My Dandelion'S

My Dandelion'S
surat pengakuan



Di pulau kecil tak berpenghuni. Terdapat sebuah bangunan yang jika dilihat dari atas tampak seperti gunung batu biasa. Akan tetapi siapa sangka jika di dalam Gunung batu itu terdapat penjara yang begitu menakutkan dan dijaga oleh beberapa hewan buas yang sengaja dilepaskan oleh pemiliknya, untuk berjaga-jaga jika ada tahanan yang kabur. 


Penjara itu dihuni oleh dua orang tahanan, dan beberapa penjaga dengan perawakan besar dan tinggi. 


Kedua orang yang sudah hampir 2 bulan mendekam di penjara itu, sudah terlihat kurus dan dekil serta mengeluarkan aroma tubuh tidak sedap karena mereka nyaris tidak mandi serta membuang kotoran di sembarang tempat.


Karena penjara itu tidak memfasilitasi ruang sel dengan kamar mandi, sehingga tahanan itu mau tidak mau harus membuang kotoran dan tidur juga makan ditempat yang sama. 


Sebuah sel yang terlihat tidak wajar itu mungkin lebih pantas disebut, kandang hewan. Jika penjara di kantor polisi mungkin lebih nyaman meskipun berukuran kecil dan harus berhimpitan dengan Narapidana yang lain, setidaknya itu lebih layak dan manusiawi ketimbang penjara yang ada di dalam Gunung batu tersebut. 


"Saatnya makan." Salah seorang penjaga berambut gondrong melemparkan dua piring nasi kering serta ikan basi pada kedua tahanan itu. Caranya memberi makan, seolah-olah sedang memberi makan pada seekor hewan.


Akibat perut yang lapar kedua tahanan itu terpaksa memakan makanan yang sudah tercampur dengan tanah, mereka menelan makanan tersebut dengan sangat susah payah. 


Saat sedang menikmati makan siangnya. Kedua tahanan itu kedatangan dua orang tamu yang tidak diundang.


"Tuan Maheswari, lama kita tidak berjumpa," sapa Gerald pada salah satu tahanan sel tersebut.


"Tuan Gerald." Maheswari dan ajudannya terlihat begitu senang dengan kedatangan Gerald yang berkunjung. 


"Tuan, syukurlah anda bisa menemukan kami disini. Cepat bantu kami keluar dari sini," pinta Maheswari senang. 


"Ya ampun, Tuan Maheswari. Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Gerald basa-basi. 


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saat hendak berangkat menuju bandara tiba-tiba sebuah gas beracun masuk ke sel tahanan ku. Membuat kepalaku pusing dan  setelah sadar tiba-tiba kami berada di penjara ini," penjelasan dari ajudan. 


Gerald menyunggingkan bibirnya tipis.


"Tuan, saya mohon bantu lepaskan kami dari sini. Kami sudah tidak tahan berada disini, kami selalu diperlakukan seperti hewan oleh orang-orang itu," Pinta Maheswari memelas. 


Gerald menarik napasnya dalam dan memasukan tangannya sebelah kedalam saku celana. " Tuan Maheswari, bukankah aku sudah memintamu untuk membuat surat pengakuan. Kenapa kau tidak melakukannya?" 


Maheswari bergeming dan menoleh pada ajudannya sesaat. Seraya menolak dengan syarat yang diajukan oleh Gerald.


"Tuan Gerald, kenapa anda selalu meminta saya membuat surat pengakuan? Memangnya apa yang saya harus akui pada anda?" 


"Ya, anggap saja sebagai jaminan. Aku tahu kau adalah orang licik … jadi untuk jaga-jaga siapa tahu nanti kau akan melakukan sesuatu padaku, aku sudah punya alat untuk membuatmu takluk padaku," cetus Gerald beralasan.


"S-saya tidak akan berani Tuan, anda adalah penguasa Edelweis saya tidak akan berani melakukan hal itu." 


"Kalau begitu, buat surat pengakuan bagaimana cara kau membunuh Tuan Dhanuendra? Sertakan juga alasanmu," titah Gerald dengan wajah yang begitu serius.


Maheswari terperangah dengan penuturan Gerald, yang menyebutkan nama mendiang Dhanuendra. 


"Apa yang anda katakan Tuan? Saya tidak mengerti." Maheswari terlihat begitu gugup.


"Baiklah, jika anda masih berpura-pura dan tidak mau mengakuinya aku akan pergi." Gerald memutar tubuhnya dan hendak pergi. "Oh, iya satu lagi. Sepertinya putri dan calon cucumu merindukanmu, haruskah aku menyampaikan berita tentang mu pada mereka," lanjut Gerald yang menghentikan langkah kakinya. 


"J-jangan Tuan, saya mohon jangan beritahu keadaan saya pada mereka. Beri saya waktu dua hari saya akan melakukan apa yang anda minta Tuan." 


"Bagus, sebelum surat pengakuan itu keluar. Maka kalian tidak akan bisa keluar dari sini," pungkas Gerald yang kemudian pergi meninggalkan pulau terpencil itu dengan menggunakan helikopter. 


Sang ajudan menatap pada Maheswari. "Tuan, apa anda yakin ingin mengakui jika anda yang membunuh tuan Dhanuendra serta anak dan istrinya?" 


"Aku tidak punya pilihan lain, satu-satunya cara agar kita bisa keluar dari sini yaitu dengan surat pengakuan." 


Ajudan mengerutkan dahinya. Merasa aneh dengan Gerald yang selalu menginginkan bosnya mengakui telah membunuh Dhanuendra, rasanya tidak mungkin jika hanya untuk jaminan agar Maheswari tidak mengganggunya. 


Kejadian itu telah lama terjadi tapi, Gerald baru mengungkitnya sekarang. 


Apa hubungan Tuan Gerald dengan mendiang Tuan Dhanuendra? ajudan itu bertanya-tanya dalam hatinya. 


              🌸🌸🌸🌸🌸


Kota Edelweis, kediaman Dhanuendra. 


Gerald dan Valerie tengah menikmati makan malam bersama, setelah makan malam selesai. Gerald menyentuh tangan Valerie dan mengasongkan tiket pesawat untuk bulan madu ke Swiss. 


"Apa ini?" tanya Valerie menatap suaminya. 


"Kita akan pergi bulan madu tiga hari lagi." 


"Tiga hari lagi?" 


Gerald mengangguk. "Kenapa? Sepertinya kau tidak senang aku mengajakmu berbulan madu." 


"B-bukan begitu, pekerjaanku masih belum selesai … bagaimana jika kita pergi pekan depan setelah pekerjaanku selesai?" 


Gerald tampak berpikir sejenak. "Baiklah, tapi malam ini kau harus memuaskan ku." Gerald tersenyum mesum pada Valerie.


Valerie mengerlingkan matanya. "Setiap malam juga aku selalu memuaskanmu, Shǎguā." 


Gerald terkekeh dan mengajak istrinya ke kamar. 


Usai bermain kuda-kudaan, Valerie meletakan kepalanya di dada bidang sang suami. 


"Shǎguā," lirih Valerie. 


"Hem." 


"Maafkan aku." 


Mendengar istrinya meminta maaf, Gerald mengubah posisinya. Ia menumpu kepalanya dengan tangan dan menatap istrinya. 


"Kenapa minta maaf?" 


"Karena kemarin-kemarin, aku selalu bertanya mengenai kedua orang tuamu." Valerie menatap sendu suaminya. 


"Sudahlah, itu telah berlalu. Kita jalani kehidupan kita yang sekarang." Gerald mendekap istrinya erat. 


"Shǎguā, jika kau tidak keberatan bisakah kau menceritakan semua tentangmu padaku?" 


"Aku akan menceritakannya, setelah kau mengakui jika kau telah jatuh cinta padaku." 


Valerie diam membisu, saat suaminya mengungkit perasaannya pada Gerald. Ia masih belum mengerti dengan perasaannya sendiri meskipun, ia telah melewati hari dan menghabiskan malam bersama. Dalam hati Valerie masih belum ada rasa cinta pada Gerald. 


Bersikap baik selayaknya suami istri pada umumnya, bukan berarti dirinya sudah jatuh cinta. Valerie hanya selalu menganggap sebagai balasan atas kebaikan yang diberikan oleh Gerald padanya. 


Dua hari kemudian. 


Pagi-pagi sekali, Rendi datang ke rumah Gerald dengan sebuah map berwarna merah di tangannya. Tanpa berbasa-basi pada semua orang yang ditemui olehnya Rendi langsung masuk kedalam ruang kerja bosnya untuk menyerahkan map berisi surat pengakuan Maheswari. 


Gerald membuka map tersebut, dan membaca satu persatu isi surat yang ditulis oleh Maheswari. Saat sedang membaca isi surat itu, tangan Gerald mengepal dengan kuat. Manik matanya tampak berkaca-kaca, dadanya bergemuruh menahan emosi. 


Ia tak dapat membayangkan betapa menderitanya sang ayah, dikala menghadapi kematiannya karena disiksa oleh Maheswari dan anak buahnya yang lain. 


.


.


Bersambung.