My Dandelion'S

My Dandelion'S
Sah



Di depan cermin rias, Valerie menatap nanar bayangan dirinya yang ada di dalam pantulan kaca.


Valerie mengenakan gaun pengantin berwarna putih, yang beberapa bulan lalu ia berikan pada Gerald secara percuma. Ia tampak meremas gaunnya tersebut, Valerie tak mengira jika dirinyalah yang akan mengenakan gaun ini.


Ia tidak habis pikir, rencana yang telah ia susun untuk membatalkan pernikahan kini telah hancur. Tidak ada siapa pun yang memihaknya sekarang, ibunya yang dia harapkan bisa menolong malah berada di pihak Gerald. Begitu juga dengan para karyawannya mereka hanya akan menuruti kemauan pria pemaksa itu dibanding dirinya.


“Mbak, cantik sekali,” puji Nadia yang membantu memakaikan hiasan di kepala Valerie.


Valerie tak bergeming, rasa kesalnya pada Nadia karena lebih memilih berlibur ke Korea dibanding menyusul dirinya masih belum hilang.


“Mbak, Tuan Gerald baik. Aku yakin dia akan membahagiakan mbak,” tutur Nadia yang duduk di depan Valerie.


“Yang baik cuman Reihan, tidak ada lagi yang lain,” ketus Valerie menahan tangisnya.


“Aku tahu, begitu syulit melupakan Reyhan apa lagi Reyhan baik. Begitu syusah cari gantinya cukup dikenang saja,” kata Nadia yang begitu menghayati lagu yang kini sedang viral di media sosial. 


“Pergilah Nad, aku mau sendiri.” 


“Mbak, ini hari pernikahan mbak. Harusnya mbak senyum jangan murung kayak gini, mbak adalah wanita yang paling beruntung di dunia sebab bisa mendapatkan Tuan Gerald yang maha kaya," kata Nadia sembari tersenyum.


“Sepertinya aku bukan beruntung tapi, sial seumur hidup. Belum menikah saja dia sudah membuatku menderita apalagi setelah menikah entah apa yang akan dia lakukan padaku mungkin nasibku akan sama dengan pria yang tempo lalu tewas di tangannya,” ujarnya dalam batin.


Ia menarik napasnya dalam, Air matanya pun seketika jatuh membasahi pipinya. Melihat bosnya menangis, Nadia langsung panik. Dia takut jika make up yang sudah terlihat sempurna itu hancur berantakan dan bila itu terjadi bisa-bisa Gerald akan memarahi dirinya. 


Nadia mencoba menghibur Valerie dan mengusap air matanya perlahan agar tidak merusak riasan wajahnya. Akan tetapi, bukannya berhenti menangis air mata itu malah mengalir semakin deras. 


Nadia semakin panik, dan tidak tahu apa yang mesti ia lakukan. Di tengah-tengah kepanikannya, beruntung Gerald masuk ke dalam ruangan tersebut dan meminta Nadia untuk meninggalkan mereka berdua.


Gerald memeluk Valerie dari belakang dan menyandarkan kepala di bahunya. “Baby, lihatlah dirimu. Kau adalah pengantin wanita paling cantik di dunia, jangan membuat kecantikan mu hancur karena air mata ini.” 


“Aku tidak mau menikah denganmu, lepaskan aku,” pinta Valerie dengan bibir yang bergetar.


Gerald sedikit menyunggingkan bibirnya. “ Jangan bermimpi kau bisa lepas dariku, sekali kau berada dalam genggamanku kamu tidak bisa lari kemanapun.”


“Tapi, aku tidak mencintaimu.” 


Gerald membalikkan tubuh Valerie ke hadapannya, ia merapikan rambut calon istrinya perlahan. “Aku sudah mengatakannya berulang kali, aku tidak peduli kau mencintaiku atau tidak ... aku sudah cukup sabar menghadapi penolakan mu  jangan sampai membuatku bertindak kasar kali ini.” 


Valerie tersenyum kecut. “Apa yang akan kau lakukan? Kau akan membunuhku?” Valerie menatap nanar Gerald. “Aku tidak takut, lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan pria jahat sepertimu.”


“Berhenti untuk mengajakku berdebat, rapikan  wajahmu acaranya sebentar lagi akan dimulai,” ujar Gerald ia mencoba untuk tidak terpancing oleh emosi Valerie.


“Sudah aku katakan, aku tidak mau menikah dengan seorang pembunuh!” teriak Valerie membuat Gerald menghentikan langkah kakinya.


Gerald kembali menghampiri Valerie, tangannya terkepal dengan erat ia menatap Valerie tajam.


“Kenapa? Kau tidak terima karena aku menghinamu? Kau mau menamparku, mau membunuhku ... cepat lakukan! Keluarkan pistol mu lebih cepat aku mati, akan lebih baik dibanding harus menghabiskan sisa hidupku bersama orang keji sepertimu!” hardik Valerie pada Gerald. “Kau selalu memaksa dan mengancam ku, kau tidak pernah menanyakan apa aku suka atau tidak? aku nyaman atau tidak? Kau tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali, kau telah menghancurkan pekerjaan dan juga liburanku yang selama ini aku impikan. Di saat aku sakit kau memang merawat ku tapi, dibalik itu semua kau telah mendapatkan balasan yang setimpal dariku. Kau selalu mencium dan menyentuh tanpa seijin ku! dan aku rasa kita impas ... Aku tidak punya hutang budi apapun lagi padamu, dan masalah butik ... silahkan kau ambil saja, aku tidak akan peduli lagi,” lirih Valerie memalingkan wajahnya dari Gerald.


“Jangan membuang tenaga mu untuk berbicara omong kosong, cepat bereskan semuanya sebelum aku menyeret mu keluar secara paksa,” tutur Gerald yang seolah tak peduli dengan ucapan Valerie. 


Melihat reaksi Gerald yang seperti itu, Valerie semakin kesal dan marah. Begitu Gerald berbalik, tangan Valerie menyambar sebuah vas bunga yang terbuat dari keramik dan dilemparkannya ke arah Gerald.  


Prank ...


Vas bunga itu mengenai punggung Gerald dan pecah. Marah? Tentu saja, ia kembali menghampiri Valerie. Tangannya sudah terangkat hendak menampar, manik mata Gerald bergetar dipenuhi oleh emosi. 


Valerie berontak dan mendorong Gerald akan tetapi, semakin Valerie berontak maka Gerald semakin merangseknya dan memperdalam c*iumannya tersebut seakan Gerald tak membiarkannya untuk bernapas.


Beberapa detik kemudian, Valerie sudah mulai terlihat kehabisan napas. Gerald melepaskan Tautan itu dan membiarkan Valerie untuk menghirup oksigen.


"Dasar brengsek!" umpat Valerie geram.


Gerald memegang erat kedua bahu Valerie dan mengetatkan giginya. “Dengar! aku bukan tipe pria yang suka memukul wanita tapi, jika kau terus menguji kesabaran ku aku bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini!” 


“Nadia!” teriak Gerald memanggil asisten Valerie.


Mendengar teriakan Gerald, Nadia yang sejak dari tadi berdiri di depan pintu langsung menghampiri Gerald dengan perasaan takut.


“Urus dia,” titahnya yang hendak pergi tapi, lagi-lagi Valerie menghentikan langkahnya.


“Aku tidak bisa punya anak, apa kau masih akan menikahiku?” ucap Valerie sembari menatap punggung Gerald.


Gerald terdiam beberapa saat. “Aku akan menunggu dalam waktu 5 menit,” pungkasnya kemudian ia pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan kesal.


Lima menit kemudian, Valerie dan Gerald kini sudah berada di depan penghulu dan bersiap untuk melakukan ijab kabul. Dengan wajah yang sembab, Valerie terus tertunduk karena tidak ingin membuat ibunya khawatir pada keadaannya yang saat ini begitu kacau. 


"Bisa kita mulai acara ijab Kabul nya?" tanya penghulu pada kedua mempelai.


"Sudah, Pak," jawab Gerald. Ia menoleh pada Valerie dan menyentuh lengannya namun, ditepis oleh Valerie.


Penghulu pun mengangguk dan memegang tangan Gerald. "Wahai saudara Gerald Alexander Dhanuendra bin Dhanuendra, saya nikahkan dan kawinkan Valerie Laruna Rajasa, putri dari almarhum Hartawan Rajasa yang mana beliau telah memberikan wali hakimnya pada saya, binti Hartawan rajasa kepadamu dengan mas kawinnya seratus ribu dollar  dibayar tunai.”


"Saya terima nikah dan kawinnya Valerie Laruna Rajasa binti Hartawan Rajasa dengan mas kawin seratus ribu dollar di bayar tunai," sebuah janji suci itu berhasil diucapkan oleh Gerald dalam satu tarikan napas, suaranya begitu lantang dan menggema di ruangan aula hotel tersebut.


Air mata Valerie kembali berderai, sekarang dirinya telah resmi menjadi istri dari Gerald. Kini ia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang harus memaksanya menyerahkan seluruh hidupnya bersama pria yang tidak ia cintai, malah sekarang Valerie sangat membenci suaminya itu.


"Bagaimana para saksi sah?" 


"Sah."


Jawab para saksi yang hanya terdiri dari, Sarah, Rendi dan para karyawan butik saja.


"Alhamdulillah." 


Semuanya pun memanjatkan doa pada Sang maha kuasa. Acara ijab kabul telah selesai, penghulu meminta pada Valerie untuk mencium tangan suami barunya. Tapi, Valerie menolak. Ia hanya diam dan mengepalkan tangannya erat.


Sarah yang mengerti akan kondisi putrinya, membantu mengulurkan tangan Valerie pada Gerald. Dengan penuh keterpaksaan dia pun mencium tangan Gerald dalam waktu singkat.


Gerald tersenyum penuh kemenangan, karena pada akhirnya ia bisa menikahi pujaan hatinya meskipun harus dengan banyak ancaman dan perseteruan sebelum menghalalkan wanita yang kini menjadi istrinya itu.


"Selamat ya, Sayang akhirnya kamu menikah juga dengan Gerald, kamu harus jadi istri yang baik buat suami kamu," ucap Sarah yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahan putrinya yang dipenuhi oleh rasa benci sang putri. "Nak, Gerald. Mama titip anak Mama satu-satunya ya, jangan membuatnya kecewa. Jika Valerie membuatmu marah atau kesal, kamu harap memakluminya dan jangan pernah mengangkat tangan kamu di hadapannya. Bahagiakan dia dan cintai dia seperti kamu mencintai diri kamu sendiri," lirih Sarah memberikan nasehat pada menantunya tersebut. Ia telah mempercayakan putrinya pada Gerald sepenuhnya, Sarah juga menyimpan banyak harapan pada menantunya itu agar bisa menjaga putrinya dengan baik. 


Gerald mengangguk, ia mencium dan memeluk ibu mertuanya cukup lama. Ia juga meminta restu agar rumah tangganya selalu diberkahi oleh karunia Tuhan dan langgeng sampai mereka tutup usia. 


Disaat Gerald tengah menikmati keharuan bersama sang mertua, Rendi menghampiri Gerald membisikan sesuatu di telinganya. Wajahnya langsung berubah menjadi serius saat mendengar kabar dari Rendi. 


Bersambung….