
Valerie menatap ponsel, kartu debit dan kunci mobil yang disimpan oleh Rendi di atas meja riasnya.
"Apa ini?"
"Tuan Gerald memberikan ini untuk anda, sebagai ganti barang anda yang hilang kemarin," tutur Rendi.
"Hah … apa ponsel dan dompetku tidak bisa bisa ditemukan?"
"Pencuri itu sepertinya sudah profesional, sehingga saya tidak bisa menemukan jejak ponsel anda, Nona."
"Hais, Nadia bilang kalian orang hebat masa mencari pencuri saja tidak bisa," gumam Valerie, membuat Rendi tertegun.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit Rendi.
"Tunggu! Ada hal yang mau aku tanyakan."
"Silahkan, Nona."
"Ada apa dengan sikap, Tuan Gerald? Kenapa dia jadi acuh padaku?" tanya Valerie penasaran.
Rendi menatap Valerie, dan sedikit tersenyum penuh arti.
"E-e maksudku bukan begitu, bukankah dia selalu banyak bicara … kenapa sekarang jadi pendiam? Apa dia salah minum obat?" celoteh Valerie.
"Nona, Tuan Gerald tidak salah minum obat. Karakternya memang seperti itu, kemarin dia banyak bicara karena Tuan menyukai anda. Karena anda menolaknya mentah-mentah, jadi Tuan kembali pada karakternya dan mulai melupakan anda," jelas Rendi menambahkan bumbu dalam ucapannya.
"Dia akan melupakanku, seharusnya aku merasa senang karena tidak akan ada lagi yang menggangguku. Tapi, kenapa hatiku malah sakit saat mendengarnya," ujar Valerie dalam batin.
"Nona, apa masih ada yang mau ditanyakan?"
"Ah, t-tidak … katakan padanya aku akan segera mengembalikan barang-barangnya, setelah urusanku selesai."
Rendi mengangguk, dan pergi meninggalkan Valerie yang terlihat murung setelah mendengar Gerald akan melupakannya.
"Apa yang kau pikirkan, Val … ingat kau sudah bersumpah untuk tidak percaya dan jatuh cinta lagi pada pria manapun. Kau hanya baru bertemu dengan Gerald sebentar, siapa tahu dia jauh lebih jahat dari mantan suamimu." Valerie menggelengkan kepalanya, untuk mengusir pikirannya yang mampu membuat Valerie merubah prinsip hidup sebelumnya.
🌼🌼🌼🌼
Di kamar sebelah, Rendi sedang melaporkan apa saja yang barusan dikatakan oleh Valerie padanya.
Gerald terlihat senang, ketika Rendi memberitahunya jika Valerie terlihat sedih saat tahu bahwa dirinya akan melupakan Valerie.
Ia sudah mengira, jika rencananya pasti akan berhasil. Semakin acuh, maka Valerie akan semakin mudah didapatkan.
"Tuan, aku dengar manajer Hendra sekarang ada di restoran betutu bersama beberapa wanita."
"Kurang ajar! Ayo kita kesana." Gerald berjalan mendahului Rendi, dan bergegas menuju lokasi yang disebutkan oleh sekretarisnya.
🌼🌼🌼🌼
Restoran betutu.
Valerie baru saja memarkirkan, mobilnya di depan sebuah restoran cukup terkenal di kota Bali.
Ia masuk dan mencari keberadaan clientnya.
"Mbak Valerie," teriak salah seorang wanita yang duduk di meja sudut ruangan.
Valerie mengangguk dan menghampiri pasangan tersebut.
"Mbak Anita, maaf membuat anda menunggu."
"Tidak apa-apa, kami juga baru datang. Silahkan duduk, Mbak."
"Terimakasih, mbak." Valerie duduk dan memulai pembicaraannya mengenai desain gaun yang diinginkan oleh clientnya tersebut.
"Oh iya, mbak saya hubungi kok nggak bisa ya?"
"Iya, mbak … kemarin pas saya datang kesini, saya kecopetan ponsel dan dompet saya di ambil tapi untung saja saya sudah menulis alamat tempat ini di kertas jadi saya nggak repot nyari," jelas Valerie sambil tersenyum.
"Walah, keterlaluan sekali ya copet itu … terus mbak kesini naik apa? Terus tidur dimana?"
" Saya di kasih pinjam mobil oleh teman saya, dan saya juga tinggal di hotel grand paradise."
"Maafin saya ya, mbak. Gara-gara saya, mbak jadi kecopetan pasti di ponsel mbak banyak nomor penting."
"Mbak Anita tidak perlu minta maaf, ini murni musibah kok. Saya juga sudah mengikhlaskannya."
"Sekali lagi, saya minta maaf ya mbak," kata Anita, merasa bersalah.
"Iya mbak, jangan terlalu dipikirkan … dan masalah gaun, saya akan mengerjakan gaunnya sebaik mungkin dan akan saya pastikan mbak adalah pengantin tercantik yang pernah ada."
"Terimakasih, mbak Valerie. Saya sangat percaya dengan kinerja mbak yang baik," puji Anita. "Sayang, aku ke toilet dulu ya … mbak Valerie nggak apa-apa kan di tinggal sebentar."
Beberapa detik setelah kepergian Anita, Gerald masuk ke restoran untuk mencari orang yang telah membocorkan rahasia perusahaannya.
Namun, siapa sangka ia malah mendapati Valerie sedang duduk berdua bersama seorang pria di sudut ruangan.
"Valerie, sedang apa dia disana? Dia sama siapa?" tanya batin Gerald penasaran.
"Tuan, itu dia!" pekik Rendi saat melihat orang yang sedang dicari.
Gerald tak menggubris Rendi, ia malah sibuk memperhatikan Valerie yang terlihat akrab dengan pria yang ada di sampingnya. Karena dirinya merasa cemburu, ia menghampiri Valerie dan menegur wanita tersebut.
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Rendi, saat melihat Gerald pergi ke arah lain. "Astaga, aku harus mengamankan orang itu lebih dulu." Rendi pergi meninggalkan Gerald untuk menangkap orang yang bernama Hendra.
Gerald berdiri di depan meja Valerie dengan angkuh, melipat kedua tangan di dada dan menatap tajam Valerie juga pria asing itu.
Valerie yang sedang meminta pendapat pada calon suami clientnya itu, menoleh pada orang yang sedang berdiri di depannya. Valerie mengerutkan dahinya, merasa heran dengan Gerald yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan raut wajah marah.
"Tuan Gerald."
"Tuan? Kau memanggil suami mu dengan sebutan tuan," dengus gerald, mendekatkan wajahnya pada Valerie.
Glek …
Valerie menelan ludahnya kasar.
"Tuan, anda siapa?" tanya pria yang merupakan calon suaminya Anita.
"Diam kau," ucap Gerald yang tak memalingkan tatapannya dari Valerie.
"T-tuan, bisakah anda mundur sedikit. Aku tidak nyaman," ujar Valerie risih.
"Tidak nyaman? Apa dengan pria itu kau nyaman, sehingga kau bisa akrab seperti itu."
"Maksud anda?"
"Pulang bersamaku."
"Hah?"
"Dandelion!" Gerald mengetatkan giginya.
"Maaf ya, kalian jadi menunggu lam–." Anita membulatkan matanya saat melihat Valerie begitu dekat dengan seorang pria. Ia juga melihat raut wajah calon suaminya menegang, Anita jadi penasaran apa yang telah terjadi selama dirinya ke toilet.
Valerie mendorong Gerald, dan merapikan pakaiannya.
"Sayang, ada apa?" Anita bertanya pada calon suaminya.
"Sayang? Jadi, pria ini bukan pacar Valerie?" kata hati Gerald, keliru.
"Mbak Anita mas Farel. Maaf ya, saya harus pergi sekarang, ada urusan yang harus saya selesaikan … saya akan menghubungi mbak Anita nanti," pamit Valerie, ia jadi tidak enak karena sudah membuat calon suami clientnya tidak nyaman.
"Oh, baiklah … hati-hati, mbak Valerie," jawab Anita terlihat masih bingung.
Valerie menarik tangan Gerald, dan membawanya keluar dari restoran tersebut. Valerie terlihat kesal, atas sikap Gerald yang tidak sopan padanya di depan clientnya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" ucap Valerie sinis.
Gerald hanya menatapnya datar.
"Aku tanya, apa yang sedang kau lakukan disini?" Valerie mengulangi pertanyaannya.
"Apa itu penting?" jawab Gerald ketus.
"Tentu saja … jangan bilang dugaanku benar, jika kau sedang membuntutiku."
"Pulanglah, aku ada urusan," ujar Gerald hendak pergi.
"Tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku." Valerie menahan lengan Gerald agar tidak pergi.
Gerald menatap tangan Valerie yang sedang menyentuhnya, mendapat tatapan seperti itu Valerie langsung melepaskan tangannya dari lengan Gerald.
Ponsel Gerald tiba-tiba berdering, sebuah panggilan penting dari sekretarisnya. Gerald mengangkat panggilan tersebut, setelah panggilan itu terputus Gerald meminta kunci mobil pada Valerie dan meminta Valerie untuk masuk ke dalam mobil dengan cepat.
.
.
.
.
Bersambung.