
"Aku tidak mau pakai baju itu, aku mau bajuku yang tadi," tolak Gerald yang enggan diberikan baju baru.
"Tuan, kemeja anda masih basah dan perlu waktu lama untuk membuatnya kering," timpal Valerie membujuk.
"Aku akan menunggu meskipun, itu akan memakan waktu seumur hidup," celoteh Gerald sambil merayu.
"Ah ya Tuhan, ampuni dosaku ini," rengek Valerie frustasi.
"Anda tenang saja, Tuhan pasti akan mengampuni dosamu, Nona," jawab Gerald dengan wajah polos.
"Hais, kau ini benar-benar!" Valerie kembali mengetatkan giginya. Rasa kesalnya kini sudah mulai naik ke ubun-ubun.
"Aku benar-benar tampan bukan," ucap Gerald sambil mengusap dagunya dengan jari.
Valerie menggelengkan kepalanya, entah harus dengan cara apalagi dirinya mengusir Gerald. Semua cara sudah dilakukan olehnya tapi, Gerald tetap tidak mau pergi dari butiknya.
Gerald menatap Valerie yang tengah kesal karena ulahnya. Bukannya kasihan, Gerald malah semakin gemas saat melihat Valerie mengerucutkan bibirnya yang ranum.
Di tengah-tengah perselisihan keduanya, ponsel Gerald terdengar berdering. Gerald mengangkat panggilan telepon dari sekretarisnya, yang memberitahukan dirinya jika terjadi masalah di kantor.
Awalnya Gerald meminta Rendi untuk menyelesaikannya akan tetapi, Rendi terus memaksa jika dirinyalah yang bisa menuntaskan masalah tersebut.
Valerie tersenyum senang, ketika mendengar jika Gerald dibutuhkan di kantornya. Begitu panggilan berakhir, Valerie dengan cepat membantu Gerald mengenakan pakaiannya membuat Gerald heran karena Valerie bergerak cepat tanpa diminta.
Tanpa ada rasa canggung, Valerie mulai mengancingkan kemeja Gerald satu persatu sambil tersenyum.
Gerald menatap Valerie begitu dalam, ketika wanita yang ada di hadapannya mulai memasangkan dasi padanya.
Sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Gerald, Valerie mendongakkan kepalanya. Sehingga tanpa sengaja manik mata keduanya saling bertemu dan menatap dalam satu sama lain.
(gambar hanya ilustrasi)
Gerald yang seolah tertarik oleh magnet, perlahan mendekatkan wajahnya ke hadapan Valerie. Wanita yang memiliki tinggi sedada Gerald itu mengerutkan dahinya sambil menelan ludahnya kasar, ketika melihat Gerald semakin mendekat. Karena tidak ingin terbuai akan suasana, Valerie langsung membuang wajahnya dan melepaskan tangan dari dasi Gerald.
"S-sudah selesai," ucap Valerie terbata, entah kenapa wanita itu tiba-tiba saja berubah menjadi gugup dan tak berani menatap lawan bicaranya.
Gerald menghembuskan napasnya, sambil melonggarkan dasi yang sudah dipasang rapi oleh Valerie. Padahal suhu ruangan disana tidak terlalu panas tapi, Gerald merasa sangat kegerahan.
Valerie memelototkan matanya ketika melihat Gerald merusak dasi yang sudah ia pasang tapi, beruntung Rendi sudah datang dan menjemput Gerald dengan cepat. Sehingga keduanya tidak perlu berdebat.
"Berikan nomor rekening mu, aku akan membayar semuanya." Gerald mengasongkan ponselnya pada Valerie.
"Tidak perlu, dengan anda pergi dari sini itu sudah membuatku cukup," ketusnya.
"Baiklah, nanti malam berdandanlah yang cantik. Rendi akan menjemputmu … oh iya aku tidak mau ada kata penolakan, jika tidak aku akan memberikan rekaman ini pada polisi!" Sambil mengancam Gerald pergi meninggalkan ruangan Valerie dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan masalah yang disebutkan oleh Rendi.
Valerie menghentakan kakinya lalu, meraih tissue yang ada di atas meja. Dengan penuh kekesalan ia pun melemparkan tissue tersebut ke arah pintu yang dilalui oleh Gerald tadi.
🌼🌼🌼🌼
Bougenville Hospital.
Sudah dua hari, Devano masih terbaring di rumah sakit. Luka-lukanya yang terbilang parah, tak memungkinkan untuk dirinya keluar dari rumah sakit dengan cepat.
Helen yang sekarang tengah hamil muda, masih setia menemani Devano yang belum bisa bangun sepenuhnya. Meskipun, sering dilanda rasa mual karena ngidam ia berusaha untuk tetap di samping calon ayah sang jabang bayi.
"Helen." Maheswari mengusap rambut putrinya yang sedang tertidur sambil memegang tangan Devano.
"Pindah ke sofa, badanmu pasti sakit jika tidur seperti ini," titah Maheswari, pria paruh baya itu berbicara dengan sangat lembut pada putrinya.
Helen pun menuruti kata ayahnya. Dan berpindah menuju sofa tapi, sebelum ia sampai ke tempat duduk. Helen kembali merasakan mual, ia pun berlari menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
"Helen, kamu tidak apa-apa?" Maheswari menggedor pintu kamar mandi, wajahnya terlihat begitu khawatir pada kondisi sang putri.
Pintu kamar mandi terbuka, Helen keluar dari sana dengan lemas. Wajahnya yang pucat dan lelah tampak begitu mengkhawatirkan. Tubuh Helen yang awalnya berisi kini mulai terlihat kurus.
Mungkin karena efek kehamilan di awal trimester pertama, yang membuat Helen kehilangan banyak berat badan karena sering merasa mual dan muntah juga kekurangan tidur yang membuatnya terlihat tidak terurus.
Maheswari menatap nanar putrinya. Ia merasa kasihan pada Helen demi menjaga pria seperti Devano, putrinya sampai rela kekurangan tidur seperti ini.
"Helen, makanlah Papa bawa makanan kesukaan kamu. Disana juga ada buah-buahan yang akan membuatmu segar." Maheswari memberikan tas berisi makanan ke tangan Helen.
"Makasih, Pah," ucap Helen sambil membuka tas tersebut, ada rasa haru dalam diri Helen ketika mendapatkan perhatian lebih dari ayahnya. Meskipun, dirinya telah membuat sang ayah kecewa tapi, pria yang sudah beruban itu masih bersikap baik padanya.
"Jika sudah makan, pulanglah dulu kau juga perlu istirahat … Darman akan mengantarmu."
"Tidak usah, Pah. Aku baik-baik aja kok, aku mau disini sampai mas Devan benar-benar pulih," tolak Helen yang masih berada di sisi Devano.
"Helen, kamu jangan terlalu memikirkan pria itu. Kamu juga harus pikirkan kesehatan dirimu juga calon bayimu … pulanglah dan beristirahat, biar Papa yang akan menjaga dia," desak Maheswari, meminta pada putrinya untuk pulang.
Helen menyentuh perutnya, jika dipikir-pikir ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Kini dirinya sedang hamil, dan ia tidak boleh egois. Dirinya juga harus memikirkan dan menjaga calon bayinya dengan baik.
Sebab jika terjadi sesuatu pada kandungannya, ia pasti akan kehilangan Devano. Ditambah lagi saat ini tubuhnya terasa begitu lelah dan pegal, dan akhirnya Helen pun menuruti perintah ayahnya untuk pulang.
"Sebelum pulang, periksakan dirimu lebih dulu pada dokter … Papa tidak mau terjadi sesuatu pada calon cucu Papa."
"Iya, Pah. Aku titip mas Devan ya, Pah. Jangan Papa pukul lagi."
"Tidak akan, sudah sana pulang."
"Iya-iya, dah Pah." Helen mengecup pipi sang Papa dan keluar dari ruang rawat inap Devano.
Setelah kepergian sang putri, Maheswari menatap benci pada pria yang kini masih terbaring. Jika bukan karena putrinya yang memohon, ia pasti sudah mengirim Devano menuju neraka.
"Aku heran, apa yang Helen lihat darimu … sampai-sampai putriku rela mati hanya karena pria bajingan seperti mu!" gumam Maheswari. Rasa bencinya yang begitu besar terhadap Devano masih tak kunjung reda.
Maheswari yang lebih memilih mengunjungi tempat usahanya, di banding menjaga Vano akhirnya meminta pada salah seorang perawat untuk menunggu Devano sampai pria itu siuman.
Dan tak berselang lama dari kepergian Maheswari, manik mata Devano mulai bergerak-gerak. Dengan perlahan pria tersebut mulai membuka kedua matanya.
Vano menyebarkan pandangannya keseluruh ruangan, dan dilihatnya seorang suster tengah mengganti cairan infusnya.
"Saya dimana?" Lirih Vano, dengan suaranya yang serak.
"Tuan, anda ada di rumah sakit … sudah dua hari anda tidak sadarkan diri," jelas sang perawat.
"Rumah sakit?" Vano mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya. Setelah ia teringat semua kejadian, pria itu langsung melepas jarum infus yang menempel di tangannya secara sembarangan lalu, ia pergi meninggalkan rumah sakit untuk menemui Valerie.
.
.
.
Bersambung.