My Dandelion'S

My Dandelion'S
Mau menikah denganmu



Mobil melaju sangat cepat dan berjalan zig-zag, melewati satu persatu mobil yang menghalangi jalannya. 


Valerie yang duduk di samping pengemudi, menutup kedua matanya sambil berpegangan erat pada hand grip. 


Mulutnya tak henti terus berdoa minta keselamatan, pada yang kuasa. Ia juga tidak lupa terus menyebut nama ibunya dan meminta maaf karena belum bisa menjadi anak yang berbakti seperti yang diinginkan oleh sang ibu. 


Cekiitt ….


Mobil mendadak berhenti di depan sebuah gudang kosong, yang terletak di kota Denpasar.


"Turun," titah Gerald pada Valerie yang masih terpejam.


Valerie membuka sebelah matanya, mengintip keadaan untuk memastikan jika dirinya masih berada di dunia. 


"Aku masih hidup." Valerie menepuk kedua pipinya. "Syukurlah, aku masih hidup," ujarnya senang.


Gerald turun lebih dulu, meninggalkan Valerie yang masih merayakan keselamatan dirinya yang tadi telah diajak beradu adrenalin olehnya. 


"Tuan, tunggu." Valerie keluar dari mobil, setengah berlari dirinya mengikuti Gerald dari belakang.


"Kita dimana?" tanya Valerie, menyebarkan pandangannya. 


Gerald tak menjawab, ia hanya terus berjalan dengan wajah yang serius. Hingga pada akhirnya, mereka sampai di salah satu ruangan yang minim cahaya. 


Disana sudah ada Rendi dan dua anak buahnya, serta seorang pria yang sudah dalam keadaan babak belur. 


Melihat keadaan pria tersebut, Valerie merasa ngilu dan meringis sendiri. Ikut merasakan sakit yang dialami oleh pria yang sedang dipegang erat oleh kedua anak buah Rendi. 


Dalam Hatinya, Valerie  bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? Dan kenapa Gerald membawanya ke tempat menakutkan seperti ini?.


Salah satu anak buah Rendi menendang kaki tawanannya, agar dia berlutut di hadapan Gerald. 


Gerald menatap pria itu tajam, dan penuh amarah. 


"Siapa yang menyuruhmu?" Gerald bertanya dengan nada datar.


"Meskipun, kalian membunuhku. Aku tidak akan pernah memberitahu siapa yang telah menyuruhku," jawab Hendra angkuh.


Gerald menyeringai. "Heuh, sudah sekarat masih saja bersikap sombong."


"Bunuh saja, aku." pinta Hendra. 


"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu." Gerald mengeluarkan senjata api yang ada di balik punggungnya. 


Valerie begitu terkejut, saat melihat Gerald mengarahkan senjata api itu pada pria yang sedang berlutut di hadapannya.


"Apa yang akan dia lakukan? Apa jangan-jangan dia ingin membunuh pria itu," ucap batin Valerie menerka.


"Aku tanya satu kali lagi, siapa yang menyuruhmu?" Gerald mengulangi pertanyaannya.


Hendra diam bergeming. 


"Jangan menguji kesabaranku, kau tahukan konsekuensinya jika berkhianat dariku … tidak hanya kau saja yang mati tapi, keluargamu juga." 


"Berani kau menyentuh keluargaku, aku tidak akan memaafkan kalian semua!" teriak Hendra marah.


"Aku tidak butuh maaf darimu, yang aku butuhkan adalah jawaban." 


"Sudah aku katakan, bunuh saja aku!" 


"Baiklah, sampai bertemu dengan keluarga kecilmu di neraka, Hendra." Gerald bersiap untuk menembak.


"T-tunggu," ujar Hendra setelah memikirkan semuanya ia pun memberanikan diri untuk berbicara. " Jika aku memberitahumu, apa kau berjanji akan melindungi keluargaku?" 


Gerald manatap Rendi. "Baiklah, aku akan menjamin keselamatan keluargamu." 


Hendra terlihat menelan ludahnya kasar, ia menutup kedua matanya dan berkata "Direktur Fero, yang telah menyuruhku, cepatlah bunuh aku, Tuan!" teriak Hendra meminta agar Gerald segera menembaknya.


"Fero?" Gerald menurunkan pistolnya tak percaya, sebab Fero adalah teman baiknya sejak kecil.


"Tuan, aku mohon cepatlah bunuh aku!" 


Gerald kembali mengacungkan pistolnya, dan menembak Hendra sebanyak tiga kali hingga tewas. 


Melihat kejadian tersebut, Valerie terlihat shock. Kepalanya terasa pusing dan di menit berikutnya Valerie pun jatuh tak sadarkan diri.


"Dandelion." Gerald mengecek keadaan Valerie. "Ren, bereskan semuanya. Aku akan membawa Valerie pergi … setelah urusan selesai temui aku di pulau Nusa penida," kata Gerald sembari menggendong Valerie ala bridal style.


"Baik tuan." 


Gerald bergegas membawa Valerie ke mobilnya, sebuah seringai menakutkan muncul di sudut bibir pria yang baru saja menghilangkan nyawa seseorang.


"Tuan, anda yakin Nona Valerie tidak akan marah jika siuman nanti?" Rendi terlihat khawatir dengan apa yang di lakukan oleh bosnya pada wanita yang sedang menggantung di atas kapal pesiar milik Gerald.


"Hanya cara ini yang bisa membuatnya menerimaku," jawab Gerald. Ia duduk di atas kursi santai dengan wajah yang begitu kalem.


"Tapi, Tuan … sepertinya aku tidak yakin." 


Gerald menatap Rendi dingin.


"Maaf, Tuan." Rendi menundukan kepalanya. 


Lima menit kemudian, Valerie mulai terbangun dari pingsannya. Ia sangat terkejut, ketika dirinya sedang berada di tengah laut menggantung di atas kapal besar. 


"Hai, Baby … kau sudah sadar," sapa Gerald, sambil mengenakan kacamata hitamnya ia mengembangkan sebuah senyuman pada Valerie.


"Lepaskan aku!" teriak Valerie menggerakkan kakinya. 


"Tenang, baby … aku hanya ingin kau menikmati pemandangan laut dari atas sana," ucap Gerald yang  bersedekap di tepi kapal. "Indah bukan." Gerald terkekeh. 


"Dasar gila! Cepat lepaskan aku … ya Tuhan kenapa aku harus berhadapan dengan pria sakit seperti dia." Valerie merengek frustasi.


"Kau ingin turun, Baby?" 


"Iya, cepat turunkan aku." 


"Baiklah tapi, dengan syarat."


"Apa itu?" 


"Menikahlah denganku, maka kau akan selamat." 


"Apa! Aku tidak mau menikah dengan pria jahat sepertimu," tolak Valerie tegas.


Gerald tersenyum kecut. "Kau tahu, Baby. Begitu banyak wanita yang ingin menjadi istriku tapi, kau selalu menolakku." 


"Kenapa kau tidak menikahi mereka saja! Kenapa selalu memaksaku." 


" Jika aku mau, aku akan menikahi mereka. Sayangnya aku hanya menyukai dirimu, Baby." 


"Aku tidak peduli, cepat turunkan aku," desak Valerie tidak sabar.


"Sudah aku bilang, jika kau mau menikah denganku. Aku akan menurunkanmu," 


"Aku tidak mau!" 


"Kau yakin?" 


"Ya, aku sangat yakin. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan seorang pembunuh!" 


"Oke, kalau kau menolak … lihatlah apa yang ada di bawahmu." Gerald menyilangkan kedua tangannya di dada. 


Valerie menelan ludahnya kasar, ketika ia melihat tiga sirip hiu sedang berputar di bawahnya. 


"Cukup satu peluru saja, tali itu akan terpotong dan byur kau akan terjatuh … dagingmu akan di cabik-cabik oleh kawanan hiu itu," ujar Gerald menakuti Valerie.


"Bagaimana ini, aku belum mau mati … jika aku mati bagaimana dengan nasib ibu dan para karyawanku? Apa untuk sementara aku terima saja dulu, setelah aku turun baru kabur … tidak-tidak ini di tengah laut, bagaimana mungkin bisa kabur bahkan berenang saja yang ada aku akan dimakan oleh hiu." Valerie sibuk dengan pikirannya sendiri. 


"Oke, kalau kau masih teguh dengan keputusanmu. Aku akan berhitung sampai tiga, bersiaplah jadi santapan mereka." Gerald mulai menghitung, sambil mengeluarkan senjatanya. 


"Bagaimana ini, dia pasti tidak sedang main-main. Tadi saja dia tega menembak orang lain, dia juga pasti akan benar-benar menjadikanku santapan pada hiu itu," gumam batin Valerie bimbang.


"Satu." Gerald mulai berhitung, mendesak wanita yang sedang menggantung agar mau menikah dengannya. 


"Dua." 


"Tuan-tuan, aku mohon jangan lakukan itu," ucap Valerie panik.


"Ti–," 


"Baiklah-baiklah, aku mau menikah denganmu." 


.


.


.


Bersambung.