
"Jadi … bagaimana? Mau mencuci bajuku atau mau masuk penjara?" Ucap Gerald memberikan dua pilihan.
Valerie terlihat berpikir. "Jika aku di penjara, bagaimana dengan nasib ibu dan para karyawan? Aku juga melihat jika pria ini tidak sedang main-main … apa aku cuci saja ya?" Valerie larut dalam pikirannya sendiri.
Seketika sebuah senyum muncul di sudut bibir Valerie, entah apa yang sedang ia pikirkan. Tiba-tiba saja wanita itu terlihat bersemangat.
"Baiklah, aku akan mencuci bajumu asal dengan syarat berhenti memanggilku Baby, dan segeralah pergi dari sini setelah bajumu selesai."
"Baiklah, sekarang bantu aku melepaskan kemeja ini." Gerald merentangkan kedua tangannya, menunggu Valerie membuka pakaian yang dikenakannya.
"Tuan, apa anda tidak bisa membukanya sendiri?" dengus Valerie sebal.
"Baby … ah maksudku Nona Valerie, aku tidak terbiasa membuka dan memakai apapun sendiri … biasanya ada pelayan yang membantuku. Karena tidak ada pelayan disini jadi kau harus membantuku."
"Aku tidak mau, bukankah anda punya sekretaris yang setia … panggil saja dia dan minta tolong padanya."
"Rendi sudah pergi, ada urusan yang harus dia kerjakan," ujar Gerald, yang masih merentangkan kedua tangannya. "Hey, Nona cepat lah tanganku pegal," protes Gerald, saat merasakan kram di tangan.
"Ish!" Valerie menghentakan kakinya kesal, lalu menarik dasi Gerald dan membawa pria itu menuju ruangannya
(gambar hanya ilustrasi, yang bersumber dari google.)
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Gerald, pria itu sudah seperti kambing yang diseret oleh pengembala.
"Astaga, Nona. Ternyata kau agresif juga ya." Gerald terkekeh, ketika memikirkan hal aneh yang akan dilakukan oleh Valerie terhadapnya.
Valerie hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan sabar ia mulai melayani Gerald, membuka kemeja dan membantunya berganti pakaian.
Gerald yang awalnya banyak bicara dan tertawa kini langsung terdiam, ketika Valerie menyuruhnya berganti pakaian wanita sambil berpose memegang buku.
Dress hitam lengan panjang, dengan tinggi selutut lengkap rambut palsu pendek juga aksesoris kepala membuat Gerald yang awalnya maskulin kini berubah menjadi gemulai.
Melihat penampilan Gerald yang cantik, Valerie tak kuasa menahan gelak tawanya. Ia sampai merasakan sakit di bagian perut akibat banyak tertawa.
Valerie yang sadar jika Gerald tidak menyukai gaun tersebut, langsung menghentikan tawanya dan kembali memasang wajah datar. Lalu, ia pergi untuk mencuci kemeja milik Gerald.
Sembari menunggu kemejanya selesai, Gerald duduk di kursi kebesaran Valerie. Bibirnya terus menyunggingkan senyum bahagia, karena ia bisa membuat Valerie tertawa lepas seperti barusan. meskipun, Gerald merasa sedikit kesal dan tidak nyaman karena pakaian yang di berikan oleh Valerie itu tidak jadi masalah. Yang terpenting saat ini, dirinya sudah bisa lebih dekat dan membuat wanita yang ia cintai tersenyum.
Meninggalkan Gerald yang sedang senyum-senyum sendiri. Di kamar mandi ada Valerie yang sedang mengomel pada asistennya.
"Dasar menyebalkan, dia pikir aku pelayannya apa! Pake nyuruh-nyuruh aku buat nyuci bajunya … dia orang kaya masa tidak punya baju ganti yang disimpan di kantornya. Benar-benar menyebalkan!" Valerie *******-***** kemeja berwarna putih tersebut.
"Dan kau Nadia, kenapa hanya diam saja bantu aku berpikir bagaimana caranya agar pria itu segera pergi dari sini," sambung Valerie memarahi Nadia.
"Mbak, kok jadi marah sama aku sih," ujar Nadia memanyunkan bibirnya karena jadi sasaran emosi Valerie.
"Eh, mbak kayaknya Tuan Gerald suka deh sama mbak," cetus Nadia.
"Jangan ngomong aneh-aneh deh, Nad. Lagian cewek mana sih yang mau sama cowok nyebelin kayak dia."
"Ih, Mbak nggak tahu ya … di luaran sana banyak banget cewek-cewek yang tergila-gila sama Tuan Gerald. Mereka bahkan sampai jatuhin harga dirinya demi dilirik Tuan Gerald … harusnya mbak beruntung bisa di deketin sama es batu yang tajir melintir, soalnya cuman di depan mbak aja tuan Gerald bisa mencair seperti itu," ujar Nadia menjelaskan pada Valerie.
"Es batu? Ck, pria gila seperti dia kau bilang es batu? dan apa tadi … aku beruntung? Denger ya Nad, mungkin lebih tepatnya malah buntung kalau aku deket-deket sama dia … selain habis tenaga banyak juga waktu yang terbuang sia-sia karenanya," gerutu Valerie, wanita itu terlihat begitu gemas ingin secepatnya menjauh dari Gerald yang terus mengganggu nya.
"Ya ampun Mbak, Tuan Gerald itu terkenal dingin loh mungkin dia gila cuman di depan mbak aja karena dia suka sama Mbak." Nadia kembali berceloteh.
"Kan bentar lagi, status Mbak nggak bersuami lagi."
"Meskipun aku janda, aku tetap nggak mau sama dia."
"Yakin, mbak? Tuan Gerald ganteng loh." Nadia menggoda Valerie, sambil menyenggol pundaknya.
"Yakin! Seyakin-yakinnya! Udah ah jangan ngomongin dia Mulu, ntar orangnya dateng malah makin kepedean," ucap Valerie, yang kini sedang menyeduh green tea kesukaannya.
"Btw, Mbak kok bisa kenal sama tuan Gerald?" tanya Nadia penuh kekepoan.
Mendengar pertanyaan asistennya Valerie terdiam, ia jadi teringat kembali saat dirinya mencium Gerald di lobby apartemen. Seketika rasa sesal pun menyeruak dalam diri Valerie, seandainya saja ia tidak melakukan hal konyol itu. Mungkin sekarang ia tidak akan pernah berurusan dengan pria yang bernama Gerald Alexander Dhanuendra.
Valerie bergidik dan memukul kepalanya sendiri, ingin rasanya ia memutar waktu kembali. Dimana dirinya tak perlu melakukan balas dendam dengan mencium pria asing di depan suaminya. Ia hanya perlu minta maaf saat menabrak seseorang lalu, pergi dari apartemen itu dengan cepat dan kini ia hanya perlu memikirkan masalah rumah tangganya saja.
Namun, apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Akibat kecerobohannya yang tidak berpikir panjang, selain memikirkan masalah rumah tangga ia juga harus berpikir bagaimana caranya mengusir pria yang selalu membuat darahnya naik.
"Mbak, kok diem aja sih? Ayo ceritakan bagaimana mbak bisa ketemu sama CEO itu?"
"Aku tidak mau, udah sana kamu kerjain lagi kerjaan kamu. Banyak pelanggan tuh di depan," usir Valerie pada sang asisten yang terus mendesak dirinya untuk bercerita.
Dengan perasaan kecewa, karena Valerie tak mau bercerita Nadia pergi meninggalkan bosnya yang sedang duduk termenung di depan meja dapur.
Dan sebelum ia benar-benar pergi, Nadia melihat sebuah paper bag tergeletak di atas nakas. Ia membuka tas tersebut lalu, membawanya ke hadapan Valerie sambil tersenyum.
"Mbak."
"Hem," jawab Valerie malas.
"Aku tahu caranya agar tuan Gerald segera pergi dari sini," ujar Nadia menyembunyikan tas yang tadi ia temukan di balik badannya.
"Apa?"
"Mbak, kasih saja tuan Gerald baju ganti yang baru. Kalau bajunya sudah bersih dia pasti akan pulangkan."
Valerie menarik napasnya dalam. " Nad, kamu tahukan kita tidak merancang pakaian pria."
"Ya aku tahu tapi, aku punya solusinya asal dengan syarat mbak harus ceritain asal usul bagaimana mbak bisa ketemu sama tuan Gerald. Oke deal." Nadia menarik tangan Valerie meskipun, bosnya belum mengatakan setuju gadis itu sudah mengambil persetujuan sendiri.
Nadia memberikan paper bag tadi ke hadapan Valerie.
"Apa ini?" Valerie membuka tas tersebut. "Loh, inikan kemeja yang aku beli buat mas Vano bulan lalu." Valerie menatap Nadia yang masih tersenyum.
"Aku tahu, bajunya kan nggak akan dipakai mas Vano. Sebaiknya mbak berikan saja pada Tuan Gerald, aku rasa ukuran mereka sama."
"Astaga … kenapa aku nggak kepikiran kesitu, ya." Valerie mengusap wajahnya kasar.
Tanpa menunggu waktu lagi, ia pun kembali ke ruangannya dan memberikan baju pengganti tersebut pada Gerald.
.
.
.
Bersambung..