My Dandelion'S

My Dandelion'S
Challenge



Dering alarm dari ponsel Valerie terdengar begitu nyaring selama lima belas menit, kedua insan yang masih tampak tertidur pulas itu seolah tak terganggu sama sekali dengan suara alarm tersebut.


Mungkin karena mereka tidur di waktu yang sangat larut, sehingga sulit untuk membuka mata. Ditambah lagi efek lelah dan dekapan yang begitu nyaman sehingga keduanya masih betah dalam dunia mimpinya masing-masing. 


Nadia yang sudah datang lima menit yang lalu, hendak mengetuk pintu kamar Valerie karena ada urusan mengenai pekerjaan. Akan tetapi, Rendi yang baru muncul dari arah pantry mencegahnya.


"Berhenti!" seru Rendi membuat Nadia terkejut.


"Astaga, kenapa kau selalu membuatku terkejut," omelnya kesal.


"Apa yang akan kau lakukan?" 


"Aku mau membangunkan, mbak Valerie … sejak kapan kau disini?" Nadia bertanya penuh selidik.


"Kau tidak bisa mengganggu mereka. Tuan dan nyonya tidur sangat larut sekali, jika ada perlu katakan saja padaku." 


Mata Nadia berbinar, memikirkan hal aneh antara Valerie dan Gerald. Terlalu asik berpikir aneh, ia sampai tidak sadar jika dirinya sedang tersenyum sendiri. 


"Aku baru tahu jika kau adalah gadis gila," cibir Rendi tersenyum kecut.


Nadia mendelik dan meninggalkan Rendi, sambil melanjutkan pikiran anehnya. 


Melihat Nadia yang aneh, Rendi sedikit tersenyum sembari menatap punggung Nadia yang hilang di balik pillar. 


Satu jam setelah alarm berdering. Valerie mulai mendapatkan sedikit kesadaran, ia mengerjapkan kedua matanya dan melihat ke arah Gerald yang masih setia mendekapnya.


"Ya ampun, dia benar-benar tidak melepaskanku." Valerie mencoba menyingkirkan tangan Gerald namun, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Sebentar lagi, Baby," gumam Gerald dengan mata yang tertutup.


"Tuan, ini sudah siang aku harus segera bekerja," ujarnya yang berusaha melepaskan diri.


"Aku tidak akan melepaskanmu, jika kau masih menyebutku seperti itu." 


Valerie tak bergeming, ia tampak ragu dan malu. Dadanya terasa berdetak tak menentu.


"Baiklah tidurlah lagi, tidak usah bekerja hari ini." 


"Mana bisa begitu." 


Gerald kembali mendengkur halus. 


Valerie menarik napasnya panjang, ia pun pasrah dalam dekapan Gerald. 


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Valerie yang sudah merasakan perutnya keroncongan membangunkan Gerald agar melepaskannya. Dia heran, padahal Gerald sedang tertidur tapi, tenaganya tidak ada bedanya saat sedang terbangun. 


"Tuan, aku lapar," lirihnya berharap Gerald merasa iba dan melepaskannya.


"Hem," lenguh Gerald.


"Hais, jika terus begini aku bisa pingsan karena kelaparan," monolognya dalam hati. "Aku harus memanggilnya apa agar dia bangun?" Valerie berpikir sejenak dan menelan ludahnya kasar. "Shǎguā," bisik Valerie. Ia merasa geli sendiri saat memanggil Gerald seperti itu. 


Gerald membuka matanya. "Shǎguā?" 


Valerie mengangguk pelan. "Itu panggilan sayangku padamu agar berbeda dari yang lain, jadi bisakah kau lepaskan aku?" 


Mendengar penuturan Valerie yang memberinya sebutan sayang, Gerald tersenyum senang dan melepaskan pelukannya.


"Shǎguā, itu unik juga," kekehnya pelan.


Valerie bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun keluar dan mengambil ponselnya yang terletak diatas meja kecil dekat ranjang.


"Aku mau memesan makanan, kau mau makan apa?" tanya Valerie yang masih mengenakan handuk kecil di kepala. 


Bukannya mengindahkan pertanyaan Valerie, Gerald malah menatap sang istri yang masih mengenakan bathrobenya dari bawah sampai atas dengan tatapan ingin. 


Gerald menarik tangan Valerie kedalam pangkuannya sambil menyeringai. "Baby, kau tidak berniat untuk menggodaku kan?" 


"A-apa yang kau katakan? Siapa yang menggoda?" Valerie berusaha untuk tetap waras saat Gerald mulai mengelus p*hanya yang mulus. "Lepaskan aku, aku mau pakai baju." Valerie berontak.


"Aku tidak mau!" tolaknya tegas.


"Kau mau masuk neraka karena menolak suami?" cetus Gerald.


Valerie mengerutkan dahinya. "Kenapa dia selalu mengatakan itu sih, aku jadi nggak bisa jawabkan," dengusnya dalam hati. "Aku harus mencari ide agar lolos dari cengkramannya." 


"Shǎguā, bisakah kita melanjutkannya nanti di rumah? Aku lapar, bukankah tidak akan terasa nikmat jika melakukan hubungan dalam perut yang lapar," ucap Valerie dengan gayanya yang menggoda, tangannya yang lentik mulai meraba dada bidang Gerald yang berbalut kemeja putih.


Gerald terdiam sejenak, jika dipikir-pikir ada benarnya juga yang dikatakan oleh Valerie, istrinya sudah berpengalaman pasti dia tidak akan berbohong padanya. Ditambah lagi, ia juga merasakan hal yang sama seperti Valerie, apa lagi ini sudah masuk jam makan siang. Gerald pun melepaskan istrinya dari pangkuannya.


"Baiklah tapi, kau harus berjanji kau akan melayaniku malam ini." 


Valerie menelan ludahnya kasar dan mengangguk pelan.


"Aku mau mandi." Gerald bangkit dari duduknya.


"Shǎguā, kau mau makan apa?" seru Valerie sebelum Gerald masuk ke kamar mandi.


"Samakan saja denganmu, sekalian pesankan untuk Rendi dan juga karyawanmu. Biar aku yang bayar," ujar Gerald kemudian masuk ke kamar mandi. 


Beberapa saat kemudian.


Makanan sudah sampai dan tersusun rapi diatas meja, begitu juga dengan seluruh karyawan mereka sudah berkumpul dan bersiap untuk menyantap makanan berkuah merah yang begitu menggoda lidah. 


Ya, sebelum Valerie memesan. Dia menanyakan terlebih dahulu apa yang mereka ingin makan untuk saat ini. Karena jawaban mereka ingin yang segar dan pedas jadi Valerie memesan berbagai macam makanan pedas yang sedang viral, seperti seblak setan, mie cirambai hot jeletot. Bakso pentol begal,ceker ayam manyun dan yang lainnya. 


Gerald dan Rendi saling melempar pandangan sembari menelan ludahnya kasar, saat membayangkan makanan pedas itu masuk ke dalam mulutnya dan membakar lidah mereka. 


"Baby?" Gerald menoleh pada Valerie menunggu jawaban. 


"Mereka yang minta, jadi aku membelinya … lagi pula ini cocok untuk menghilangkan rasa stress setelah bekerja seharian," jawab Valerie.


"Tapi, ini tidak sehat," protes Gerald, yang diiringi anggukan kepala Rendi.


"Tuan, bilang saja kalau anda tidak berani memakan pedas," ledek Nadia yang menatap sinis pada Rendi.


Gerald menatap tajam Nadia.


Nadia tertunduk lalu, ia memikirkan sebuah ide untuk menantang sekaligus mengerjai kedua pria gagah yang ada di hadapannya itu. 


"Mbak, aku punya ide. Gimana kalau kita challenge, siapa yang bisa habisin satu porsi besar ceker manyun dalam waktu 20 menit. Yang kalah harus kabulkan tiga permintaan si pemenang," usul Nadia bersemangat.


Valerie mengangguk-anggukan kepalanya. "Ide bagus, selain dapat 3 permintaan bakal ada hadiah tambahan juga dari Tuan Gerald yaitu satu buah motor limited edition," seru Valerie yang menoleh pada suaminya.


Gerald menatap Valerie dengan tatapan datar.


"Benarkan, Shǎguā. Kau kan kaya hanya membeli sebuah motor pasti tidak akan ada apa-apanya kan untuk mu." Valerie tersenyum pada Gerald.


"Baiklah, aku setuju … tapi, kalau aku menang kau harus patuh padaku." 


Valerie mengangguk, menerima tantangan dari Gerald. Ia yakin jika Gerald pasti akan kalah darinya. 


"Tuan, anda yakin mau ikut challenge ini?" Bisik Rendi ragu, sebab selama ia berada disamping Gerald. Dia belum pernah melihat bosnya memakan cabai sedikitpun.


"Kau meragukanku?" 


Rendi menggelengkan kepalanya. 


"Baiklah, ayo kita mulai sekarang juga," titah Gerald yang sudah bersiap untuk mengikuti challenge yang dibuat oleh asisten istrinya.


.


.


Bersambung.