
"Brengsek!"
"Bajingan! berani sekali kau menodai putriku!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Pria paruh baya itu, terus memukuli wajah lelaki yang sudah menodai putrinya Sampai tak berbentuk.
"Pah!" teriak Helena, ia berlari menghampiri Devano yang sudah terkulai lemas.
"Hentikan pah, bagaimana kalau mas Devan mati!" wanita itu menangkup wajah Devano yang sudah babak belur.
"Biarkan saja dia mati Helen. Dia pantas mendapatkan kematian!"
"Pah, kalau dia mati lalu bagaimana dengan anak yang kukandung ini? Apa papa tega membiarkan dia lahir tanpa seorang ayah," lirih Helena sambil mengelus perutnya.
"Aku rasa, anak itu juga tidak ingin punya ayah bajingan seperti dia," dengus tuan Maheswari memalingkan wajahnya dari Helena.
"Pah, aku mohon jangan siksa mas Devan lagi. Aku mohon pah biarkan dia hidup," Helena memegang kaki ayahnya dan memohon agar tuan Maheswari mengampuni pria yang sangat ia cintai itu.
"Masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik dari pada dia Helen! kenapa kau terus mempertahan pria tidak tahu diri ini!"
"Dia ayah dari calon bayi ini pah, dan aku mencintai mas Devan. Jadi aku mohon biarkan mas Devan hidup pah, aku mohon."
Sambil terisak, Helena terus memohon pada ayahnya agar mengampuni pria yang sudah tak berdaya itu.
"Pah, aku mohon Pah … lepaskan mas Vano, biarkan dia hidup bersamaku, Pah," pinta Helen, mengiba.
"Helen." tuan Maheswari mencoba membangunkan putrinya. Akan tetapi, Helen terus memegang kakinya dengan kuat.
"Helen, bangun … kau tidak pantas bersujud di kakiku hanya karena pria ini."
"Enggak, Pah. Aku tidak akan berhenti bersujud sebelum Papa melepaskan mas Devan."
"Astaga, Helena!" suara tuan Maheswari kembali menggelegar, memenuhi ruangan kerjanya. Sementara itu Helena masih bersikeras akan tetap memeluk kaki ayahnya sampai pria yang dicintainya dilepaskan.
Karena sudah merasa pusing dengan putrinya yang terus memohon, agar Devano dibebaskan. Tuan Maheswari sampai memijat keningnya, sepertinya tekanan darah beliau sedikit naik akibat menahan amarah pada putrinya.
Helen yang tak ingin dipisahkan dengan kekasih hatinya, terus saja terisak sambil bersimpuh di kaki sang ayah. Ia berharap hati ayahnya segera luluh, dan membiarkan dirinya hidup bahagia bersama Devano.
Tuan Maheswari menarik napasnya dalam, ia tampak berpikir untuk sesaat. Apa yang mesti ia lakukan saat ini? Jika ia tidak melepaskan Devano putrinya akan terus memohon dan menangis padanya, dan jika ia melepaskan Devano dan membiarkan Helen menikah dengannya. Ia juga takut jika suatu hari, Vano melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada istrinya sekarang.
Tuan Maheswari pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan Devano dengan beberapa syarat yang diajukan pada sang putri. Akan tetapi, disaat tuan Maheswari mulai setuju mengampuni Vano, tiba-tiba saja ia mendengar suara Devano memanggil nama wanita lain.
"Valerie," lirih Vano pelan. Meskipun sedikit tidak jelas tapi, tuan Maheswari dan Helena dapat mendengarnya.
Mendengar Devano yang menyebutkan nama wanita lain di hadapannya. Tuan Maheswari kembali terbakar oleh amarah, bagaimana tidak? saat ini putrinya sedang mengandung benih Devano dan sekarang pria itu malah menyebut nama wanita lain di hadapan tuan Maheswari juga Helen yang sejak tadi terus memohon agar Devano diampuni.
"Kau dengar itu Helen! bahkan saat sekarat pun dia masih menyebut nama wanita lain di hadapan mu!" sentak tuan Maheswari sambil menunjuk ke arah Devano.
Bahkan ia sampai rela menjatuhkan harga dirinya di depan sang ayah, hanya untuk meminta pengampunan agar ayahnya melepaskan Vano. Akan tetapi, pria yang dibela olehnya masih saja mengingat istrinya yang saat ini tidak memperdulikan dirinya.
"T-tidak, Pa. Papa pasti salah dengar, mas Vano tidak menyebut nama wanita lain. D-di–,"
"Cukup, Helena! … berhenti membela pria itu, dia tidak layak jadi suami kamu … ajudan hajar dia sampai mati."
Helena menggelengkan kepalanya, lalu berlari ke arah Devano dan memeluknya. "Kalau kalian berani menyentuh dia lagi, akan aku pastikan aku juga akan ikut mati," ucap Helen mengetatkan giginya.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa punya putri yang keras kepala seperti dia." Maheswari memijat keningnya.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo bunuh saja kami berdua!" teriak Helen yang terus memeluk Devano sambil menangis..
Maheswari pun menarik napasnya panjang, karena tidak ingin terus berdebat dengan Helen. Akhirnya ia memilih mengalah, dengan melepaskan Devano.
"Baiklah, aku akan melepaskan pria itu dan membiarkanmu menikah dengannya. Tapi, jika suatu saat dia menghianatimu jangan salahkan aku jika aku benar-benar membunuhnya," ucap Maheswari, pria tua itu pergi meninggalkan Helen dan Devano sambil mendengus kesal.
"Mas, kamu nggak apa-apakan? Kalian kenapa diam saja! Cepat bantu aku bawa dia ke rumah sakit," sentak Helen pada para bodyguard yang sedang menatapnya.
Mendapat perintah dari Helena, para pengawal itu bergegas membawa Devano yang hampir sekarat menuju rumah sakit.
🌼🌼🌼🌼
Keesokan harinya.
Devano mulai tersadar dari pingsannya. pria yang masih terlihat babak belur itu terdengar meringis kesakitan, merasakan ngilu di sekujur tubuh dan wajahnya.
"Mas, kamu udah sadar?" Helen mengusap kepala Devano, dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan kekasihnya.
"Valerie," gumam Devano. Membuat Helena kesal.
"Lagi-lagi kau menyebut nama istrimu, mas. Apa selama ini aku tidak ada di hatimu?" tanya Helen dalam hatinya.
Butiran bening mulai jatuh membasahi kedua pipi Helen. Ia merasa perjuangannya dalam mempertahankan Devano saat di hajar ayahnya menjadi sia-sia.
Andai saja saat ini ia tidak sedang mengandung anak Devano, mungkin dirinya akan meninggalkan pria itu saat ini juga.
Namun, saat ini dirinya tengah hamil darah daging Devano. Sehingga ia memutuskan untuk tetap mempertahankan Vano dan tidak akan pernah membiarkannya kembali pada istrinya.
"Kau lihat saja, Mas. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku dan aku akan membuatmu melupakan istrimu selamanya!" gumam Helen sambil mengusap air matanya.
Ia pun mundur beberapa langkah, dan membiarkan dokter memeriksa keadaan pria yang masih berbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
.
.
.
Bersambung.