My Dandelion'S

My Dandelion'S
Tinggalkan aku sendiri



Satu Minggu kemudian, Devano terlihat berdiri di depan butik Valerie. Tangannya mengepal dan kakinya seperti berat untuk melangkah.


Wajah Vano begitu kusut, matanya sembab dengan kantung mata yang bengkak. Entah apa yang terjadi pada Vano selama satu Minggu ini, pria itu benar-benar berantakan.


"Mas Vano," gumam Nadia saat melihat suami bosnya diam mematung.  


Gadis itu menghampiri Vano, dan bertanya apa yang sedang ia lakukan? Dan kenapa dirinya hanya mematung seperti orang yang tidak waras. 


Vano terdiam, pandangannya kosong dan lurus kedepan. Setelah Nadia berkali-kali memanggilnya, Vano baru bisa kembali tersadar. 


"Mas Vano, baik-baik ajakan?" tanya Nadia dengan tatapan menelisik.


Pria itu tak menjawab pertanyaan Nadia, dia hanya memberikan sepucuk surat untuk Valerie pada Nadia. 


Nadia menatap surat tersebut penuh tanya. Karena tidak ingin mengganggu privasi bosnya ia pun hanya mengangguk. 


"Katakan pada Valerie, mulai saat ini aku melepaskannya dan sampaikan permohonan maaf ku," ucap Vano singkat, pria itu kemudian pergi meninggalkan Nadia dengan tergesa. 


Melihat keanehan Devano, Nadia tak hentinya terus menatap punggung Vano yang kini telah menjauh darinya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Nadia tapi, ia mengubur dalam-dalam pertanyaan itu dan kembali bekerja.


.


.


🌼🌼🌼🌼


Cendrawasih Hospital.


Valeri dan ibunya kini sedang bersiap untuk pulang. Setelah semuanya selesai, Valerie dan sang ibu menyampaikan salam perpisahan pada dokter juga para suster yang telah merawatnya selama pengobatan.


"Bisa jalannya, Vel?" tanya Sarah saat melihat putrinya sedikit kesusahan karena harus berjalan dengan tongkat. 


"Bisa, Ma." Valerie berusaha untuk tidak menyusahkan ibunya.


"Ya udah, tasnya biar Mama aja yang bawa."


"Tapi, itu berat Ma." 


"Biar saya saja yang bawa, Tante," sambar Gerald yang langsung mengambil tas itu dari tangan ibunya Valerie.


"Kau lagi! Bukankah a–," 


"Sayang, bersikaplah sopan pada tamu … nak Gerald sudah bersikap baik loh mau bantuin kita." Sarah memotong ucapan putrinya, sambil tersenyum pada Gerald.


Merasa dibela calon mertua, Gerald tersenyum penuh kemenangan. Sementara Valerie mendelikkan matanya pada Gerald, rasanya ia sangat malas jika harus melihat wajah Gerald yang menyebalkan.


"Udah ayo, Ma. Veli mau cepat-cepat pulang," ketus Valerie mengajak ibunya untuk segera pergi.


"Biar saya antar kalian pulang," tawar Gerald.


"Nggak usah!" 


"Boleh, jika nak Gerald tidak keberatan." Sarah kembali menyambar ucapan putrinya yang menolak kebaikan Gerald. 


"Ish, Mama apa-apaan sih!" gumam batin Valerie kesal. 


"Ma, aku nggak mau ya pulang sama dia," bisik Valerie pada sang ibu. 


Sarah tersenyum, dan mengabaikan putrinya yang enggan pulang bersama Gerald. "Nak, Gerald sepertinya Veli kesulitan berjalan bisakah nak Gerald menggendongnya sampai mobil?" 


Valerie memelototkan matanya, ketika mendengar permintaan sang ibu pada pria yang ada di hadapannya. "Mama, ih. Veli bisa jalan sendiri."


"Dengan senang hati, Tante." Gerald memberikan tas Valerie pada Rendi, lalu ia menatap Valerie penuh arti.


"Eh, nggak ya. Berani menyentuhku aku pukul kamu!" Valerie mengacungkan bogemnya kearah Gerald.


Gerald terkekeh, entah kenapa setiap kali Valerie marah Gerald selalu menyukainya. Semakin Valerie marah, semakin terlihat menggemaskan di mata Gerald. 


"Veli, nggak boleh begitu … katanya pengen cepet pulang, ya udah ayo jangan membuang waktu," tegur Sarah yang tak hentinya terus tersenyum ramah pada Gerald.


Padahal Sarah baru bertemu Gerald satu kali tapi, ia sudah menyukainya dan ingin cepat-cepat menjadikan pria itu sebagai menantunya. 


Bukan harta yang membuat Sarah menyukai Gerald, melainkan aura positif dan kebaikannya yang membuat Sarah merasa klop pada Gerald. 


"Kamu harus sabar ngadepin Veli. Dia emang gitu keras kepala tapi, dia baik kok," ujar Sarah yang mengerti jika Gerald menyukai putrinya.


"Tuan, sepertinya anda sudah mendapatkan lampu hijau dari ibu mertua," bisik Rendi.


Gerald hanya tersenyum, ia merasa senang karena tidak perlu susah-susah untuk mendapatkan restu orang tua Valerie sebab ibunya ada di pihaknya. 


Sepanjang perjalanan, Valerie terus menekuk wajahnya. Karena paksaan sang ibu ia jadi harus satu mobil dengan Gerald yang tak hentinya terus berbicara, sama seperti ibunya wanita paruh baya itu juga terus menceritakan aib masa kecil Valerie pada Gerald. 


"Es batu? Cih aku rasa dia lebih pantas disebut radio rusak dibanding es batu," gerutu batin Valerie yang merasa karakter Gerald tak sesuai dengan apa yang sering dibicarakan oleh Nadia. 


Mobil telah sampai di depan butik. Valerie yang masih kesulitan untuk turun dari mobil tetap berusaha untuk bisa berjalan tanpa bantuan orang lain. 


"Biar, aku bantu." Gerald mendekati Valerie untuk menggendongnya.


"Tidak usah!"


"Diam, dan menurut," dengus Gerald. Dengan wajah datar. 


Valerie menghela napasnya, ia hanya bisa pasrah ketika Gerald mulai mengangkat tubuhnya ala bridal style. Karena takut terjatuh, ia melingkarkan tangannya di leher Gerald tanpa mau menatap wajah tampan yang begitu dekat dengannya.


Melihat adegan romantis tersebut, Sarah dan para karyawan lain hanya tersenyum. Mereka merasa Gerald dan Valerie sangat cocok, yang satu tampan dan yang satu cantik. Si pria dingin dan wanita ramah, bahkan keduanya terkadang memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama menyebalkan.


"Kalau mau menatapku, tatap saja. Jangan sungkan, orang bilang menatap pria tampan itu bisa menghilangkan stress," cetus Gerald yang tahu jika Valerie mencuri-curi pandang darinya.


"Dih," ketus Valerie memutar bola matanya ke sembarang arah. 


Gerald memiringkan senyumnya lalu, menurunkan Valerie di sofa sambil berbisik di telinga wanita itu. "Sepertinya kau perlu menurunkan berat badan, Baby."


Valerie tertegun, dan memukul bahu Gerald cukup keras membuat pria itu terkekeh.


"Selamat datang kembali, mbak Valerie," sambut para karyawan. Mereka terlihat senang karena bosnya bisa kembali ke butik dengan keadaan sehat meskipun kakinya belum sembuh seperti sedia kala.


"Wah, terima kasih sambutannya. Aku merasa terharu," ujar Valerie yang mendapatkan banyak bunga Krisan dan mawar dari para karyawannya.


"Hei, kau bilang kau tidak suka bunga Krisan," protes Gerald, saat melihat Valerie tersenyum senang menerima bunga dari pegawainya.


"Ya, aku tidak suka karena itu pemberian darimu." 


"Kau–," terpotong oleh Nadia.


"M-maaf Tuan, saya menyela … mbak bisa minta waktunya sebentar." Nadia terlihat begitu gugup saat menghadapi Valerie.


"Kenapa, Nad?" 


Nadia menatap Gerald dan semua orang yang ada di tempat itu. Valerie mengerti apa yang dimaksud oleh sang asisten, dia pun meminta pada Nadia untuk berbicara di dalam ruangannya. 


"Sekarang katakan, ada apa Nad? Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" 


"M-mas Vano. Menitipkan ini untuk mbak." Nadia menyerahkan surat yang diberikan oleh devano pada Valerie. "Mas Vano, juga berpesan k-kalau–," ucapan Nadia terhenti, karena merasa tidak enak untuk memberitahunya.


"Kalau apa? Nad." Valerie memicingkan kedua matanya, sudah tidak sabar mendengar penuturan Nadia yang terhenti.


"M-mas Vano, bilang kalau mulai hari ini dia sudah melepaskan mbak Valerie sebagai istrinya," ujar Nadia dengan mata yang berkaca.


Valerie menjatuhkan surat tersebut, matanya terlihat membendung bulir bening yang siap untuk dijatuhkan. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.


"Mbak, mbak baik-baik ajakan?" Nadia langsung khawatir pada Valerie yang tiba-tiba mematung.


Tinggalkan aku sendiri. Pinta Valerie pada asistennya.


.


.


.


.


Bersambung.