
Satu bulan kemudian.
Hotel tempat Mr Shama menginap.
Sekretaris kepercayaannya, berlari menuju kamar Mr Shama. Wajahnya tampak begitu panik sampai ia lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tuan, gawat Tuan," ucapnya menghampiri Tuan Shama yang sedang bermeditasi.
"Atsushi, apa kau sudah lupa dengan aturan masuk ke ruangan orang lain," ujar Shama yang masih menutup kedua matanya.
Atsushi langsung bersimpuh di hadapan Shama. "Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin memberitahu jika saham kita menurun 99 persen," tuturnya.
Shama langsung membuka matanya. "Apa! Bagaimana bisa?"
"Mereka mengatakan jika akan beralih ke perusahaan yang lebih besar dan menguntungkan dan satu-satunya investor yang masih bertahan adalah Tuan Arnold saja."
"Kurang ajar, ini pasti ulah si pria sombong itu. Hubungi Tuan Arnold katakan aku ingin menemuinya, jangan sampai dia lepas seperti yang lainnya," titah Shama.
Baru Atsushi akan menghubungi Arnold, tapi Arnold sudah menelpon lebih dulu dan mengatakan jika dirinya juga ingin mundur dari perusahaan Shama.
Shama merebut ponsel Atsushi, dan berbicara pada Arnold agar tetap bertahan di perusahaannya.
"Tuan Arnold, saya mohon jangan cabut investasi anda dari perusahaan saya. Saya berjanji jika anda tetap bertahan, saya akan memberikan 50 persen dari keuntungan perusahaan pada anda."
"Maafkan saya Mr,Shama. Saya dengar perusahaan anda akan bangkrut lalu, dari mana anda mendapatkan keuntungan lagi … saya sebagai investor tentu saja tidak mau ikut rugi, daripada nanti saya menyesal jadi saya putuskan untuk mencabut semua dana yang pernah saya tanam di perusahaan anda."
"T-tapi, Tuan Arnold … halo halo, Tuan … argh sial!" Shama melemparkan ponsel milik sekretarisnya hingga hancur.
"Tuan, gawat," seru salah seorang bodyguard.
Shama menoleh. "Sekarang apa lagi?" teriaknya.
"M-maaf, Tuan. Mata-mata tuan Gerald berhasil kabur," ucapnya terbata.
"Dasar tidak berguna!"
Bugh …
Shama menendang perut bodyguard tadi.
"Apa saja kerja kalian hah! Menjaga satu orang saja kalian tidak bisa, kalian semua aku pecat!" sentak Shama lalu, mengusir bodyguard tersebut.
Shama meremas rambutnya, ia terlihat begitu frustasi. Padahal dirinya belum sempat untuk menyerang, tapi Gerald sudah melakukan banyak hal untuk menghancurkannya.
Gara-gara anak buahnya yang ditugaskan untuk mendekati Valerie tidak kunjung berhasil, membuat semua rencananya jadi berantakan.
Dan karena pengamanan di rumah Gerald yang begitu ketat pula, Shama jadi tidak bisa menyuruh anak buahnya untuk masuk ke dalam kediaman Gerald. Alhasil tanpa sepengetahuannya, Gerald telah berhasil maju lebih dulu dari padanya.
"Tuan, apa rencana anda?" tanya Atsushi.
"Jalankan saja rencana awal, tapi kali ini kita harus merubah sasaran."
"Baik Tuan, saya akan mengumpulkan yang lainnya."
Atsushi pergi, dan mengumpulkan anak buahnya untuk menyerang beberapa anak perusahaan milik Gerald.
Di saat Shama sedang sibuk menyiapkan penyerangan . Lain hal dengan Gerald yang sedang memanjakan istrinya dengan memijat kaki serta membawakannya berbagai macam makanan kesukaan Valerie.
Awalnya Gerald melarang Valerie, untuk memakan makanan yang tidak higienis tapi setelah membawa pakar gizi ke rumahnya dan memberitahukan jika makanan itu boleh dikonsumsi ibu hamil selagi tidak berlebihan, Gerald akhirnya mengijinkan dan menyuruh Andi untuk membeli apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Shǎguā, kau mau coba?" Valerie menawarkan buah jambu yang sudah ditaburi bubuk cabe pada suaminya.
Gerald menggelengkan kepala sembari menekuk wajahnya, karena tidak suka jika Valerie makan pedas. Padahal dokter dan pakar gizi sudah mengatakan tidak apa-apa, tapi Gerald masih saja berpikir jika calon bayinya yang masih sebesar biji jagung akan merasakan kepanasan di dalam perut istrinya.
"Ya sudah, aku makan sendiri saja." Valerie menyuapkan sepotong demi sepotong buah jambu tanpa biji itu ke dalam mulutnya.
Sekarang giliran Valerie yang menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, nasi bau membuatku mual."
"Bagaimana kalau bubur? Itu tidak berbau kan," usul Gerald.
"Tidak mau … eh Shǎguā bihun goreng sepertinya enak, aku pengen deh." Valerie menoel-noel pipi suaminya.
"Baby, apa perutmu masih belum merasa kenyang? Kau sudah makan banyak hari ini."
"Ish, sekarangkan ada bayi dalam perutku jadi aku makan tidak sendiri. Wajarkan jika ibu hamil terus merasa lapar," desis Valerie sebal.
"Baiklah-baiklah, selagi kau bahagia apapun akan aku turuti … aku akan meminta koki untuk membuatkan bihun goreng." Gerald hendak beranjak, tapi Valerie menahannya.
"Eh, Shǎguā aku tidak mau masakan koki … aku mau yang di pinggir jalan."
"Kali ini tidak, aku sudah menuruti semua kemauanmu dan sekarang kau harus patuh padaku, oke … lagipula dimana jam segini ada yang berjualan bihun goreng," gerutu Gerald sembari berjalan keluar kamar.
Valerie hanya bisa diam kali ini, jika dirinya terus merengek bisa-bisa besok dia tidak akan mengizinkannya untuk jajan di luar lagi.
"Tuan, kebetulan sekali anda sedang turun." Rendi yang baru datang menghampiri bosnya.
"Ada apa?" wajah Gerald terlihat malas sekali saat menghadapi Rendi.
"Tuan Shama, sudah melakukan pergerakan," bisik Rendi.
"Oh, kau urus saja. Aku lelah dengan istriku yang terus minta di pijit sejak tadi pagi dan menyuruhku ini dan itu," keluh Gerald pada sekretarisnya.
"Tuan, bukankah ini hal baik. Kau bisa menonton pertunjukan di luar sana, dan tidak akan direpotkan oleh ngidamnya nyonya," Rendi kembali berbisik.
"Maksudmu, istriku sangat merepotkan! Asal kau tahu ya dia sedang mengandung anakku jadi apapun yang dia inginkan aku akan mengabulkannya dan aku sama sekali tidak merasa direpotkan oleh calon ibu dari anakku," cerocos Gerald memarahi Rendi.
"Hais, terserah kau saja Tuan," dengus Rendi dalam hati.
"Eh, tapi kau ada benarnya juga. Tunggulah, aku akan berganti baju … dan katakan pada koki untuk membuat bihun goreng lalu, panggil Riska kemari untuk menjaga istriku."
"Baik, Tuan."
Gerald langsung berlari menaiki anak tangga dan kembali ke kamar dengan tangan kosong.
Valerie menoleh ke arah pintu yang terbuka. "Shǎguā, mana bihunku?"
"Koki akan mengantarnya kemari. Ah iya Baby, aku ada urusan di kantor aku akan pergi sebentar," ujar Gerald cepat.
Valerie mengerutkan dahinya. "Ke Kantor? Bukankah kau cuti karena ingin menemaniku."
Gerald menghampiri istrinya dan duduk di tepi ranjang. "Ya, tapi Rendi sialan itu malah datang mengatakan ada sedikit masalah di kantor dan mau tidak mau aku harus menanganinya," umpat Gerald pura-pura kesal.
"Hem, pergilah. Selesaikan urusan kantormu," ucap Valerie lesu. Padahal Gerald sudah berjanji akan menemaninya seharian penuh.
Semenjak Gerald pulang dari perjalanan bisnis, pria itu semakin sibuk dan bahkan tak jarang sekali suaminya pulang di jam larut malam. Dan subuh hari sudah harus pergi ke kantor, membuatnya tidak bisa bertemu lama dengan suaminya.
"Jangan begitu dong, Baby. Aku hanya pergi sebentar lagi pula aku bekerja untuk mu dan calon bayi kita juga, aku berjanji setelah urusanku selesai. Weekend kita jalan-jalan ke mall, bagaimana? Kau setuju." Gerald mengusap pucuk kepala istrinya sambil tersenyum.
"Aku mau ke Bali, bertemu Fero tidak mau ke mall," tolak Valerie.
"Kita bicarakan itu nanti. Aku harus bersiap dulu. Oh iya aku sudah meminta Riska untuk datang menemanimu, kau boleh turun ke ruang tv tapi ingat kau harus berhati-hati dan jangan keluar rumah oke," ucap Gerald sebelum masuk ke ruang wardrobe.
Valerie menghela napasnya. Kejadian beberapa bulan lalu kini terulang lagi, dimana dirinya terus dikurung saat selesai melakukan operasi.
"Baby, aku pergi dulu baik-baik di rumah ya … hei jagoan papi jaga mamy dengan baik ya." Gerald mengecup kening dan perut istrinya lalu menghilang di balik pintu.
Valerie hanya tersenyum kecut melihat suaminya buru-buru pergi. Ia tahu, pasti Gerald sedang menghindari dirinya yang terus menyuruhnya ini dan itu.
Bersambung.