My Dandelion'S

My Dandelion'S
jangan lama



"Shǎguā, Turunkan aku," pekik Valerie yang saat ini ada dalam gendongan suaminya.


"Diamlah, ini adalah hukuman karena kau telah mengakui pria lain sebagai suamimu." 


"Kau menyebalkan, Gerald." 


"Apa? Kau sudah berani menyebut namaku, Hem." Gerald menjatuhkan tubuh istrinya perlahan ke atas kasur.


"Ampun, Shǎguā ha ha," kekeh Valerie ketika suaminya terus menyusuri leher dan perutnya yang masih rata dengan bibirnya. 


"Aku tidak akan mengampuni, Baby. Sebelum ada aku di hatimu sepenuhnya." Gerald membuka kancing kemeja, membuangnya ke sembarang arah dan langsung melahap istrinya bulat-bulat. 


***


"Nadia, aku pulang duluan ya. Ada urusan." 


"Hem, hati-hati ya Ris." Nadia melambaikan tangannya pada Riska yang kini sudah berada di atas scooter maticnya.


Nadia menatap kepergian Riska yang sudah menghilang dari pandangannya. 


Puk …


Sebuah tangan kekar menepuk bahu, Nadia. 


"Sekretaris Rendi." Nadia seraya menoleh pada pria yang ada di belakangnya.


"Ayo pulang, biar saya antar."


"Memangnya, Tuan Gerald tidak akan mencarimu lagi?" 


"Jika tuan sudah bersama nyonya, dia tidak akan keluar kamar lagi. Jadi aku bisa mengantarmu pulang," ujar Rendi sedikit menarik sudut bibirnya.


Nadia mengangguk, sembari menunduk malu. Tidak biasanya ia tersipu malu seperti ini di hadapan Rendi, tapi kali ini ia merasakan sesuatu yang beda dari sikap Rendi. 


Manis, ya Rendi hari ini terlihat manis dengan senyum di wajahnya. Tidak ada lagi wajah datar yang ditunjukkan oleh pria berkepala plontos itu. 


"Apa kau lapar?" tanya Rendi ketika melewati salah satu restoran khas Jepang. 


Nadia menggelengkan kepalanya, sebab sejak tadi siang dirinya dan Riska terus di cekoki banyak makanan oleh Valerie. 


"Kau yakin?" 


"Hem, mbak Valerie memberiku banyak makanan jadi perutku masih terasa kenyang," jawab Nadia mengusap perutnya yang terasa begah.


"Apa semua ibu hamil akan mendadak jadi rakus?" tanya Rendi polos.


"Tergantung hormon, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Nadia menoleh ke arah Rendi yang sedang fokus menyetir.


"Aku hanya ingin tahu, agar nanti jika kau hamil aku tidak akan kaget melihatmu berubah menjadi gendut," kekeh Rendi menggoda Nadia.


"Kau menyebalkan, bukankah aku akan terlihat semakin sexy jika aku hamil," timpal Nadia sedikit menggoda.


"Ya kau benar, dan sepertinya aku akan meniru Tuan Gerald yang akan terus mengurungmu di dalam kamar." 


"Kau mau melihatku mati mengenaskan dalam kamar, hmm," dengus Nadia memutar bola matanya ke sembarang arah, ia tidak membayangkan jika harus menghabiskan sisa hidupnya hanya dalam kamar. 


Satu hari saja berada di rumah rasanya ia sangat frustasi, apalagi ketika Rendi mengurungnya berbulan-bulan. Seharusnya ia memberi apresiasi pada Valerie, karena mentalnya begitu kuat. Selalu dikurung seperti seekor burung dalam sangkar oleh suaminya, selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya. 


Namun, Valerie tak melakukan pemberontakan apapun, atau Bahkan kabur dari istana megah rasa penjara itu. 


Sikap overprotektif tuan Gerald terhadap istrinya, membuat Nadia tak sanggup membayangkan jika dirinya berada di posisi Valerie. 


Terkurung, tak boleh kesana kemari tanpa izin darinya, tak boleh makan ini itu dan selalu diawasi selama dua puluh empat jam, jika itu terjadi pada dirinya. Mungkin Nadia memilih bunuh diri di banding harus di manjakan oleh harta melimpah, tapi batin menderita karena banyaknya aturan aneh. 


Dan ia sangat bersyukur karena dirinya bukanlah Valerie, ia bersyukur karena dirinya terlahir dari keluarga biasa saja meskipun, di lilit oleh banyak hutang setidaknya ia masih bisa menikmati hidup yang bebas tanpa aturan yang mengikatnya. 


"Kenapa berhenti disini?" Nadia mengedarkan pandangannya ketika Rendi menghentikan mobilnya di sebuah taman. 


"Ini masih sore, kau tidak mau berlama-lama berada di rumah bukan." 


Nadia menatap Rendi tak mengerti. 


"Ayo, Turun. Kita nikmati senja bersama," ujar Rendi yang membantu Nadia melepaskan sabuk pengamannya.


Ah, ya tuhan kenapa jantungku berdegup kencang sekali, aku harap dia tak mendengarnya. 


"Kau tidak sedang berharap aku menciummu kan, Nad," celoteh Rendi yang melihat Nadia sedang menatapnya serius.


Nadia langsung mengerjapkan kedua matanya. "Cih, aku tidak pernah memikirkan hal kotor seperti itu." Nadia seraya mendorong dada Rendi agar menjauh darinya dan bergegas turun dari mobil. 


Keduanya berjalan beriringan, menikmati hembusan angin yang menjatuhkan daun-daun kering dari atas pohon. 


"Sekretaris Rendi." 


"Ya." 


"Kenapa kau tidak mencari pekerjaan lain?" Nadia menatap Rendi penasaran.


"Kenapa?" Rendi mengerutkan dahinya. 


"Aku lihat-lihat, pekerjaanmu sangat berat sekali … bahkan di hari libur saja kau masih sibuk bekerja. Apa kau tidak berniat mencari Tuan yang baru?" 


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencari pekerjaan baru, atau bos baru. Karena bagiku pekerjaan sekarang dan tuan Gerald sudah paling pas dan membuatku nyaman," tutur Rendi, ia menatap danau yang berkilau karena sorot mata hari yang hampir tenggelam.


"Meskipun, pekerjaan ku berat dan terkadang harus bertaruh nyawa. Tapi, bagiku menjadi tuan Gerald jauh lebih berat dari padaku … tapi aku bersyukur tuan bisa menemukan nyonya Valerie secepat ini, sehingga kehadirannya bisa mengurangi kesibukanku dan aku juga bersyukur karena nyonya Valerie aku bisa bertemu denganmu." Rendi memalingkan pandangannya pada Nadia.


Pipi gadis itu berubah menjadi merah, ketika Rendi mengatakan syukurnya bisa bertemu dengannya. Walaupun, pertemuan keduanya kerap di selingi pertengkaran tapi pada akhirnya keduanya bisa berdamai dan rukun. 


Rendi meraih kedua tangan Nadia, dan menatapnya dalam. 


Dan lagi jantung Nadia kembali berdebar aliran darahnya terasa berdesir kencang, seakan ada sengatan listrik yang menyentuh tubuhnya. 


Gugup, yang saat ini dirasakan oleh Nadia. Entah karena terlalu percaya diri entah hanya perasaannya saja, sehingga ia bisa menebak jika Rendi akan segera menyatakan cinta padanya. 


"Nadia," lirih Rendi. 


Gadis itu tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya sambil mengulum senyum di bibirnya. 


"Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?" 


Sebuah kalimat sederhana, yang mampu membuat hati Nadia seakan-akan ingin meledak. 


"Mungkin, aku bukan tipe orang yang romantis. Aku juga bukan ahli puitis yang mampu merangkai kata indah untuk aku ucapkan padamu, tapi dari lubuk hatiku paling dalam aku benar-benar mencintaimu, Nadia," tutur Rendi yang terdengar begitu manis di indera pendengaran Nadia. 


Terharu.


Bahagia.


Dan ingin melompat. Nadia benar-benar tak percaya akhirnya penantiannya selama beberapa bulan telah terwujud, Rendi yang selama ini telah mencuri hatinya kini telah menyatakan cintanya. 


Namun, sesuatu dalam pikirannya tiba-tiba saja mengganggu. Membuat senyum di wajah gadis itu memudar dan melepaskan tangan Rendi yang menggenggamnya. 


"Nad, aku menanti jawaban darimu." Rendi menatap penuh harap. 


"Sekretaris Rendi, bisakah aku memberi jawaban nanti," lirih Nadia.


"Kenapa? Apa kau menolakku?" 


Nadia mengibaskan kedua tangannya cepat. "B-bukan begitu, aku hanya masih punya urusan yang mesti aku tuntaskan. Tapi, aku janji setelah urusanku selesai aku akan memberikan jawaban padamu." 


Rendi tersenyum dan mengangguk. "Aku akan menunggu jawaban itu, Nad." 


Nadia tersenyum haru. "Terimakasih." 


Rendi meraih bahu Nadia dan membawanya ke dalam dekapan. "Jangan terlalu lama," bisik Rendi. 


Nadia menganggukan kepalanya dan membalas pelukan Rendi yang terasa nyaman dan hangat. 


.


.


.


Bersambung.