
Di sebuah rumah sakit, setelah menemui dokter usulan suaminya. Valerie pun bergegas untuk pulang, dan saat berada di lobi rumah sakit, tanpa sengaja ia bertemu dengan Helena.
Wanita hamil itu menyapa Valerie dan menghampirinya lebih dahulu.
"Valerie."
"Helen, kamu ngapain disini?"
"Aku mau periksa kandungan, kamu sendiri ngapain disini? Siapa yang sakit?" Helen melihat ke sekeliling, mencari orang yang menemani Valerie. "Kamu sendiri?" lanjut Helena.
"Iya, tadi aku habis ketemu dokter temannya Tuan Gerald buat konsultasi," jawab Valerie apa adanya.
"Oh. Val bagaimana? Apa kamu sudah menanyakan pada tuan Gerald?"
Valerie mengangguk. "Tuan Gerald bilang dia tidak tahu, dia hanya menemuinya sebentar untuk melihat keadaan Tuan Maheswari saja selebihnya dia tidak tahu apapun."
Helen terlihat begitu kecewa dengan jawaban Valerie.
"Helen, apa kau yakin jika Tuan Gerald orang terakhir yang menemui ayahmu?"
Helen tersenyum dengan bibir yang bergetar. "Aku juga tidak tahu, hanya saja terakhir kali berkomunikasi dengan ajudan ayahku dia mengatakan jika tuan Gerald akan membebaskannya."
Valerie tampak berpikir, ia benar-benar tidak mengerti. Jika memang suaminya berkaitan, memangnya dengan dasar apa Gerald melakukan hal itu? Selama ini dirinya hanya tahu kalau Gerald hanya bermasalah dengan mantan suaminya saja. Itupun jika Vano yang memulai lebih dulu.
"Val." Helen memegang kedua tangan Valerie dengan wajah penuh harap. "Aku mohon bantu aku sekali lagi saja, tolong tanyakan lagi pada Tuan Gerald. Aku yakin tuan Gerald mengetahui sesuatu, aku mohon Val."
Valerie melepaskan tangannya dari Helena. "Maafkan aku Helena. Aku bukannya tidak mau tapi, Tuan Gerald memintaku untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain."
Helena tersenyum penuh kekecewaan. " Tidak apa-apa, aku tahu kau masih marah padaku sehingga kamu tidak mau membantuku. Biar aku cari tahu sendiri saja," ujar Helena. Bulir beningnya mulai turun membasahi kedua pipinya.
"B-bukan begitu Helen, aku sudah benar-benar memaafkanmu tapi–"
Helena menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Valerie sambil menangis, membuat Valerie gelagapan tidak enak sebab semua orang menatap ke arahnya.
"Helen, apa yang kau lakukan? Bangunlah." Valerie memegang bahu Helena dan berusaha untuk membantu Helena berdiri.
"Aku tidak akan bangun, sebelum kamu mau menolongku."
Valerie terlihat begitu bingung, disisi lain ia takut pada Gerald tapi, disisi lain ia juga tidak tega melihat keadaan Helena yang seperti ini.
Ia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Helena saat ini, hatinya pasti hancur karena kehilangan sosok ayah yang dicintainya.
"Baiklah, aku akan menanyakannya lagi pada Tuan Gerald," ucap Valerie yang tak punya pilihan lagi agar Helena mau bangun.
Helena mengusap air matanya dan bangkit dari bersimpuh. "Benarkah?"
Valerie mengangguk pelan.
"Terimakasih, Val. Aku janji aku tidak akan melupakan kebaikanmu," tutur Helena yang langsung memeluk Valerie.
Siang berganti senja.
Valerie yang baru kembali dari rumah sakit. Terlihat begitu lelah, saat ia masuk ke dalam butiknya. Valerie langsung diam mematung, ketika melihat para pegawainya sedang berkumpul sembari menari toktak dengan lagu yang sedang viral saat ini.
Dipimpin oleh Nadia, para karyawan pria dan wanita itu mulai mengikuti aba-aba yang diteriakkan oleh Nadia. Begitu lagu di putar mereka pun mulai menari dengan mimik wajah yang menahan tawa.
Lesti sayang Rizki billar …
Rizki billar sayang Lesti …
Mereka saling mencintai …
karena baby L ….
Saling sayang, saling sayang …
Saling maaf saling maaf …
Sebuah lagu Aldi Taher yang sedang booming di salah satu aplikasi toktak.
"Eh, mbak Valerie kapan datang?" Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Sejak dari tadi."
"Maaf ya mbak, butik sepi dan kami nggak ada kerjaan jadinya kita gabut deh," ucap Nadia menjelaskan.
"Tidak apa-apa, aku malah terhibur pas lihat kalian nari dengan wajah datar seperti itu, lanjutkan saja aku mau pulang duluan … jangan lupa kunci semuanya ya Nad," titah Valerie sembari menepuk bahu asistennya.
Semua karyawan menatap heran Valerie, semenjak Valerie bertemu Helena kemarin. Bosnya berubah jadi lebih sibuk dan cenderung murung, mereka jadi curiga kalau Helena melakukan sesuatu pada bosnya.
🌸🌸🌸🌸
Mobil Valerie memasuki pelataran rumah kediaman Dhanuendra. Disambut oleh kepala pelayan, Valerie terlihat tidak bersemangat. Jika biasanya dia akan bersikap ramah setiap disapa, kali ini Valerie hanya menjawabnya dengan singkat.
Merasa khawatir dengan keadaan nyonya besarnya, kepala pelayan itu menelpon Gerald dan memberitahukan keadaan Valerie saat ini.
"Nyonya, apa anda sakit?" tanya kepala pelayan pada Valerie yang sedang duduk di ruang tv sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak."
"Mau saya buatkan teh panas nyonya?"
"Tidak usah, pak. Terimakasih." Valerie pun beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke kamar.
Kepala pelayan itu menatap khawatir istri dari bosnya, karena tidak ingin banyak tahu. Pria dengan pakaian serba putih itu kembali ke dapur sembari menunggu kepulangan Tuan besar.
Di kamar.
Valerie membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terlihat polos dan bercat putih. Pikirannya kini mulai berkelana memikirkan dirinya yang harus menjalani operasi dan juga permasalahan Helena.
Valerie menarik napasnya panjang. Kepalanya terasa begitu berat, jujur saja ia sangat takut jika harus masuk ruang operasi. Apalagi dokter Reza mengatakan kemungkinan dirinya bisa hamil pasca operasi sangatlah kecil.
Namun, apabila dirinya tidak melakukan tindakan operasi. Itu juga akan membahayakan dirinya.
Di tengah-tengah keheningan kamar. Ponsel Valerie berdering, memecah kesunyian dikala senja mulai menenggelamkan diri. Valerie menyambar ponsel tersebut, dilihatnya nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Sebuah panggilan dari suami tercintanya.
Sebenarnya ia malas untuk mengangkat tapi, ponsel itu terus berdering sampai beberapa kali. Dan terpaksa ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Ya." Valerie menyapa si penelpon.
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?"
"Maaf, aku lagi di kamar mandi," ujar Valerie berbohong. Karena tidak mungkin jika dirinya mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa Gerald ceramah kalau tahu dirinya malas mengangkat panggilan darinya.
"Kau sakit, Baby?"
"Tidak."
"Kau yakin? Apa aku harus memanggil dokter ke rumah?"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Baiklah, sebentar lagi aku pulang. Jangan melakukan apapun sebelum aku sampai rumah."
"Hem."
Panggilan pun terputus. Ia melemparkan ponselnya ke samping lalu, beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dibawah guyuran air shower, Valerie menengadahkan wajahnya. Membiarkan air itu menyentuh parasnya yang cantik, sekelebatan sempat terpikir dalam benak Valerie untuk meminta cerai pada Gerald. Sebab sebagai seorang istri ia merasa sangat tidak berguna, dengan penyakitnya yang sekarang ia tidak mau membuat Gerald kerepotan dalam mengurusnya.
Namun, sebelum ia melakukan hal itu. Valerie harus memenuhi janjinya terlebih dahulu pada Helena, untuk mencari informasi di mana keberadaan ayahnya sekarang.
.
.
Bersambung.