My Dandelion'S

My Dandelion'S
Pungguk merindu bulan



Sebuah senyum muncul di sudut bibir Gerald, ia sudah menebak jika cara seperti ini akan membuat Valerie menerima lamarannya. 


Ia tidak peduli, Valerie mencintainya atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah wanita cantik itu akan menjadi miliknya. 


Cinta akan datang, tanpa harus di paksa. Asalkan selalu bersama, maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Begitulah yang selalu dipikirkan oleh Gerald. 


Jika perusahaan dan kekayaan bisa ia dapatkan dengan mudah. Maka ia juga harus mendapatkan wanita idamannya dengan mudah pula. 


Meskipun dengan cara apapun itu, termasuk menakuti nya dengan cara mengikatnya di ujung kapal pesiar serta hiu buas di bawahnya. 


Gerald menurunkan Valerie lalu, ia memiringkan senyumnya. Valerie menatap Gerald tajam, ia marah dan kesal karena Gerald mempermainkannya dengan sangat keterlaluan.


"Ada apa?" tanya Gerald.


Valerie memicingkan matanya, "Ada apa? Setelah memperlakukan ku seperti ini bukannya minta maaf malah bertanya ada apa … pria ini benar-benar tidak berperasaan," gumam batinnya sebal.


"Baiklah, karena kau sudah menerimaku sebagai calon suami. Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan lagi. Panggil aku Bee." 


"Lebah?" celoteh Valerie.


"Tidak-tidak, itu tidak cocok panggil saja aku, Hase," ucap Gerald.


"Apa itu?" 


"Panggilan sayang dalam bahasa Jerman tapi, jika kau punya panggilan yang lebih bagus kau boleh mengatakannya." 


"Cih, jangan harap aku akan memberikan panggilan sayang padamu, setelah aku turun dari kapal ini aku harus cepat kabur," decak batin Valerie. 


"Baby, kenapa kau diam?" tanya Gerald pada Valerie yang sedang bengong. 


Valerie menggelengkan kepalanya, "Aku hanya merasa mual, karena mabuk laut." 


"Benarkah, kita harus segera menepi itu rasanya pasti sangat tidak nyaman," ujar Gerald khawatir. "Ren, tepikan kapalnya kita harus segera pulang ke hotel … panggilkan dokter juga untuk memeriksa calon istriku."


"Dokter?" gumam Valerie panik. "Eh, T-tuan. Tidak usah memanggil dokter, aku hanya perlu istirahat saja." 


"Tidak, kau perlu penanganan dokter. Aku tidak mau terjadi apapun padamu." 


"Tapi–," 


"Sudah, jangan banyak bicara. Aku akan menggendongmu ke kamar." Gerald menggendong Valerie dan membawanya ke kamar kabin.


"Berbaringlah, sebentar lagi kapal akan menepi." Gerald menyelimuti tubuh Valerie dengan rapat.


"Astaga, aku rasa dia benar-benar sakit. Tadi membunuh orang tanpa ada rasa bersalah, terus mengikat dan mengancamku. Sekarang dia begitu perhatian padaku, aku harus memikirkan cara agar aku bisa jauh darinya." 


Gerald menatap Valerie. "Apa yang kau pikirkan? Apa kau berpikir untuk kabur dariku?" 


Valerie terkejut, bagaimana Gerald bisa tahu jika dirinya memikirkan rencana untuk kabur?.


Gerald mendekatkan wajahnya pada Valerie, jarak yang sangat dekat dan nyaris beradu. "Dengarkan aku, Baby … kau adalah milikku dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku meskipun, hanya satu langkah saja. Bahkan kau pergi ke ujung dunia, aku pasti akan menemukanmu." 


Glek … 


Valerie menelan ludahnya susah payah, saat mendengar ancaman dari Gerald. Ia tidak bisa membayangkan, jika seumur hidupnya dia akan terkurung dalam penjara emas bersama pria tidak waras seperti Gerald. 


🌼🌼🌼🌼


Hotel Grand Paradise.


Gerald dan Valerie telah kembali ke hotel, Valerie yang berjalan di belakang Gerald terlihat begitu gelisah. 


Apa yang mesti ia lakukan? Tidak mungkin dirinya kabur sekarang, sementara Gerald menempatkan banyak anak buah di setiap sudut hotel untuk menjaga dirinya. 


"Baby, pesta pernikahan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Gerald. Ia merangkul bahu Valerie mesra. 


Valerie tak bergeming, ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. 


"Baby." 


"Hah, ada apa?" Valerie terlihat bingung.


"Kau tak mendengar ucapanku?" Gerald memasang wajah kesal dan meremas bahu Valerie agak kasar.


"A-aku." Valerie menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat murung dan sedih.


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai atas. Gerald mengantarkan Valerie ke kamarnya.


"Tuan, anda bisa mengantarku sampai sini saja," ucap Valerie.


"Kenapa?" 


"Aku lelah, anda juga pasti lelah sebaiknya anda segera beristirahat." 


"Oke." Gerald mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Valerie," panggil Gerald.


"Ya." 


Gerald mengangkat tangannya, hendak menyentuh kepala Valerie. Tapi, wanita itu malah terhenyak dan menghindar. 


Melihat Valerie yang menghindar, Gerald jadi merasa gugup dan kembali menurunkan tangannya.


"Selamat beristirahat," ujar Gerald. Ia pergi meninggalkan kamar Valerie. 


Valerie mengangguk, dan kembali menutup pintu kamarnya dengan rapat. 


🌼🌼🌼🌼


"Selamat, Tuan. Anda sudah berhasil mendapatkan Nona Valerie … anda hebat," ucap Rendi, ikut senang dengan pencapaian bosnya.


Gerald tersenyum angkuh, ia menuangkan wine ke dalam 2 gelas dan memberikannya pada Rendi.


"Mari bersulang," ujar Gerald mengangkat gelasnya keatas untuk merayakan keberhasilannya.


Ting …


Suara dentingan dari dua gelas yang beradu, kedua pria itu menikmati wine tersebut dengan perasaan senang karena rencana mereka telah berjalan dengan lancar. 


"Tuan, apa anda percaya jika yang menyuruh Hendra adalah direktur Fero?" tanya Rendi.


"Aku sedang senang, jangan merusak mood ku," jawab Gerald kembali menyesap wine nya.


"Maaf, Tuan." 


"Pergilah, aku mau istirahat. Katakan pada Valerie mulai besok dia harus membantu menyiapkan segala keperluan ku," titah Gerald.


"Baik, Tuan. Selamat istirahat," pamit Rendi. 


Selepas Rendi pergi, Gerald duduk di atas sofa menggenggam erat gelas wine. Rahangnya mengeras, ketika mengingat ucapan Hendra jika Fero yang telah menyuruhnya untuk membocorkan data-data perusahaan. 


"Apa alasan dia, melakukan semua ini?" Gerald terus berpikir, mencari alasan kenapa orang yang sangat ia percaya bisa melakukan hal ini padanya. 


Selama ini hubungan antara dirinya dan sang sahabat sangatlah baik, keduanya tidak pernah terlibat perselisihan apapun yang dapat menyinggung perasaan satu sama lain. Bahkan, ia sampai rela memberikan 40 persen dari perusahaannya yang ada di bali pada Fero sebagai tanda persahabatan. 


Jika saja Rendi tidak mengecek semua laporan perusahaan, bisa-bisa dirinya kehilangan salah satu dari asetnya. Meskipun, perusahaan di Bali tidak begitu besar tapi Gerald tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. 


Bagi Gerald, sekecil apapun perusahaannya ia harus tetap mempertahankannya. Jika satu saja perusahaan hilang ia akan kehilangan segalanya dan orang-orang yang selama ini menunggunya jatuh akan dengan mudah menghancurkannya. 


"Aku harus menyelidiki masalah ini sendiri," gumam Gerald meneguk kembali winenya hingga habis. 


🌼🌼🌼🌼


Paviliun Kenari. 


Seperti biasa, di malam hari Devano akan berdiri di depan balkon kamarnya. Menatap laut, dengan deburan ombak yang menghantam batu karang.


Devano menghela napasnya panjang, rasa rindu terhadap sosok wanita yang sempat mengisi hatinya tak dapat ia tahan lagi. Ingin sekali ia memeluk dan menatap wajah valerie untuk melepas kerinduannya tapi, apa daya kini dirinya sudah seperti pungguk yang merindukan bulan. 


Saat Devano tengah memikirkan Valerie sepasang tangan melingkar di pinggang Devano. Memeluknya dengan hangat dan mesra. 


"Kau belum tidur?" Vano memegang tangan tersebut. 


"Sudah tapi, aku terbangun karena kau tidak ada di sampingku." Helena bergelayut manja pada Devano. 


"Ya sudah, ayo kita tidur," ajak Vano. Ia melepaskan pelukan Helena dan merangkul pundaknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" 


"Tidak ada." Vano tersenyum pada Helena.


"Jangan membohongi ku." 


"Aku hanya sedang memikirkan pernikahan kita, aku jadi gugup," kilah Vano.


"Jangan terlalu dipikirkan, jika kau merasa gugup bayangkan wajah calon bayi kita. Pasti gugupnya akan hilang." Helen meletakan tangan Vano di perutnya.


"Baiklah, ayo masuk anginnya kencang aku tidak mau calon istri dan juga calon bayiku sakit." Vano mengusap kepala Helena dan membawanya masuk untuk kembali tidur. 


.


.


.


Bersambung.