My Dandelion'S

My Dandelion'S
merangsek



"Mas, lepasin aku." Valerie memutar lengannya hingga memerah agar Devano mau melepaskannya.


"Aku akan melepaskanmu, asal kau mau menemaniku makan siang hari ini." 


"Heuh, jangan mimpi kamu," dengus Valerie menolak.


"Oke, kalau kamu nggak mau … aku akan membawamu secara paksa." Devano menarik tangan Valerie dan hendak membawanya pergi.


Riska yang geram pada pria yang menyeret nyonyanya, langsung unjuk gigi. Dia menampar pipi Devano kencang sampai meninggalkan bekas lima jari di sana. 


"Kurang ajar! Berani sekali kau menamparku dengan tangan kotormu itu," umpat Devano geram. Ia melepaskan Valerie dan ingin membalas perbuatan Riska. 


 


Namun, siapa sangka ketika Devano sudah melayangkan tangannya dan Riska sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menangkis, Valerie malah berdiri dihadapan Riska dan akhirnya tamparan keras itu mengenai pipi Valerie membuat ujung bibir Valerie mengeluarkan sedikit darah. 


Devano dan Riska begitu kaget dengan keberadaan Valerie di tengah-tengahnya. 


"Nyonya!" pekik Riska.


"Val." Devano menatap tangannya yang mendadak bergetar. Sementara Valerie yang merasakan perih dan sakit di bagian pipi masih tertunduk tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu. 


Melihat keributan yang terjadi, para pelanggan langsung berembuk ingin tahu apa yang terjadi. 


"Pria macam apa dia, berani sekali memukul wanita." 


"Iya, benar dia kejam sekali." 


"Tidak berperasaan." 


Suara bisikan dari para pelanggan terdengar di telinga Devano, membuatnya semakin merasa bersalah. 


"Val, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Vano hendak mendekat tapi, Riska menghalanginya.


"Minggir kau gadis bodoh! Lihat karena ulahmu aku jadi menyakiti istriku," sentak Vano pada Riska.


Riska kaget dengan pengakuan pria yang ada dihadapannya. 


"Aku bukan istrimu!" teriak Valerie. Ia benar-benar marah dan membenci Devano sekarang. 


"Val,–" 


"Cukup, aku tidak mau dengar apapun lagi. Berhenti mengganggu hidupku, kita sudah tak sejalan, aku sudah bahagia dengan suamiku … jadi aku mohon pergi dari kehidupan ku sekarang juga!" teriak Valerie, tanpa menatap wajah Devano. Rasanya ia sudah tidak Sudi lagi melihat tampang Devano yang membuatnya muak. 


"Nyonya, sebaiknya kita pergi." Riska ingin memapah tapi, Valerie menolaknya.


Belum usai dengan urusan Devano, seorang wanita tiba-tiba datang dan menyiramkan minuman ke arah Valerie, untung saja Riska gerak cepat sehingga minuman itu mengenainya.


"Helena!" Devano menarik tangan istrinya kebelakang.


"Riska, kamu nggak apa-apa?" Valerie terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa, nyonya. Saya lebih khawatir pada anda," jawab Riska.


Gadis itu semakin bingung dengan keadaan yang terjadi, kenapa tiba-tiba wanita itu datang dan ingin menyiram Valerie? Apa hubungan Valerie dan pria itu? Kedua alis Riska hampir menyatu karena berkerut. 


"Jadi benar ya dugaanku selama ini, kamu tidak betah di rumah karena selalu nemuin mantan istri kamu!" cetus Helena marah. 


"Helen, berhenti berteriak sebaiknya kita bicara di rumah." Vano menggenggam lengan istrinya kuat.


"Aku tidak mau!" Helena menepis tangan suaminya. "Dan kau, aku menyesal karena pernah meminta maaf padamu. Aku pikir kau benar-benar memiliki hati seperti malaikat, tapi nyatanya kau sama saja seperti wanita ******* pada umumnya." Helena menghardik Valerie di depan umum. 


"Hey, nyonya! Tolong ya jaga mulut anda, berani sekali menghina nyonyaku seperti itu," timpal Riska tak terima.


Helena menoleh pada Riska. "Siapa kau, kau tidak perlu ikut campur urusanku." 


"Tentu saja aku harus ikut campur, karena orang yang sedang kau hina adalah istri dari bosku."


Helena tersenyum kecut. "Jongos saja belagu, katakan pada istri bos mu itu untuk tidak mengganggu suami orang lain." 


"Kau–" Riska sudah mengangkat tangannya ingin merobek mulut wanita yang sudah menghardik nyonyanya, tapi Valerie menahannya. 


"Cukup, Ris. Kita tidak perlu meladeninya, sebaiknya kita pulang," lirih Valerie yang tak ingin memperpanjang masalah. 


Riska pun mengangguk, ia menuruti kata-kata bosnya daripada terjadi sesuatu yang tak di inginkan. 


"Tunggu! Ada suatu hal yang ingin aku katakan padamu," teriak Helena membuat Valerie menghentikan langkahnya. "Katakan pada suamimu, untuk mengakui perbuatannya di depan awak media jika dia yang sudah membunuh ayahku," sambung Helena dengan nada penuh kebencian. 


Mata Valerie membulat sempurna, ia begitu terhenyak dengan ucapan Helena yang mengatakan jika ayahnya meninggal karena dibunuh oleh suaminya. Valerie memutar tubuhnya dan menatap Helena dengan manik mata berkaca-kaca. 


"Tidak mungkin suamiku melakukan itu, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika ayahmu meninggal karena gantung diri," ujar Valerie membela suaminya.


Valerie menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tidak-tidak mungkin, suamiku tidak mungkin melakukan itu," elak Valerie dengan bibir yang bergetar, bulir bening pun mulai berjatuhan dari sudut matanya.


"Jika kau tidak percaya, kau tanyakan saja semua pada suami pembunuh mu itu," cetus Helena. 


Valerie yang tidak tahan suaminya terus disebut pembunuh, langsung melayangkan tamparan pada Helena hingga wanita itu tersungkur. 


Helena bangkit dan ingin membalas namun, Riska berada di garda terdepan. "Sekali lagi anda menyentuh nyonya Valerie saya akan pastikan, tangan anda akan patah saat ini juga!" gertak Riska. 


"Kau pikir aku takut, menghadapi gadis ingusan sepertimu hah!" tantang Helena. 


Riska menekan pin yang menempel pada kerah bawah jasnya, dan dalam hitungan detik beberapa pengawal datang menghampiri. 


"Bawa nyonya ke rumah sakit, aku akan mengurus orang-orang ini," titah Riska pada orang-orang dengan pakaian serba hitam.


"Siap." Pengawal itu membawa Valerie ke mobil Van khusus dan mengantarnya ke rumah sakit. 


Sementara di coffee shop, Riska sedang melawan Devano yang tengah membela istrinya sendirian. 


                         🌸🌸🌸🌸


 


Kediaman Dhanuendra.


Gerald yang mendapatkan kabar, jika istrinya terluka langsung memutuskan untuk pulang. Padahal dirinya dan Rendi sedang menghadiri rapat penting tapi, bagi Gerald tidak ada yang lebih penting lagi dibanding istrinya sehingga ia meminta pada Rendi untuk menunda rapat tersebut. 


Gerald berlari menuju kamarnya, dan tak mempedulikan orang-orang yang menyapanya. 


Brak. 


Gerald membuka pintu kamar cukup kencang, di lihatnya sang istri sedang meringkuk di atas ranjang. Ia menghampiri Valerie dan duduk di tepi ranjang.


"Baby," lirih Gerald. Ia menyentuh bahu istrinya yang tertutup oleh selimut.


"Jangan sentuh aku," tolak Valerie terisak. 


"Baby, kau harus dengarkan penjelasan ku dulu," ucap Gerald. 


Ia sudah tahu apa yang terjadi di coffee shop, karena saat di perjalanan Rendi sudah menceritakan semuanya. Gerald juga memerintahkan sekretarisnya, untuk menutup semua tempat usaha Devano yang berdiri di atas tanahnya. 


"Penjelasan apa? Kau mau aku mendengar kalau yang dikatakan oleh Helena itu benar! Kalau kau yang membunuh ayahnya." 


"Val, aku berani bersumpah atas nama mendiang orang tuaku kalau aku tidak melakukan itu." Gerald berusaha meyakinkan istrinya. 


Valerie bangkit dari tidur dan menatap suaminya kecewa. "Aku tidak percaya!" Ia beranjak dari ranjang berjalan cepat menuju ruang wardrobe dan mengeluarkan kopernya. 


"Baby, apa yang kau lakukan?" Gerald terlihat panik ketika melihat istrinya mengeluarkan semua bajunya dan memasukkannya ke dalam koper. 


"Aku mau pulang, aku tidak mau hidup dengan pembunuh seperti mu." Valerie terus mengemas baju-bajunya.


"Baby, aku sudah bersumpah aku tidak membunuh ayahnya Helena." 


Valerie tak mendengar penuturan suaminya, ia menutup resleting kopernya dan menggereknya keluar dari ruang wardrobe. 


Gerald menahan tangan Valerie agar tidak pergi. "Baby, aku mohon percaya padaku." 


"Apa yang mesti aku percaya darimu? Bahkan dulu kau berani membunuh dihadapan ku, bukan hal tabu lagikan jika kau juga membunuh ayahnya Helena," cerocos Valerie sambil menangis. 


Percekcokan antara Gerald dan Valerie pun terjadi, hingga akhirnya Gerald yang sudah geram karena Valerie tak mau mendengarnya langsung mengunci pintu kamar.


"Baiklah, kalau kau tidak percaya padaku … mulai detik ini juga, kau tidak boleh keluar dari kamar sampai permasalahan ini selesai!" 


"Aku tidak akan mendengarkanmu lagi, minggir aku mau pergi." Valerie menepis tangan suaminya. Akan tetapi, Gerald dengan cepat menarik tangan Valerie, mendorongnya ke ranjang dan merangsek tubuh istrinya. Ini adalah satu-satunya cara agar Valerie bisa tenang dan mendengarkan penjelasannya. 


.


.


.


Bersambung. 


aku pengen nulis ulang tentang clay dan Cherryl, tapi kali ini nggak ada pembunuhannya ada yang mau nggak ya



GA nya ini buat yang mau stay like, komen dan ngasih dukungan sampai akhir, ntar di mugnya ada tulisan nama judul novel, ada yang mau nggak ya?😁