
Satu Minggu kemudian.
Hari ini adalah jadwal Valerie untuk menjalankan operasi. Sebelum Valerie masuk ke dalam ruangan dingin dan menakutkan itu, Gerald menggenggam erat tangan dan memberikan semangat pada istrinya.
"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu. Kalau kau gugup tutup kedua matamu dan bayangkan aku ada disampingmu."
Valerie tersenyum dan menganggukan kepala, ia mengusap pipi suaminya lembut. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Gerald mengangguk dan mengecup kening sang istri. Ia pun menatap cemas Valerie ketika beberapa perawat mendorong brankar tersebut ke dalam ruang bedah.
"Ya Tuhan, selamatkanlah istriku." Gerald berdoa dalam hatinya sambil mengusap wajahnya.
"Tuan, duduklah," ujar Rendi yang selalu setia menemani Gerald.
Gerald pun mendaratkan bokongnya di atas kursi. Baru juga duduk, dia sudah kembali berdiri dan berjalan kesana kemari seperti setrikaan.
Cemas, khawatir, gerah, ingin kentut. Lapar dan haus kini menjadi satu, rasanya ia sudah tidak sabar menunggu dokter keluar dari ruang operasi.
"Tuan, minum dan makanlah dulu." Rendi mengasongkan sebotol air mineral dan burger pada Gerald.
"Tidak usah, aku tidak lapar," tolak Gerald.
Namun, di detik berikutnya perut Gerald berbunyi. Ia menoleh pada Rendi yang bersikap biasa saja, kemudian mengambil roti isi daging dari tangan Rendi yang tadi ia tolak. Meskipun terasa hambar karena ia memikirkan terus istrinya, tapi Gerald tetap menghabiskan burger tersebut untuk mengganjal perutnya.
Satu jam telah berlalu, Gerald semakin terlihat resah. Pasalnya dokter mengatakan jika operasi akan memakan waktu tiga puluh menit, tapi sudah satu jam lebih dokter masih belum kunjung keluar dari ruang bedah.
Setelah lama menunggu, dokter yang sejak tadi Gerald tunggu, akhirnya keluar dan memberitahukan jika operasinya berjalan dengan lancar. Pria yang masih mengenakan seragam bedah berwarna hijau pun mengatakan jika Valerie masih dalam keadaan tidak sadar karena efek obat bius, dan perawat akan segera memindahkan Valerie ke ruang rawat inap.
Gerald mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut, ia pun akhirnya bisa bernafas dengan lega ketika dokter memberinya kabar baik.
Valerie kini telah berada di ruang rawat inap VVIP, Gerald yang terus berada di samping Valerie terlihat sedang menyeka wajah istrinya dengan hati-hati.
Ia menatap dan menggenggam tangan sang istri, berharap istrinya akan segera sadar.
"Nak Gerald, bagaimana kondisi Valerie?" seru Sarah yang baru saja datang.
"Mama, duduk Ma." Gerald bangkit dari duduknya dan menyerahkan kursi yang sedang ia pakai tadi.
"Terimakasih, nak Gerald."
"Keadaan, Valerie baik-baik saja. Dia belum sadar karena obat biusnya belum hilang," jelas Gerald.
"Maafin Mama ya, mama baru bisa nengok kalian … perusahaan tidak ada yang mengurus jadi Mama yang harus menghandle semua," ujar Sarah.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama juga tidak boleh terlalu capek, Mama harus perhatikan kesehatan Mama juga."
"Mama juga inginnya begitu, di usia mama yang sudah mulai menua ingin rasanya beristirahat, tapi bagaimana dengan perusahaan tidak mungkin jika mama menjualnya," keluh Sarah. Ia menatap wajah putrinya yang masih terpejam. "Punya anak semata wayang, bukannya meneruskan perusahaan dia malah memilih jadi desainer. Dan karena kesibukan mama, mama jadi tidak tahu kalau Valerie sakit." Sarah menghela napasnya panjang.
Gerald menyentuh bahu ibu mertuanya. "Jangan menyalahkan diri Mama, ini sudah takdir. Mama jangan pikirkan hal di masa lalu, Valerie sudah mendapatkan penanganan dan dia akan kembali sehat seperti semula."
Sarah menyentuh tangan menantunya. "Terimakasih, sudah mau merawat Valerie dengan baik."
"Sudah seharusnya, saya melakukan yang terbaik untuk Valerie Ma," jawab Gerald. "Oh iya, masalah perusahaan Mama, biar nanti saya pikirkan. Mama jangan khawatir lagi," lanjut Gerald.
Sarah mengangguk, pandangannya kini teralihkan pada Valerie yang mulai membuka matanya.
"Mama," lirih Valerie.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," seru Sarah terharu.
"Shǎguā." Valerie tersenyum pada suaminya, ia hendak bangun tapi Gerald dengan cepat menahannya.
"Berbaring saja, jangan banyak bergerak," ucap Gerald membaringkan kembali istrinya.
"Suami kamu benar, Vel. Kamu berbaring saja," timpal Sarah.
"Mama kapan kesini?" tanya Valerie dengan suara serak.
"Tidak apa-apa, Ma. Seharusnya Veli yang minta maaf karena sudah membuat Mama khawatir."
Ketiganya pun melanjutkan perbincangan mereka. Hingga sore menjelang, mama Sarah yang sudah merasa lelah berpamitan pada anak dan juga menantu kesayangannya itu.
Gerald menawarkan diri untuk mengantarkan ibu mertuanya sampai rumah, tapi Sarah menolak sebab ada supir yang sudah menunggunya. Karena Sarah membawa sopir, Gerald pun hanya mengantar mertuanya sampai tempat parkiran.
Ia membukakan pintu mobil untuk wanita yang sudah melahirkan istrinya itu. "Hati-hati di jalan Ma … pak jangan ngebut bawa mobilnya," tutur Gerald pada sopir Sarah.
"Siap Tuan," sahut sopir.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan area parkir rumah sakit, begitu juga dengan Gerald setelah melihat mobil mertuanya menghilang dari pandangan. Ia bergegas kembali ke ruangan istrinya.
"Mama sudah pulang?" Valerie bertanya pada sang suami yang baru saja datang.
"Sudah, Baby apa kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin tidur," jawab Valerie.
"Baiklah, aku akan menjagamu disini." Gerald membenarkan selimut istrinya dan mengusap kepala Valerie lembut.
Dua hari kemudian, karena kondisi Valerie yang sudah mulai membaik. Dokter telah mengizinkannya untuk pulang, dan tentu saja dengan serangkaian syarat yang diberikan oleh dokter pada sepasang suami istri tersebut.
Gerald mendorong kursi roda yang diduduki oleh istrinya, sampai ke depan mobil.
"Shǎguā, aku bisa jalan sendiri," ucap Valerie ketika Gerald akan menggendongnya ke dalam mobil.
"Tidak perlu … Rendi tolong lindungi kepalanya aku tidak mau kalau istriku sampai terpentok," titah Gerald.
Rendi pun melindungi kepala istri bosnya, setelah Valerie masuk dengan aman ia pun duduk dibalik kemudi dan melajukan mobilnya menuju kediaman sang bos.
Sepanjang perjalanan, Valerie mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Ia menelan ludahnya kasar ketika melihat deretan pedagang makanan kaki lima yang berada di pinggir jalan.
"Sekretaris Rendi, apa perusahaan Tuanmu sudah bangkrut?" sindir Valerie pada Gerald.
Gerald yang duduk di samping istrinya langsung menoleh, terkejut dengan pernyataan Valerie barusan.
Tak hanya Gerald, Rendi juga sedikit tersedak mendengar pertanyaan istri dari bosnya itu.
"Tidak nyonya, malah perusahaan Tuan kini semakin maju," jawab Rendi.
"Benarkah? Lalu, kenapa sejak dari tadi kalian melewati pedagang-pedagang yang ada di pinggir jalan?" cetus Valerie sembari menoleh pada Gerald.
"Baby, maksudmu kau mau membeli makanan itu?" tanya Gerald.
Valerie mengangguk. "Hem."
Gerald tersenyum. "Tidak boleh! itu tidak higienis." Gerald menutup tirai mobilnya, agar Valerie tidak tergoda pada jajanan pinggir jalan.
"Tapi Shǎguā, itu enak-enak," rengek Valerie yang menginginkan makanan dan minuman kesukaannya.
Gerald menatap istrinya. "koki di rumah akan membuatkan semua jajanan yang kau inginkan, bersabarlah sampai kita sampai rumah."
Valerie mendengus sebal, dan membuang wajahnya dari Gerald.
"Ren, percepat jalan mobilnya."
"Baik, Tuan."
Mobil pun melaju cukup kencang, membelah jalanan kota Edelweis di siang hari.
.
.
Bersambung.