
Valerie mengangkat telapak tangannya keatas, sembari menyender pada Gerald. Ia terus memperhatikan cincin tersebut sambil tersenyum.
"Shǎguā, bagaimana kau tahu kalau aku ingin ini?" Valerie menurunkan tangannya dan menatap Gerald.
"Saat kau pergi, aku kembali ke toko itu. Dan bertanya apa yang sedang kalian bicarakan. Pelayan itu menjelaskan kalau kau sangat menginginkan cincin itu, awalnya aku tidak mau membeli karena si pelayan mengatakan jika cincin ini adalah inti jiwa dewa bulan yang bernama Dong Fang Qing Cang. Tapi, pelayan itu terus membujukku dia bilang kau akan senang jika aku membelinya. Karena ingin melihatmu bahagia jadi aku membelinya. Dia juga memberikan bonus cincin anggrek itu padaku." Gerald menjelaskan pada istrinya yang masih tersenyum bahagia.
"Kau tahu, aku cemburu saat kau selalu menyebut nama raja bulan dan Dong Fang Qing Cang. Aku sampai menyuruh Rendi untuk mencari orang itu, sudah lewat dua hari dia masih tidak menemukannya. Lalu, Rendi bertanya pada asisten mu. Dan dia menjawab kalau orang itu hanya tokoh fiksi yang ada di drama, sia-sia sekali aku mencari orang yang tidak nyata," dengus Gerald. Ia merasa di prank oleh Valerie, ia sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari orang tersebut karena sudah berani meracuni hati istrinya ternyata orang itu hanya karangan manusia.
Valerie tertawa saat mendengar penjelasan suaminya, cemburu Gerald benar-benar di luar nalar sampai tokoh fiksi saja dia kejar-kejar untuk di beri pelajaran.
Gerald menaikan sebelah alisnya saat melihat istrinya tertawa. "Kenapa, tertawa seperti itu?"
Valerie menggelengkan kepalanya. "Shǎguā, apa kau ingin lihat pria-pria selingkuhan ku?"
Gerald langsung berdiri, rahangnya mengeras ketika mendengar istrinya punya selingkuhan. "Apa! Kau berani sekali memiliki hubungan dengan pria lain," sentaknya yang kembali dirundung cemburu.
Valerie tertawa lagi dan menarik tangan suaminya. "Duduklah, aku akan memperlihatkannya padamu." Valerie meraih ponselnya dan hendak membuka apk galeri tapi, Gerald langsung menolaknya.
"Aku tidak mau!" ketus Gerald lalu menangkup wajah istrinya "Baby, apa kau masih tidak puas memiliki suami yang tampan, gagah, kaya raya dan baik hati seperti aku, hah? Kau dengar baik-baik aku akan menghabisi pria-pria itu jika kau masih mempertahankan mereka!" Mata Gerald terlihat benar-benar marah.
Valerie menelan ludahnya kasar, ia jadi takut ketika melihat Gerald marah. Padahal niatnya hanya bercanda, malah berubah menjadi serius seperti ini.
Gerald melepaskan wajah istrinya yang terlihat ketakutan. Ia menghujani wajah Valerie dengan banyak kecupan sembari minta maaf.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud," sesal Gerald dengan wajah sendu.
"Lupakan saja, kau memang pria kaku!" sindir Valerie yang beranjak dari sofa.
"Baby, kau mau kemana?"
"Tidur," jawab Valerie singkat.
Melihat istrinya pergi, Gerald hendak mengekor. Akan tetapi, ponsel Gerald keburu berdering. Ia mengangkat ponselnya dan menyuruh Rendi untuk menunggu dibawah.
"Baby, aku turun dulu untuk menemui rendi," ucapnya yang menoleh pada gundukan selimut putih di atas ranjang.
Valerie yang ada dibawah selimut tak bergeming, ia masih kesal dengan suaminya yang tak bisa di ajak bercanda.
Di lantai bawah.
Rendi langsung bersikap tegap saat melihat bosnya sedang menuruni anak tangga.
"Ren, kau sudah sembuh?" sapa Gerald yang melihat sekertarisnya itu sudah segar kembali.
"Sudah, Tuan."
Merekapun berjalan menuju ruang kerja yang ada di bawah tangga.
"Ada apa?" tanya Gerald yang kini duduk di kursi kebesarannya.
Rendi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah artikel yang menyeret nama bosnya bersama artis kontroversi.
Artikel itu menyebutkan, jika artis bernama Angelina Mirzani menjadi korban penganiayaan seorang pengusaha besar berinisial G di sebuah restoran krusty.
Tak hanya menuliskan berita yang di lebih-lebihkan, akun itu juga menyertakan beberapa gambar dan potongan video berdurasi pendek saat Angelina terjatuh.
Gerald melempar ponsel Rendi, pada pemiliknya. "Berita tidak bermutu, berani sekali menuliskan berita palsu tentangku," umpatnya sambil tersenyum kecut.
"Apa yang sedang anda lakukan di sana, Tuan?" tanya Rendi penasaran.
"Aku sedang mengawasi, istriku. Dia tiba-tiba datang dan menyentuhku, aku tidak melakukan apapun padanya dia yang jatuh sendiri." Gerald menjelaskan pada Rendi. "Blokir semua akun yang menuliskan tentang berita itu, aku tidak mau terlibat apapun dengannya," titah Gerald pada Rendi. Ia juga memberikan rekaman cctv yang asli pada Rendi, agar Rendi menyebarkannya dan publik pun akan tahu siapa yang sebenarnya salah.
"Oh, ya Tuan. Mata-mata kita mengatakan jika Mr, Shama malam ini akan datang ke edelweiss untuk mengecek perusahaannya yang ada disini," lanjut Rendi memberikan informasi.
"Lakukan seperti yang aku perintahkan, jika dia berani meretas data perusahaanku. Maka kita juga harus membalasnya, cari peretas yang handal jika bisa suruh dia mengacak-acak semuanya," perintah Gerald, ia sangat geram sekali dengan ulah Mr, Shama yang berani mengacaukan usahanya.
"Baik, Tuan." Rendi pun pergi meninggalkan ruangan Gerald.
"Rendi, Tunggu!" teriak Gerald. Ia hampir lupa untuk memberikan sesuatu pada sekertarisnya itu.
"Ya, Tuan."
Rendi menatap kunci itu sesaat. "Apa ini, Tuan?"
"Berikan pada kekasihmu, aku sudah berjanji akan memberikannya motor limited edition beberapa hari yang lalu,"
"Kekasih? Maksud anda, Nadia?"
"Dia kekasihmu kan?"
"Bukan, Tuan," elak Rendi, karena memang pada kenyataannya begitu. Mereka hanya berteman biasa.
"Tapi, aku lihat kau menyukainya."
Rendi bergeming, ia tidak bisa membohongi bosnya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Sudahlah, cepat sana pergi. Bilang saja ini pemberianmu, dia pasti akan sangat senang," titah Gerald mengusir sekertarisnya tersebut.
Rendi tersenyum dan mengucapkan terimakasih, kemudian ia pergi meninggalkan kediaman Dhanuendra.
🌸🌸🌸🌸
Rumah Nadia.
Rendi mengetuk pintu rumah, yang terlihat sederhana tersebut beberapa kali.
Ceklek …
Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dengan wajah judes, muncul dibalik pintu dan menatap Rendi dari atas sampai bawah.
"Cari siapa?" tanyanya dengan ketus.
Rendi yang biasanya terlihat tak kenal takut pada siapapun, kini mendadak gugup ketika menghadapi wanita yang ada dihadapannya.
"N-nadianya ada Bu?" ucap Rendi terbata.
"Mau apa cari-cari anak saya? Kamu dari bank mana?"
Rendi sedikit menggerakkan kepalanya, untuk menyetabilkan Indra pendengarannya akibat suara ibunya Nadia yang seperti petir.
"Bank?" Rendi mengerutkan dahinya.
"Iya! Kamu kesini mau nagih hutang anak saya kan? Asal kamu tahu ya, seharusnya kamu itu nagih hutang pada bapaknya bukan pada anak saya, yang berhutang itu bapaknya bukan Nadia. Jadi saya minta anda pergi dari sini, jika tidak saya panggil warga untuk mengeroyok kamu." Ibu Nadia memberikan ancaman, membuat Rendi lari terbirit-birit. Karena tidak mau ambil resiko dikeroyok oleh warga setempat.
"Gila, tuh emak-emak suaranya mau bikin telingaku pecah," gerutu Rendi dengan napas yang ngos-ngosan akibat berlari. "Mana ngusirnya gitu banget lagi, emang aku keliatan kayak debkolektor apa? Stelan udah mirip CEO seperti ini malah di kira pegawai bank," omel Rendi yang kini menyandarkan tubuhnya didepan mobil.
Rendi mengeluarkan ponselnya, dan menelpon Nadia.
"Hallo."
"Kau dimana?"
"Sekretaris Rendi? Ada apa kau meneleponku?"
"Jawab, kau dimana?"
"Di rumah, memangnya ada apa?"
"Cepat keluar, saya ada di depan!"
Tutt …
Panggilan terputus sebelah pihak.
.
.
.
Bersambung.