My Dandelion'S

My Dandelion'S
Berhitung , 1 sampai 3.



Operasi telah berjalan dengan lancar, Valerie pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sementara Gerald yang sudah mendonorkan darahnya pada Valerie masih terkulai lemas di samping ranjang wanita yang telah membuatnya berani berhadapan dengan jarum suntik.


Malam telah berganti menjadi pagi, suara cuitan dari burung-burung yang sedang bernyanyi di ranting pohon terdengar begitu merdu di telinga Valerie.


Setelah semalaman dirinya tak sadarkan diri, kini Valerie mulai membuka kedua matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seseorang yang tengah tertidur sambil memegang tangannya.


Valerie melepaskan tangan itu secara perlahan, dan memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. 


"Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Valerie, menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"A-aw," ringisnya ketika mencoba untuk bangun.


Mendengar suara rintihan, Gerald langsung terbangun dari tidurnya. Manik matanya terlihat begitu berbinar saat ia melihat Valerie sudah tersadar.


"Baby, syukurlah kau sudah bangun," ucap Gerald, sembari mengukir sebuah senyum di bibirnya.


Valerie diam bergeming, enggan untuk merespon Gerald. Jangankan merespon menatapnya saja Valerie tidak Sudi, ia terus memalingkan wajahnya dari Gerald.


"Sshh," rintih Valerie.


"Mana yang sakit, biar aku lihat." Gerald hendak menyentuh tapi, Valerie langsung menepisnya.


"Jangan sentuh aku! Pergi dari sini aku tidak mau melihatmu," ujar Valerie yang lagi-lagi mengusir Gerald.


"Baby, please biarkan aku merawatmu."


"Aku bilang pergi!" teriak Valerie.


Wanita itu kembali meringis kesakitan, ketika merasakan sakit yang teramat di bagian kepalanya.


Gerald kembali terlihat cemas, dan langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Valerie. Dan demi kenyamanan pasien, dokter itu meminta agar Gerald menunggunya di luar.


🌷🌷🌷


"Tuan Gerald," sapa dokter menghampiri pria yang sedang duduk termenung di depan ruang rawat inap VVIP.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya harus menyampaikan pesan dari pasien. Nyonya Valerie meminta anda untuk pergi, pasien juga berpesan jika ia tidak mau melihat anda lagi," tutur sang dokter.


"Tapi, dokter."


"Tuan, demi kesembuhan pasien. Saran saya lebih baik anda menuruti saja permintaannya, sebab jika pasien terus merasa terguncang itu akan berpengaruh pada kesehatan psikis juga mentalnya." 


Gerald menghela napasnya panjang. Pria itu sebenarnya tidak ingin meninggalkan Valerie sendirian, karena dia khawatir pada keselamatan Valerie yang sedang terancam.


"Tuan, percayakan saja semuanya pada kami. Kami akan merawat dan menjaga pasien dengan baik."


Setelah berpikir dan menimbang-nimbang keputusan, Gerald pun setuju dan mengikuti saran dari dokter untuk meninggalkan Valerie sendirian. 


Toh, ini juga demi kesembuhan calon istri. Jika Valerie telah kembali sembuh ia bisa mendekatinya kembali seperti semula, pikir Gerald menganggukan kepalanya pelan. 


🌼🌼🌼🌼


Kediaman Dhanuendra.


Di ruang kerja milik Gerald, Rendi memberikan laporannya perihal mobil yang telah menabrak Valerie. Ia juga memberitahukan pada bosnya jika para pelaku telah di amankan oleh pihak berwajib. 


"Ren, apa kau bertanya apa alasan mereka menabrak Valerie?" 


"Mereka hanya orang suruhan, Tuan. Dan Helen yang ada di balik semuanya."


"Helen?" Gerald mengernyitkan dahinya.


"Benar, Tuan. Sepertinya perselisihan di antara Nona Helen dan Nona Valerie makin memanas, sehingga dia mau membunuh Nona Valerie agar tidak ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Tuan Devano," tutur Rendi, menjelaskan secara rinci. 


Gerald memejamkan kedua matanya agar lebih tenang. " Cari tahu tempat usaha pria itu? Jika dia mendirikan tempat usahanya di lahanku. Kita bisa menjadikannya sebagai ancaman agar pria itu mau menceraikan Valerie secepatnya."


Rendi mengangguk dan mulai mengotak Atik benda kotak besar yang ada di hadapannya.


"Anda benar, Tuan. Restoran itu, berdiri di tanah kita," sahut Rendi yang tak perlu waktu lama untuk mencari info mengenai seseorang.


"Bagus, sekarang atur jadwal pertemuanku dengan wanita yang bernama Helena itu dan kirim beberapa orang untuk menemui Devano. Katakan padanya jika dia tidak menceraikan istrinya dalam waktu 24 jam, restorannya akan aku hancurkan." 


"Baik, Tuan." Rendi pergi meninggalkan ruangan kerja milik bosnya.


🌼🌼🌼🌼


Pukul 19.00 


Plangton restoran.


Helena yang sudah datang lebih awal tampak terlihat kesal, sebab sudah setengah jam dirinya menunggu seseorang tapi, orang itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


Brak …


Seorang pria dengan wajah babak belur jatuh tersungkur, tepat di depan meja yang sedang di tempati Helena. Wanita itu terkejut dan menjauh dari mejanya.


Penasaran, Helena melihat pria itu secara seksama. Ia terlihat semakin kaget, ketika mengetahui jika pria itu adalah orang yang ia suruh untuk menghabisi Valerie.


"Nona Helena, apa anda suka dengan kejutan yang aku beri?" Gerald menarik kursi dan duduk di depan Helena yang masih dalam keadaan syok. 


"S-siapa kau?"


Gerald terkekeh saat melihat ekspresi Helen yang ketakutan. "Duduklah, Nona. Aku tidak akan menggigit … kita bicarakan ini dengan santai," ucap Gerald yang meminta di buatkan kopi pada pelayan.


"Apa mau mu? Kenapa kau memintaku datang kemari?"


"Aku tidak akan banyak bicara, karena sepertinya dengan anda melihat dia. Anda sudah tahu apa jawabannya, dan kenapa aku memintamu untuk datang kemari," ucap Gerald. Pria itu berbicara dengan sangat santai sembari menyalakan rokoknya.


Helen menatap Gerald dengan manik mata yang bergetar, rasa takut pada pria yang ada dihadapannya tak dapat ia sembunyikan. Di tambah lagi dengan kedatangan orang suruhannya yang sudah babak belur, ia semakin yakin jika pria yang ada dihadapannya sudah mengetahui sesuatu.


"Huft," dengan sengaja Gerald menghembuskan asap rokok itu kehadapan Helena, sampai membuatnya terbatuk dan merasa mual.


"Maaf, Tuan. Saya sedang hamil, dan asap rokok tidak baik untuk kesehatan janin saya," protes Helen, tidak suka dengan sikap Gerald.


Gerald menyeringai dan mematikan rokoknya yang masih panjang. " Benarkah? Apa efek samping dari asap roko pada janin?" 


Dengan perasaan tertegun, Helen menjelaskan pada Gerald apa saja yang dapat terjadi jika dirinya terlalu banyak menghirup asap rokok dan ia juga menyebutkan kalau janinnya akan keguguran.


Keguguran, adalah jawaban yang sejak dari tadi Gerald nantikan. Sebenarnya ia bertanya bukan karena tidak tahu tapi, ia sengaja memancing Helena agar mengerti apa maksud dan tujuan mendatangi dirinya.


"Keguguran yang berarti calon bayimu akan mati? Apa yang akan anda lakukan, pada orang yang telah membuat calon anak mu mati?" sebuah pertanyaan yang akan membuat Helen terjebak.


"Aku akan membunuh orang itu, karena nyawa harus di bayar dengan nyawa," cetus Helen penuh kekesalan. 


"Benarkah? Apa aku harus melakukan hal yang sama juga padamu?" Gerald mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya. 


Manik mata Helen membulat dengan sempurna ketika melihat pistol itu mengarah ke kepalanya. Para pengunjung yang melihat kejadian tersebut terlihat begitu ketakutan, mereka ingin lari tapi, pintu keluar telah di tutup dengan rapat oleh anak buah Gerald. 


"A-anda jangan main-main ya, Tuan," ucap Helen terbata karena takut.


"Aku tidak main-main, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika nyawa dibalas dengan nyawa … dan Valerie ku kini sedang terbaring di rumah sakit karena ulahmu, jadi aku hanya mengikuti apa yang kau katakan." Gerald menatap Helena dengan tatapan tajam dan siap membunuh.


Glek …


Helena menelan ludahnya secara kasar. "Sial, semua ini gara-gara parasit itu … jika aku sampai mati, aku akan terus mengejarmu sampai ke akhirat," gerutu Helen dalam hatinya.


"Ada kata-kata terakhir, Nona?" Gerald memiringkan senyumnya, dan bersiap untuk menarik pelatuk pistol tersebut.


"Baiklah, aku rasa tidak ada. Sebaiknya pejamkan matamu agar kau tidak merasa sakit bersiaplah, ini tidak akan berlangsung lama cukup satu peluru yang menembus kepalamu dan kau akan langsung pergi ke neraka." Gerald mengetatkan giginya, tidak ada yang berani menghalangi tindakan Gerald yang berbahaya. Karena mereka takut jika menjadi sasaran tembak selanjutnya.


Helen memejamkan kedua matanya, wanita itu terlihat pasrah pada keadaan saat ini.


"Ren, bisakah kau berhitung satu sampai tiga untuk ku?" 


"Tentu, Tuan."


Rendi pun mulai berhitung, sesuai permintaan sang bos.


1 …


2 ….


3 ….


Bersambung.