My Dandelion'S

My Dandelion'S
tak sesuai ekspektasi



Sepulang dari rumah sakit, Gerald mengantar istrinya terlebih dulu ke butik.


"Ingat, kata dokter Reza jangan makan sembarangan lagi. Apalagi makanan berkuah pedas dan berlemak," ujar Gerald mengingatkan istrinya untuk menjaga kesehatan.


"Iya, tadi saat di mobil kau sudah mengatakannya padaku. Kenapa kau masih membahasnya," protes Valerie yang merasa Gerald bawel sekali hari ini. 


Gerald tersenyum dan memeluk istrinya. "Aku takut kau lupa … baiklah aku ke kantor dulu." Gerald mencium kening istrinya mesra.


Valerie mengangguk. "Hem, hati-hati dijalan." 


"Owh, astaga! Tidak bisakah kalian melakukan ini di tempat yang tertutup," pekik Fero yang tiba-tiba datang, sambil menutup kedua matanya saat melihat adegan romantis di hadapannya.


"Fero, sedang apa kau disini?" Gerald mengerutkan dahinya heran.


Fero menunjukkan paperbag pada Gerald. "Kotak bekal kakak ipar tertinggal, jadi aku mengantarkannya kesini." 


Gerald mengambil paperbag dari tangan Fero.


"Oh ya, kakak ipar kancing kemeja ku lepas … bisakah kau membantuku?" Fero menunjukkan kemeja yang sedang dikenakan olehnya. 


Valerie baru membuka mulut untuk menjawab, tapi gerald sudah menyela dan menolak untuk membantu Fero. 


Fero terus memaksa hingga Gerald merasa kesal, jika saja dia tidak ingat siapa Fero dia mungkin sudah menendangnya jauh. 


Gerald memanggil Nadia untuk membantu Fero menjahitkan kancing kemejanya, tapi lagi dia menolak dan tetap ingin Valerie yang menjahitkan kancingnya. 


"Ayolah Tuan, hanya menjahit dua kancing apa susahnya membiarkan kakak ipar membantuku," desak Fero pada Gerald. 


"Begini saja, istriku tidak boleh kelelahan. Biarkan aku yang menjahitkan kancing mu," ucap Gerald lalu, menyeringai.


Melihat Gerald memiringkan senyumnya, Fero menelan ludahnya kasar dan berubah pikiran untuk mencari orang lain yang mau membantunya. 


Fero tersenyum gugup. "Setelah, dipikir-pikir sebaiknya aku membeli kemeja baru saja … baiklah aku pergi dulu." Fero hendak memutar tubuhnya, tapi Gerald dengan cepat menahan bahu Fero. 


"Tidak usah terburu-buru, memangnya kau tidak malu pergi ke luar dengan dada terbuka seperti itu," sindir Gerald dengan sorot mata mengancam.


"Oh, jangan khawatir aku bisa menutupinya dengan jas." Fero membuka jasnya dan memakainya secara terbalik.


Gerald berdecak, dan mengomentari pakaian Fero yang di nilainya tidak rapi. Ia memaksa Fero agar diam dan menurut padanya. 


"Baby, bawakan aku alat jahit dan keluarkan koleksi kancing-kancing mu," pinta Gerald yang tak melepaskan pandangannya dari Fero. 


Valerie mengangguk dan mengambilkan apa yang diminta oleh suaminya. Sementara Fero menatap nanar kepergian Valerie. 


Dan tak butuh waktu lama, Valerie kembali dengan koleksi kancing-kancingnya serta jarum dan benang berwarna sama dengan kemeja yang dikenakan oleh Fero. 


Fero kini benar-benar merasa bimbang, ingin rasanya ia kabur, tapi Gerald terus menahannya. Fero tahu, dibalik senyum Gerald pasti ada hal yang akan dia lakukan padanya. 


"Tuan, aku tidak yakin anda bisa melakukannya … jadi biar asisten kakak ipar saja yang melakukannya," pinta Fero tertekan.


"Kau meragukan kemampuanku?" dengus Gerald dengan nada menindas.


"B-bukan begitu," elak Fero mengibaskan kedua tangannya. 


"Sudahlah, diam. Aku sudah menemukan kancing yang cocok untukmu." Gerald menarik kemeja Fero kasar, matanya menatap Fero sekilas dan mulai menancapkan jarum yang sudah terisi benang pada kemeja Fero.


Valerie mengerutkan keningnya, ia khawatir jika Gerald atau Fero akan tertusuk oleh jarum. 


"Shǎguā, kau yakin bisa melakukannya?" 


"Kau tenang saja, aku sudah ahli." Gerald mengedipkan sebelah matanya pada sang istri. 


Fero menelan ludahnya kasar, keningnya mendadak berkeringat ketika melihat jarum yang di pegang Gerald melewati wajahnya. 


"Hais, sial. Niat ingin romantis dengan Nona Valerie malah romantis dengan tuan Gerald, benar-benar menggelikan," umpat Fero dalam hati. 


Selama memasang kancing, begitu banyak drama yang dilakukan oleh Gerald untuk menarik perhatian dari istrinya. Seakan tak mau kalah dengan Gerald, Fero pun mengikuti trick kakak angkatnya itu. 


"Ah," desah Gerald saat mata jarum menusuk jarinya. 


Mendengar suaminya merintih, Valerie langsung menghampirinya mengecek apa yang terjadi. 


"Kenapa?" 


"Baby, tanganku tertusuk jarum. Sakit sekali," keluh Gerald sambil menyeringai pada Fero. 


Fero mendelik sebal pada Gerald.


"Ya ampun, Shǎguā tanganmu berdarah." Valerie refleks memasukan jari Gerald ke mulutnya, untuk menghentikan pendarahan. 


"Cih, kekanak-kanakan sekali," decak Fero yang menghela napasnya panjang. 


"Shǎguā, biar aku saja yang melakukannya," pinta Valerie cemas. 


"Benar, Tuan. Biar kakak ipar saja yang melakukannya," sahut Fero semangat.


Padahal jarum tidak menusuknya, tapi ia sengaja berteriak dan mengaduh kesakitan.


"A-aw, Tuan. Kau sengaja menusuk ku?" tuduh Fero pura-pura kesakitan.


"Shǎguā, apa yang kau lakukan?" Valerie memelototi suaminya.


"Aku tidak melakukan apapun," elak Gerald yang pada kenyataannya dia memang tidak melukai Fero. 


"Kakak ipar dadaku sakit sekali, kau harus melihatnya," rengek Fero meraih tangan Valerie.


Melihat Fero menyentuh istrinya, Gerald langsung menepis tangan adik angkatnya. Keduanya pun terlibat adu mulut, Valerie yang merasa pusing dengan pertengkaran kedua pria yang ada di hadapannya, berteriak untuk menghentikan pertengkaran diantara Gerald dan juga Fero.  


Mendengar Valerie yang marah, Gerald dan Fero langsung terdiam. 


"Baby–" terpotong oleh Valerie.


"Diam! Tidak ada yang boleh bicara selain aku," dengus Valerie kesal.


"Kakak–" 


"Sudah aku bilang, tidak boleh ada yang bicara selain aku." Valerie menyela ucapan Fero.


Fero pun menunduk setelah di bentak oleh Valerie, sedangkan Gerald hanya tersenyum kecut saat melihat Fero tertunduk. 


Valerie memanggil Nadia, dan memintanya untuk mengganti kancing kayu berbentuk permen yang tadi di pasang oleh Gerald pada kemeja Fero. 


Fero mengerucutkan bibirnya, ketika orang lain yang menjahitkan kancing kemejanya. 


"Shǎguā, bukankah kau harus ke kantor kenapa masih disini?" tanya Valerie pada suaminya yang masih mematung disampingnya.


Gerald menoleh salah tingkah. "Aku menunggu Fero, ada pekerjaan yang harus dibicarakan." 


Fero langsung melirik pada Gerald. 


"Sudah selesai," seru Nadia tersenyum pada Valerie.


"Oke, karena Fero sudah mendapatkan kancingnya. Sekarang kita pergi ke kantor … kau yang menyetir." Gerald melempar kunci mobilnya pada Fero. 


"Tap–," ucapan Fero terhenti karena Gerald menariknya paksa. 


"Cepatlah." 


"Ck, sia-sia saja tadi aku merusak kemejaku, benar-benar tidak sesuai ekspektasi, padhal tadi aku sudah membayangkan jika Valerie menyentuh dadaku dan aku menatap wajahnya dan akhirnya kita pun ... tapi ah semuanya gagal gara-gara Tuan Gerald, dia sangat menyebalkan," gerutu Fero dalam hati. Dirinya mengikuti Gerald dari belakang dan terus mengoceh sebal. 


Sementara itu di butik, Nadia yang penasaran pada Fero, menanyakannya pada Valerie. 


"Mbak, itu siapa? Kok berani banget sama Tuan Gerald."


Valerie mengangkat kedua bahunya. 


"Masa sih mbak nggak tahu, tadi aku lihat mereka berdua sedang memperebutkan mbak," ujar Nadia tidak percaya dengan jawaban Valerie.


"Itu mas Fero, hubungannya dengan Tuan Gerald aku tidak tahu … tapi semenjak dia tahu aku dekat dengan tuan Gerald dia jadi memanggilku dengan sebutan kakak ipar."  Valerie menjelaskan pada Nadia sembari mengecek laptopnya. 


"Oh, apa dia adik tuan Gerald? Tapi kok nggak mirip ya … atau dia sepupunya?" 


"Aku tidak tahu, Nad." 


"His mbak, masa sama keluarga suami sendiri mbak nggak tahu," protes Nadia gemas. 


Valerie menghembuskan napasnya. "Asal kamu tahu ya Nad, sudah hampir tiga bulan aku menikah dengan Tuan Gerald. Tapi aku sama sekali tidak tahu latar belakang keluarga dia seperti apa … aku hanya tahu jika kedua orang tuanya sudah meninggal itu saja," tutur Valerie terus terang.


Nadia mengerutkan dahinya penuh tanya. "Apa mbak pernah tanya pada Tuan Gerald?" 


"Pernah, dia malah marah padaku … katanya sih dia mau cerita kalau aku sudah menyatakan cinta padanya, tapi sampai sekarang dia belum cerita apapun." 


Nadia menyipitkan kedua matanya dan menatap Valerie aneh.


"K-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Valerie yang tiba-tiba gugup saat ditatap oleh asistennya.


Nadia tersenyum penuh arti. "Jadi mbak udah jatuh cinta sama tuan Gerald … ciee," goda Nadia terkekeh.


Valerie tak menjawab, ia hanya terdiam sambil mengulum senyum di bibirnya. 


.


.


.


Bersambung.