My Dandelion'S

My Dandelion'S
Hentikan itu Fero



Rendi menyerahkan dua buah tiket untuk pergi ke Bali pada Gerald. 


"Kenapa tiba-tiba ingin kesana, Tuan?" 


Gerald menghela napasnya. "Valerie memaksa ingin bertemu dengan Fero, dia bilang kalau tidak dituruti bayiku akan ngeces." Gerald menekuk wajahnya, entah kenapa Valerie sangat ingin sekali menemui Fero yang selalu membuatnya cemburu. 


Dalam masa kehamilannya, Valerie memang tidak banyak minta hal-hal aneh yang memberatkan Gerald. Tapi Gerald hanya tak habis pikir, dari sekian banyaknya orang kenapa dia meminta bertemu Fero? Kenapa tidak minta didatangkan Justin Bieber atau Michael Jackson saja begitu. 


Ck, tidak Michael Jackson juga Gerald. Apa kau sedang mendoakan istri mu mati. 


Ah rasanya hati Gerald benar-benar dibakar api cemburu, jika mengingat kedekatan istrinya dengan Fero. Bahkan Valerie menyebutnya dengan sebutan mas yang begitu mesra. 


"Aku mau cuti selama dua Minggu, kau handle semuanya."


"Baik , Tuan."


"Oh, iya bagaimana keadaan mata-mata itu?" 


"Sudah mulai membaik, Tuan."


"Berikan dia kompensasi atas kerja kerasnya, dia memiliki jasa besar untuk kita. Oh iya satu lagi, bantu aku membakar berkas tentang pengakuan Maheswari dan barang milik Valerie yang pernah aku sembunyikan … hubunganku dengan Valerie sedang baik aku tidak mau karena hal seperti ini, dapat merusak semuanya," sambung Gerald mengeluarkan ponsel dan dompet milik Valerie dari dalam laci mejanya.


Rendi mengangguk dan mengantarkan Gerald untuk pulang ke rumahnya. 


                       🌸🌸🌸🌸


"Kakak ipar, aku senang sekali akhirnya kau datang ke sini," sambut Fero antusias.


"Hei, ingat jangan berani menyentuh istriku," tegur Gerald yang langsung menghalangi Fero saat hendak memeluk istrinya.


"Cih, mengganggu saja," decih Fero mendelik.


"Fero, aku lihat kau semakin berani saja padaku … kau mau aku melengserkan mu jadi cleaning service, hah," ujar Gerald dengan tatapan tajamnya.


Fero langsung tersenyum, ketika mendengar ancaman dari kakak angkatnya itu. Ia pun mengajak Gerald dan Valerie untuk tinggal di rumahnya, tapi Gerald menolak. Ia lebih memilih tinggal di hotel ketimbang di rumah Fero.


Awalnya Valerie merengek untuk ikut dengan Fero, setelah Gerald mengancamnya akan mengajak Valerie pulang sekarang juga. Wanita hamil itu langsung mengunci mulutnya dan menurut. 


"Baby, apa kau ingat hotel ini?" ucap Gerald yang membawa Valerie ke hotel Grand paradise, yang dulu sempat ia tinggali bersama Valerie.


"Ya, aku ingat. Kau bahkan tidak mau membantuku saat membayar taksi," celoteh Valerie mendelik. 


Gerald langsung gelagapan, seharusnya tadi dia tidak mengungkit masa lalunya. Ia merangkul bahu istrinya dan membawa Valerie ke dalam.


Kondisi Valerie yang sedang hamil, membuat Gerald memutuskan untuk memilih kamar yang ada di lantai utama. Dengan alasan jika istrinya menginginkan sesuatu atau pergi akan lebih memudahkannya, mengingat dirinya tidak membawa Rendi pasti akan sedikit merepotkan.


"Shǎguā, aku lapar." Valerie menatap sendu suaminya.


"Kalau begitu, ayo kita ke restoran hotel ini." 


"Aku tidak mau, aku mau makan di pinggir pantai." 


"Baiklah, ayo kita kesana." 


Valerie mengangguk dan bersemangat. Sambil menggenggam tangan suaminya, Valerie tampak menikmati air laut yang menyentuh kakinya. 


Impiannya yang belum sempat terwujud beberapa waktu lalu, saat dirinya pertama kali datang ke Bali karena gangguan Gerald yang menyebalkan. 


Kini satu persatu dapat dirasakan oleh Valerie, dengan statusnya yang baru. Menjadi seorang istri dan calon ibu dari pria yang dulu ia benci karena sangat menyebalkan. 


Seakan tidak merasa lelah, setelah perjalanan jauh. Valerie terus menarik tangan suaminya menyusuri pesisir pantai, dengan hembusan angin yang menerbangkan rambutnya. 


Ia berlari dan berputar, membuat Gerald khawatir pada kandungan Valerie.


"Baby, tidak usah berlari … kau harus ingat di perut mu ada bayi yang harus kau jaga," tegur Gerald.


Valerie hanya tersenyum, dan menyipratkan air laut ke arah Gerald. 


"Namun, aku bahagia karena keinginan ku bisa terwujudkan sekarang. Dan yang membuatku bahagia, aku bisa mewujudkan impianku dengan kau dan calon bayi kita," Valerie tersenyum kearah Gerald yang selalu menatapnya penuh cinta.


"Maafkan aku, karena telah membuat mimpimu hancur. Tapi aku berjanji mulai sekarang apapun yang kau inginkan aku akan mengabulkannya." Gerald menggenggam tangan istrinya yang ada di atas meja. 


"Benarkah? Apa itu artinya kau akan membiarkan aku hidup bebas," manik mata Valerie langsung berbinar. 


Gerald tersenyum lebar seakan memberi harapan pada istrinya. "Tidak akan pernah!" jawab Gerald yang langsung merubah raut wajahnya menjadi datar dan dingin. 


"Kau bisa pergi ke butik, dan bertemu client di bawah pengawasan ku," sambung Gerald. Membuat cahaya di mata Valerie redup.


"Tap—," 


"Kau mau aku menutup butik mu, dan membiarkan semua karyawan itu jadi pengangguran." 


"Ck, dasar kejam," decak Valerie kesal. 


Ia menusukan sebilah pisau ke atas daging yang tadi ia pesan dengan tatapan tajam mengarah pada Gerald.


"Kau mau membunuhku, baby?" 


Valerie menelan ludahnya kasar dan mengerjapkan matanya berulang kali. "Aku tidak berani." 


Ya aku ingin membunuhmu, dan mencincang daging mu menjadi potongan kecil dan memberikannya pada ikan di laut. 


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Gerald yang melihat istrinya bengong.


"T-tidak ada," balas Valerie terbata.


"Jangan berbohong padaku, baby." 


"Aku tidak pernah berbohong padamu." 


"Kau yakin?" Gerald menelisik raut wajah istrinya yang tiba-tiba terlihat gugup. "Kau tidak sedang memikirkan cara untuk kabur dariku lagi kan?" 


Valerie mendorong dada Gerald agar menjauh darinya, rencana kabur yang dulu sempat terpikir tapi sampai sekarang tak kunjung dilakukan olehnya. 


Gerald memang selalu mengekangnya, tapi dengan sikapnya yang memperlakukan dirinya seperti seorang ratu mampu membuat Valerie melupakan semua rencananya yang ingin pergi dari Gerald. 


Dan sekarang kehadiran calon bayi yang tak pernah disangka-sangka akan singgah dalam rahimnya membuat Valerie seolah tak ingin jauh dari sisi Gerald. 


                       🌸🌸🌸🌸


"Hah, kakak ipar apa kau jauh-jauh datang kemari hanya ingin melakukan ini padaku?" gerutu Fero, pria itu menatap Gerald seraya minta diselamatkan dari tangan jahil Valerie yang terus mendandaninya bak seorang perempuan. 


"Diamlah, sedikit lagi selesai." Valerie memoleskan gincu berwarna merah darah ke bibir Fero yang sexy. 


"Selesai … eh tunggu, tambah rambut palsu akan semakin terlihat sempurna." Ibu hamil itu memasangkan rambut palsu panjang bergelombang ke kepala Fero. 


"Perfect," celoteh Valerie yang kagum pada hasil karyanya. 


Pria itu kini menjelma seperti seorang Dewi dari surga, dengan lengan dan kaki yang berotot. 


"Apa aku sudah terlihat cantik." Fero berpose sexy, mengedipkan sebelah mata memanyunkan bibir sensualnya seraya memberikan kecupan jauh pada Gerald.


Valerie terkekeh, sementara Gerald bergidik geli melihat tingkah adik angkatnya yang sama gilanya dengan sang istri.


"Menjijikan, hentikan itu Fero." 


Melihat Gerald yang seperti ingin muntah, Fero malah semakin menggodanya ia berjalan ke arah Gerald dengan sepatu high heelsnya yang berwarna merah. Walaupun sempat mau jatuh, tapi pria itu terus berjalan sambil tersenyum dan duduk dipangkuan Gerald. 


Sudah sering Gerald mendorongnya tapi, bujang itu seperti biasa tak mau mengalah. Ia terus memaksa hingga akhirnya ia berhasil melingkarkan kedua tangannya di leher Gerald dan memaksa untuk mencium pipi kakak angkatnya dengan lipstik merahnya. 


Bersambung.