My Dandelion'S

My Dandelion'S
Liburan gratis



"Tuan, kenapa anda melakukan itu?" tanya Rendi, ia heran kenapa bosnya memberikan kesempatan pada orang yang telah berkhianat padanya.


"Aku percaya bukan dia pelakunya, dia hanya jadi kambing hitam." 


Rendi mengangguk, dan mengikuti Gerald kembali. 


"Tuan, Nona Valerie tadi meminta ijin untuk menggunakan credit card anda. Dia juga mengatakan jika dirinya semalam tersesat … Nona juga sudah menelpon Tuan berkali-kali tapi, nomor tuan sulit untuk dihubungi," ungkap Rendi pada atasannya yang sedang duduk di kursi belakang mobil. 


Gerald tak bergeming, ia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah dari saku jasnya. Ia menatap cincin bulan sabit itu lekat. 


"Apa istimewanya, cincin seperti? Sampai kau pergi meninggalkanku dan tersesat," gumam Gerald menghembuskan napasnya kasar. 


"Rendi, bukankah nanti malam acara pernikahannya putri Tuan Maheswari?" 


"Benar Tuan, dan saya sudah menyiapkan segalanya," jawab Rendi.


"Bagus, aku sudah tidak sabar ingin melihat reaksi seperti apa yang akan diperlihatkan oleh tua Bangka itu." Gerald, memiringkan senyumnya sembari menggenggam erat kotak cincin tersebut. 


                           🌼🌼🌼


Grand paradise hotel.


Valerie baru saja kembali dari toko kain yang ada di Bali, ia sengaja membeli kain tradisional asal Bali untuk dipadupadankan dengan kain modern. 


Sesuai permintaan client, yang menginginkan gaun pengantin internasional tapi, juga ada unsur tradisionalnya. Sehingga ia memutuskan untuk memasukkan kain Bali sebagai ciri khasnya.


Setelah membersihkan diri, Valerie berbaring di atas ranjang. Sebelum mengerjakan tugas ia memilih untuk beristirahat sebentar, karena matanya sudah tak kuat menahan rasa kantuk yang begitu berat.


"Semoga saja, aku bermimpi dewa bulan," kekeh Valerie, yang kemudian menutup kedua matanya. 


Setengah jam kemudian, Gerald baru pulang dari tugasnya yang menyelidiki kasus atas bocornya data perusahaan. Ia mendengar jika Valerie sudah kembali dari berbelanja kain, dengan penuh semangat ia bergegas untuk menemui wanitanya itu. 


Ia mengetuk pintu kamar Valerie tapi, si pemilik kamar tidak menyahut. Gerald membuka kamar tersebut dengan kunci cadangan, ia pikir sesuatu terjadi pada calon istrinya ternyata wanita cantik itu sedang tertidur dengan pulas. 


Sudut bibir Gerald, mengembang. Hatinya terasa begitu tenang, saat melihat bidadari hatinya yang terlelap sambil tersenyum. Ia menghampiri Valerie dan duduk di tepi ranjang, menatap wajah Valerie yang menyejukkan.


"Apa yang sedang kau mimpikan? Sehingga kau tersenyum seperti itu." ucap Gerald yang ikut tersenyum. Ia merasa iri sebab Valerie tidak pernah tersenyum padanya. 


Gerald mengelus kepala Valerie lembut, dan menatapnya dalam. Rasanya ia sudah tidak sabar, untuk menikahi wanita yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. 


Gerald menyelimuti tubuh Valerie, mengecup keningnya singkat dan hendak pergi. Namun, sebelum dirinya pergi.  Valerie bergumam dalam tidurnya yang membuat pria jangkung itu marah karena cemburu. 


"Dong Fang Qing Cang? Siapa dia? Berani sekali dia masuk ke dalam mimpi calon istriku!" geram Gerald mengepalkan kedua tangannya. Ia menghampiri kembali Valerie dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Kau!" Gerald mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Valerie yang sedang tertidur. "Jadi kau tersenyum karena memimpikan pria lain!" ucapnya kesal. 


"Dasar pria kaku, aku akan mengirimmu ke planet mars sekarang juga. Jangan pikir kau adalah pria yang paling tampan, jika dibandingkan dengan raja bulanku kau tidak ada apa-apanya." Valerie kembali bergumam sambil menghentakkan kakinya.


Gerald mengerutkan dahi, saat melihat Valerie yang terus bergumam dalam tidurnya. 


"Hajar dia raja bulan, beri pria kaku itu pelajaran karena selalu membuatku tertekan." Valerie tertawa dengan mata terpejam.


"Apa yang sedang dia mimpikan? Dan siapa pria kaku itu?" tanya Gerald dalam batin.


"Apa! Kau … berani sekali kau menindas ku dalam mimpi! Dan siapa itu raja bulan? Awas saja kau, setelah bangun aku akan menghukum mu," dengus Gerald yang berlalu pergi karena tidak tahan dengan Valerie yang terus mengumpatnya dan mengagungkan seseorang yang disebutnya raja bulan. 


Gerald kembali ke kamarnya, melempar jas ke sembarang arah. Melonggarkan dasi dan menyambar segelas air putih yang ada diatas meja. 


"Wanita itu benar-benar, dia bilang akan mengirim ku ke mars dan mematahkan tulang-tulang ku. Heuh, sebelum kau mengirim ku, aku akan lebih dulu mengirimmu ke planet Pluto," ketus Gerald kesal. "Rendi!" teriaknya memanggil sang sekretaris.


"Ya, Tuan." Rendi menghampiri Gerald setengah berlari. 


"Cari tahu, orang yang bernama Dong Fang Qing Cang … bawa dia ke hadapanku!" titah Gerald, wajah pria itu memerah dadanya naik turun karena amarah.


"Baik, Tuan." Rendi pergi dengan tergesa mengikuti perintah bosnya untuk mencari orang yang disebutkan oleh bosnya.


Namun, saat di lantai utama. Rendi tiba-tiba mematung, memikirkan siapa orang yang sedang dicari oleh bosnya. Namanya terdengar begitu asing di telinga Rendi.


"Siapa yang dimaksud oleh Tuan tadi ya? Sebaiknya aku menyuruh ketua marmut saja yang mencarinya." Rendi mengirimkan pesan perintah pada anak buahnya dan memberikan waktu 1 x 24 jam untuk membawa orang tersebut pada bosnya. 


                         🌼🌼🌼🌼


Kamar Valerie. 


Setelah menikmati tidur siang yang cukup lama, Valerie akhirnya terbangun. Ia merentangkan kedua tangannya dan menguap. 


"Sudah berapa lama aku tertidur?" ucap Valerie mengusap wajahnya lalu, melihat jam yang menggantung di dinding. "Sudah pukul 4 sore, astaga sepertinya aku benar-benar mengantuk sampai tidur lama seperti ini." Valerie turun dari ranjangnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka. 


"Segar sekali," ujarnya. Kini ia berjalan menuju meja mengambil segelas air putih dan menikmati segarnya angin sore di depan balkon.


"Sudah lewat dari tiga hari, kenapa Nadia dan Anna tak kunjung menyusul? Apa urusan mereka belum selesai ya?" gumam Valerie khawatir. 


Disaat Valerie tengah memikirkan kedua karyawannya yang tak kunjung menyusul. Di negara yang berbeda tepatnya di negeri ginseng, kedua gadis tengah menikmati liburan gratis yang diberikan oleh Gerald. 


Dengan mengenakan pakaian tradisional khas Korea, mereka terlihat sedang ber swafoto di depan istana Gyeongbokgung. Istana paling populer dan termegah di antara 5 istana lainya yang ada di Korea Selatan. 


"Nadia, kira-kira mbak Valerie lagi apa ya di bali? Mbak Valerie pasti kerepotan nyari bahan-bahan disana," ujar Anna yang tiba-tiba teringat pada bosnya.


"Jangan pikirkan mbak Valerie, pasti dia sedang bersenang-senang bersama Tuan Gerald … sebaiknya kita nikmati saja liburan ini, kapan lagikan kita bisa berlibur gratis seperti ini," jawab Nadia sambil terkekeh. 


"Iya, juga sih. Tapi, aku takut nanti mbak Valerie marah kalau tahu kita malah berlibur kesini." 


"Kamu tenang aja, kan ada Tuan Gerald yang dermawan. Dia yang akan bertanggung jawab." 


"Iya juga sih, ya sudah kita pergi ke Myeongdong aku dengar disana banyak barang yang bagus," ajak Anna bersemangat.


Nadia mengangguk, semangatnya tak kalah besar dengan Anna. Selain diberi tiket liburan gratis, Gerald juga memberikan uang saku pada kedua gadis itu dengan jumlah yang cukup besar. Sehingga mereka dapat membeli apapun yang mereka inginkan tanpa berpikir.


.


.


.


Bersambung.