
“Sudahlah cukup, kau tidak berniat mengikuti kami sampai pesawatkan,” tegur Gerald pada Fero yang terus mengikutinya sampai di depan pesawat jet pribadinya.
“Baiklah, aku akan mengantar sampai sini ... rasanya tidak rela jika harus berpisah denganmu kakak ipar,” lirih Fero sedih.
“Jangan bersedih, jika ada waktu kita pasti akan bertemu lagi,” imbuh Valerie.
“Hem, jika ada waktu senggang aku akan mampir ke butik mu ... dan jika Tuan Gerald menyakitimu kau bilang saja padaku, aku akan membawamu kabur dari sisinya,” bisik Fero.
“Aku tidak akan menyakitinya, jadi jangan mimpi kau bisa merebut dia dariku,” timpal Gerald.
“Aku akan memegang janjimu.” Fero menepuk bahu Gerald.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Gerald dan Valerie pun mulai menaiki pesawat meninggalkan kota Bali dan kembali ke Edelweiss untuk melakukan rutinitas sehari-hari.
Di dalam pesawat, Valerie dan Gerald duduk saling berdampingan. Valerie terlihat canggung, karena Gerald terus menatapnya. Sejak di marahi ketika pulang dari makan malam, Valerie jadi tidak berani untuk menatap Gerald.
“Kenapa murung? Kau tidak rela berpisah dengan Mas Fero mu itu.” Gerald menyindir.
Valerie tak menjawab.
“Aku memintamu, untuk tidak memanggilku Tuan. Tapi, kau masih saja memanggilku seperti itu, sementara pada Fero yang baru kau kenal kau sudah memanggilnya dengan sebutan mesra,” gerutunya sebal. “Mulai detik ini, kau harus memanggilku Sayang ... Aku tidak mau mendengar kata penolakan kau paham!” sambung Gerald kesal.
“Hem,” jawab Valerie singkat tanpa menoleh pada Gerald.
“Aku sudah mempersiapkan acara pernikahan kita, begitu kita sampai di edelweiss aku akan langsung menikahimu.”
“apa!” pekik Valerie, ia begitu terhenyak dengan keputusan Gerald yang tiba-tiba.
“Aku nggak peduli, kamu setuju atau enggak. Pokonya keputusanku sudah bulat.” Gerald mengeluarkan borgol dari sakunya dan memasangkan borgol itu pada Lengannya juga Valerie.
“Tuan, apa yang kamu lakukan?” Valerie terlihat panik karena Gerald memborgolnya.
“Hanya ini satu-satunya cara agar kau, tidak kabur dariku ... Sekarang diam jangan banyak protes.”
“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, berikan kuncinya,” protes Valerie.
“Baby, kau tidak dengar. Aku sudah mengatakan jangan protes, atau kau mau aku mendorongmu dari pesawat ini.”
Dada Valerie naik turun, karena menahan emosi. Melihat ekspresi Gerald yang menyebalkan Valerie mendengus, dan memalingkan wajahnya dari Gerald.
Gerald menyunggingkan senyumnya, pandangannya kini terfokus pada layar smartphonenya.
🌸🌸🌸🌸
Kediaman Maheswari.
Seorang gadis terlihat berlari menaiki anak tangga, sembari berteriak memanggil nama Helena juga Devano.
“Tuan, Nyonya ... Ada berita penting,” teriaknya dengan napas ngos-ngosan.
“Apa sih Alisa? Kamu pikir ini hutan apa, sampe teriak-teriak begitu,” tegur Helen yang baru saja keluar dari kamar.
“Maaf, Nyonya. Tapi, ini kabar penting.”
“Kabar apa? Cepat katakan.” Helen penasaran.
“Tuan ajudan bilang, jika hari ini Tuan besar akan segera pulang,” seru Alisa bersemangat.
Helen menyentuh kedua bahu asistennya. “Apa yang kamu katakan itu benar, Alisa?”
Alisa mengangguk.
Seketika manik mata Helen berkaca-kaca, saat mendengar kabar bahagia jika ayahnya akan segera kembali berkumpul bersamanya.
“Bantu aku bersiap, aku ingin menjemput Papa ke bandara,” pinta Helen.
🌸🌸🌸🌸
Bandara internasional Edelweis.
Sarah, Nadia, Sumi beserta karyawan butik lainnya sudah terlihat berjajar rapi menunggu kedatangan Valerie dan juga Gerald.
Dengan membawa banner berbagai macam tulisan, mereka terlihat bersemangat dan tidak sabar untuk menyambut calon pengantin yang hari ini akan menjalani proses akad nikah.
Tak jauh berbeda dengan para karyawan, raut wajah bahagia tak dapat disembunyikan oleh Sarah. Sebab, keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan Gerald akan segera terwujud.
Dari kejauhan Nadia sudah melihat Gerald dan Valerie sedang berjalan sambil bergenggaman tangan mesra, Nadia langsung menyuruh teman-temannya untuk berdiri dan mengacungkan banner yang mereka pegang ke atas agar Valerie dan Gerald dapat melihatnya.
“Lihatlah, karyawanmu begitu antusias menyambut kepulangan kita,” ujar Gerald menunjuk ke arah sekumpulan orang yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
“Pasti ini ulah Nadia, awas saja kau ... Aku akan memberi pelajaran padamu,” dengus Valerie dalam hati.
“Ayo, kita temui Mama. Pasang wajah bahagiamu jangan membuat Mama berpikir jika aku membuatmu menderita.” Gerald melanjutkan langkahnya kembali.
Valerie tersenyum kecut menanggapi permintaan Gerald. “ heuh, meskipun aku tersenyum aku rasa orang-orang juga akan tahu jika aku sedang menderita karena kau,” gerutunya dalam hati.
Keduanya pun menghampiri Sarah, yang sejak dari tadi tak berhenti mengembangkan senyumnya pada putri dan juga calon menantunya.
Sarah memeluk Valerie dan Gerald secara bersamaan, wanita paruh baya itu melepaskan rasa rindunya pada Valerie. Sudah lama mereka tidak bertemu dan tidak berkomunikasi, tentu saja membuat Sarah sangat merindukan putri semata wayangnya tersebut.
Sembari memeluk sang ibu, Valerie menoleh dan menatap tajam Nadia juga Anna yang kebetulan mereka berdiri secara berdampingan.
Kedua asistennya itu tertunduk, ketika melihat kilatan tajam dari mata bosnya. Mereka saling menyikut satu sama lain, karena mereka tahu akan mendapatkan ceramah panjang dari bosnya itu.
Setelah melepas kerinduan, mereka pun bergegas pergi menuju gedung pernikahan yang sudah disiapkan sedemikian rupa oleh Sarah.
Sepanjang perjalanan menuju gedung, perasaan Valerie terus di rundung oleh rasa gundah. Apa yang mesti dia lakukan sekarang? Dirinya benar-benar tidak ingin menikah dengan Gerald.
Ingin kabur tapi, tangannya ter borgol. Jika mencari alasan ingin ke toilet Gerald pasti akan mengikutinya, sama halnya ketika dalam pesawat. Valerie yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil, bukannya membuka borgol Gerald malah ikut ke dalam toilet.
Sementara itu Helena dan Devano baru saja sampai di bandara, untuk Menjemput ayahnya yang dikabarkan akan pulang hari ini.
Devano sudah bertanya pada pihak bandara, Akan tetapi mereka mengatakan jika pesawat yang disebutkan oleh Vano akan landing dalam waktu tiga jam lagi.
Devano mengangguk, dan kembali menghampiri istrinya. Dia memberitahukan apa yang di katakan oleh pihak bandara pada helen, Devano mengajak istrinya untuk pulang dan kembali lagi setelah pesawat landing. Tapi, Helen menolak dan memilih menunggu sampai ia benar-benar bisa melihat ayahnya datang.
Satu jam menunggu ...
Dua jam ......
Tiga jam ....
Empat jam .....
Lima jam pun telah berlalu, Helena sudah terlihat pucat. Manik matanya tak hentinya terus memindai ke seluruh penumpang pesawat yang baru saja tiba di bandara namun, sayang ia tidak bisa melihat ayah maupun ajudannya datang.
Devano sudah menghubungi ajudan mertuanya berkali-kali tapi, ponsel ajudannya tak dapat di hubungi sama sekali.
“Helen, sebaiknya kita pulang ... Kita sudah menunggu lebih dari lima jam disini,” ajak Devano pada istrinya.
Helen menggelengkan kepalanya pelan, wajahnya terlihat begitu sendu.
Devano berjongkok di hadapan Helen. “Sayang, dengarkan aku ... Kamu lagi hamil, kamu nggak boleh kecapean lihat wajah kamu sudah pucat. Bayi kita juga butuh istirahat sebaiknya kita pulang terlebih dulu setelah di rumah aku akan menghubungi ajudan papa lagi.”
Helena menatap nanar suaminya, sebenarnya ia masih ingin menunggu Tapi, yang dikatakan oleh suaminya itu benar dirinya tidak boleh egois. Ia harus memikirkan malaikat kecil yang saat ini ada dalam perutnya.
Bersambung.