
"Shǎguā! Kau belum menjawab pertanyaanku … bukankah aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat di rumah. Kenapa kau malah berkencan dengan wanita lain?" Dengus Valerie kesal.
"Siapa yang sedang berkencan? Bukankah kau yang sedang berkencan dengan client mu itu," timpal Gerald tak kalah kesal.
"Astaga! Bukankah aku sudah bilang tadi aku bertemu client, untuk membahas pekerjaan." Valerie membela diri.
Gerald tersenyum kecut mendengar penjelasan Valeri. " Ck, mana ada membahas pekerjaan sambil senyum-senyum seperti itu … dan lihat aku sudah menyuruhmu untuk tidak menutupi stempel kepemilikan ku kenapa kau menutupinya? Bibirmu juga, aku sudah menghapusnya kenapa dipoles lagi. Kau mau menggoda pria lain," cerocos Gerald berbicara tanpa henti.
"Shǎguā!" teriak Valerie menghentikan ocehan Gerald yang membuat mereka jadi pusat perhatian orang-orang.
Gerald langsung terdiam, ketika mendengar istrinya berteriak.
"Berikan kunci mobilmu," pinta Gerald dengan wajah datarnya.
"Untuk apa?" ketus Valerie, yang masih kesal pada suaminya itu.
"Ikut pulang denganku."
"Tidak mau! Aku banyak pekerjaan yang harus di kerjaan di butik," tolak Valerie tegas.
"Ya sudah, aku ikut."
"Kau menjemput wanita itu dengan mobilmu kan? Kenapa tidak menyetir sendiri saja," sindir Valerie.
"Baby, berikan kunci mobilnya atau kau mau aku menciummu di sini?"
Valerie berdecak kesal, daripada ditangkap polisi karena berbuat tidak senonoh di tempat umum. Ia pun mengalah dan menyerahkan kunci mobilnya pada Gerald.
"Dengar! Mulai hari ini kau tidak boleh berhias berlebihan, kau hanya boleh terlihat cantik di depanku saja! Aku tidak mau mendengar penolakan," tutur Gerald yang sedang dirundung rasa cemburu.
"Aku tidak boleh berhias, sedangkan kau selalu tebar pesona pada wanita lain," timpal Valerie mendelik.
"Aku tidak tebar pesona, aku memang sudah tampan sejak lahir dan bukan hal aneh lagi jika wanita mendekatiku."
"Benarkah? Kenapa kau tidak menikahi mereka saja yang akan memujamu dalam hidupnya."
Gerald tiba-tiba tersenyum saat melihat ekspresi istrinya yang cemberut saat membahas wanita yang mendekatinya. "Baby, kau cemburu?" tanya Gerald penasaran.
Valerie tersenyum kecut. "Aku tidak mencintaimu, kenapa aku mesti cemburu," tutur Valerie.
"Kau yakin?"
Valerie memalingkan wajahnya, sebenarnya ia juga tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Dibilang cinta tidak, dibilang benci pun juga kini tidak terlalu. Akan tetapi, semenjak kedua pelayan wanita itu membicarakan ingin memiliki Gerald hati Valerie jadi merasa takut jika suaminya akan direbut oleh wanita lain. Apalagi wanita itu rela berbuat apapun demi memiliki Gerald.
Perasaan takut akan masa lalunya yang terulang, terus menghantui Valerie. Ia pun kini mulai berpikir meskipun, ia tidak mencintai suaminya tapi, ia tidak mau jika sampai pria yang telah menikahinya secara paksa itu diambil oleh orang lain lagi.
Jika dulu ia mengalah pada pelakor, sekarang dia lebih memilih untuk bersaing dan mempertahankan miliknya. Sehingga kini dia mau memperlakukan Gerald layaknya seorang suami yang sedang dia cintai.
Sebuah senyum terukir di wajah Gerald, kala ia melihat istrinya yang terdiam setelah diberi pertanyaan olehnya.
"Baiklah, lupakan saja … aku akan menunggu sampai kau mengakui sendiri kalau kau sudah mencintaiku," tutur Gerald, yang seolah sudah tahu isi hati sang istri.
Valerie tersenyum kecut. "Aku rasa tidak akan pernah."
"Aku percaya." Gerald menganggukkan kepalanya pelan, dan kembali fokus pada jalanan.
Usai berdebat, suasana mobil pun berubah menjadi hening. Hanya ada suara deru mesin dan klakson dari kendaraan lain yang terdengar.
Saat di lampu merah, Gerald menoleh pada istrinya yang sedang menatap kendaraan lain di depannya.
Gerald menyentuh tangan istrinya."Baby, percayalah aku tidak kenal siapa wanita itu. Aku ke restoran untuk mengawasimu tapi, tiba-tiba dia datang, dan menyentuhku. Aku hanya menepis tangannya pelan. Tapi, dia malah jatuh seolah aku yang mendorongnya." Gerald menjelaskan kejadian tadi pada istrinya meskipun, tidak akan didengar setidaknya dia sudah memberitahu kebenaran yang telah terjadi.
Valerie diam sejenak, dan mencerna penuturan suaminya. Ia percaya suaminya tidak akan berbuat kasar pada wanita manapun, ia juga sering mendengar jika banyak wanita yang mendekati dan ingin menjadi istri dari suaminya tersebut.
Akan tetapi, melihat wanita itu yang jatuh, ia rasa tidak mungkin jika Gerald hanya menepis tangannya saja sampai membuat tangan wanita tersebut patah. Kecuali jika Gerald menggunakan tenaga dalam baru masuk akal.
Namun, Valerie juga berpikir tidak mungkin wanita itu berbohong dan menyakiti dirinya sendiri sampai seperti itu.
Awalnya ia curiga jika Gerald memang mendorongnya, secara ia masih ingat jika suaminya pernah membunuh seseorang tanpa rasa dosa. Jadi bukan hal yang tidak mungkin kalau Gerald tidak melakukannya.
Valerie kini larut dalam pikirannya sendiri, apakah wanita itu sengaja ingin menjebak suaminya? Ia kembali teringat pada ucapan kedua pelayan yang bekerja di rumah suaminya. Mereka rela memberikan kesuciannya pada Gerald meskipun tanpa dinikahi, sekarang Valerie paham tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Demi memenuhi ambisinya mereka rela melakukan apapun bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri seperti halnya wanita tadi.
"Eh, Shǎguā … sepertinya aku pernah melihat wanita itu tapi, dimana ya? Wajahnya seperti tidak asing," ujar Valerie sembari mengingat-ingat wajah wanita tadi yang ia lihat bersama suaminya.
Setelah tahu siapa wanita itu, Valerie sekarang lebih percaya pada suaminya yang tidak akan bertindak kasar pada wanita meskipun, dia tidak menyukainya.
"Aku tidak ingat namanya siapa? Terakhir kali aku lihat dia sedang berseteru dengan seorang YouTuber … Shǎguā, aku khawatir dia akan mengangkat kejadian ini ke media dan menuntutmu. Citramu bisa hancur nanti," tutur Valerie menatap Gerald khawatir.
Gerald mengusap kepala istrinya mesra. "Tenang saja, di restoran ada cctv dan aku sudah mengamankannya," ucap Gerald yang sudah paham dengan sifat wanita yang selalu mengejarnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Jadi jika dia menuntutmu dengan tuduhan yang tidak-tidak, kau sudah punya bukti kuat untuk melawannya," ujar Valerie yang tak lagi khawatir citra suaminya sebagai pengusaha hancur.
Gerald kembali tersenyum pada Valerie. "Kau tahu baby meskipun, kau tak mengakui perasaanmu. Tapi, aku bisa melihatnya dari sorot matamu jika kau mulai jatuh cinta padaku," bisik Gerald dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
Butik Dandelion's.
Valerie yang baru pulang meeting, menyapa para karyawan yang sedang bekerja, dan ia langsung berjalan menuju ruangannya bersama Gerald yang mengekor di belakangnya.
Ia duduk di kursi kerjanya, dan memeriksa kembali desain seragam yang telah ia gambar tadi saat di restoran. Ia menelepon bagian produksi, dan menanyakan berapa lama jika membuat seragam dalam jumlah yang banyak.
Setelah mengetahui jawabannya, Valerie menutup panggilan telepon tersebut dan mulai berpikir. Jika menambah karyawan bagian produksi, maka ia juga membutuhkan tempat baru yang cukup luas agar bisa menampung mesin jahit dan beberapa karyawan tambahan dan biayanya pasti akan cukup mahal.
Belum sewa tempat yang lebih luas, belum lagi membeli mesin-mesin yang akan digunakan dan otomatis tagihan listrik pun akan ikut membengkak.
Valerie menyandarkan punggungnya pada kursi dan menatap langit-langit sambil mendesah. "Hah, aku pikir dengan mengambil orderan yang banyak akan terasa mudah dan menguntungkan, ternyata cukup repot juga," gumamnya dalam hati.
Melihat istrinya yang lelah, Gerald menghampirinya dan memijat pundak sang istri penuh cinta. "Baby, kau yakin ingin mengambil proyek ini? Maksudku bukan tidak mendukung tapi, kau tahu sendiri kan kapasitasmu seperti apa? Kau hanya ahli dalam membuat pakaian wanita dewasa."
"Entahlah, jika aku membatalkannya aku juga kasihan pada Sean. Kalau harus mencari tempat lain, dengan budget yang cukup mahal karena ingin bahan bagus."
"Kenapa mesti kasihan? Bukankah itu wajar, dimana ada kualitas maka ada harga yang harus dibayar … lagian clientmu aneh, kenapa dia tidak pesan pada konveksi saja yang sudah jelas tempat pembuatannya. Kenapa malah ke butik, pasti dia merencanakan sesuatu," kata Gerald yang sudah berpikiran jelek pada pelanggan istrinya itu.
"Apa sih, mikirnya jelek terus … dia pesan ke butik karena ingin anak-anak panti asuhannya merasakan memakai seragam bagus buatan seorang designer, Sean udah coba ke semua butik dan mereka menolak. Hanya aku yang mau menerimanya dengan harga lumayan murah," jelasnya. Kedua mata Valerie terpejam menikmati pijatan tangan suaminya yang pas.
"Hanya saja, untuk membuat seragam sebanyak itu aku harus memperluas butik ku dan menambah mesin-mesin. Tabunganku belum cukup untuk itu semua," lanjut Valerie sembari menghembuskan napasnya kasar.
"Baby, apa mahar dari ku kurang banyak?"
Valerie menatap wajah Gerald. "Memangnya boleh aku gunakan, untuk butik?"
Gerald menghentikan kegiatan memijatnya dan kini berpindah duduk di depan meja. "Itu hakmu kau boleh menggunakannya untuk apapun, jika kurang kau bilang saja padaku aku pasti akan membantu. Dan masalah kain, ikutlah bersamaku besok untuk kunjungan industri ke pabrik."
"Shǎguā, kau serius?"
"Hem." Gerald mengangguk.
"Terima Kasih, Shǎguā." Valerie refleks memeluk suaminya, karena merasa sangat terbantu dengan solusi Gerald.
"Jangan senang dulu, ada syaratnya," sambung Gerald.
Valerie melepas pelukan itu. "Seharusnya, aku tahu. Dimana kau berbaik hati pasti akan meminta imbalan," ketusnya mendelik.
Gerald terkekeh. "Tidak ada yang gratis di dunia ini, Baby." Gerald mencubit pipi sang istri mesra.
"Baiklah, apa itu?"
"Jika proyek ini telah selesai, fokuslah kembali pada pekerjaan awalmu jangan pernah mengambil proyek besar seperti ini lagi."
Valerie mengangguk.
"Istri pintar, oh ya satu lagi. Nanti malam pakai baju dinas, aku sudah tidak sabar ingin bercumbu denganmu sejak kita menikah aku belum pernah melakukan tugasku sebagai seorang suami," keluh Gerald yang sudah tidak sabar ingin melepaskan keperjakaannya.
"Baiklah, karena kau sudah membantu. Aku akan nurut kali ini, aku akan melayanimu sampai puas," pungkas Valerie seraya membalas senyuman suaminya.
.
.
.
.
Bersambung.