My Dandelion'S

My Dandelion'S
Lepaskan dia



"Tuan, berhenti menatapku seperti itu," ucap Valerie yang merasa risih karena terus ditatap oleh Gerald.


Valerie memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan meneruskan tidurnya.  


🌼🌼🌼🌼


Bandara I.N kota Bali.


Valeri yang sudah turun dari pesawat, merentangkan kedua tangannya menghirup udara segar yang dimiliki kota Bali. 


Ia melangkahkan kakinya dan bergegas mencari hotel yang dekat dengan lokasi pantai. Ia sudah tidak sabar ingin merasakan hembusan angin laut yang akan menerpa wajahnya.


Ketika sudah berada di depan bandara, Valerie memasuki sebuah taksi dan lagi dirinya harus bertemu dengan Gerald dan berebut siapa yang paling dulu mendapatkan taksi tersebut. 


"Tuan, aku yang paling pertama jadi silahkan anda mencari taksi lain."


"Aku tidak mau, kau saja yang mencari taksi lain," jawab Gerald datar.


"Tapi, aku yang memberhentikan taksi ini lebih dulu."


"Ya, kau memang benar. Tapi, aku yang lebih dulu masuk."


"Iihh, dasar menyebalkan," dengus batin Valerie kesal. 


"Maaf, Tuan Nona memang tujuan kalian berdua kemana?" tanya supir taksi yang ingin mencari jalan keluar agar penumpangnya tidak saling berebut.


"Hotel grand paradise," ucap Valerie dan Gerald serentak.


"Oh, ya sudah kalian naik saja berdua … kan satu arah," ujar supir taksi.


"Aku tidak mau," tolak Valerie.


"Kalau tidak mau, ya sudah kamu cari taksi yang lain saja." Gerald hendak menutup pintu taksi tersebut.


"Eh, tunggu-tunggu. Aku nggak mau ya kalau harus nunggu taksi lain dan aku juga nggak mau satu mobil dengan mu, sebaiknya kau saja yang mencari taksi lain bukankah pria seharusnya mengalah pada wanita."


"Dalam kamus hidupku tidak ada yang namanya mengalah dengan wanita kecuali, wanita itu adalah istriku sendiri." 


"Nona, sebaiknya anda saja yang mengalah soalnya sebentar lagi akan turun hujan lebat dan biasanya taksi tidak akan kembali lagi kesini," terang sopir taksi.


Valerie terdiam sejenak memikirkan apa dirinya harus satu mobil dengan Gerald atau menunggu taksi lain datang? Tapi, sopir itu mengatakan jika hujan lebat akan turun dan tidak akan ada taksi lagi yang datang.


"Hujan lebat, yang berarti akan disertai petir … ya ampun bagaimana ini, tidak mungkinkan aku bermalam di sini," ucap batin Valerie bingung.


"Jalan saja, pak. Jangan membuang waktu," perintah Gerald pada sopir tersebut.


"Baik, Tuan."


Pria berusia 40 tahunan itu, mulai menyalakan mobil mesinnya dan bersiap untuk berangkat. Valerie yang merasa terdesak pun pada akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Gerald dengan wajah masam.


"Katanya orang kaya tapi, naik taksi dan pesawat kelas ekonomi dasar penipu … kenapa juga sih aku harus ketemu sama dia lagi, padahal hidupku sudah tenang tanpa gangguan darinya. Sekarang malah ketemu lagi," gerutu  batin Valerie. Ia menghela napasnya dalam sampai terdengar oleh Gerald yang ada sisinya.


"Sepertinya, kau lelah sekali Nona padahal sepanjang jalan dalam pesawat kau terus tidur," sindir Gerald pada Valerie.


"Bukan urusan mu." Pungkas Valerie mendelik.


 


🌼🌼🌼🌼


Grand Paradise Hotel. 


"Tuan, nyonya kita sudah sampai," ucap sopir taksi pada penumpang yang saat ini tengah tertidur dalam posisi saling menyender. 


Jarak antara bandara I.N dan hotel grand paradise memang cukup jauh, selain karena faktor kelelahan setelah berada di pesawat selama 7 jam cuaca yang sedang turun hujan pun membuat mereka mengantuk dan tertidur pulas. 


Pada awalnya mereka tidur dengan posisi masing-masing, karena mobil melewati beberapa polisi tidur jadi Valerie dan Gerald bisa saling menyender seperti saat ini. 


Valerie terlihat begitu nyaman saat berada dalam pelukan Gerald, tangannya yang tanpa sadar memeluk Gerald dengan erat.


Begitu juga dengan Gerald yang menumpu kepalanya pada kepala Valerie.


"Hem, tadi bertengkar sekarang malah romantis dasar anak muda." Sopir itu menggelengkan kepalanya dan membangunkan penumpangnya kembali. 


Setelah beberapa kali di panggil, merekapun terbangun Valerie yang mulai sadar jika dirinya tengah memeluk Gerald langsung terperanjat dan menjauhkan diri.


"Dasar mesum!" teriaknya sambil menyilangkan tangan di dada.


"Berani sekali kau menuduhku," timpal Gerald tak terima.


"Aku tidak menuduh, itu kenyataan."


"Hei, Nona apa kau pikir dengan penampilan mu yang seperti ini akan ada pria yang mau menggodamu," cibir Gerald.


Melihat Valerie yang bengong, gerald menjentikkan jari didepan wajah Valerie.


"Bayar taksinya." Gerald keluar dari taksi tanpa membayar.


"Aku yang bayar? … hei tunggu! Kita naik taksi berdua seharusnya kau juga membayar."


"Aku tidak mau," ketus Gerald yang terus berjalan cepat menuju hotel.


"Hei, tunggu!" Valerie terus mengejar Gerald.


Karena takut penumpangnya kabur dan tak membayar, sopir itu ikut mengejar Valerie sampai ke loby hotel.


"Nona, kau harus membayar dulu ongkos taksinya." 


"Ya ampun pak, tunggu dulu aku sedang mengejar pria itu dia juga harus membayar." Valerie menyebarkan pandangannya tapi, Gerald sudah menghilang.


"Nona, sebaiknya anda bayar dulu … urusan anda dengan tuan itu silahkan urus sendiri … ini sudah malam saya harus segera pulang, keluarga saya sudah menunggu," desak sopir yang terus meminta ongkos pada Valerie.


"Hais." Valerie merogoh tasnya mencari dompet yang tadi ia simpan di dalam tas Selempang nya.


"Kok nggak ada," gumamnya.


Ia mengeluarkan semua isi tasnya, mencari dompet yang mungkin terselip. 


"Kenapa, Non?" 


"Dompet saya hilang," jawab Valerie mulai panik.


"Anda jangan bohong, Nona!" bentak sopir.


"Saya nggak bohong." Valerie membongkar kopernya siapa tahu dirinya lupa menyimpan. Akan tetapi, dompet itu masih tidak ditemukan.


Ia mencoba mengingat-ingat kembali dimana dirinya menyimpan benda kotak kecil berwana pink yang terbuat dari kulit kodok itu. 


Sebelum dirinya pergi ke bandara, ia sangat ingat  jika sudah memasukan dompet itu ke dalam tas. Bahkan saat di pesawat ia sempat mengecek benda itu masih ada lalu, kemana dompet itu hilang?.


"Astaga, aku baru ingat saat menghentikan taksi aku sempat bertabrakan dengan seseorang … apa jangan-jangan, dia yang sudah mengambil dompetku," ucap Valerie yang mengira dirinya sudah kecopetan.


"Nona, cepatlah jangan membuang waktuku," omel sang sopir tidak sabar.


"E-eu begini, pak … sebelumnya saya minta maaf bukannya saya tidak mau membayar t-tapi, dompet saya hilang," ujar Valerie merasa tidak enak pada sopir taksi tersebut.


"Hilang!" 


Valerie mengangguk pelan.


"Ya ampun, Nona anda jangan mencoba menipu saya ya … saya sudah 28 tahun hidup di jalanan menjadi sopir taksi saya sudah tahu dengan modus penipuan seperti ini, alasan dompet hilang padahal tidak mau membayar."


"Saya tidak menipu anda, pak. Dompet saya benar-benar hilang," ujar Valerie meyakinkan sopir itu.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, anda harus tetap membayar jika tidak saya akan membawa anda ke kantor polisi sekarang juga!" ancam sopir taksi tersebut.


"Jangan pak, begini saja berikan nomor rekening bapak besok saya transfer ongkosnya."


"Saya tidak mau, anda pasti akan kaburkan!" 


"Nggak pak, saya bersumpah saya tidak akan kabur saya akan bayar semuanya besok." Valerie mengangkat tangannya dan bersumpah.


"Halah saya nggak percaya, ayo sebaiknya kamu ikut saya ke kantor polisi sekarang juga." Sopir itu menarik tangan Valerie secara paksa.


Valerie memberontak dan meminta tolong tapi, sayang tidak ada satupun yang berani menolongnya karena mereka berpikir jika Valerie memang penipu.


 Akhir-akhir ini sering terdengar tentang gadis-gadis cantik yang menipu sopir taksi, mereka minta diantar kesebuah tempat dan ketika sudah sampai di tempat tujuan mereka pergi begitu saja tanpa membayar.


Valerie terus berontak, dan minta di lepaskan. Tapi, supir yang memiliki tubuh lebih besar darinya terus menariknya. Valerie terlihat ketakutan, matanya berkaca-kaca ingin menangis.


Ia tidak menyangka tujuannya datang ke Bali untuk menemui client dan berlibur, malah menjadi kacau seperti ini. Bertemu dengan pria menyebalkan, dompet dan ponsel hilang di tuduh penipu karena tidak mau membayar ongkos taksi dan sekarang tidak ada yang mau menolongnya.


Valerie pun pasrah, jika dirinya memang harus menginap di kantor polisi ia akan menerimanya. Toh disana lebih aman di banding berkeliaran di jalan kota yang belum ia kenal sama sekali.


"Berhenti! Lepaskan dia."


.


.


.


.


Bersambung.