
Sore hari, Gerald yang baru pulang dari kantor langsung memanggil istrinya dari lantai bawah. Karena ia melihat mobil istrinya sudah berada di garasi.
Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang televisi, sambil melonggarkan dasinya. "Baby," teriaknya lagi. Ia memejamkan kedua matanya dan menyandarkan kepala ke kursi.
"Bab–," terpotong oleh Valerie yang menyahut.
"Apa sih, teriak-teriak," sahut Valerie yang rupanya sejak dari tadi istrinya berada di sofa sebelahnya.
Gerald terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba berada di sofa dengan setoples keripik ungu ditangannya. Saking lelahnya dengan pekerjaan, sampai-sampai ia tidak sadar dengan keberadaan istrinya.
"Baby, sejak kapan kau disini?"
"Sejak dua jam yang lalu," jawab Valerie sinis.
Gerald membulatkan matanya. "Kenapa kau tidak menyambutku pulang, jika kau ada disini dua jam yang lalu?"
"Shǎguā–"
"No no. Kau tidak boleh memanggilku itu lagi." Gerald menyambar ucapan Valerie.
Valerie mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
"Aku sudah tahu artinya, jadi selama ini kau menyebutku bodoh." Gerald menghampiri istrinya.
Valerie menahan senyumnya. "Jadi kau sudah tahu artinya, tapi romantiskan," Valerie terkekeh.
Gerald mencubit pipi istrinya gemas. "Berani sekali kau tertawa saat aku marah, hem."
"Ampun-ampun, sakit tahu," rengek Valerie menyentuh pipinya yang merah.
Melihat mata istrinya berkaca-kaca, Gerald langsung mengusap pipi Valerie dan meminta maaf karena sudah mencubitnya.
"Sini aku cium, biar sakitnya hilang," ucap Gerald mencari kesempatan.
"Tidak mau," ketus Valerie.
"Baby, ayolah jangan marah. Aku hanya bercanda," lirih Gerald.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi aku akan terus memanggilmu Shǎguā."
"Tidak masalah, selagi itu membuatmu bahagia … hanya kau yang berani menyebutku bodoh," tutur Gerald.
Valerie tersenyum dan kembali memakan keripik yang tadi sempat tertunda akibat Gerald.
"Oh iya, Baby … aku sudah menyiapkan supir untukmu," sambung Gerald yang kini duduk berhimpitan dengan istrinya.
Valerie langsung menoleh pada Gerald. "Apa! Sopir?"
"Iya, jadi kau tidak perlu capek lagi menyetir. Kau hanya perlu duduk manis di belakang dan menyuruhnya mengantarmu kemanapun kau mau."
"Shǎguā, bukankah kau sudah janji tidak akan bersikap berlebihan lagi," rengek Valerie yang enggan diberikan sopir.
"Iya, tapikan itu kemarin sekarang beda lagi, mau tidak mau kau harus menerimanya. Aku mandi dulu," sebelum dirinya beranjak, Gerald mencium pipi sang istri terlebih dulu.
Melihat suaminya sudah berjalan cukup jauh, ia memukul dan menendang udara. "His, benar-benar menyebalkan. Baru juga kemarin berjanji sekarang sudah mengingkari, aku membencimu Gerald Alexander Dhanuendra," umpat Valerie yang tentunya hanya dalam hati.
Untuk mengumpat secara terang-terangan, ia masih belum cukup berani. Ia takut jika Gerald akan murka dan semakin mengekangnya.
Pada malam hari, Gerald yang sudah cukup lama berpuasa karena istrinya harus beristirahat setelah operasi, mendekati Valerie untuk melampiaskan rasa rindunya.
Valerie yang masih kesal dengan Gerald, memunggunginya dan mengabaikan suaminya yang terlihat sudah ingin menyiram sawah.
"Baby, aku merindukanmu," bisik Gerald.
Hembusan panas dari napas Gerald, membuat Valerie mulai meremang. Tapi karena masih marah, ia menahannya dan tidak akan tergoda oleh Gerald yang terus merapatkan tubuhnya pada Valerie, sehingga wanita itu dapat merasakan sesuatu yang keras menyentuh bokongnya.
Valerie bergeser dan menjauh dari Gerald, tapi suaminya terus menempel dan mengunci tubuhnya dengan tangan dan juga kaki.
"Lepaskan aku," ucap Valerie tak mau diam.
"Aku akan melepaskanmu, setelah kau memanjakan rudalku." Gerald tersenyum mesum.
Mendapat penolakan dari istrinya, Gerald langsung mengeluarkan dalilnya pada sang istri. "Baby, kau tidak ingat menolak keinginan suami itu berdosa. Kau mau masuk neraka, hem."
Wanita yang masih berada dalam dekapan suaminya itu terlihat mulai frustasi, dan mau tidak mau ia pun melayani suaminya dengan syarat.
"Baiklah, tapi kau tidak boleh memberiku sopir."
"Aku akan memikirkannya besok," ucap Gerald tersenyum licik. Meskipun Valerie terlihat kesal ia tidak peduli, Gerald terus menyerang istrinya sampai Valerie menyerah.
🌸🌸🌸🌸
Keesokan paginya.
Saat sedang menikmati sarapan, Rendi datang bersama seorang wanita berambut pendek berusia sekitar 21 tahun.
Valerie pikir wanita itu adalah rekan kerja suaminya namun, setelah Rendi menjelaskan jika wanita itu yang akan menjadi supir pribadinya, Valerie langsung tersedak.
Satu rumah pun dibuat gempar oleh Valerie yang tersedak oleh secuil roti yang tadi dimakannya.
"Baby, cepat minum air." Gerald buru-buru memberikan Valerie segelas air putih. "Cepat singkirkan roti ini … ganti sarapan dengan yang lebih lembut agar mudah ditelan," titah Gerald heboh.
"Tuan, aku akan menghubungi dokter Reza." Rendi mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
Mengamati kehebohan yang terjadi di rumah calon bosnya, wanita berambut pendek itu hanya bisa menyimak dengan heran. Padahal hanya tersedak tapi, hebohnya udah kayak emak-emak yang lagi rebutan diskon.
Beberapa menit berlalu, acara tersedak pun akhirnya telah usai. Valerie yang merasa lelah karena terus batuk tanpa henti, mengontrol kembali napasnya agar berjalan dengan normal.
"Baby, kau baik-baik saja?" Gerald mengusap punggung istrinya khawatir.
Valerie mengangguk. "Aku tidak apa-apa," jawab Valerie ia hendak meraih gelas yang ada di hadapannya dan lagi Gerald mendahuluinya kemudian membantunya untuk minum.
"Pelan-pelan jangan sampai tersedak lagi … Rendi dimana dokter Reza? Kenapa dia masih belum sampai juga," ucap Gerald tidak sabar.
"Dokter Reza? Shǎguā kau memanggilnya kemari? Jangan bilang kau menghubunginya gara-gara aku tersedak?" kata Valerie menerka.
"Baby, tersedak itu bahaya. Bisa menghilangkan nyawa dan aku tidak mau sampai kau kenapa-kenapa," tutur Gerald cemas.
Valerie mengusap wajahnya kasar. "Astaga! Ya Tuhan manusia macam apa yang kau berikan padaku," rengeknya dalam batin.
Dan tak berselang lama, dokter Reza pun datang dengan keringat yang mengucur di dahinya karena berlari. Dokter Reza tahu, jika Gerald sangat mencintai istrinya sehingga ia tidak boleh terlambat dalam menanganinya.
"Maafkan saya Tuan, jalanan macet jadi saya terlambat," ujar dokter Reza ngos-ngosan.
"Alasan basi, seharusnya kau bisa datang lebih cepat lagi dari sebelumnya," dengus Gerald sebal. "Cepat periksa istriku," titahnya.
Dokter Reza pun mulai memeriksa keadaan Valerie, walau Valerie sudah menolaknya berkali-kali tapi Gerald terus memaksa agar Valerie mau diam dan menurut perintahnya.
"Sekretaris Rendi, kenapa suasana berubah jadi tegang?" bisik wanita yang bernama Riska.
"Apa kau tidak lihat? Nyonya tersedak dan kau masih bertanya," timpal Rendi.
"Astaga, itu hanya tersedak sekretaris Rendi kenapa mesti memanggil dokter."
"Coba kau bilang seperti itu di hadapan Tuan, kau pasti akan langsung dipecat sebelum diterima bekerja."
Glek..
Riska langsung menelan ludahnya kasar, seketika bulu-bulunya ikut merinding, saat mendengar pernyataan Rendi. Bahwa dirinya akan dipecat sebelum bekerja, Riska jadi paham akan tugasnya. Selain jadi supir dia juga harus menjaga istri bosnya sebaik mungkin, bahkan Rendi mengatakan nyawanya tidak lebih berharga dari nyawa istri bosnya itu.
.
.
.
Bersambung.