeruk asin



Tiga hari telah berlalu, sejak kepulangan Valerie dari rumah sakit. Gerald merawat Valerie dengan baik dan penuh kasih sayang.


Jika kemarin-kemarin Valerie yang memenuhi kebutuhan Gerald, tiga hari ini malah terbalik justru Gerald yang memenuhi kebutuhan Valerie.


Dari mulai menyiapkan teh hangat, sarapan, menyiapkan obat. Makan siang, camilan. Dan berganti pakaian. Bahkan Gerald sampai rela menemani Valerie menonton drama yang tidak ia mengerti. 


Hubungan Gerald dan Valerie kini sudah mulai menunjukkan kemajuan. Sejak Valerie sakit, ia tidak bisa menolak bantuan Gerald. Setiap kali dirinya protes, Gerald akan memarahinya dan memintanya untuk diam. 


Karena Gerald yang terus memaksa untuk merawatnya, Valerie pun hanya bisa pasrah dan menikmati layanan yang diberikan oleh Gerald. Ia berpikir kapanlagi dirinya bisa mengerjai seorang CEO pemaksa seperti Gerald, kesempatan tidak akan datang dua kali jadi ia memanfaatkan keadaan ini untuk membalas dendam. Sebab Gerald telah membuatnya terjebak di kota Bali selama berminggu-minggu.


"Tuan," lirih Valerie. Pada Gerald yang baru saja selesai memijat pundaknya.


"Hemm," jawab Gerald lesu.


"Aku haus, bisakah kau buatkan aku jus jeruk?" Valerie tersenyum semanis mungkin pada Gerald.


"Kau masih belum pulih, tidak boleh minum es," ujar Gerald memejamkan matanya, rasanya ia begitu lelah karena sejak semalam Valerie terus memintanya untuk memijat.


"Kalau begitu, air jeruk hangat saja." 


"Baiklah, aku akan minta pada room service untuk membuatnya." 


"Aku tidak mau, aku mau Tuan yang membuatnya rasanya pasti akan jauh lebih segar." 


Melihat senyuman Valerie yang seperti madu, membuat Gerald tak dapat menolaknya. Meskipun, tubuhnya lelah ia beranjak menuju pantry dan membuatkan apa yang diminta oleh wanita tercintanya itu.


"Ini, Baby." Gerald memberikan air perasan jeruk yang dicampur madu dan air hangat pada Valerie.


Valerie menyesapnya tapi, tiba-tiba ia melepehnya membuat Gerald terkejut.


"Kenapa?" 


"Ini panas," keluh Valerie mengipasi lidahnya.


"Masa sih?" Gerald mengambil gelas tersebut dan mencobanya. "Baby, ini tidak panas sama sekali." 


"Jadi maksud, Tuan. Aku berbohong?" 


"Oke oke, aku akan menggantinya." Gerald kembali ke pantry. "Sabar-sabar, ingat dia sedang datang bulan jangan sampai merusak suasana hatinya," bisik hati Gerald.


Ia pun mulai membuat kembali air perasaan jeruk hangat. Dia mengecek suhu minuman tersebut dan memastikan kali ini tidak terlalu panas.


"Ini, kali ini hangatnya pas." 


"Kau yakin?" 


Gerald mengangguk. 


Valerie kembali mencobanya.


"Bagaimana?" 


"Ini terlalu dingin," lirih Valerie.


"Apa! Padahal aku sudah mengeceknya berulang kali, tadi panasnya pas," pekik Gerald. Ia heran kenapa seleranya berbanding jauh sekali dengan Valerie.


Valerie mengembalikan gelasnya pada Gerald sambil tersenyum. Dengan perasaan kesal ia pun kembali ke pantry melakukan hal yang sama seperti semula. Memotong jeruk menjadi dua bagian, memerasnya, mencampur dengan madu juga air hangat. Tidak lupa juga, mengecek suhu air dengan termometer agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin. 


Valerie mencoba lagi, air perasan jeruk buatan Gerald yang ketiga kalinya dan lagi. Ekspresi Valerie menunjukkan ketidak puasan.


"Kali ini apa lagi?" Gerald terlihat frustasi.


"Terlalu asam, aku tidak suka." 


Gerald menarik napasnya dalam. Kali ini ia membuat cangkir yang ke 4 dan menyuguhkannya lagi.


"Terlalu manis, aku bisa gendut jika terlalu banyak mengonsumsi gula." Valerie menahan senyumnya.


"Tapi, itu madu," balas Gerald membuat Valerie tertegun.


"Ah … e-m meskipun itu madu aku tetap tidak suka, bukankah Tuan sudah mengatakan akan merawatku dengan baik, apakah membuat air perasaan jeruk dengan rasa yang pas sesulit itu?" sindir Valerie, mengerucutkan bibirnya.


Gerald mengambil gelas tersebut, dari tangan Valerie dan berjalan menuju pantry tanpa mengatakan apapun. "Aku ini seorang CEO. Kenapa aku terus membuat air perasan jeruk seperti ini … sepertinya dia sedang mengerjai ku, awas saja aku akan membalas mu." Gerald kembali memotong jeruk kali ini bukan madu yang ia tuangkan melainkan garam dapur. Garam yang ia minta bersama jeruk peras dari salah satu staff hotel. 


Gerald meletakkan cangkir itu diatas meja. "Aku ingin lihat, kali ini apa yang akan kau katakan." Gerald tersenyum dalam hatinya.


Slurpp …


Pada sesapan pertama, Valerie langsung menyemburkannya.


"Ya ampun, Baby ada apa?" Gerald berpura-pura panik.


"Tuan, apa yang kau masukan kedalam sini? Rasanya asin sekali," protes Valerie.


"Asin? Masa sih, perasaan aku tadi memasukan madu kenapa rasanya asin?" Gerald mulai berlagak akting. 


"Tuan, mau coba?" Valerie menawarkannya pada Gerald.


"Eh, tidak-tidak. Aku membuat ini spesial untuk mu, ayolah baby hargai kerja kerasku. Aku sudah memijat mu dan membuatkan mu air jeruk ini berulang kali, masa kau tidak mau meminumnya," ujar Gerald memasang wajah memelas.


Valerie menatap cangkir itu getir, dan menelan ludahnya susah payah. "Bagaimana ini, kenapa dia jadi mengerjai ku?" ucap Valerie dalam hati.


"Apa perlu aku membantumu?" Gerald bersemangat.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Valerie meminum air jeruk itu ragu. Sementara Gerald terus menyemangati Valerie untuk menghabiskan air jeruk asin buatannya.


Air jeruk telah habis, Valerie bergidik karena rasa aneh yang menempel pada lidahnya. 


"Mangkanya jangan pernah menjahili ku," kekeh Gerald dalam batin.


                     🌼🌼🌼🌼


Kantor sinar paratex.


Disalah satu ruangan, milik mendiang Hendra. Rendi dan Fero tengah sibuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk.


Kedua pria itu mengecek satu persatu file-file yang ada di ruangan tersebut. Akan tetapi, tidak ada apapun yang mereka temukan. 


"Coba kau cek komputernya, siapa tahu disana ada sesuatu," titah Rendi pada Fero.


"Kau menyuruhku?" Fero melotot pada Rendi sambil berkacak pinggang.


"Kau pikir disini ada siapa lagi? Hanya ada aku dan kau, cepat kerjakan." 


"Tapi, aku direktur disini … kau tidak bisa menyuruhku seenaknya begitu," tolak Fero merapikan jasnya. 


"Ya, kau memang direktur disini tapi jabatanku lebih tinggi darimu. Cepat kerjakan jika tidak aku tidak akan membantumu lagi." 


"Ck, iya-iya aku akan mengeceknya," decak Fero kesal. Jika di samping Rendi, jabatannya sebagai seorang pemimpin jadi tidak ada artinya. Emang apa istimewanya jadi Sekretaris tuan Gerald, menurut Fero jadi sekretaris sama saja seperti asisten pribadi hanya saja mereka jadi satu-satunya yang dapat dipercayai oleh CEO.


Fero mulai mengutak-atik komputer tersebut, manik matanya membulat sempurna dikala ia melihat sesuatu yang membuat terkejut.


"Oh, ya ampun!" Pekik Fero kaget.


 "Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?" Rendi menghampiri Fero penasaran.


"Hais, lihatlah pria macam apa yang tega mencekik istrinya sendiri, benar-benar bukan pria sejati," celotehnya saat menemukan sebuah artikel mengenai kdrt. 


Rendi menatap Fero gemas, ia menoyor kepala Fero cukup kencang.


"Kenapa kau memukul kepalaku?" Fero menatap Rendi kesal.


"Aku menyuruhmu untuk mencari petunjuk, bukan malah membaca artikel gosip," dengus Rendi. Kini ia mengambil alih komputer tersebut dari Fero.


Fero mengepalkan tangannya dan meledek Rendi dari belakang.  


" Kau sudah bosan menjadi direktur," sambar Rendi yang tahu jika Fero meledeknya.


"Ekhem, maaf." Fero kembali fokus pada komputer yang sedang dioperasikan oleh Rendi. 


.


.


.


Bersambung.