My Dandelion'S

My Dandelion'S
mencari orang



"Lah, kenapa dia pingsan? Padahal aku hanya ingin menolongnya," gumam Fero, yang tidak sadar masih mengenakan kostum barong. Ia memindai pakaian lalu, menepuk jidatnya sendiri.


"Ck, pantas saja dia pingsan. Aku lupa mengganti pakaian setelah dari pentas seni." Fero membuka kostumnya, dan membawa Valerie ke rumahnya. 


"Bi, tolong siapkan kamar tamu," teriak Fero sambil menggendong Valerie.


"Ini siapa, Tuan?" tanya asisten rumah tangga Fero.


"Nanti saja nanyanya, ini berat." 


"B-baik, Tuan." wanita paruh baya itu bergegas, membuka pintu kamar tamu dan menyusun bantal untuk tamu majikannya.


Fero membaringkan Valerie dengan hati-hati. Ia menatap wajah asing milik wanita yang baru saja ditolongnya. 


"Sepertinya, dia bukan orang sini? Pasti dia wisatawan yang tersesat." ucap Fero yang duduk di tepi ranjang. 


"Kenapa dia pingsan, Tuan?" 


"Dia melihatku, mengenakan kostum barong jadi dia pingsan," jawab Fero. "Tolong siapkan air hangat, aku mau mandi." 


"Baik Tuan." Asisten rumah tangga itu bergegas pergi untuk menyiapkan air hangat.


Fero menatap Valerie, ia melihat kelopak mata wanita itu bergerak-gerak. 


"Anda, sudah bangun." Fero bangkit dari duduknya.


"Dimana aku?" Valerie menyebarkan pandangannya, dan bangkit dari tidurnya menjadi duduk.


"Anda, di rumah saya … tadi saya menemukan anda pingsan di ujung jalan sana," ucap Fero tersenyum memamerkan deretan giginya. 


"Pingsan?" Valerie mengingat-ingat kejadian sebelumnya.


Fero mengangguk.


"Ah, iya tadi saya melihat hantu ingin menangkap saya." 


"H-hantu?"


Valerie mengangguk. 


Fero terkekeh gugup. "M-mungkin anda salah lihat," ujar Fero . "Bisa-bisanya pria tampan sepertiku disebut hantu," gerutu Fero dalam hati.


"Sepertinya begitu, mungkin karena kelelahan setelah sekian lama berputar di tempat yang sama. Saya jadi halusinasi … oh iya terimakasih karena sudah menolong saya, Tuan." 


"Jangan panggil saya Tuan, panggil saja Fero." 


"B-baiklah, Fero." 


"Nama kamu?" 


"Valerie, Tu–, maksud saya Fero." 


"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Fero, membuat Valerie tersipu.


"Oh iya, Mas. Saya pamit dulu, saya harus segera pulang, sekali lagi terimakasih." Valerie turun dari ranjangnya untuk segera pergi.


"Tapi, Nona. Ini sudah malam, sebaiknya kamu menginap saja disini besok saya akan mengantar anda pulang." 


"Tidak usah, Mas. Saya tidak mau merepotkan." 


"Santai saja, lagi pula kamarnya kosong … beristirahatlah jika perlu sesuatu panggil saja Bi Kashi, saya mau membersihkan diri dulu," kata Fero tersenyum.


Valerie kembali mengangguk, dan mengucapkan terima kasih pada pria yang telah menolongnya. 


"Apa tidak apa-apa, jika aku bermalam disini? Kalau Tuan Gerald tahu aku tidak pulang, dia pasti marah besar padaku. Tapi, ah sudahlah bukankah itu hal bagus. Dia marah lalu, berubah pikiran dan tidak mau menikah denganku. Aku bisa bebas." Valerie berubah menjadi senang saat memikirkan dirinya tidak jadi bersanding dengan pria pemaksa seperti Gerald. 


🌼🌼🌼🌼


Keesokan harinya. 


Fero mengantarkan Valerie ke hotel tempat, Valerie menginap. Karena dirinya sedang terburu-buru, jadi Fero hanya mengantar Valerie sampai depan hotel saja. 


Sebelum masuk ke hotel, Valerie menarik napasnya dalam. Menyiapkan mental dan berdoa semoga Gerald tidak ada di kamarnya. 


Valerie menunggu pintu lift terbuka, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Gerald yang sudah berada di dalam lift bersama Rendi. 


Ia menelan ludahnya kasar, dan hendak berbalik. Tapi, Gerald menghentikan langkah kakinya. Valerie tertunduk tak berani menatap wajah Gerald yang sudah terlihat marah.


"Masih berani kau untuk pulang," dengus Gerald dengan wajah datarnya. 


"M-maaf, Tuan a-aku–," ucapan Valerie terhenti karena Gerald langsung pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun lagi padanya. 


"Permisi, Nona," ucap Rendi yang melewati dirinya.


"Sekretaris Rendi." 


"Ya, ada apa Nona?" 


"Anda bisa menggunakan, credit card itu sesuka hati anda Nona dan tidak perlu dikembalikan." 


"Benarkah?" Valerie mengangkat kedua alisnya keatas. 


Rendi mengangguk, "Oh, ya Nona. Kemarin anda pergi kemana? Tuan mencari anda seharian, sampai tuan tidak tidur karena memikirkan Nona," tutur Rendi sebelum pergi.


"A-aku tersesat, saat akan pulang." 


"Tersesat? Kenapa anda tidak menelpon."


"Aku sudah menelpon Tuan mu berkali-kali tapi, nomornya susah untuk dihubungi. Lagipula kenapa kalian hanya menyimpan satu nomor saja di ponsel itu," cerocos Valerie kesal.


Rendi tertegun, dan merasa bersalah. Ia tidak ingat jika bosnya yang meminta untuk memasukan nomornya saja ke dalam ponsel Valerie. Dan ia juga ingat, jika ponsel bosnya telah hancur karena jadi sasaran amarah tuannya. 


"E- lalu, kenapa ponsel anda tidak bisa dilacak?" 


"Ponselku habis baterai, dan mati." 


"Oh, baiklah selamat beristirahat nona. Saya pamit dulu," pamit Rendi meninggalkan Valerie yang masih berdiri di depan lift. 


"Dasar, tidak jelas … bisanya cuman menyalahkan ku saja," omel Valerie yang kemudian masuk ke dalam lift.


🌼🌼🌼🌼


Perusahaan sinar paratex. 


Semua karyawan menyambut kedatangan bos besar, yang begitu mendadak. Semua berbaris dengan rapi dan tidak ada yang berani menatap pria yang sedang terlihat marah itu. 


"Dimana, Fero?" tanya Gerald dingin. 


"D-di ruangannya, Tuan besar," jawab seorang sekretaris wanita.


Gerald langsung menghampiri Fero yang sedang ada di ruangannya, seperti yang dikatakan oleh sekretaris tadi. Gerald melihat Fero sedang menatap ponselnya sambil tersenyum, dia berdehem membuat Fero tersadar akan kehadirannya. 


"Tuan Gerald … angin apa yang membawa anda kemari," ucap Fero menghampiri dan memeluk Gerald hangat.


"Aku tidak butuh basa basi." Gerald masuk ke ruangan Fero sebelum dipersilahkan. 


Fero mengerutkan dahinya, melihat Gerald yang ketus. Ia memang paham watak sahabatnya tapi, kali ini seperti ada yang berbeda. 


"Apa dia sudah tahu, dengan permasalahan ini?" gumam Fero dalam hati. 


Fero menuangkan dua gelas air putih untuk Gerald juga Rendi. "Minumlah dulu, aku tidak tahu kalian akan datang jadi aku tidak punya persiapan apapun," kata Fero sedikit terkekeh. 


Gerald duduk di kursi kebesaran Fero, menatap Fero tanpa ekspresi. "Apa yang terjadi pada perusahaan?" 


"Hanya masalah kecil, aku sedang mencari jalan keluarnya," jawab Fero enteng.


"Masalah kecil? Data perusahaan bocor kau bilang masalah kecil?" Gerald mengetatkan giginya dan menatap tajam Fero yang mulai terlihat gugup. 


"B-bukan begitu maksudku." 


"Aku sudah menganggapmu, sebagai saudaraku sendiri … apa ini balasan darimu, mencoba menghancurkanku dengan membocorkan data perusahaan." 


Fero terperangah mendengar pernyataan Gerald yang terkesan menuduhnya sebagai pelaku dari bocornya data. "Aku tidak melakukan itu, bahkan aku saja baru tahu beberapa hari ini jika data-data bocor." 


"Kau baru tahu beberapa hari ini? Apa saja kerjamu selama ini, hah?" sentak Gerald marah. 


Fero tertunduk, tak berani menjawab. 


"Apa perlu aku, menurunkan jabatan mu menjadi karyawan biasa." 


"Tidak, jangan lakukan itu, Tuan. Aku mengaku salah karena sudah lalai." 


"Aku beri kau kesempatan satu kali lagi, temukan siapa yang telah menyuruh Hendra membocorkan data," titah Gerald pada Fero..


"Hendra? Jadi dia yang sudah membocorkan data perusahaan … kurang ajar aku harus memberinya pelajaran!" Fero mengepalkan tangannya erat. 


"Kau tidak perlu repot, Hendra telah tewas dan sebelum dia mati … dia mengatakan jika kau yang menyuruhnya." 


"Apa! Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menyuruhnya untuk melakukan itu." 


"Aku tahu, kau tidak mungkin melakukannya. Maka untuk itu sebagai, hukuman atas kesalahanmu cari siapa orang itu dan bawa ke hadapanku mati maupun hidup. Jika kau gagal aku akan memberikan jabatan mu kepada orang lain." Gerald bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Fero. 


Fero menatap punggung Gerald yang kini hilang di balik pintu, ia tampak berpikir siapa dan kemana dirinya harus mencari orang yang telah menyuruh Hendra. Jika Hendra telah mati lalu, bagaimana dirinya mencari petunjuk tentang orang itu. 


.


.


.


Bersambung…