My Dandelion'S

My Dandelion'S
terbakar api cemburu



"Kapan nak Gerald dan calon istrinya akan melangsungkan pernikahan?" 


"Tergantung putri Mama saja maunya kapan … bahkan jika Valerie mau, saya bisa melamarnya sekarang juga."


"Uhuk …uhuk."


"Sayang, pelan-pelan … ini minum dulu." Sarah memberikan satu gelas air putih pada Valerie. 


"Maksud, nak Gerald apa?" Sarah mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Saya mencintai Valerie, dan ingin menjadikan putri Tante sebagai calon istri saya," ungkap Gerald pada Sarah.


"Aku nggak mau!" sambar Valerie tegas.


"Sayang, dengar dulu apa yang mau dikatakan oleh Gerald." 


"Apa yang mesti didengar, Ma? Dia itu penipu, penjahat besar dan Mama sudah masuk ke dalam perangkapnya," timpal Valerie menuduh Gerald tanpa bukti.


"Sayang–," 


"Udah deh, Ma. Mending Mama usir dia dari sini dan jangan deketin dia lagi … aku nggak suka." Valerie meraih tongkatnya dan pergi meninggalkan ruang makan dengan keadaan emosi.


"Vel, tunggu!" Teriak Sarah hendak mengejar putrinya.


"Tante, biarkan saja … mungkin dia butuh waktu untuk sendiri." Gerald mencegah Sarah untuk menyusul Valerie.


"Maafkan, Atas sifat Valerie ya nak Gerald."


"Tidak apa-apa, saya mengerti. Seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah membuat suasana kacau."


"Tapi, apa benar nak Gerald mencintai Valerie?" Sarah kembali bertanya untuk memastikan jika dirinya tidak salah dengar.


"Benar Tante, dan saya serius ingin menjadikan Valerie bagian dari hidup saya." 


"Jika itu memang benar, Tante bisa membantu kalian untuk bersatu. Hanya saja kita harus menunggu sampai sidang perceraian Valerie selesai."


Gerald menyentuh lengan Sarah. "Terimakasih, Ma. Sudah mau mendukung saya mendekati Valerie."


"Saya tahu, kamu pria baik dan saya percaya kamu bisa membuat putri saya bahagia maka dari itu saya ingin kalian bersama." 


"Sekali lagi terimakasih, Ma," ucap Gerald yang sekalian berpamitan pada Sarah untuk pulang.


Sarah mengantar tamunya ke depan rumah, setelah mereka pergi Sarah kembali ke dalam dan menemui putrinya untuk membicarakan niat baik Gerald yang ingin mempersunting Valerie.


"Vel, buka pintunya … Mama mau bicara sayang." 


"Apa lagi sih, Ma?" Valerie membuka pintu kamarnya dengan wajah malas. 


"Sayang, dengar dulu penjelasan Mama … Gerald itu benar-benar mencintai kamu tulus."


"Ma, tolong ngertiin perasaan aku … aku lagi ada di fase down, Ma … aku baru pisah dari mas Vano dan belum resmi bercerai jangan maksa aku buat suka sama pria itu. Harusnya Mama dukung aku, buat jalanin hidup aku yang baru bukan malah sibuk menjodohkan aku dengan dia," ujar Valerie mengeluarkan isi hatinya pada sang ibu.


"Mama ngerti sama keadaan kamu yang lagi sedih, maka dari itu mama mau kamu sama Gerald biar kamu bahagia, Sayang."


"Memangnya Mama tahu dari mana kalau aku sama Gerald bakal bahagia? Apa karena dia kaya? Dia tampan dan digemari banyak wanita? Semua itu nggak menjamin ma … kita nggak kenal siapa dia, dari mana dia berasal bahkan Mama juga nggak tau kan nomor ponsel dia berapa? Udah ya ma, berhenti jodohin aku … jauhi dia, jaman sekarang itu banyak penipu berkedok malaikat."


"Sayang, Mama yakin Gerald bukan penipu." Sarah terus berusaha untuk meyakinkan putrinya jika Gerald memang pria yang baik.


"Ma." Valerie menatap ibunya dengan tatapan sendu. 


"Ayolah, sayang … kamu coba jalani saja dulu."


"Ma, please aku nggak mau … pernikahan itu bukan hal untuk main-main."


"Mama tahu, percaya deh sama Mama. Gerald yang terbaik buat kamu."


"Ma, cukup! Jangan maksa aku buat nurutin kemauan Mama aku bukan anak kecil lagi … kalau Mama masih maksa, aku lebih baik pergi dari sini!" Valerie menutup pintu kamarnya, membiarkan ibunya mematung di depan kamar.


Sarah menghela napasnya dalam, ia sangat kecewa dengan sikap putrinya. Ia hanya ingin melihat Valerie bahagia dan mendapatkan apa yang tidak pernah diberikan oleh devano sebelumnya. 


.


.


.


🌼🌼🌼🌼


Sepulangnya dari rumah Valerie Gerald dan Rendi langsung masuk ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Tuan, apa anda akan mundur?" 


"Tidak ada kata mundur dalam kamus percintaan ku," jawab Gerald tanpa menoleh orang yang bertanya.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan untuk mendapatkan nona Valerie?" 


"Jika kebaikan ku tak membuatnya luluh, maka aku harus melakukan kebalikannya."


"Maksud anda, Tuan?" Rendi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh bosnya itu.


"Cari tahu, kapan sidang Valerie dimulai. Kita tidak boleh melewatkan hari itu, dan untuk sementara kita jauhi dulu dia."


"Baik tuan."


.


.


.


🌼🌼🌼🌼


Satu Minggu kemudian.


Pengadilan agama kota Edelweis.


Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama tak bertemu Valerie dan Devano kini kembali bertemu untuk menjalani persidangan cerai mereka.


Melihat keadaan Valerie yang berjalan dengan tongkat karena kakinya masih di gips, Vano merasa khawatir. Ingin mendekat dan bertanya tapi, Helen terus memegang tangannya erat.


"Val," sapa Vano. Ketika dirinya berpapasan dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. 


"Mas," jawab Valerie datar.


"Ayo, mas buruan masuk." Helen menarik tangan Vano untuk segera masuk kedalam ruangan sidang.


Valerie menghela napasnya dalam, saat melihat Helen menarik tangan Vano dengan tatapan sinis.


"Ayo, Sayang jangan hiraukan mereka." Sarah membantu putrinya untuk berjalan. 


Sepanjang berjalannya sidang, Devano terus melirik Valerie yang hari ini terlihat begitu cantik. Mengenakan kemeja putih lengan panjang, dan celana kain hitam serta rambut terurai dihiasi bando mutiara kecil membuat Valerie kembali terlihat seperti remaja berusia belasan tahun.


"Kenapa, dia terlihat begitu cantik sekali hari ini," bisik batin Devano. Dia pun masuk ke dalam pikirannya sendiri, berwisata ke masa lalu dimana dirinya dan Valerie saling berbagi kasih. 


Tok … tok … tok.


Palu hakim telah berbunyi sebanyak 3 kali.


"Mulai detik ini, saudara Devano Aldebaran dan saudari Valerie Laruna sudah resmi berpisah," ucap hakim membuyarkan lamunan Devano.


Air mata Valerie kini berderai, saat mendengar keputusan hakim yang mengatakan jika dirinya sudah bukan istri dari Devano Aldebaran lagi. 


"Kenapa begitu cepat sekali? Bukankah harus ada beberapa tahap persidangan yang harus dilewati sebelum hakim memutuskan kami benar-benar bercerai?" tanya batin Vano, ia merasa ada kejanggalan dalam persidangan ini. 


Devano hendak bertanya tapi, hakim sudah buru-buru untuk pergi dan meminta padanya juga Valerie untuk mengucapkan salam perpisahan.


Vano bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Valerie ia tampak canggung untuk menjabat tangan mantan suaminya tersebut.


Namun siapa sangka, disaat Valerie merasa canggung Devano langsung memeluknya erat dan mengucapkan beberapa kata perpisahan dan permintaan maafnya karena sudah menyakiti Valerie.


Pelukan itu berlangsung cukup lama, dan haru. Valerie diam membeku ia terlihat bingung apa yang mesti ia lakukan, sebab jujur saja dirinya memang kecewa berat. Tapi, dari lubuk hatinya yang paling dalam Valerie sangat merindukan mantan suaminya itu.


Melihat adegan seperti itu, membuat kedua orang yang sedang duduk di barisan kursi belakang merasa hatinya panas karena terbakar api cemburu. 


.


.


.


Bersambung.