
"Mas, boleh lihat cincin itu?" ujar Valerie pada pelayan pria yang sedang merapikan etalasenya.
"Boleh, nyonya … ini adalah koleksi terbaru kami, jika nyonya menyukainya saya rasa nyonya sangat paham arti dari cincin ini," kata pelayan ramah.
Valerie hanya tersenyum, dan mencoba cincin tersebut. Ini adalah benda yang selalu diinginkan olehnya sudah lama ia mencari-cari benda itu tapi ia tak kunjung menemukannya. Dan beruntung disini ia bisa menemukan benda tersebut.
"Ini berapa?"
"20 juta, nyonya," jawab pelayan, membuat Valerie terhenyak.
"20 juta?"
"Benar, nyonya perhiasan ini sangat langka dan hanya beberapa saja … saya dengar semuanya sudah laku terjual hanya ini satu-satunya yang tersisa. Perusahaan juga mengatakan jika tidak akan mengeluarkan perhiasan seperti ini lagi," ungkap pelayan.
"Astaga, mahal sekali … seandainya dompetku tidak hilang, mungkin aku bisa membeli ini. Kapan lagikan aku bisa mempunyai aksesoris inti jiwa dewa bulan, mana ini tinggal satu-satunya lagi," gumam Valerie dalam batinnya.
"Bagaimana, nyonya? Mau saya bungkuskan?"
"Hem, lain kali saja … dompet saya tertinggal di rumah." Valerie mengembalikan cincin itu pada pelayan.
"Wah, padahal sayang sekali loh nyonya, ini tinggal satu-satunya. Bagi pengikut sekte dewa bulan, ini adalah barang yang sangat berharga," jelas pelayan.
"Ya, anda benar … dengan cincin itu si pemakai seperti memiliki inti jiwa dewa bulan. Lain kali saja deh, mas. Siapa tahu nanti saya berjodoh dengan cincin atau gelang itu, saya akan membelinya lain kali."
"Baiklah, jika perusahaan mengeluarkannya lagi saya akan memberitahu anda."
Valerie mengangguk, sambil tersenyum.
"Kelihatannya, kalian akrab sekali," seru Gerald yang berdiri di balik badan Valerie.
"Maaf, Tuan. Saya hanya berusaha melayani pelanggan sebaik mungkin," ujar pelayan itu.
"Benarkah?" tanya Gerald penuh selidik.
Pelayan itu tersenyum, berusaha untuk tenang dan santai dalam menghadapi pria yang ada di hadapannya.
"Tuan, sudah selesai." Valerie, mulai merasa tidak enak dengan sikap Gerald yang mengintimidasi pelayan tersebut.
"Kenapa kau tersenyum, jawab pertanyaan ku." Gerald menatap pelayan itu tajam.
"Tuan, sudah ayo pulang … jangan membuat keributan disini," ajak Valerie, yang mulai malu karena orang-orang memperhatikannya.
"Kau membelanya, ada hubungan apa diantara kalian? Cepat katakan padaku," desak Gerald. Hatinya terasa panas saat melihat Valerie begitu akrab dengan pelayan tersebut.
"Maaf, Tuan. Kami tidak ada hubungan apapun, bahkan saya baru mengenal nyonya ini beberapa menit yang lalu, saya hanya menjalankan peraturan perusahaan yang harus melayani pelanggan seramah mungkin agar pelanggan merasa nyaman," pelayan itu mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku tidak percaya," ucap Gerald, yang masih dimakan api cemburu.
Valerie melirik Rendi, meminta tolong agar dia membawa Gerald keluar. Tapi, Rendi hanya diam. Menonton, bosnya yang sedang mengintrogasi pelayan toko.
Valerie terlihat kesal dan marah, percuma juga dia berbicara dan menahan Gerald hanya membuang tenaga toh dirinya juga tidak di dengar. Lebih baik ia pergi saja dari sana sendiri.
"Valerie, kau mau kemana?" Gerald mengejar Valerie yang pergi begitu cepat.
"Dasar menyebalkan, dimana-mana selalu saja mencari keributan. Mencurigaiku yang tidak-tidak, argh rasanya aku ingin kembali ke kota Edelweis," gerutu Valerie, sambil berjalan cepat.
Ponsel Valerie berdering, sebuah panggilan masuk dari kontak yang bernama 'My Husband'.
"My Husband … siapa ini? perasaan aku tidak pernah menyimpan kontak dengan nama ini." Valerie mengerutkan dahinya penasaran. "Hais, aku lupa kalau ini ponsel pria itu. Pasti dia yang sudah menamai kontaknya dengan sebutan suami … aku abaikan saja, sebaiknya aku pergi ke tempat yang lebih menyenangkan." Valerie mengubah peraturan dering ponselnya menjadi senyap lalu, ia pergi mencari tempat yang dapat menghilangkan rasa stressnya.
"Kurang ajar, berani sekali dia mengabaikan panggilanku!" Dengus Gerald geram. "Rendi, kerahkan anak buahmu untuk mencari keberadaan Valerie. Cari dia sampai dapat," titah Gerald yang kemudian masuk kedalam mobil untuk mencari calon istrinya.
"Awas saja kau, aku tidak akan mengampunimu." Gerald melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
🌼🌼🌼
Malam kian larut, udara terasa begitu dingin menusuk ke dalam tubuh. Valerie berjalan gontai menyusuri jalan dengan wajah yang terlihat bingung, entah keberapa kali dirinya melewati jalanan yang sama. Kakinya sampai terasa pegal karena terus berputar-putar di tempat yang sama.
"Di tempat ini lagi! Ya ampun sudah berapa puluh kali aku melewati tempat ini," rengek Valerie frustasi.
"Oke, sepertinya aku tersesat, tenangkan dirimu Val jangan panik. Kamu pasti bisa menemukan jalan keluarnya," gumam Valerie menenangkan dirinya sendiri.
Ia diam dan berpikir, ke arah mana dirinya harus melangkah. Setelah beberapa menit berpikir ia mulai melangkahkan kakinya lagi ke arah utara. Dan lagi Valerie kembali ke tempat yang sama seperti sebelumnya.
"Ah ya ampun, aku ingin pulang … kenapa aku terus berputar-putar disini," rengek Valerie frustasi.
Ia menjongkokkan tubuhnya, lelah lapar dan haus yang saat ini ia rasakan. Tidak ada restoran, maupun warung kecil yang dapat di kunjungi. Semuanya hening dan sepi, tidak ada siapapun disana yang dapat dimintai tolong.
"Bagaimana caranya aku pulang, tidak mungkin aku bermalam di jalan seperti ini," ujar Valerie mengacak-acak rambutnya.
Saat Valerie sedang kebingungan, semilir angin lembut menyentuh lehernya membuat bulu kuduk Valerie merinding.
Ia merasa seperti ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Valerie bangkit, dan menoleh tidak ada siapapun di sana. Valerie memegang tengkuk lehernya, hawa menyeramkan kini mulai dirasakan oleh Valerie.
Wanita itu kembali melangkahkan kakinya cepat, mencari jalan keluar untuk kembali ke hotel atau mencari penduduk setempat untuk menunjukkan jalan.
Drap..
Drap…
Drap…
Langkah kaki orang asing terdengar semakin cepat mengikutinya, Valerie yang ketakutan tak dapat berpikir jernih lagi. Ia berlari ke sembarang arah, yang pada akhirnya malah terjebak di sebuah gang buntu.
"Jalan buntu, bagaimana ini?" Valerie terlihat semakin bingung, kemana lagi dirinya harus pergi sementara derap langkah kaki kembali terdengar menghampirinya.
Valerie berbalik, ia melihat sosok hitam besar sedang berjalan ke arahnya. Dia mundur secara perlahan, matanya berkaca-kaca ketakutan. Sosok itu semakin dekat dan mendekat membuat Valerie berteriak dan jatuh pingsan.
🌼🌼🌼🌼
Grand paradise hotel.
"Bodoh! Mencari seorang wanita saja kalian tidak becus!" Gerald marah dan membanting apapun yang ada dihadapannya.
"Maaf, Tuan. Kami sudah mencarinya di setiap penjuru kota tapi, nona tidak bisa ditemukan bahkan kita melacak ponselnya tidak bisa," jelas Rendi tertunduk.
"Kurang ajar! Kemana perginya wanita itu … tidak mungkin dia kembali ke negara Edelweiss. Dia tidak punya uang dan pasportnya ada ditanganku, dia juga tidak menggunakan kartu yang aku berikan … kemana perginya dia?" Gerald tampak berpikir sejenak . "Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya? Aku harus mencarinya sendiri." Gerald memakai jaketnya dan menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas.
Dengan tergesa ia turun dari kamar hotelnya menuju mobil, untuk mencari keberadaan Valerie yang hilang sejak tadi siang.
.
.
.
Bersambung.