My Dandelion'S

My Dandelion'S
masalah selesai



Di depan anak perusahaan milik Gerald, Shama dan anak buahnya sudah siap untuk menyerang dan membakar bangunan yang sedang ramai oleh pekerja. 


Tak hanya di salah satu anak perusahaan saja, Shama juga sudah mengerahkan banyak anak buah di beberapa cabang perusahaan milik Gerald untuk melakukan hal yang sama. 


"Tuan, kenapa tempat ini sepi sekali? Tidak ada pergerakan apapun dari orang-orang yang ada di dalam," ujar Atsushi heran. Padahal gedung itu sudah dikelilingi oleh cairan bensin yang cukup menyengat tapi semua orang terlihat biasa saja dan tidak berhamburan ke luar. 


"Bersiap siaga saja, Gerald adalah orang yang cerdas dia pasti sudah menyiapkan segalanya secara matang," tutur Shama sambil menghisap rokok elektriknya. 


"Haruskah kita menyerang sekarang?" 


"Tunggu sampai pria bajingan itu datang. Dia harus menyaksikan perusahaannya terbakar." 


Atsushi mengangguk, dan menuruti semua perintah bosnya.


"Hai, Mr Shama. Apa kalian sudah lama menungguku?" Seru Gerald yang tiba-tiba ada di belakang Shama dan Atsushi sembari melepas kacamata hitamnya.


Shama dan Atsushi kaget dengan kemunculan Gerald yang tiba-tiba. 


"Kenapa terkejut? Bukankah kau sedang menungguku," Gerald menyandarkan tubuhnya di dekat mobil milik Shama.


"Hei, kau! Kembalikan semua investor itu padaku," teriak Shama pada Gerald.


"Investor? Investor apa? Aku tidak mengerti," kilah Gerald memasang wajah polos. 


"Jangan sok tidak tahu, aku yakin pasti kau kan yang sudah mengambil semua investor ku sehingga mereka memutuskan kerja samanya denganku." 


Gerald berpikir sejenak. "Oh, masalah itu ha ha … iya ya aku ingat, aku tidak merebut mereka. Aku hanya menawarinya sedikit keuntungan, dan ck … ya kau tahukan setiap orang selalu ingin keuntungan jadi tanpa memaksa, mereka dengan sukarela menyuntikan dananya ke perusahaan ku," tutur Gerald santai. 


Shama mengepalkan tangannya erat. "Kau benar-benar tidak punya hati, kau memang licik," umpat Shama geram.


"Ey, bukan aku yang licik … bukankah kau sendiri yang pertama kali mengibarkan bendera perang, hah," ucap Gerald melipat kedua tangannya di dada.


"Aku hanya sedikit membalas, dan lihat apa yang kau lakukan? Kau bahkan berniat menjadikan istriku sebagai alat … asal kau tahu Tuan Shama yang terhormat, kau seharusnya tidak melibatkan keluarga sainganmu dalam hal seperti ini … dan apa kau tahu julukan apa yang pantas untuk pria yang berani menyerang wanita? PENGECUT," cibir Gerald yang memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya. 


"Dasar brengsek! Berani sekali kau mengatai aku pengecut!" teriak Shama. 


Gerald tersenyum penuh arti. "Lalu, aku harus mengatai mu apa? Dewa angin, cih." 


Merasa dihina oleh Gerald, Shama memerintahkan anak buahnya untuk menyalakan api dan membakar gedung tersebut sampai habis.


Namun, sayang lagi-lagi pria berdarah Jepang itu kalah telak, ketika melihat semua anak buahnya berhasil dilumpuhkan oleh para karyawan pabrik.  


Gerald menyunggingkan sudut bibirnya, ketika melihat Shama dirundung rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak buah Shama banyak dan bertubuh kekar, tapi bisa-bisanya mereka kalah oleh para karyawan pabrik yang notabenenya bapak-bapak dan ibu-ibu serta beberapa karyawan yang terlihat masih muda. 


"Kau jangan senang dulu, Gerald. Aku yakin anak buahku di tempat yang lain pasti sudah melumpuhkan salah satu dari perusahaanmu," ucap Shama percaya diri.


"Benarkah? aku tidak sabar untuk mendengar kabar itu," jawab Gerald masih dengan nada dan sikap yang santai, ia sangat menikmati pertunjukan tawuran pegawainya melawan anak buah Shama. 


Shama mengepalkan tangannya ketika melihat Gerald yang begitu tenang menghadapi permasalahan ini, ditambah lagi oleh bisikan sekretarisnya yang mengatakan jika anak buahnya telah kalah dan sekarang mereka berada di markas tentara, semakin membuat rahang Shama mengeras dan geram.


"Dasar kau brengsek!" Shama mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya tepat di kepala Gerald. 


Gerald hanya menyeringai, bahkan tanpa ada rasa takut ia menempelkan kepalanya ke mulut pistol.


"Mr, Shama, awalnya kita berdua adalah orang yang tidak saling mengenal. Kenapa kau repot-repot menciptakan permusuhan diantara kita? Hanya karena aku menolak bekerja sama kau sampai melakukan hal yang membuatmu rugi. Menyerahlah, aku bukan tandinganmu," tutur Gerald yang menatap Shama miris.


"Diam kau bodoh! Selama aku bergelut dalam dunia bisnis, belum pernah ada yang berani menolak ku untuk bekerja sama … dan kau berani sekali menolakku padahal aku sudah menawarkan keuntungan besar padamu … aku tidak terima kau menolakku begitu saja!" teriak Shama mengungkapkan isi hatinya. 


"Tuan Shama, kau sudah cukup lama bergelut di dunia bisnis. Tapi kenapa kau masih belum tahu jika dunia bisnis itu sangat kejam, dan satu lagi kau tidak bisa memaksa orang lain untuk bekerja sama denganmu apalagi dengan cara hal murahan seperti ini … aku sarankan padamu untuk  kembali  ke negara mu, keluarga mu pasti sedang menunggu," kata Gerald yang sedikit tersindir dengan ucapannya sendiri, sebab dirinya juga melakukan hal sama pada istrinya memaksa, mengancam dan menyembunyikan ponsel dan dompetnya. 


"Aku tidak peduli, yang terpenting saat ini jika aku hancur maka kau juga harus hancur Tuan Gerald Alexander Dhanuendra." Shama mulai menarik pelatuk pistolnya akan tetapi, Gerald yang sudah bersiap sejak dari tadi langsung memelintir tangan Shama ke belakang, menendang kakinya hingga berlutut dan mengambil alih pistol tersebut. 


Gerald menodongkan pistolnya di belakang kepala Shama, melihat bosnya sedang dalam bahaya Atsushi ingin menghampiri tapi Gerald mengancamnya. Jika dia berani maju maka kepala Shama akan pecah. 


"Lepaskan aku brengsek!" umpat Shama meronta. 


"Aku akan melepaskanmu, jika kau tidak mengganggu hidup dan keluarga ku lagi. Sekali lagi kau berani menampakan batang hidungmu di hadapanku aku tidak segan membunuhmu secara langsung." 


Shama mengangguk dengan cepat, ia masih sayang pada hidupnya sehingga pria berdarah Jepang itu memilih untuk menyerah dan kembali ke negaranya. 


Gerald mengucapkan terimakasih pada semua karyawannya, karena mau bekerja sama untuk melawan Shama dan anak buahnya. Sebagai ucapan terimakasih Gerald pada karyawannya, dia memberikan tiket berlibur ke dunia fantasi pada semua pegawainya yang menjadi target sasaran musuhnya. 


                   🌸🌸🌸🌸


"Baby, aku pulang," teriak Gerald yang langsung di bungkam oleh Andi. 


"Kau, berani sekali menyuruhku untuk diam," dengus Gerald pada kepala pelayannya. 


"Maaf, Tuan. Tapi, nyonya sedang menonton beliau berpesan untuk tidak berisik," bisik Andi pada bosnya. 


Gerald mendelik dan berjalan menuju ruang tv, dilihatnya tiga wanita yang sedang serius menatap layar televisi yang sedang menayangkan drama dengan pemeran pria yang tampan. 


Gerald melipat kedua tangannya sebal, sebab istrinya terlihat sangat terpikat pada pesona pemeran pria tersebut, sampai-sampai istrinya tak berkedip. 


Riska menoleh ke belakang, ia terkejut dengan kehadiran bosnya yang entah sejak kapan pria bertubuh tegap itu berdiri di sana. Ia mencolek Nadia pelan dan memintanya untuk pergi tanpa bersuara. 


Setelah kedua gadis itu pergi, Gerald duduk disamping istrinya yang sedang tersenyum, tidak tahu apa yang membuat Valerie tersenyum seperti itu karena dramanya sedang menunjukan adegan berperang.


"Baby, air liurmu hampir menetes," sindir Gerald pada Valerie. 


"Sstt, diam aku sedang menikmati wajah suamiku yang tampan itu," jawab Valerie tanpa menoleh.


Gerald menutup kedua matanya, dan menahan kesal. Ingin rasanya ia menjewer telinga Valerie karena berani mengakui pria lain sebagai suaminya. 


Ia mengambil remote dan mematikan televisi membuat wanita hamil itu langsung menoleh dan memasang wajah datar sekaligus kaget melihat ekspresi suaminya yang sedang kesal. 


Bersambung.