
Sore hari di sebuah bangku taman, Valerie dan Fero sedang duduk bersama menikmati senja berwarna jingga dan semilir angin yang menghembus ke arah mereka berdua.
"Kakak ipar, apa kau bahagia dengan Tuan Gerald?" tanya Fero penasaran.
Valerie menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak berbohongkan padaku? Kalau kamu tidak bahagia dengannya katakan saja padaku, aku akan membawamu pergi darinya," Fero menatap lekat istri dari kakak angkatnya itu.
Valerie menyunggingkan senyumnya. "Kenapa aku harus berbohong? Tuan Gerald baik dan sayang padaku. Aku juga tidak punya alasan untuk pergi darinya," jawab Valerie apa adanya.
Mendengar pengakuan Valerie, hati Fero terasa sakit. Niat awalnya datang ke Edelweiss untuk mengajak Valerie pergi dan hidup bersamanya di negara yang jauh, ia bahkan sudah memikirkan resiko yang akan dia tanggung ketika membawa Valerie pergi dari tangan Gerald.
Namun, sayang takdir berkata lain. Ia mendengar dari Rendi jika Tuan Gerald telah menikahi Valerie beberapa bulan yang lalu bahkan saat dirinya datang keduanya sedang berbulan madu di Swiss.
"Mas Fero, mas baik-baik aja kan?" tanya Valerie yang melihat Fero bengong.
Fero tersenyum pada Valerie, dan menyembunyikan rasa sakit hatinya. "Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
"Oh iya, katanya ada yang mau dibicarakan. Tentang apa?" sambung Valerie penasaran.
Fero terlihat bingung, entah apa yang akan dikatakan olehnya. Sebab, ia hanya beralasan saja agar dapat berdua dengan Valerie seperti saat di bali.
"Aku lupa." Fero sedikit menyunggingkan bibirnya.
Valerie terlihat canggung dan bingung saat bersama Fero. Dulu ia bisa mudah akrab dengan Fero karena statusnya yang single, tapi kini ia sudah kembali bersuami membuatnya takut akan menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi suaminya sekarang terhitung overprotektif, setiap ia dekat dengan laki-laki pasti akan langsung meraung seperti tirex.
"Kakak ipar, apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?" tanya Fero mencoba mengingat pada masa lalu, saat pertama kali dirinya bertemu dengan Valerie di sebuah gang buntu.
"Aku masih ingat, kamu yang menolongku saat aku tersesat dan bertemu hantu," balas Valerie.
Fero terkekeh saat mengingat dirinya yang masih mengenakan kostum barong dan membuat Valerie pingsan ketakutan. "Kakak ipar, asal kau tahu yang tempo lalu kau lihat itu bukan hantu, tapi aku yang lupa melepaskan kostum barong."
Valerie membulatkan matanya terkejut. "Benarkah? Hais, kamu membuatku hampir jantungan," protes Valerie.
"Maafkan aku, karena tidak mengaku sebelumnya," sesal Fero.
"Lupakan saja, lagipula itu kejadian lama … oh ya, kalau boleh tahu kenapa kamu mengenakan kostum itu malam-malam?" Valerie penasaran.
"Waktu itu, aku baru pulang dari tempat pentas seni. Karena aku mendapatkan peran sebagai barongan, niatku ingin mengerjai asisten rumah tanggaku dengan mengejutkannya, tapi malah bertemu denganmu dan malah kamu yang terkejut dan pingsan."
"Usil sekali." Valerie terkekeh.
Fero ikut tertawa bersama Valerie. "Tapi kakak ipar, aku ingin mengakui sesuatu," ujar Fero serius.
Valerie menatap Fero penasaran. "Mengakui apa?"
Fero tampak berpikir sejenak lalu, menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak jadi, lupakan saja."
Valerie mengerutkan dahinya, dan menatap Fero aneh.
"Oh ya, kakak ipar jika kelak aku menemukan wanita sepertimu dan mengajaknya untuk menikah. Maukah kau merancang kan gaunnya untukku?"
Valerie mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja, aku akan merancangnya sebagus mungkin … dan tanpa dibayar," cetus Valerie.
"Benarkah? Kau baik sekali," puji Fero.
Keduanya pun tertawa bersama, dan menghabiskan waktu hingga malam menjelang.
🌸🌸🌸🌸
Apartemen milik Rendi.
Kedua pria yang kerap bertengkar itu kini terlihat akur, keduanya duduk bersama di sebuah kedai sembari menikmati wine.
Fero yang sudah mabuk pun terus meracau tidak jelas pada Rendi.
"Kau sudah menghilangkan kekasihku," racau Fero yang menuangkan kembali wine ke dalam gelasnya.
"Ey, berhenti minum kau sudah mabuk." Rendi menyingkirkan botol wine dari hadapan Fero.
"Kenapa kau membantunya menikahi kekasihku?" Fero menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Aku, tidak rela–," ucapannya terhenti karena Fero keburu tak sadarkan diri akibat mabuk.
Rendi berdecak saat melihat Fero pingsan, ia jadi harus susah payah membawanya ke rumah.
Keesokan paginya. Fero yang semalam mabuk kini mulai tersadar, ia mengucek kedua mata dan melihat ke sekelilingnya.
"Kau sudah bangun?" ujar Rendi, ia menyandarkan tubuhnya pada tembok.
"Dimana aku?"
"Di rumahku."
Fero mengecek tubuhnya dan menutup kembali dengan selimut.
"Kau menggantikan bajuku?" tanya Fero.
Rendi mengangkat kedua alisnya ke atas. "Kau pikir siapa lagi, memangnya kau mau pakai baju yang dipenuhi dengan muntah … ayo sarapan," ajak Rendi yang sudah berjalan lebih dulu.
Ia pun mengikuti Rendi, menuju meja makan mini dimana disitu sudah tersedia sandwich dan susu.
"Terima Kasih," ucap Fero sembari menyuapkan sandwich berisi sayuran ke dalam mulutnya.
"Tuan Gerald, menyuruhmu untuk segera kembali ke Bali."
Fero menatap sinis Rendi sesaat. "Tanpa disuruh juga aku akan segera pulang."
"Baguslah, kau harus move on dari nyonya Valerie," cetus Rendi memberi saran.
Fero mendelik.
"Apa perlu aku mencarikan mu wanita lain?" Rendi menarik turunkan kedua alisnya.
"Cih, kau saja jomblo sok-sokan mau mencarikan aku pacar," decih Fero meledek Rendi.
Rendi tersenyum kecut. "Kau salah mengira, aku sudah tidak jomblo lagi."
"Aku tidak percaya."
"Terserah kalau kau tidak percaya, tapi yang pasti aku tidak kesepian lagi sekarang," pungkas Rendi merasa bangga dengan statusnya yang sekarang.
🌸🌸🌸🌸
Kediaman Gerald.
Rendi melaporkan pada Gerald, jika Fero baru saja kembali ke negaranya. Dia juga menyampaikan salam Fero untuk Valerie pada bosnya itu.
"Fero juga mengatakan, dia akan menunggu anda dan nyonya berlibur ke negaranya," ucap Rendi.
Gerald tak begitu merespon, ia hanya terfokus pada file yang ada di tangannya.
"Fero sudah pulang? Kenapa dia tidak pamit pada kita," sahut Valerie yang masuk ke ruang kerja Gerald sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
"Dia buru-buru, jadi tidak sempat berpamitan pada kita," jawab Gerald. Ia meletakkan filenya dan menghampiri istrinya.
"Hem, apa sesibuk itu? Sampai dia tidak mampir dulu kesini. Padahal aku sudah membelikannya oleh-oleh," keluh Valerie kecewa.
"Berikan saja pada Rendi, dia akan mengirimkannya lewat ekspedisi … oh iya lain kali suruh pak Andi atau pelayan lain saja untuk membawa kopi kemari, kau harus banyak beristirahat," ujar Gerald menyentuh tangan istrinya.
"Hanya membawa kopi saja, bahkan itu tidak membuatku berkeringat."
Gerald tersenyum, dan menyelipkan rambut sang istri ke telinganya. "Baiklah, tapi besok-besok biar pelayan saja yang melakukan. Aku sudah membayar mereka masa kau yang bekerja."
Valerie mengerlingkan matanya. "Oke-oke, kalau begitu lanjutkan pembicaraan kalian. Aku ke kamar dulu," pamit Valerie. Ia pun melenggang pergi menuju kamarnya.
.
.
Bersambung.