
Kediaman Rajasa, hidangan makan malam sudah tersusun dengan rapi diatas meja makan. Valerie yang menyaksikan banyaknya makanan yang tertata diatas meja menaikan kedua alisnya dengan mulut yang terbuka.
Ia heran, tumben sekali ibunya memasak sebanyak ini. Terakhir kali ia melihat sang ibu memasak banyak itu ketika mendiang ayahnya berulang tahun untuk yang terakhir kalinya. Selepas itu, ibunya tak pernah masak sebanyak ini lagi. Bahkan saat ulang tahun dirinya juga sang ibu, Sarah selalu meminta untuk merayakannya di luar.
"Ma, kok … Mama masaknya banyak banget? Siapa yang ulang tahun?"
"Tidak ada yang ulang tahun, kita akan kedatangan tamu spesial malam ini."
"Tamu spesial?"
"Iya, sebaiknya kamu bersiap-siap sekarang dandan yang cantik biar enak dilihat."
"Emang tamunya siapa?"
"Nanti kamu juga tahu, cepat sana mandi nanti aroma bau badan kamu nempel lagi ke makanan Mama."
"Ya nggak mungkin lah , Ma."
"Sudah cepat sana mandi, protes terus," omel Sarah mengusir putrinya untuk mandi.
"Emang, siapa sih tamu itu? Sepenting itu? Sampai Mama masak banyak banget," gumam Valerie sambil berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Ia pun masuk kedalam kamar mandi, dan menyalakan shower. Di Bawah kucuran air yang membasahi tubuhnya, Valerie memejamkan kedua matanya berharap kenangannya bisa ikut terbuang bersama air kotor yang mengalir ke selokan.
Beberapa menit kemudian, Valerie telah selesai membersihkan dirinya. Ia meraih handuknya tapi, sayangnya dia punya kebiasaan yang selalu lupa membawa handuk ke kamar mandi.
"Mas! Mas Vano … tolong dong ambilin handuk aku," teriaknya sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Mas!" Valerie kembali memanggil Vano, karena yang dipanggil tak kunjung datang ia pun terdiam dan mengingat sesuatu.
Valerie memiringkan senyumnya lalu, tertunduk ia baru ingat jika sekarang dirinya sudah tidak bersama Devano lagi bahkan saat ini dirinya sedang berada di rumah ibunya.
"Dasar bodoh." Valerie mengatai dirinya sendiri.
Karena tidak ingin larut terlalu lama, dalam keadaan telanjang ia keluar dari kamar mandi dan mencari handuknya yang terletak diatas kasur.
Wanita itu kini duduk di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang ada di dalam cermin dengan tatapan datar.
"Aku tidak boleh larut dalam kesedihan ini, jika mas Vano bisa melupakan aku semudah itu aku juga harus bisa melupakannya dan menjalani hidupku yang baru," ucap Valerie teguh.
Dia mulai merias wajahnya dengan sedikit bedak dan lip cream, eyeliner tipis dan juga maskara tidak lupa juga dengan menambahkan sedikit blush-on agar wajahnya terlihat segar.
Selesai berhias, Valerie lanjut mengenakan dress pink tanpa lengan dan tinggi dress diatas lutut. Lalu, ia kembali menghampiri ibunya yang masih sibuk menyiapkan dessert.
"Nah, gitu dong kan cantik," puji Sarah pada putrinya yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Ma, aku mau pudding ini dong," Valerie menunjuk ke salah satu puding yang bentuknya cantik.
"Sabar, Vel. Tamunya belum datang, masa kamu udah duluan makan."
"Ya ampun, Ma. Pelit banget sama anak sendiri, anaknya juga baru pulang lagi loh ke rumah masa minta pudding aja harus nunggu tamu … tau gitu Veli mending di butik aja bisa pesan online sepuasnya," gerutu Valerie mengerucutkan bibirnya.
"Kamu kemarin pesen yogurt sama buah peach kan, kamu makan ini saja dulu kalau tamunya sudah datang kamu boleh makan pudding sepuasnya." Sarah menyimpan potongan buah peach dan yogurt di depan Valerie.
Valerie memutar bola matanya, dan mulai mengambil garpu. Dengan perasaan kesal ia melahap potongan buah tersebut. Dia jadi semakin penasaran siapa sih tamu itu? Sampai-sampai ibunya berubah menjadi pelit.
Ketika Valerie sedang merajuk kepada ibunya, seseorang terdengar menekan bell pintu. Sumi yang saat itu hendak membuka pintu, dihalau oleh Sarah.
"Eh, Sumi. Biar saya saja yang buka." Sarah membuka apronnya, dengan wajah yang sumringah beliau pergi untuk menyambut sang tamu.
"Bi, emang tamunya siapa sih? Mama sampai segitunya banget nyambut tamu."
"Bibi juga nggak tau, Non. Katanya sih tamu spesial," jawab Sumi memperhatikan siapa yang datang.
"Selamat malam!" Suara bariton menyapa, membuat Valerie langsung menoleh dengan mata melotot.
"Kamu!" pekik Valerie. "Benerkan apa yang aku bilang, tamunya itu dia … benar-benar menyebalkan! Ngapain sih dia pake datang kesini segala. Mama juga ngapain ngundang dia bikin eneuk aja liatnya," omel batin Valerie kesal.
"Sayang, sayang!" Sarah memanggil Valerie berulang.
"Non, dipanggil nyonya tuh." Sumi mencolek Valerie, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
"E-e apa Ma?"
"Nak Gerald, silahkan duduk … Tante sudah masak khusus buat kamu," ucap Sarah mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Terimakasih banyak Tante, ini terlalu merepotkan," ujar Gerald tersenyum.
"Tidak, sama sekali tidak merepotkan … malah ibu seneng bisa masakin buat calon mantu, eh. Hehe keceplosan," kekeh Sarah sengaja.
"Oh, iya Tante ini ada hadiah kecil untuk Tante dan Valerie." Gerald menunjukkan 4 kotak hadiah berwarna Oren dengan ukuran cukup besar yang dipegang oleh Rendi.
"Ya ampun, nak Gerald kenapa repot sekali."
"Tidak kok, Tante … lagian ini cuman hadiah kecil saja."
"Baiklah, sekali lagi terimakasih banyak atas hadiahnya … ayo duduk, sekretaris Rendi mari sekalian ikut makan dengan kami," ajak Sarah pada sekretaris calon menantunya.
Ketiganya pun kini sudah duduk dengan rapi, sementara Valerie yang sejak dari tadi berada di meja makan menatap tak suka pada Gerald.
"Hai, Baby bagaimana dengan kakimu? Apa sudah membaik?" tanya Gerald tersenyum ramah pada Valerie.
Valerie tak menjawab pertanyaan Gerald ia hanya terdiam dan memalingkan wajahnya ingin rasanya dia pergi dari sana tapi, ibunya terus meminta agar Valerie tetap duduk dan ikut makan bersama.
"Maaf, ya nak Gerald. Veli kalau lagi lapar emang begitu, suka uring-uringan," ujar Sarah mengejek Valerie.
"Mama, ih," dengus Valerie, ia merasa difitnah oleh ibunya sendiri.
"Tidak apa-apa, Tante saya malah suka kalau liat Valerie marah seperti itu," timpal Gerald kembali menoleh pada Valerie.
"Waduh, hehe ya sudah silahkan cicipi makanannya nanti keburu dingin loh."
Tanpa ada rasa sungkan, dan dibantu oleh Sumi Gerald dan Rendi mulai mencicipi masakan Sarah yang memiliki cita rasa khas yang sulit untuk dilupakan oleh si penikmatnya.
"Wah, Tante ini enak sekali." Gerald memuji masakan Sarah yang terasa begitu lezat.
"Dasar modus," gumam Valerie sembari memotong sayuran yang ada di piringnya. Ia melihat ke arah Rendi yang ada di samping Gerald, memelototinya seraya memberi pertanyaan pada pria kurus tersebut.
Rendi mengangkat kedua bahu, sebagai jawaban ketidak tahuan dan melanjutkan makan malamnya tersebut.
Sepanjang perjamuan makan malam, Valerie terus menekuk wajahnya saat melihat kedekatan Gerald dan ibunya yang terlihat begitu akrab. Entah dirinya cemburu atau merasa tak dianggap Valerie menusuk-nusuk daging sapi dengan kejam sambil menatap tajam pada Gerald.
Makan malam telah usai, Sarah menyodorkan pudding yang tadi diinginkan oleh Valerie pada Gerald dan Rendi. Membuat Valerie lagi-lagi terlihat kesal dan merasa dianak tirikan.
"Oh, iya nak Gerald. Berapa usia nak Gerald sekarang?"
"30 tahun Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil ibu atau Mama saja."
"Baik, Tan maksud saya Mama."
"Sudah punya calon istri? Dengar-dengar dari Valerie katanya kamu sudah mau menikah ya." Sarah kembali melontarkan pertanyaan.
Gerald melirik Valerie, yang sedang menikmati hidangan penutupnya dengan hikmat.
Pria itu mengangguk dan membenarkan pernyataan Valerie. Raut wajah Sarah terlihat begitu kecewa, padahal ia sangat berharap sekali jika pria yang ada di hadapannya bisa menjadi menantunya.
Namun apa daya, Gerald ternyata sudah memiliki calon istri dan akan segera menggelar pernikahan. Sepertinya ia harus mengubur dalam-dalam, harapannya yang ingin memiliki menantu sebaik dan setampan Gerald.
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Sarah masih penasaran.
"Tergantung mau putrinya Mama kapan, saya siap untuk melamar bahkan jika perlu malam ini saya akan melamarnya," jawab Gerald, membuat Valerie yang sedang memakan cake coklat tiba-tiba tersedak.
"Uhuk … uhuk…."
.
.
.
Bersambung
Zhao liying as Valerie Laruna