
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ketika mendengar pengakuan Helen yang mengatakan jika dirinya tengah mengandung darah daging suaminya.
Hati Valerie terasa hancur berkeping-keping, kakinya menjadi lemas tak bertenaga. Dunia Valerie seakan-akan hancur dalam sekejap mata.
Seharusnya ia tidak terkejut jika mendengar berita ini, sebab sudah resiko jika perselingkuhan sudah melakukan hubungan intim pasti akan terjadi hal tersebut.
Namun, mau bagaimana pun itu adalah hal yang manusiawi terkejut dan tak percaya itulah yang saat ini di rasakan oleh Valerie. Ia berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk dalam tidurnya.
Devano menatap istrinya, yang tengah dirundung rasa kecewa berat. Ingin menyangkal jika itu bukan darah dagingnya tapi, dirinya sendiri yang telah merobek selaput darah milik Helen.
Ia tidak menyangka niatnya, yang bermain-main hanya sekedar ingin mencicipi Helena malah berujung dengan kehamilan.
Jujur saja, dalam hati Vano hanya ada istrinya. Rasa cinta dan sayang Vano pada Valerie sangatlah besar, sehingga ia tidak ingin kehilangan sang istri. Tapi, karena kesalahannya yang tak bisa menahan godaan nafsu membuat dirinya harus kehilangan istri yang begitu sempurna baginya.
"M-maafkan aku Val," ucap Vano dengan bibir yang bergetar.
"Cukup, mas … aku tidak mau lagi mendengarkan kata maaf dari mulutmu. Aku minta secepatnya kamu tanda tangani surat perpisahan kita," pinta Valerie sembari menahan air matanya.
"Aku tidak akan pernah menandatangani surat itu, Val," seru Devano yang begitu teguh dengan pendiriannya yang tidak ingin berpisah dari Valerie.
"Kamu nggak bisa nahan aku kayak gini, mas. Kalau kamu nggak mau pisah dari aku lalu, bagaimana dengan dia? Dia sedang mengandung anak kamu!"
"Aku akan menikahinya, tanpa harus menceraikan kamu, Val," celoteh Devano yang membuat Valerie dan Helen terhenyak.
"Mas, aku nggak mau ya kalau harus jadi istri kedua kamu," protes Helen.
"Aku juga nggak mau, kalau harus dimadu," sahut Valerie.
"Tapi, aku nggak bisa kehilangan kalian berdua," timpal Devano.
"Kamu egois, mas. Kamu cuman mikirin perasaan kamu aja," pungkas Valerie. Ia pun pergi meninggalkan suaminya dan Helen.
"Val, tunggu. Jangan pergi lagi!" Devano berusaha bangkit untuk mengejar akan tetapi, pria itu malah terjatuh dari ranjangnya.
"Mbak Valerie!" Nadia mengejar bosnya yang berlari sambil menangis.
"Tinggalkan aku sendiri, Nad," ujar Valerie yang meneruskan langkah kakinya.
Entah kemana ia akan pergi, karena saat ini tidak ada arah dan tujuan yang jelas untuk di datangi Valerie. Dia hanya terus berjalan dan berjalan mengikuti langkah kakinya yang tak ingin berhenti melangkah.
Di tengah kekalutan Valerie, hujan pun turun cukup deras dan di bawah guyuran hujan Valerie duduk bersimpuh, menuangkan segala emosi dan air matanya yang tak kalah deras dari hujan malam ini.
(gambar hanya ilustrasi.)
"Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi dalam rumah tanggaku? Kenapa kamu begitu jahat padaku, mas!" teriak Valerie histeris.
"Apa kurangnya aku? Apa salah aku padamu? Sampai-sampai kau tega menghancurkan hatiku seperti ini! Hatiku sakit, mas. Hatiku hancur," ucap Valerie sambil terisak.
Wanita itu kini larut dalam tangisannya, tangannya yang mengepal tak henti terus memukul aspal jalan yang tak berdosa hingga membuat tangan itu terluka dan mengeluarkan darah.
Valerie mendongakkan kepalanya, ketika merasakan hujan tak lagi menyentuh tubuhnya. Ia pikir hujan telah reda tapi, ternyata itu adalah Gerald yang sengaja memayungi dirinya.
"Jangan menangis lagi, pria seperti dia tidak pantas kamu tangisi," ucap Gerald menatapnya sendu.
Valerie bangkit dari duduknya. "Untuk apa kau kesini? Belum cukupkah kau melihatku hancur?"
"Baby–,"
"Berhenti memanggilku seperti itu!" teriak Valerie pada Gerald, dadanya naik turun karena amarah. "Semua pria sama saja, hanya suka mempermainkan hati wanita," lirih Valerie kesal.
"Aku tidak sama seperti pria yang lain, aku tulus mencintaimu, Valerie."
"Cih, persetan dengan cinta … aku tidak percaya lagi pada cinta, cinta hanya membuatku terluka," dengus Valerie sambil tersenyum kecut.
"Percayalah padaku, aku akan membuatmu bahagia."
"Aku tidak akan pergi meninggalkan mu," tolak Gerald.
"Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang pergi." Valerie pergi meninggalkan Gerald.
Namun, siapa sangka ketika Valerie akan menyebrang jalan. Dari kejauhan sudah ada mobil yang siap untuk menabrak wanita tersebut. Dan di menit berikutnya, mobil melaju dengan sangat cepat ke arah Valerie.
Cekiitt …
Brak …
"Valerie!" teriak Gerald, saat melihat wanita yang dicintainya jatuh bersimbah darah.
Mobil itu terlihat berhenti beberapa saat, untuk memastikan jika dirinya telah berhasil menabrak Valerie. Setelah melihat korban terjatuh, mobil itu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Baby, aku mohon bangunlah." Gerald menepuk-nepuk pipi Valerie agar kembali sadar akan tetapi, wanita itu terus menutup kedua matanya.
🌼🌼🌼🌼
Cendrawasih Hospital.
Di bantu oleh beberapa orang suster dan dokter, Gerald mendorong sebuah brankar. Dimana di atasnya terdapat Valerie, yang tengah terluka parah.
"Tuan, silahkan anda tunggu di luar. Kami akan menangani pasien," ujar suster menahan Gerald agar tidak ikut masuk.
"Selamatkan dia suster," seru Gerald. Ia begitu cemas pada keadaan Valerie.
"Tuan, apa yang terjadi?" Tanya Rendi, setelah mendapat telepon dari bosnya ia langsung menyusul Gerald menuju rumah sakit.
"Cari tahu siapa pemilik mobil ini … aku rasa dia sengaja menabrak Valerie." Gerald menyerahkan ponsel yang berisi foto plat mobil.
"Baik tuan … oh, ini pakaian yang anda minta tadi." Rendi mengasongkan paper bag pada Gerald.
"Aku titip Valerie, beritahu aku jika terjadi sesuatu," ujar Gerald. Ia pergi untuk mengganti pakaiannya yang dipenuhi oleh darah.
Dua puluh menit telah berlalu, Gerald telah selesai berganti pakaian. Akan tetapi, masih belum ada kabar dari para dokter yang memeriksa keadaan Valerie.
Ceklek …
Pintu ruangan tersebut terbuka, seorang dokter pria menghampiri Gerald dan memberitahukan kondisi Valerie saat ini.
Dokter itu mengatakan jika keadaan Valerie tengah kritis, dan kehilangan banyak darah. Valerie harus menjalani operasi tapi, tim medis tak bisa melakukan tindakan operasi tersebut karena rumah sakit kehabisan stok darah yang sama dengan Valerie.
Gerald mengusap wajahnya kasar, ketika mendengar jika Valerie dalam kondisi kritis. Kekhawatiran akan takut kehilangan tergambar jelas di raut wajah Gerald.
"Apa golongan darahnya, Dok?"
"Golongan darah pasien, AB."
"Golongan darah saya juga AB, Dok … ambil saja darah saya."
"Tuan, anda yakin?" Rendi meyakinkan Gerald, ia tahu jika bosnya itu takut pada jarum suntik.
"Aku yakin, aku akan melawan rasa takut demi Valerie," jawab Gerald.
Rendi mengangguk pelan, ia melihat keteguhan dan ketulusan dari sorot mata bosnya. Baru kali ini, ia melihat atasannya peduli pada seorang wanita. Sampai ia rela melawan rasa takut demi menyelamatkan seseorang yang baru dikenalnya selama beberapa hari ini.
.
.
.
Bersambung….