My Dandelion'S

My Dandelion'S
Gaun pengantin



Suasana butik sedang ramai dengan pengunjung, semua karyawan terlihat sibuk melayani para pelanggan.


Sementara Valerie, yang berada di balik laptop terlihat gusar. Sesekali ia terlihat mengusap wajahnya dengan kasar, permasalahan rumah tangganya dengan Vano membuat Valerie tidak bisa fokus dalam mengerjakan semua hal.


"Issh, kenapa mas Vano tega banget lakuin hal itu ke aku!" desis Valerie mengacak-acak rambutnya.


"Kurang aku itu apa sih? Aku udah berusaha jadi istri yang sempurna buat mas Vano tapi, kenapa mas Vano tega hianatin aku seperti ini," gerutu Valerie, kini ia menelungkup kan kepala ke atas meja. Ia menarik napasnya dalam dan menghembuskan dengan kasar.


Cring...


Lonceng pintu berbunyi, ketika ada pelanggan datang memasuki butik tersebut.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Nadia, pada dua orang pria tampan dengan setelan jas hitam yang rapi.


"Di mana pemilik butik ini?" tanya Gerald dengan datar."


"Ada, silahkan duduk Tuan. Saya akan memanggilnya terlebih dulu," ucap Nadia tersenyum dengan ramah.


Nadia pergi meninggalkan kedua orang tersebut, dan memanggil Valerie yang ada di ruangannya.


Tok..tok..tok..


"Masuk," seru Valerie.


"Mbak, di luar ada pelanggan yang ingin ketemu sama mbak," ujar Nadia.


"Siapa?" tanya Valerie, mengerutkan dahinya.


"Saya enggak tahu mbak tapi, tamunya ganteng," ujar Nadia sambil terkekeh.


"Kamu, giliran yang ganteng aja senyum-senyum," timpal, Valerie meledek asistennya.


Ia pun keluar dari ruangannya untuk menghampiri pelanggan tersebut tapi, langkahnya terhenti saat ia melihat pria itu adalah orang yang sama saat ia temui di klub kemarin malam.


“Dia lagi! ngapain dia di sini?” gumam batin Valerie, ia kembali menautkan kedua alisnya.


Valerie membalikkan badan, untuk kembali ke ruangannya. Firasatnya mengatakan jika ia melayani pria itu, harinya akan bertambah semakin berat.


Namun, belum sepenuhnya ia memutar badan. Pria itu sudah memanggil dan menyuruh Valerie untuk menghampirinya.


Karena tidak ingin citra tokonya jelek, dengan terpaksa ia menghampiri pria itu dan melayaninya dengan senyuman palsu.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Valerie, memicingkan matanya.


"Wah, aku tidak menyangka jika pemilik butik ini, adalah kau Nona," seru Gerald, sebenarnya dia sudah tahu jika pemilik butik ini adalah Valerie. Ia hanya basa basi saja agar wanita yang ada di hadapannya tidak curiga jika dirinya telah melacak semua tentang Valerie.


"Sepertinya, kita di takdirkan untuk berjodoh," sambung Gerald menghampiri Valerie, membuat wanita itu mundur beberapa langkah.


Valerie hanya tersenyum, berusaha tidak terpancing dengan ucapan pria yang ada di hadapannya.


“Maaf, Tuan. Bisakah anda mundur sedikit, aku merasa tidak nyaman dan katakan apa yang sedang anda cari?”


Mendengar Valerie yang memintanya untuk mundur, Gerald hanya terkekeh dan malah semakin merapatkan tubuhnya pada Valerie.


"Bisakah kau tunjukkan beberapa gaun pengantin yang cantik Seperti dirimu, padaku?” ujar Gerald, menggoda Valerie.


Valerie mengangguk, dan tersenyum tipis.


"Sudah mau menikah, masih saja gombalin wanita lain!" gerutu batin Valerie sebal. Ia menjauh dari Gerald lalu, dia pergi mengambil koleksi gaun-gaun rancangannya.


Valerie kembali dengan membawa beberapa koleksi gaunnya yang indah.


"Silahkan, tuan. Ini adalah koleksi terbaru dari butik ini." ungkap Valerie menunjukkan koleksi gaun rancangannya.



Gerald melihat satu per satu gaun pengantin tersebut lalu, ia mengambil salah satu dari gaun dan memberikannya pada Valerie agar wanita itu mencobanya.


"Aku tidak tahu ukuran apa yang cocok untuk calon istriku. Tapi, sepertinya dia memiliki postur tubuh yang sama denganmu ... bisakah kau mencoba gaun ini untukku?" pinta Gerald pada Valerie.


"Kenapa calon istri anda tidak ikut kemari saja tuan?" timpal Valerie yang keberatan untuk menggunakan gaun itu di hadapan Gerald.


"Calon istriku sedang sibuk. Apa kau keberatan mengabulkan permintaan dari seorang pelanggan," timpal Gerald membuat Valerie tertegun.


Valerie memanggil asistennya untuk mencoba gaun yang di berikan oleh Gerald tapi, dengan cepat Gerald menolak dan tetap ingin jika Valerie yang mencoba gaun tersebut.


"Nadia!" panggil Valerie pada asistennya tapi, matanya tetap menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya.


"Ya, mbak," jawab Nadia.


Valerie mengasongkan gaun yang ada di tangannya pada Nadia.


"Maaf, Nona. Tapi, aku ingin kau yang mencobanya bukan asistenmu!" protes Gerald pada Valerie.


"Tapi, aku tidak mau!" tolak Valerie mentah-mentah.


Gerald Menarik napasnya dalam. Sepertinya wanita itu sedang menguji kesabarannya.


"Baiklah, kalau kau tidak mau. Ren, suruh awak media untuk mengulas tentang pelayanan buruk butik ini terhadap seorang pengusaha terkenal. Dan suruh juga pemilik properti untuk menutup butik ini sekarang juga!" titah, Gerald pada sekretarisnya yang kini sudah mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya.


Mendengar ancaman dari pria yang ada di hadapannya, Valerie tidak merasa takut bagi Valerie Gerald hanyalah pria gila yang sedang mengganggunya.


Sebaliknya dengan Nadia, gadis itu terlihat ketakutan saat mendengar Gerald menyuruh sekretarisnya untuk menutup butik tersebut.


"Mbak, sebaiknya mbak turuti saja kemauannya. Toh cuman coba gaun aja kan, aku nggak bisa bayangin kalau butik ini di tutup. Cicilanku masih banyak mbak," bisik Nadia pada Valerie.


"Kamu jangan khawatir, memangnya dia siapa? Berani menutup tempat ini," sahut Valerie, dengan percaya diri.


"Ish, mbak emangnya nggak tahu! Dia itu orang terkaya senegara Edelweis mbak," bisik Nadia. Sambil mengeluarkan ponselnya, dan membuka sebuah artikel mengenai aset kekayaan dari Gerald Alexander Dhanuendra.


"Nih, liat mbak. Bahkan butik ini saja berdiri di lahan miliknya," sambung Nadia.


Melihat artikel yang di perlihatkan oleh Nadia membuat nyali Valerie sedikit menciut, karena ikut khawatir jika orang itu benar-benar menutup butiknya.


"Ekhem." Gerald berdeham, menyadarkan kedua wanita yang sedang berbisik-bisik di depannya.


"Bagaimana?" tanya Gerald, menunggu Jawaban dari wanita yang ada di hadapannya.


Valerie melihat ke arah Nadia, yang terus mengangguk. Dengan perasaan kesal terpaksa Valerie mencoba gaun tersebut.


Di bantu oleh Nadia, Valerie mengenakan gaun tersebut dan keluar dari ruang ganti untuk menunjukkannya pada pria yang memaksanya itu.



"Aku tidak suka, pundakmu terlalu terbuka. Aku tidak ingin jika istriku nanti jadi bahan tontonan pria lain," protes Gerald, meminta Valerie untuk mengganti gaun yang lain.



"Terlalu ramai, Aku tidak suka! belahan dadanya pun terlalu rendah." Gerald menggelengkan kepalanya.


"CK," decak Valerie kesal, ia kembali ke ruangan ganti untuk mencoba gaun yang lain.



"Kau terlihat, pendek dengan itu! Ganti!"


Valerie, menghembuskan napasnya kesal.



"Ish, apa ini? Gaun ini membuat kedua mataku sakit, aku tidak suka!" erang Gerald, yang terus saja menolak gaun yang di gunakan oleh Valerie.


"Tuan, jika anda terus tidak suka dengan gaun yang ada di sini. Sebaiknya anda pergi dan mencari tempat lain," protes Valerie, yang sudah merasa geram dengan pelanggannya itu.


"Hei, apa kau tidak ingat jika pelanggan itu adalah raja!" sahut Gerald, membuat Valerie menghentakkan kakinya.


"Cepat ganti," titah Gerald dengan senyum jahil di wajahnya.


Valerie kembali, menuju ruang ganti. Untuk mencoba gaun, yang entah keberapa kalinya ia coba.


"Dasar pria gila! sepertinya dia sengaja mengerjaiku!" gerutu Valerie, pada asistennya.


"Sabar mbak, yang pentingkan butiknya nggak di tutup," ucap Nadia, menenangkan atasannya.


"CK, kenapa sih. Aku harus ketemu orang kayak dia, urusanku sama mas Vano aja belum kelar. Sekarang di tambah pria ini arrggh," rengek Valerie merasa frustrasi.


"Sudah mbak," ujar Nadia, yang sudah selesai membantu menutup resleting gaun Valerie.


Gerald yang duduk di ruang tunggu bersama Rendi, merasa tidak sabar untuk melihat gaun berikutnya yang akan di kenakan oleh Valerie. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Valerie keluar dari ruang ganti.


Akan tetapi, pandangan Gerald mulai teralihkan. Pada sekelompok orang dengan seragam polisi yang menerobos masuk ke dalam butik dan menangkap Valerie secara paksa.


.


.


.


Bersambung...