My Dandelion'S

My Dandelion'S
Habisi dia.



Rate 18+


Helena duduk di atas ranjang pasien, tangannya menyentuh perutnya yang rata. Ia terlihat menangis saat dokter mengatakan jika dirinya sedang mengandung.


Klek.


Seseorang membuka pintu ruangan Helen. Seorang pria tua dengan sorot mata yang berapi-api menghampiri dirinya.


"Memalukan! kau sudah membuang kotoran di wajahku, Helena!" tuan Maheswari sangat geram pada putri semata wayangnya, Karena telah melakukan hal yang tidak boleh di lakukan sebelum menikah.


Wanita itu hanya menunduk, dan terisak karena takut dengan kemarahan sang ayah.


"Selama ini aku selalu memanjakanmu, dan menuruti semua permintaanmu! apa ini balasan yang kau berikan padaku Helena!" sentak tuan Maheswari, pada putrinya.


"M-maafkan Helen pah," lirih Helen terisak.


"Maaf? apa kamu pikir dengan kata maaf bisa merubah segalanya? apa kamu pikir dengan kata maaf kau akan bisa memutar kembali waktu!! Tidak Helen, jika begini caranya kau sama saja dengan membunuhku secara perlahan," seloroh tuan Maheswari, wajahnya kini sudah berubah menjadi merah padam, akibat menahan emosi.


"Katakan padaku, siapa ayah dari anak itu?" tuan Maheswari memalingkan wajahnya dari Helen, ia merasa enggan untuk melihat wajah putri yang sudah mempermalukannya.


Helen terdiam, dia tidak berani menjawab. Karena ayah dari anak yang ia kandung kini telah hilang bak di telan bumi.


"Katakan Helena!" bentak tuan Maheswari, suaranya yang menggelegar bak petir di siang bolong membuat Helen terperanjat.


"Apa pria itu yang sudah menghamili kamu? jawab aku! aku tidak butuh air matamu itu."


"I-iya pah, m-mas Vano yang sudah membuatku hamil. Pah," jawab Helen terbata, akhirnya ia berani menjawab pertanyaan dari ayahnya setelah berkali-kali tuan Maheswari membentaknya.


"Hubungi dia sekarang!" titah tuan Maheswari dengan tegas.


"Aku sudah berusaha menghubunginya tapi, ponselnya tidak aktif," ujar Helen, panik. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, dirinya tidak mau jika harus mengandung tanpa ada seorang suami. Apa yang akan di katakan oleh orang-orang nanti jika tahu dirinya hamil di luar nikah.


"Brengsek!" umpat tuan Maheswari geram.


"Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu Helen, aku membesarkanmu dengan baik dan menyekolahkanmu ke luar negeri agar kamu jadi orang sukses seperti papah, bukan malah menjadi wanita murahan yang memberikan tubuhnya pada pria beristri seperti dia!" cibir tuan Maheswari pada sang putri.


"Pah!!" Helen hendak protes pada ayahnya tapi, keberaniannya hilang setelah melihat tatapan tajam dari sang ayah.


"Apa! kau tidak terima karena aku menghinamu, Iyah!"


Helen menggelengkan kepalanya pelan. Tuan Maheswari memanggil sang ajudan, dan menyuruhnya untuk mencari keberadaan Devano. Mau bagaimana pun keadaan pria itu, Devano harus tetap bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah menghamili putri dari seorang pria yang menjabat sebagai perdana Menteri di negara Edelweis.


Setelah sang ajudan pergi, tuan Maheswari mendengus kesal pada Helen. Kini ia duduk dan memutar otak apa yang akan ia katakan pada mendiang istrinya, karena ia telah gagal mendidik putri semata wayangnya.


Wajah yang sudah tidak muda itu, terlihat begitu kecewa. Banyak harapan yang ia simpan pada putrinya tapi, kini harapan itu telah sirna tidak tersisa. Di kala sang putri terjerumus ke dalam jalan yang salah.


Tuan Maheswari mengusap wajahnya kasar, ia menatap wajah putrinya dengan nanar. Merasa ada yang aneh dengan wajah putrinya ia pun menghampiri Helen dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya sehingga membuat wajah cantiknya menjadi rusak.


"Semua ini gara-gara wanita itu, Pah. Dia yang sudah membuat wajahku seperti ini, dan dia juga yang sudah menjebloskanku ke penjara ini," jawab Helen, mengusap bulir bening yang keluar dari sudut matanya.


Melihat keadaan sang putri yang memprihatinkan, membuat tuan Maheswari tidak tega padanya lalu, pria paruh baya itu memeluk putrinya dengan erat.


"Maafkan aku, Pah. Aku sudah membuat papah kecewa, maafkan aku," lirih Helen yang menangis di pelukan ayahnya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. semua ini sudah takdir, ajudan papah sedang mencari pria itu. Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanmu," cetus tuan Maheswari mengusap kepala putrinya lembut.


Beberapa jam kemudian, tuan Maheswari telah bernegosiasi dengan pihak kepolisian untuk membebaskan putrinya.


Setelah Helen di nyatakan bebas, Tuan Maheswari segera membawa putrinya pulang. Ia tidak ingin jika sampai ada awak media yang mengetahui jika putrinya masuk penjara karena memperebutkan seorang pria yang tidak bertanggung jawab seperti Devano.


Sesampainya di rumah Helen langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Helen mengambil ponsel dalam tasnya, ia mengusap-usap layar ponselnya dan menghubungi sebuah kontak dengan nama Assassin.


"Habisi dia malam ini juga!"


"Siap bos!"


Panggilan berakhir.


"Kau lihat saja pembalasanku Valerie! Kau tidak hanya kehilangan suami tapi, kau akan kehilangan nyawamu juga!" Gumam Helen dengan wajah tanpa ekspresi.


Sementara itu, ajudan yang di utus oleh tuan Maheswari telah berhasil menemukan keberadaan Devano. Ajudan itu menghubungi atasannya dan memberitahukan jika pria yang sedang ia cari kini berada di dalam sel pesakitan.


Setelah mendapat arahan dari tuan Maheswari, ajudan itu membantu Devano bebas dari hotel prodeo itu. Dengan membayar sejumlah uang tebusan yang cukup besar.


"Terima kasih pak, sudah menolong saya. Tapi, kalau boleh tahu apa alasan anda menolong saya?" Tanya Devano penasaran, Ia tidak mengenal siapa orang-orang yang menjemputnya? dan kenapa mereka mau membantu dirinya keluar dari penjara.


Ajudan dan beberapa orang berbadan kekar, tak merespon Devano. Mereka hanya berjalan sambil menggiring Vano ke sebuah mobil van yang sudah siap untuk berangkat.


"Kalian mau membawaku ke mana?" Devano kembali bertanya setelah ia di paksa masuk ke dalam mobil oleh orang-orang berbadan kekar.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Vano. Suasana dalam mobil terasa begitu hening dan menegangkan, Devano pun kini mulai menaruh curiga jika orang-orang itu adalah suruhan Gerald.


"Dasar pria bajingan! harusnya dari awal aku tahu siapa mereka, jika seperti ini lebih baik aku membusuk di dalam penjara dari pada harus menyerahkan Valerie ke tanganmu!" umpat batin Devano, sembari mengepalkan tangannya geram.


Dia terus memperhatikan orang-orang yang ada di sampingnya, saat mereka lengah Devano mulai berontak dan menyerang orang-orang tersebut dengan menyemprotkan cairan cabai ke wajah mereka.


Namun siapa sangka, saat dirinya berhasil keluar dari mobil tersebut dan hendak kabur. Segerombolan orang dengan seragam hitam telah menunggunya dan siap menghajar Devano.


Perkelahian pun terjadi, Devano yang kalah banding kembali babak belur. Ajudan yang masih merasakan perih di kedua matanya, dengan kesal menyeret pria itu ke dalam mobil.


Brukk...


Bodyguard itu melempar tubuh Devano ke hadapan tuan Maheswari yang sedang duduk di atas kursi ruang kerjanya.


Devano melirik pria yang ada di hadapannya, kepalanya yang di penuhi darah membuat penglihatannya kabur. Tak lama dari itu Devano pun jatuh, tak sadarkan diri.


Byurr....


Devano perlahan membuka kelopak matanya ia terdengar meringis, karena merasakan perih pada bagian lukanya.


Entah air apa yang di guyurkan anak buah tuan Maheswari pada tubuh Vano, yang jelas pria yang kini sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan dan tubuhnya yang di ikat tali meraung kesakitan.


.


.


.


.


Bersambung...