My Dandelion'S

My Dandelion'S
bayi kecil



Setelah melihat bayangan dirinya bersama Valerie, Devano kini terdiam mematung. Rasa sesal dan bersalahnya terus menghantui diri Vano.


Hanya karena tergoda oleh kecantikan Helena yang tak seberapa, dirinya harus kehilangan berlian yang sangat berharga dalam hidupnya untuk selamanya.


Vano menjatuhkan dirinya di atas sofa lalu, menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong dan sesekali dia menghembuskan napasnya yang terdengar begitu berat.


Pria itu terlihat bimbang, permasalahan yang di hadapinya kini tak hanya soal rumah tangga saja. Melainkan masalah kehamilan Helena  juga restorannya yang sedang mengalami banyak kerugian akibat ulah oknum yang tak bertanggung jawab. 


Devano mengeluarkan surat perpisahannya dari dalam tas, ia menatap kertas tersebut dengan perasaan kalut. Haruskah dirinya benar-benar melepaskan Valerie? Atau tetap mempertahankannya?


Jujur saja di satu sisi Vano ingin mengikuti kata hatinya yang terus mempertahankan istrinya meskipun, ia tahu jika mereka kembali bersama keadaan tidak akan bisa kembali seperti dahulu. 


Namun, di sisi lain. Jika dirinya tak melepaskan sang istri, Gerald pasti akan terus melakukan hal yang sama pada bisnisnya. Dan ia juga tidak mungkin membiarkan restorannya bangkrut begitu saja, sebab ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup padanya.


Tak pernah terbayangkan oleh Vano sebelumnya, jika dirinya akan kehilangan sang istri secepat ini. Kesalahannya yang fatal karena tidak setia kini membuat rumah tangganya hancur.


Tak hanya rumah tangganya yang hancur, bahkan dia tak dapat kata maaf dari Valerie. Vano tahu kesalahannya memanglah besar dan tidak mudah untuk di maafkan, apalagi saat itu Valerie benar-benar menyaksikan perselingkuhannya sudah melewati batas dan pasti semua itu akan terus melekat di ingatan Valerie.


"Maafkan aku Val, aku benar-benar bodoh," ucap Vano mengusap wajahnya kasar. 


Serapat apapun kita menutupi durian, baunya pasti akan tercium. Begitu juga dengan perselingkuhan, Serapi apapun kita menutupinya suatu saat akan ketahuan juga. Dan rasa sesal pun kini sudah tak ada gunanya lagi. 


Sama halnya dengan Devano, Valerie yang masih berada di rumah sakit juga terlihat gusar. Wanita itu tampak berpikir keras mengenai perceraiannya.


Hati Valerie terus bertanya-tanya, apakah dirinya sudah mengambil keputusan yang benar dengan menggugat sang suami? Ataukah dirinya salah karena tidak memberi kesempatan kedua?.


Mungkin yang di maksud Valerie adalah, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan baik yang ringan atau pun yang berat sekalipun. Dan mereka berhak untuk mendapatkan kata maaf dan kesempatan kedua toh Tuhan saja maha pemaaf.


Dan haruskah dirinya memaafkan Devano? Melupakan semua kesalahan Vano yang pernah dilakukan dan apakah dia juga harus merebut kembali cintanya dari wanita yang sudah merusak kebahagiaannya?. 


Jika dirinya melakukan hal tersebut lalu, bagaimana dengan nasib bayi yang sedang di kandung Helena? Sementara dirinya tidak ingin memiliki madu. Begitu juga sebaliknya, Helena pun tidak ingin di jadikan istri kedua oleh Vano.


Valerie memejamkan kedua matanya, membiarkan bulir-bulir bening jatuh membasahi kedua pipinya yang pucat. Entah apa yang mesti ia lakukan sekarang tapi, yang pasti saat ini ia benar-benar dalam keadaan dilema. 


Di tengah-tengah rasa dilemanya, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka. Seorang wanita berusia 65 tahunan muncul dari balik pintu dengan bunga crisan di tangannya.


Wajah yang masih terbilang awet muda dengan tampilan modis tak memperlihatkan jika wanita itu sudah berusia setengah abad. 


Dengan balutan dres oranye selutut dan cardigan berwarna senada membuatnya terlihat begitu elegan dan muda.  


"Mama!" pekik Valerie, ketika melihat ibunya datang.


"Sayang, ya ampun kenapa kamu bisa seperti ini nak." Saras menghambur memeluk putrinya yang saat ini kaki dan kepalanya dibalut dengan perban.


"Mama khawatir banget sama keadaan kamu. Bisa-bisanya kamu kecelakaan tapi, nggak ngasih tau Mama," cerocos Saras, beliau terlihat sedikit kesal karena Valerie tak memberitahunya jika sedang berada di rumah sakit.


"Hehe maaf, Ma. Veli cuman nggak mau bikin Mama khawatir," jawab Valerie.


"Dasar anak nakal, apa kamu pikir dengan tidak memberitahuku aku tidak akan khawatir?" dengus Saras, mencubit lengan putrinya.


"Aw, Mama anaknya sakit masih aja di cubit," gerutu Valerie mengerucutkan bibirnya.


"Heuh, baiklah-baiklah … apa kata dokter? Apa semua ini tidak parah?" 


"Tidak, Ma. Satu minggu lagi juga pasti sembuh."


"Syukurlah, Mama takut banget kamu kenapa-kenapa." 


"Emangnya aku kenapa? Mama lihat sendiri kan aku baik-baik saja," ujar Valerie. Wanita itu tersenyum seperti bocah kecil.


"Lalu, aku harus mengatakan apa? Haruskah aku seperti ini … ah tidak aku akan mati, tubuhku sakit sekali. Ya ampun tidak! malaikat maut akan menjemputku." Valerie terus mengoceh sambil memperagakan gerakan yang lebay.


"Ya nggak begitu juga, Veli!" tegur Saras mendengus.


"Terus aku harus bagaimana, begini salah begitu juga salah," ujar Valerie merajuk.


"Terserah kau saja tapi, jika kau mati lebih dulu dariku aku akan mengutuk dirimu," rutuk Sarah.


"Kenapa begitu?" 


"Ya, karena seharusnya yang mati lebih dulu itu aku dan meskipun kau mati setidaknya kau sudah memberiku cucu," sebuah pernyataan yang membuat hati Valerie tertegun.


"Oh, iya Ma. Mama tau dari siapa kalau aku di sini?" Valerie sengaja mengalihkan pembicaraan mereka, agar Sarah tak membicarakan lagi masalah cucu.


"Dari Nadia," cetus Sarah.


"Sudah aku duga, pasti dia," gumam Valerie sebal. Padahal dirinya sudah mengatakan untuk merahasiakan keadaannya tapi, sang asisten malah membocorkan nya.


"Eh, iya sayang barusan di luar ada yang titip bunga buat kamu." Sarah memberikan buket bunga krisan  yang tadi ia bawa.


"Siapa, Ma?" Valerie mengambil bunga itu dan menatapnya dengan penuh tanya.


"Siapa ya … Mama lupa, Je-jeral Jerat apa Gerat ya?" Sarah tampak mengingat-ingat nama pria yang menitipkan bunga untuk putrinya.


"Gerald?" sahut Valerie.


"Nah, iya itu. Astaga makin hari kepalaku semakin pikun saja," gerutu Sarah menepuk kepalanya.


"Ih, Mama ngapain nerima bunga dari dia." Valerie melemparkan bunga itu ke lantai.


"Loh, memangnya kenapa? Itukan bunga kesukaan kamu."


"Pokoknya kalau ada yang ngasih sesuatu atas nama Gerald jangan Mama ambil, dia itu orang jahat Ma."


"Masa sih, tadi Mama liat anaknya baik kok … Mama jadi pengen punya mantu kayak dia," ucap Sarah sambil terkekeh.


"Ih, Mama apaan sih … jadi Mama kesini mau nengok Veli atau mau ngomongin dia?" cibir Valerie kesal.


Sarah kembali tertawa. " Kamu udah makan, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu loh." Sarah membuka paperbag berisi makanan yang sengaja ia bawa dari rumah.


"Wah, kebetulan Veli lagi kangen banget sama masakan Mama," manik mata Valerie berbinar ketika melihat tumis jamur kuping seafood yang masih mengepul dengan asap.


Usia Valerie memang sudah 25 tahun akan tetapi, jika sudah berada di dekat ibunya dia akan berubah menjadi seperti bayi kecil berusia lima tahun. 


Wajahnya yang sendu kini berubah menjadi cerah, dikala ia mendapatkan perhatian dari sang ibu. Dan semua pikiran tentang masalah beratnya langsung hilang ketika melihat senyuman Mama Sarah yang begitu menyejukkan. 


.


.


.


.


Bersambung.


Dimohon untuk komentar, othor maksa nih 🙄... dan buat pembaca setia tetap stay dan rajin komen ya diakhir episode othor mau kasih sesuatu yang kecil🤭