My Dandelion'S

My Dandelion'S
Danau Blausee Lake



mohon maaf atas ketidak nyamannya karena, author sudah mengubah cerita bab ini🙏


happy reading.


Koper sudah berjajar rapi dalam bagasi mobil. Paspor, Visa dan dokumen lain juga sudah ditangan. Kini hanya tinggal menunggu Valerie


turun dari kamar sambil menunggu istrinya selesai bersiap, Gerald menyuruh Rendi untuk menghandle semua pekerjaannya selama dirinya pergi berbulan madu ke Swiss. 


"Tuan, anda yakin hanya akan pergi berdua?" tanya Rendi khawatir.


"Ya, sesuai permintaan istriku. Kami hanya akan menghabiskan waktu berdua selama satu minggu disana," jawab Gerald. 


"Sepertinya hubungan anda dan nyonya Valerie semakin membaik, Tuan." 


"Kau benar, dia sudah menyatakan cintanya padaku beberapa hari yang lalu," ujar Gerald tersenyum bahagia. 


"Selamat, Tuan … semoga pernikahan kalian langgeng sampai nenek kakek," ucap Rendi ikut bahagia dengan kabar baik yang disampaikan oleh bosnya. 


"Tapi." Gerald sedikit mengerutkan dahinya. 


"Tapi kenapa, Tuan?" 


"Aku belum yakin dengannya, aku takut jika dia hanya sedang menghiburku saja. Aku khawatir suatu saat dia akan meninggalkan ku," keluh Gerald cemas.


"Tuan, kalau menurut saya … saya yakin jika Nyonya tidak akan melakukan hal itu. Kalau dia ingin pergi seharusnya dia melakukannya sejak lama, bahkan saat anda mengurung diri di ruang kerja … seharusnya itu menjadi peluang besar bagi nyonya untuk pergi dari sisi anda, tapi nyonya malah memilih untuk tetap disini menunggu dan merawat anda sampai sehat," ungkap Rendi menjelaskan. 


Gerald termenung beberapa saat. " Kau benar, Rend. Tidak seharusnya aku meragukan dia, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu dan kami sudah hidup bersama dalam waktu cukup lama … mungkin dia memang benar-benar sudah mencintaiku, aku harus bisa membahagiakannya," pungkas Gerald sebelum istrinya datang menghampiri.


"Shǎguā, aku sudah siap," seru Valerie yang sudah terlihat rapi dengan setelan celana jeans panjang serta kemeja warna baby blue model sabrina. Tak lupa tas berukuran sedang yang memiliki warna senada dengan bajunya. 


"Baiklah,ayo kita pergi." Gerald membukakan pintu mobilnya untuk sang istri. 


"Sekertaris Rendi, aku titip Nadia dan butik ya," ucap Valerie pada sekretaris suaminya.


"Baik, nyonya … hati-hati dijalan," ujar Rendi membukukan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Valerie tersenyum dan masuk ke dalam mobil bersama Gerald. Meskipun mobil telah melaju, Rendi masih setia menatap mobil yang di kendarai oleh bosnya hingga menghilang dari pandangannya.


                    🌸🌸🌸🌸


Setelah penerbangan jauh, Gerald dan Valerie akhirnya sampai di negara Swiss. Negara yang memiliki julukan negara Terbersih dan Terindah di Dunia. Selain kebersihan dan pemandangan indahnya, Swiss juga terkenal dengan susu dan madunya yang memiliki kualitas nomor satu di Eropa. 


Karena mereka sampai di Swiss pada malam hari, mereka pun langsung menuju ke penginapan yang berada di tengah-tengah desa. Tanpa pelayan, dan tanpa asisten hanya ada mereka berdua saja di penginapan tersebut. 


"Bagaimana, kau suka?" tanya Gerald yang menunjukan keadaan penginapan. Pondok sederhana berukuran sedang, yang terbuat dari kayu tapi terasa begitu nyaman dan hangat. 


Valerie memutar tubuhnya sembari melihat-lihat bangunan tersebut. "Aku suka." 


"Syukurlah … Baby apa kau lapar?" 


Valerie menganggukan kepalanya sambil tersenyum. 


"Duduklah." Gerald menuntun istrinya untuk duduk di dekat meja makan. Kemudian ia mengambil apron dan memakainya. 


Valerie mengerutkan dahinya. "Shǎguā, apa yang akan kau lakukan?" 


"Aku akan memasak untukmu," balas Gerald semangat. 


"Kau yakin?" Valerie ragu dengan kemampuan suaminya yang ingin memasak. 


Gerald menganggukan kepalanya. "Tentu saja, duduk dan perhatikan caraku memasak." Gerald mengedipkan sebelah matanya.


Gerald mulai mengambil spatula dan wajan, sebelum memulai memasak ia memukulkan spatula itu pada wajan hingga mengeluarkan suara seperti tukang mie Tek Tek. 


Valerie mengulum senyumnya, saat melihat suaminya yang banyak tingkah. 


Selesai dengan pembukaan, kini Gerald meraih tomat. Ia melemparnya ke udara dan menangkapnya lagi, tak hanya tomat yang ia mainkan. Cabai paprika, bawang dan sayur-sayuran pun menjadi korban atraksi Gerald selanjutnya. 


Melihat suaminya yang melemparkan semua bahan makanan, Valerie tersenyum dengan kening yang berkerut. Sebab Gerald bukannya memasak, dia malah membuang-buang sayuran itu ke lantai. 


Satu jam kemudian.


Atraksi telah berakhir, acara masak juga akhirnya selesai. Gerald sudah siap untuk menghidangkan hasil masakannya pada sang istri yang sejak tadi telah menunggunya di meja makan sambil mengantuk. 


Sembari mengembangkan senyuman, Gerald menghampiri Valerie dengan piring ditangannya. 


"Silahkan Nyonya, selamat menikmati hidangan terbaik kami," ucapnya percaya diri. 


Valerie menatap suaminya bingung.


"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat sehingga menghancurkan semua bahan makanan dan yang ada hanya mie instan dan telur jadi aku membuat ini saja." Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


Valerie menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, ayo duduk kita makan berdua … setidaknya ini bisa mengganjal perut kita berdua untuk malam ini." Valerie menarik tangan suaminya untuk duduk dan menyuapinya sambil terkekeh. 


Keduanya pun tampak menikmati sepiring mie goreng itu berdua, sambil melontarkan senyuman pada satu sama lain.


Malam yang dingin kini berganti menjadi pagi yang hangat. 


Semilir angin yang masuk ke sela-sela ventilasi udara, menerbangkan aroma roti panggang yang begitu sedap hingga ke indera penciuman Valerie yang masih terbaring diatas ranjangnya. 


Valerie mengerjapkan kedua matanya, dengan mata setengah tertutup ia turun dari ranjang dan berjalan mengikuti aroma sedap dari roti gandum tersebut. 


Melihat istrinya berjalan setengah sadar, Gerald terkekeh dan menghampirinya. Ia membangunkan Valerie dan mengajaknya untuk sarapan bersama. 


Oatmeal dengan topping buah-buahan dan roti panggang serta dua gelas susu buatan Gerald, menjadi pembuka hari bagi keduanya. 


"Setelah makan, bergegas mandi hari ini kita akan jalan-jalan," ujar Gerald mengusap kepala istrinya.


Sambil menyuapkan satu sendok oatmeal, Valerie menganggukan kepalanya. 


Tujuan mereka hari ini adalah ke tempat pacuan kuda, Gerald ingin membawa Valerie kesana dan menunggangi kuda berdua bersama istrinya.


Gerald sudah membayangkan, dirinya dan Valerie duduk berdua diatas punggung hewan gagah sembari menatap satu sama lain. Persis seperti yang ada di drama-drama kolosal kesukaan istrinya.


Keduanya telah sampai di pacuan kuda, Gerald juga sudah mendapatkan seekor kuda untuk ditunggangi. Kuda putih bertubuh tinggi dan besar jadi pilihan Gerald. 


"Ayo." Gerald mengulurkan tangannya pada Valerie. 


Valerie menggelengkan kepalanya, menolak untuk menunggang kuda karena takut. Gerald mencoba meyakinkan istrinya, selama ada dirinya Valerie akan tetap aman. 


Setelah beberapa kali di yakinkan, Valerie pun akhirnya mau menunggang kuda bersama Gerald. 


"Kau yakin, bisa mengendalikannya?" Valerie terlihat khawatir, ia takut jika kudanya akan mengamuk saat dinaiki.


"Tenang saja, aku sudah ahli." Gerald mulai memacu kudanya untuk berkeliling di arena pacuan. 


Setelah tahu kemampuan suaminya yang dapat mengendalikan kuda dengan baik, rasa takut Valerie kini mulai hilang, sekarang dia terlihat begitu menikmatinya.


Setelah menghabiskan waktu dengan menunggangi kuda, gerald membawa Valerie ke Danau Blausee lake, danau yang terkenal dengan julukan danau patah hati. Danau ini mempunyai pemandangan yang sangat indah karena airnya berwarna toska dan jernih. Apalagi di sekelilingnya ada pepohonan dengan warna daun yang bisa berubah sesuai musim.


"Woah, Shǎguā ... ini indah sekali," ucap Valerie yang takjub pada pemandangan danau tersebut. 


"Aku tahu, kau pasti akan suka dengan tempat ini ... mau naik perahu?" 


Valerie menganggukan kepalanya, bersemangat. 


Gerald tersenyum dan menuntun Valerie ke sebuah sampan kayu yang sudah ia sewa sebelumnya. 


"Välkommen, mina damer och herrar," sapa pemilik perahu ramah. Ia membantu penumpangnya untuk naik ke atas sampannya. 


Tanpa mempedulikan sang pemilik sampan, Gerald terus mendekap istrinya sembari menikmati pemandangan di sekitar danau. 


Valerie yang baru pertama kalinya datang ke swiss, terlihat bahagia. Dia tak hentinya terus terkagum-kagum pada keindahan danau Blausee lake, manik matanya berbinar kala melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


 


Sepanjang perjalanan mengitari danau,  Gerald terus menatap wajah istrinya yang di hiasi oleh senyuman. Karena bagi Gerald, tidak ada yang lebih indah lagi dari pada senyum di wajah istrinya. 


"Paman, kenapa danau ini dijuluki danau patah hati?" tanya Valerie penasaran. 


"Menurut legenda, dulu ada seorang gadis yang jatuh cinta pada penggembala dan bertemu di Blausee Lake setiap malam. Tetapi akhirnya mereka terpisahkan oleh kematian sehingga Blausee Lake disebut Danau Patah Hati," jawab pemilik sampan yang sudah tak lagi muda, ia menjelaskan tentang danau itu secara terperinci pada Gerald dan Valerie. 


Valerie menganggukan-anggukan kepalanya, cerita yang cukup miris tetapi juga romantis. Rasa cintanya yang begitu besar pada si pengembala, membuat gadis bermata biru tak bisa melupakan pria itu sehingga gadis tersebut memutuskan untuk menyusul kekasihnya yang meninggal karena terjatuh dari tebing saat akan menemuinya di danau tersebut. 


.


.


.


bersambung.